.

.
.

Wednesday, 17 September 2014

Alasan Rusunami Banyak Ditinggali Orang Kaya

Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas), tahun ini akan membangun rumah susun sederhana milik (rusunami) sebanyak 25 tower.FOTO IST

JAKARTA-Wajah penghuni rusunami yang sering identik dengan sederhana dan seadanya kini sudah berubah menjadi glamor dan modern. detikFinance mencoba mengurai sisi lain rusunami yang sampai sekarang masih menggunakan anggaran uang negara (subsidi) dan dinilai tidak tepat sasaran. Berikut uraiannya.

Beribu pertanyaan menggantung, kok bisa Rumah Susun Sederhana Hak Milik (Rusunami) yang seharusnya dihuni Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) justru banyak ditinggali orang kaya dan berduit. Ketua Asosiasi Perhimpunan Penghuni Rumah Susun Indonesia (Aperssi) Ibnu Tadji punya alasan penyebab terjadinya fenomena ini.


Menurut Ibnu fenomena ini terjadi karena punya latar belakang. Rusunami sebenarnya hanya diperuntukan untuk MBR. Namun ternyata developer (pengembang) sulit memasarkan akibat MBR kesulitan mendapatkan akses kredit permodalan dari perbankan. Hasilnya produk hunian rusunami yang mereka ciptakan tidak laku dijual. 


Sebenarnya menurut Ibnu, pemerintah bisa saja turun tangan dengan memberikan fasilitas kemudahan kredit perbankan kepada MBR. Sayangnya cara tersebut tidak dilakukan sehingga kemudian menjadi alasan pengembang melakukan lobi khusus kepada pemerintah agar mereka tidak merugi dan bisa menjual hunian rusunami kepada warga non MBR.

Faktor itulah yang menjadi pemicu masyarakat berpenghasilan tinggi menghuni rusunami. Selain itu ada faktor lain yaitu pindah kepemilikan. Maksudnya adalah masyarakat miskin yang sudah menempati rusunami menjual hunian mereka kepada orang kaya dengan berbagai alasan. Tetapi untuk alasan ini presentasenya kecil.


Rusunami Dikuasai Spekulan

Tren perlakuan Rumah Susun Sederhana Hak Milik (Rusunami) di Indonesia banyak yang dijadikan alat investasi. Salah satu alasannya adalah kebanyakan rusunami yang dibangun khususnya di Jabodetabek berada di tempat yang strategis. Sehingga nilai dari unit hunian terus merangkak naik sama halnya seperti apartemen.

Selain itu, menurut Ibnu banyak rusunami yang ada saat ini dikuasai oleh para spekulan. Hal ini sudah terjadi sejak tahun 2008 pasca kebijakan pembangunan rusunami digagas oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) tahun 2007.


“Rusunami dikuasai spekulan sudah terjadi setelah dicanangkan kebijakan rusunami tahun 2007. Di 2008 sudah banyak investor dan spekulan yang masuk memiliki rusunami," imbuhnya. 
  
Fenomena ini terjadi akibat peraturan yang tidak jelas serta koordinasi yang tidak matang antara pemerintah khususnya Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) dan pengembang (Developer). Seharusnya pemerintah sudah memiliki calon pembeli sehingga pengembang yang menjadi home builder tinggal membangun.

Yang terjadi sekarang adalah pengembang yang mencari pembeli, akhirnya sebagian besar pembeli rusunami merupakan spekulan bukan masyarakat yang membutuhkan rumah seperti Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).(dtk/lee)



No comments: