.

.
.

Friday, 19 September 2014

Terkait KONVERTER KIT, Konvensi Gas untuk Nelayan Gagal

INOVASI: Penemu alat konverter kit, Amin Ben Gas mendapatkan penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi setelah diapresiasi berbagai universitas dalam dan luar negeri. Konverter kit adalah alat yang dapat mengalihkan penggunaan bahan bakar bensin dan gas secara bergantian. IST




KUALATUNGKAL-Konversi bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas untuk nelayan di Tanjabbar terancam gagal. Bantuan 300 alat konventer kit yang diresmikan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siwoutomo beberapa waktu lalu tidak dilengkapi alat pengatur gas.


ANDRI DAMANIK, Kualatungkal

Sekretaris KUB Kualatungkal Rezki, mengatakan alat konverter tersebut tidak berguna untuk nelayan. Banyak nelayan tidak memanfaatkan alat bantuan tersebut. Selain itu, nelayan menganggap jika peralihan bahan bakar tersebut tidak cocok dengan mesin pompong.

“Alasannya, pemakaian bahan bakar gas elpiji tidak cocok untuk mesin diesel," kata Rezki kepada wartawan kemarin.

Di samping itu, kata dia, penggunaan BBG ini juga berdampak kurangnya tenaga dari mesin perahu. Dengan jarak tempuh lumayan jauh, nelayan lebih cenderung menggunakan bahan bakar minyak ketimbang gas.


“Tidak ada keuntungannya pakai BBG itu bagi nelayan kita. Jauh dekat, nelayan kita pergi melaut, biaya pengeluarannya sama saja," sebutnya.

Senada juga disampaikan Ketua Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir (LEPP) Arsyad. Dikatakannya, bahwa penggunaan BBG hanya cocok untuk mesin berbahan bakar premium.

Saat ini, dari 43 paket konverter kit, hanya sekitar 10 perahu nelayan yang masih menggunakan bahan bakar gas tersebut. “Itu dipakai oleh nelayan pancing dan nelayan pemasang luka (bubu)," jelasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Kabupaten Tanjab Barat dikonfirmasi wartawan, mengatakan, sebanyak  50 unit konverter kit telah terealisasi. Hanya saja, sebagian yang digunakan nelayan.

“Sebagian belum, karena mereka mengaku alat yang digunakan tidak cocok dan laju kapal lebih lambat, tapi sekarang masih dalam perbaikan oleh konsultan," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab terus berupaya bersama pertamina untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas. Sebab, SPBG di Tanjabbar belum berdiri. “Sementara ini, nelayan masih memakai LPG 3 Kg," timpal dia.


Terpisah, Humas Petrocina Anjas ketika dikonfirmasi wartawan, mengaku tidak tahu apa-apa soal konverter kit tersebut. "Masalah itu kita memang belum mengerti, nanti saya pelajari lagi," ungkap Anjas.(*/lee)

No comments: