.

.
.

Kamis, 16 Agustus 2012

Peniti Benang, Jadi Guru Bagi Komunitas Suku Rimba


Peniti Benang. Foto Rosenman Manihuruk

Peniti Benang Bersama Rekan dan Pendampingnya Butet Manurung dan Willy. Foto Rosenman Manihuruk.
"Namaku Inspirasi Bagi Iwal Fals"


Peniti Benang. Nama yang unik dan jarang didengar. Kini nama itu akan membumi di negeri ini dalam bait lagu penyanyi kawakan Iwan Fals. Peniti Benang, adalah salah satu anak didik Butet Manurung yang bermukim di Makekal Hulu Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Bangko Merangin, Jambi yang kini sudah dinobatkan oleh komunitasnya (sukunya) sebagai guru Suku Anak Dalam (SAD).

Lalu bagaimana Iwan Fals dapat terinpirasi terhadap nama pria berusia 25 tahun ini  dalam lagu berjudul "Mari Menanam" itu ! berikut wawancara BATAKPOS dengan Peniti Benang di rumah dinas Gubernur Jambi, baru-baru ini.

Pria SAD yang dikenal dalam bahasa anak Rimba ini, tampak percaya diri ketika disapa BATAKPOS. Peniti Benang yang saat itu didampingi Butet Manurung, Dani, Irmansyah  pendamping dan Temenggung Mirak (56), Pengendum (25), Mijak (24) dan Bekilat (25) menuturkan, dirinya pernah mengirim surat kepada Iwan Fals.

Peniti mendapatkan ilmu menulis dan membaca dari sebuah LSM yang menamakan dirinya SOKOLA ( Alternatif Education Community For Indigenous Forest People) pemberdayaan pendidikan alternatif Suku Anak Dalam (Rimba).

Dibawah bimbingan Butet Manurung, Peniti Benang bersama rekan-rekannya berusaha maksimal untuk tahu menulis dan membaca. Sekitar 2 tahn, Peniti mampu membaca dan menulis.

Kirim Surat

Karena tertarik dengan keindahan hutan dan alam berikut kehidupan kelompoknya, Peniti Benang menorehkan pengalamannya disebuah kertas panjang. Suka duka kelompoknya dia ceritakan dalam surat tersebut.

Berkat bantuan Butet Manurung yang sering bertemu dengan Iwan Fals dan MS Kaban (Menteri Kehutanan RI) di Jakarta, Peniti meniripkan surat tersebut. " Saya kirim surat buat abang Iwan Fals. Saya rindu dengan dia, yang lagunya sering tentang alam dan penderitaan rakyat," katanya.

Kemudian surat tersebut sampai ketangan Iwanl Fals. Membaca isi surat itu, Iwan terinpirasi membuatkan sebuah lagu untuk Peniti Benang. Lagu itu pun berkumandang dan sudah direkam.

Bahkan MS Kaban mengakui hal itu. Iwan Fals menciptakan lagu itu untuk SAD dan spesial buat Peniti Benang. " lagu itu sudah direkam. Tapi belum dipasarkan. Nanti lagu itu akan membumi, karena dalam lagu juga ada syair mengajak kita untuk menanam pohon, dan melestarikan hutan," kata MS Kaban di Jambi.

Jadi Guru Komunitas Orang Rimba

Tampak sepintas, Peniti Benang memang tak layak disebut guru seperti biasanya. Namun, Peniti Benang pantas mendapatkan gelar sebagai pejuang tanpa jasa. Betapa tidak, dirinya kini mampu mengajar kelompoknya belajar dan menulis.

SOKOLA yang mendidiknya mampu menjadikannya menjadi seorang guru, setidaknya guru bagi kelompoknya (SAD). Mengajar tanpa gaji, memang sulit dilakukan bagi kebayakan guru.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi Peniti Benang. Dirinya dengan tulus mengajar 5000 jiwa SAD yang bermukim di TNBD. Bahkan dirinya pernah di kirim ke Makassar untuk mengajar nelayan yang buta huruf dipesisir pantai.

" Saya sudah tiga tahun jadi guru. Saya pernah ke Makassar untuk mengajar disana. Belajar menulis dan membaca, dan bahasa Indonesia saya sangat mudah. Itu semua berkat Guru Besar Butet Manurung," imbuhnya.

Menurut Peniti Benang, sistem mengajar belajar SAD, seperti sarang laba-laba. Guru yang sudah dapat mengajar, akan mengajari orang yang dibawahnya. Cara belajar dibuat bentuk kelompok. Sudah lebih 1000 SAD dapat membaca di TNBD.

" Kami belajar membaca dan menulis dan bahasa Indonesia, agar tidak dibodoh-bodohi orang. Kami sering menjadi korban pembodohon oknum-oknum yang menjarah hutan. Sekarang kami sudah mengerti dan kami sudah berani protes jika diusik," katanya percaya diri.

SOKOLA


Lembaga SOKOLA di TNBD memang sangat berperan bagi perkembangan ilmu SAD. Memberikan sekolah alternatif bagi 5000 jiwa Suku Kubu yang bermukim di Makekal Hulu itu merupakan anugrah dan hidup.

Setidaknya itu yang terucap dari mulut Butet Manurung Selasa lalu. Katanya, pemberdayaan SAD  meliputi pendidikan alternatif, pelayanan kesehatan, bercocok tanam, serta pengadaan penerangan pemukiman tenaga surya.

Saat ini, pihaknya telah melakukan pemberdayaan SAD di kawasanan TNBD sudah tujuh tahun lamanya. Dari hasil pembinaan yang mereka lakukan perubahan kultur suku anak Rimba sudah mulai tampak.

Setidaknya enam anak Rimba sudah dijadikan guru bagi komunitas SAD di kawasan seluas 50 ribu hektar tersebut. Mereka sudah dapat membaca, menulis dan bercocok tanam. Bahkan mereka sudah ada yang paham dengan teknologo komunikasi menggunakan HP.

Selain memberi pendidikan alternatif, SOKOLA yang beranggotakan enam orang itu (Dodi Rokadian, antropolog asal Bandung, Indit antropolog dari Yogyakarta, Dani antropolog Unpad-bandung, Willy Pendamping Bukit Tinggi, Irmansyah -Pendamping Jambi dan Butet Manurung sebagai guru besar) juga melakukan pelayanan kesehatan kepada para SAD.

"SOKOLA juga menyediakan pembangkit listrik tenaga surya untuk penerangan pemukiman SAD. Disebutkan ada 59 kelompok SAD yang bermukim di TNBD dengan jumlah jiwa sekitar 5000 jiwa," kata Butet yang kini masih jomblo itu.

Ditambahkan Butet, sejak melakukan pemberdayaan, mereka kesulitan terhadap penerangan dikawasan tersebut. Sebuah mesin diesel (genset) yang bahan bakarnya bensin dirasakan sangat sulit untuk dipertahankan. Hal karena harga bensin di kawasan itu melambung tinggi dari harga biasa.

Ditambahkan, gangguan atau kendala yang dihadapi SOKOLA selama berada di TNBD, terjangkit penyakit malaria. Namun, hal itu tidak sampai mengganggu aktivitas mereka karena dapat ditangani oleh petugas SOKOLA.

Menyinggung masalah dana penelitian dan pemberdayaan SOKOLA, Butet dan Willy  menyebutkan, sumber dana mereka berasal dari salah satu yayasan luar negeri Global Environment Fasilitation (GEF). Selain itu juga dari sebuah lembaga UNDV (sejenis lembaga peduli pendidikan dunia- UNESCO).(Oleh Rosenman Saragih Manihuruk)

1 komentar:

pa,sumartoh pekan baru mengatakan...

1NAMA SAYA PA,SUMANTOH DARI PAPUA, SAYA HANYA INGIN BERBAGI CERITAH DENGAN KALIAN,PENGGILAH TOGEL, AWALNYA ITU SAYA HANYA KULIT BAGUNANG, ANAK SAYA DUA,ISTRI HANYA PENJUAL NASI BUKUS, EKONOMI KAMI SANGAT PAS-PASAN, HUTAN TAMBAH MENUMPUK, ANAK SAYA JUGA MAU BIAYA SEKOLAH, SAYA AKHIRNYA ADA TEMAN LANSUNG KASIH NOMOR HP MBAH RIJI KATANYA DIA BISA MEMBANTU ORANG SUSAH JADI SAYA LANSUNG HBU MBAH RIJI DAN MENCERITAKAN SEMUANYA,TENTENG KELUARGA KAMI AKHIRNYA DI KASIH ANGKA GAIB [4D ,[2256]TEMBUS,DENGAN ADANYA MBAH RIJI ,SAYA SEKELUARGA BERSUKUR SEMUA UTANG SAYA LUNAS BAHKAN SEKARANG SAYA SUDAH BUKA USAHA SILAHKAN ANDA BUKTIKAN. SENDIRI, INSYA ALLAH ANDA TIDAK AKAN KECEWA BAGI YANG BERMINAT HUB MBAH RIJI DI NOMOR INI ; 0823 4444 0428 terima kasi,