TOKO PANCING DI JAMBI

TOKO PANCING DI JAMBI
TOKO BUANA FISHING & BUANA PANCING DI JAMBI. KLIK BENNER UNTUK INFO SELENGKAPNYA. KONTAK Yudi HP 085266609191

Friday, 2 December 2016

Robert Pasaribu Amd Hadiri Pernikahan Nancy Ravenska Pasaribu S Sos-Tommy Togar Parulian Simorangkir SH


Robert Pasaribu Amd Hadiri Pernikahan Nancy Ravenska Pasaribu S Sos-Tommy Togar Parulian Simorangkir SH

BERITAKU-Ketua I Punguan Raja Pasaribu Se-Kodya Jambi Robert Pasaribu Amd menghadiri Pesta Pernikahan Nancy Ravenska Pasaribu S Sos-Tommy Togar Parulian Simorangkir SH di GPIB Filadelpia, Jalan Camar XIII No 5, Bintaro Jaya Sektor III, Tangerang Selatan, Sabtu 28 Oktober 2016. Sementara acara Pesta Adat dan Resepsi dilaksanakan di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti Jalan Jend Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat.

Mempelai wanita Nancy Ravenska Pasaribu S Sos Putri dari Pangeran F Pasaribu/ R br Siahaan (Ompu si Clara) Penasihat Punguan Raja Pasaribu dohot Boruna Bere Ibebere se Kodya Jambi. Sedangkan mempelai pria Tommy Togar Parulian Simorangkir SH Putra dari Drs Parlaungan Simorangkir Ak/ Yoyce Br Lubis.

Pemberkatan Pernikahan dan Pesta Adat serta Resepsi berjalan dengan sukacita. Ribuan undangan, keluarga dari kedua mempelai mewarnai kebahagiaan kedua keluarga mempelai. Robert Pasaribu Amd bersama sejumlah undangan dari Kota Jambi turut memberikan Doa Restu dan Ucapan Selamat Berbahagia Kepala Kedua Mempelai dan Keluarga. (Sumber Majalah DNT Edisi 115 Desember 2016/Asenk Lee Saragih).
 
Majalah DNT Edisi 115 Desember 2016
Majalah DNT Edisi 115 Desember 2016
Majalah DNT Edisi 115 Desember 2016
Majalah DNT Edisi 115 Desember 2016

 

Friday, 18 November 2016

Wartawan Jambi Lintas Generasi Berkumpul

Wartawan Jambi Lintas Generasi Berkumpul, Kamis (17/11/2016) di Golden Harvest Hotel Jambi. Foto-foto Bung SAW dan Asenk Lee Saragih.

BERITAKU-Jambi-Sudah lama para penggiat Jurnalis di Jambi ini vakum dalam pertemuan silaturahmi. Tanpa membeda-bedakan lembaga profesi wartawan, berkumpul sesama profesi dari yang senior-junior, yang tua dan muda memang jarang terjadi. Namun kerinduan itu terjawab sedikit demi sedikit atas inisiatif sejumlah wartawan Jambi.(Group FB: Wartawan Jambi Lintas Generasi)

Pertemuan silaturahmi dengan sebutan slogan “Forum Diskusi Wartawan Jambi Lintas Generasi” di Golden Harves Hotel Jambi, Kamis (17/11/2016) sebagai embrio agenda rutin pertemuan wartawan tanpa batas usia dan media. Kerinduan wartawan Jambi untuk silaturahmi ternyata tinggi.

Hal itu terbukti dengan kehadiran sekitar 35 orang wartawan dari berbagai ragam media, wartawan lintas usia berkumpul bersama. Silaturahmi itu berjalan mengalir dengan bincang-bincang terkait dengan kekuatan wartawan di Jambi dalam mempercepat pembangunan.

Kemudian soal advokasi kepada wartawan yang terkait mesalah hukum dan profesi. Kemudian juga soal kesejahteraan wartawan pada media masing-masing dan dalam organisasi profesi. Pertemuan itu banyak mengulas soal keberadaan organisasi wartawan untuk masa depan yang lebih baik.

Forum Wartawan Jambi Lintas Generasi ini juga bakal menjadi agenda rutin. Kedepan Forum Wartawan Jambi Lintas Generasi ini juga bisa menghadirkan pejabat publik untuk membicarakan suatu gagasan serta suatu program dengan melibatkan wartawan.

Wartawan yang hadir dalam Forum Diskusi Wartawan Jambi Lintas Generasi ini diantaranya Akang Mahmud, Op Sirait, Merdeka Sinaga, Jakasim Purba, Buz Afrizal, Sakti Alam Watir, Hery rawas, Suhatman Pisang, Kasparman, Nanang, Syamsul Bahri, Arman, Saman, Ucok Panagaran, Op Simanjuntak, Op Tampubolon, Adi Met dan lainnya.

Sebagai tempat berbagi informasi, Forum Wartawan Jambi Lintas Generasi juga membuat sosial media (Facebook) “Wartawan Diskusi Jambi Lintas Generasi”. Semoga Forum Wartawan Jambi Lintas Generasi ini menjadi ajang silaturahmi rutin tempat berkumpulnya wartawan Jambi lintas generasi. (Asenk Lee)


Wartawan Jambi Lintas Generasi Berkumpul.Foto Asenk Lee Saragih


BUKU

Tuesday, 15 November 2016

::::Puisi Untuk Intan Olivia Br Marbun::::::



Oleh: Bermantuah Sinurat


Intan anakku...
Dipagi ini mama mu sudah siapkan sarapan,
Makanan kesukaanmu itu lho...mie instan,
Habis itu kau boleh bermain sama teman,
Karena mereka sudah menunggumu di halaman depan,
Sambil bermain mama mau cuci pakaian,

Dari jauh kau kuperhatikan,
Tawamu sungguh menyenangkan,
Temanmu banyak, ada sembilan,
Wajahmu penuh kedamaian,
Teman temanmu semua merasa nyaman,
Sekali-kali kau menghampiriku pelan,
Dengan rambut yan aut-autan,
Sambil senyum kau meminta minum karena kehausan,

Intan yang manis...
Tak ada lagi yang bisa kulakukan,
Semuanya sudah menjadi kenangan,
Semuanya tinggal khayalan,
Semuanya tinggal angan angan,
Karena sekarang kau sudah bersama Tuhan,

Bagaimama saya bisa melupakan,
Setiap sore kau sudah pasti berdandan,
Menunggu papa pulang dari tempat kerjaan,

Kini tak bisa lagi kurasakan,
Detak jantungmu saat digendongan,
Nafas harummu saya dipangkuan,
Suara tangismu saat tiduran,
Cerewetmu saat minta jajan,

Oh Intan...
Semua merasa kehilangan,
Apalagi aku yang melahirkan...
Datanglah nak walaupun hanya bayangan,
Perlihatkan sekali lagi senyummu yang menawan...

Selamat jalan anakku...
Selamat jalan buah hatiku...
Sekaràng kau bisa bermain bukan lagi bersama Dian dan Roman,
tapi bersama teman barumu di tempat impian,
Surga adalah tempat sangat indah dan menawan,
Dengan pelindung dan penjaga bernama TUHAN.

Selamat Ulang Tahun Ke 38 Lisbet Derlina Br Sinaga

“Semoga Tuhan yang Maha Kasih Senantiasa Memberikan Kesehatan & Usia Panjang, Serta Kebijakan Sejati Dalam Menjaga, Merawat Rumah Tangga Kita. Maaf Kami Suami dan Anak-anak Tak Ada Memberikan Hadiah Istimewa di HUT Mama Yang Ke 38 Tahun Ini. Tapi Sukacita Kami Bersama Mama dalam Perjalanan Rumah Tangga Kita Yang Sederhana Bahagia. Tuhan Memberkati”. Dari: Sy Rosenman Manihuruk, Moses Juneri, Ezer Twopama, Trionel Aguero Manihuruk.

Tulisan Tulang Birgaldo Sinaga "Selamat Jalan Little Angel Intan Olivia Marbun" Meneteskan Air Mata


BeritaSimalungun.com, Samarinda-Pagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda. Lamat lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Dua orang dewasa dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban berumur 2.5 tahun. Di tepi ranjang tampak kedua orang tua bocah mungil itu tidak henti berdoa.

Mulutnya berseru pelan memohon muzizat untuk kesembuhan anaknya. Matanya nampak sembab. Keduanya tidak bisa tidur. Mereka menatap pilu putrinya tidak sadarkan diri. Sebuah selang berisi oksigen terpasang dimasukkan ke mulut bocah itu.

Subuh beranjak merambat pagi. Pak Anggiat Marbun dan Ibu Intan terus menangis. Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah. Detak jantung Intan terus melemah. Perawat mendekat. Memberikan pertolongan medis. Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti.

Sontak kedua orang tua Intan menjerit histeris. "Boru hasiannnn...Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan mamak nakkkk", jerit pilu Ibu Intan sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Sang ayah memeluk istrinya. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba tiba bumi serasa runtuh.

Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya. Ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir kedua orang tua Intan melihat anak yang dikasihinya.

Empat belas jam sebelumnya, Minggu pagi, 13 November 2016, sekitar pukul 10.00 Wib, suasana hening terasa di dalam Gereja Ouikumene Samarinda. 

Hanya terdengar suara Pendeta sedang mengucapkan doa pengharapan dan pemberkatan. Ratusan jemaat tampak menutup mata mendengarkan doa penutup ibadah minggu. Kedua orang tua Intan tampak khidmat berdoa.

Sementara itu, di depan halaman gereja tampak bocah bocah kecil sedang bermain. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut bergereja.

Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) bersama anak anak sekolah minggu lainnya senang sekali pagi itu.

Mereka senang karena di sekolah minggu mereka bisa bernyanyi dan bermain. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan pinggang dan kepala. Bagi anak anak kecil itu sekolah minggu adalah tempat favorit mereka bergembira.

Mereka bisa bergembira karena disanalah mereka bisa bertemu dengan guru guru sekolah minggu yang mengajar betapa baiknya Tuhan. Guru guru sekolah minggu yang mengajar mereka bernyanyi dan berdoa.

Di luar pagar teras gereja, seorang pria kurus berkaos oblong hitam nampak berjalan kaki. Pria kurus itu berjalan tergesa gesa sambil menenteng tas ransel hitam di punggungnya. Ia tampak berhenti sebentar. Mengamati sekelilingnya. Clingak clinguk sekejap. Setelah pasti, Ia berjalan masuk ke halaman gereja.

Anak anak kecil itu tidak menaruh curiga. Dengan polos mereka tetap bermain. Tidak ada rasa takut. Anak anak kecil sekolah minggu itu hanya tahu bahwa gereja adalah Rumah Tuhan. Rumah berkat. Rumah di mana kebaikan dan kasih sayang diajarkan. Tidak mungkin ada bahaya di sana.

Pria berkaos oblong hitam itu berjalan semakin mendekat. Ia berhenti lalu menatap anak anak kecil itu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya mengeras dan dingin.

Ia sepertinya tidak melihat ada anak anak di halaman depan gereja itu. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak nan polos sedang bermain. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak itu sedang bernyanyi.

Pria berkaos oblong hitam itu hanya melihat musuh yang harus dihabisinya. Kebenciannya begitu membuncah. Kalian harus mati. Begitu pikirannya.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) memandang pria berkaos oblong hitam itu.

Mereka malah tertawa riang lalu melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi pria berkaos oblong hitam itu akan melemparkan bom api molotov.

Setelah tiba waktunya, Pria berkaos oblong hitam itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.

Lalu, Ia melepas tas punggungnya. Mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu.

Dengan sekuat tenaga pria berkaos oblong itu melempar tas berisi bensin menyala api. Brakkkk..bummm...Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak anak kecil itu.

Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Pria berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu.

Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling guling menangis memanggil nama mamanya. 

"Ma...mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk...", teriaknya perih. Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar cukup serius.

Teman teman Intan lainnya Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan juga menjerit menangis. Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling guling mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka.

Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi neraka. Teriakan pilu perih anak anak sekolah minggu Intan Olivia Banjarnahor, Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius, Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan membuat seisi gereja panik.

Para orang tua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak anak mereka meraung raung terbakar. 

Berguling guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orang tua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.

"Saya panik dan syok. Saya pun langsung mencari anak-anak saya, biarpun apa mereka semua anak-anak kami," ujar Mirna sedih. Mirna salah seorang jemaat gereja yang saat itu ikut menyaksikan tubuh tubuh mungil terbakar api.

"Anak-anak sedang bermain di luar gereja. Orangtua mereka sedang berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring hingga tiga kali. Kami semua langsung panik, mencari perlindungan, dan mencari anak kami masing-masing," kata Mawarni yang juga keluarga Intan.

Hanya 14 jam bocah mungil Intan Olivia dapat bertahan. Luka bakarnya hampir 80 persen. Sekitar pukul 04.00 Wita akhirnya bocah lucu itu meninggal dunia. Bocah malang cantik itu menghembuskan nafas terakhirnya disamping ibu bapaknya yang menangis kencang.

Pukul 6 pagi, seorang teman mengirim berita kematian Intan. Saya terpekur sedih. Dadaku sesak. Tidak terasa air mata keluar dari kedua bola mataku. Saya kehilangan kata kata. Saya terhanyut dalam sedih atas kehilangan Intan dan nasib bangsaku.

Saya tiba tiba melihat wajah anakku Baby K yang seumuran dengan Intan. Memandang bocah bocah mungil lucu pemilik warisan Tanah Air Indonesia ini sungguh membuat saya kecut. Akankah anak anak kita akan mewarisi Ibu Pertiwi yang damai dan bersahabat? Ahhhh Entahlah...

Selamat jalan ananda Intan Olivia. Betapa berat 14 jam penderitaanmu itu. Api membakar kulit dagingmu hingga wajah cantikmu berubah mengerikan. Luka gosong sekujur tubuhmu begitu mengerikan.

Kini, Tuhan mendekapmu. Mendekap sejuk dan teduh jiwamu yang terbang bersama para malaikat. Kini tubuh gosongmu cantik kembali. Bumi ini bukanlah tempatmu bermain lagi. Surgalah tempatmu bermain bersama teman temanmu dari seluruh bangsa.

Tempat barumu itu tidak ada ketakutan lagi. Tempat barumu itu tidak ada lagi orang jahat penuh kebencian seperti pria berkaos oblong itu. Di Surga sana hanya ada damai dan kebahagiaan.

Selamat jalan ananda Intan...kami minta maaf tidak bisa menjagamu. Kami minta maaf alfa dan lalai tidak bisa memberi rasa aman di rumah Tuhan tempatmu bernyanyi. Lagu kesukaanmu "Kingkong Badannya Besar" tidak akan pernah kami dengar lagi dari bibirmu yang mungil.

Bernyanyilah di surga ananda..
Bermainlah di taman Firdaus ananda...

Nyanyikanlah lagu Kingkong itu di Surga buat kami ya...
"Kingkong Badannya Besar Tapi Kakinya Pendek, Lebih Aneh Binatang Bebek, Lehernya panjang kakinya pendek..Haleluya..Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa Damailah jiwa mungilmu terbang bersama para malaikat menuju keabadian...Salam peluk cinta dan sayang..
(Dari Tulang Birgaldo Sinaga)