.

.
.

Sabtu, 06 September 2014

Duduk di Kursi Roda, Kaki Beralaskan Bantal


Usman Ermulan, Bupati Tanjab Barat saat Bercengkrama Bersama Awak Media

Duduk di kursi roda dengan kaki beralaskan bantal, Bupati Tanjab Barat Usman Ermulan menanti wartawan datang berkunjung ke rumah dinas, kemarin (3/9) pagi. Dengan kostum dinasnya, suami Esrita itu tersenyum simpul ketika wartawan menyambanginya.
  
PAGI kemarin, puluhan wartawan meramaikan rumah dinas Bupati Tanjabbar yang telah lama kosong itu. Meski belum bisa berjalan normal, Usman begitu lancar berbincang sembari bersendagurau dengan para kuli tinta. Sedikit lebih kurus, Usman banyak menjawab pertanyaan wartawan, mulai dari tentang kondisi kesehatannya, hingga adanya isu pemakzulan terhadap dirinya. Dengan santai, mantan Anggota DPR RI itu menjawab semua pertanyaan wartawan.

“Apa kabar, lama kita dak ketemu,” sapa Usman kepada wartawan kemarin. Dia bercerita, kondisinya mulai membaik dan harus menjalani perawatan fisioterapi. Namun begitu, sementara ini dia tidak lagi berangkat ke Malaka, negeri Jiran.

Ada tiga buah pen yang terpasang di bagian tulang belakang, dengan menjalani tiga kali operasi. “Tidak perlu lagi ke Malaka sementara ini, karena masih dalam proses pemulihan,” tandasnya. Ternyata, semasa muda, Usman pernah jatuh dari mobil. Persisnya tahun 1978, dia dan teman sebayanya jatuh dari mobil hartop. Suatu insiden, membuat mobil itu terpental hingga penumpang di dalamnya tercampak ke tebing.

Kala itu, memang dia tidak memeriksakan kondisi tulang belakangnya. “Waktu itu saya hanya berurut, dan ada luka-luka dikit. Tapi lama kelamaan memang berpengaruh pada kaki sebelah kiri saya, makin lama makin kecil. Jadi kepada rekan-rekan wartawan hati-hati kalau mengendarai mobil maupun sepeda motor,” ujarnya memberikan nasehat.

Cerita lainnya, Usman tak begitu mempersoalkan desakan pemakzulan yang diutarakan salah satu Ketua Parpol di Tanjabbar. Dengan enteng, dia mengatakan hal tersebut hanya isu politik. Meski sakit, Usman mengaku telah menjalankan pemerintahan walaupun hanya via telepon dari Malaka. “Saya terus memantau, dan perintahkan SKPD walaupun dari jauh. Begitu juga dengan APBD 2015, saya juga memantaunya,” kata mantan kontraktor di Pertamina ini.

Cerita demi cerita, Usman sempat membuat guyonan dengan wartawan. Suasana kembali santai, tanpa ada ketegangan dalam pertemuan itu. Sedikit soal izin ke Mendagri, dirinya mengaku telah mengajukan cuti ke Mendagri tatkala akan berobat ke Malaka. Pengajuan itu dia sampaikan ke gubernur dan ditembuskan ke Mendagri.

Dia juga mengaku pernah tidak mengajukan izin cuti, karena saat itu menandatangani beberapa dokumen penting, meski masih dalam perawatan dokter di Malaka. Dia menimpali, dalam UU, enam bulan tidak melaksanakan aktivitas jika seorang kepala daerah mengalami sakit, bisa diajukan ke Mendagri untuk dilakukan pertimbangan. “Itu ada diatur dalam UU. Jadi saya tetap melaksanakan tugas,” katanya.

Dalam bulan-bulan ini, Usman bertekad akan masuk kantor. Diapun sudah memerintahkan Sekda untuk  memindahkan ruangannya ke lantai dasar, karena dia belum mampu untuk naik tangga. “Dalam bulan-bulan ini lah saya akan masuk kantor, rindu juga dengan ruangan saya,” tandasnya.

Topik lain yang sempat dikomentari Usman adalah soal bawahannya yang akan maju pada pilbup mendatang. Sejauh ini dia memberikan kebebasan kepada para PNS yang siap bertarung di bursa Pilkada. Toh semuanya, kata dia, pilihan dari rakyat. “Silahkan saja, saya tidak melarangnya. Namun yang terpenting jangan sampai tugas sebagai PNS tertinggalkan,” tandasnya.


Sejauh ini Usmanpun belum membuka siapa PNS yang akan dia dukung untuk maju menjadi calon bupati kedepannya. “Ini soal politik, jadi kita harus hati-hati,” Usman menjawab pertanyaan para wartawan. Di akhir pertemuan, wartawan memberikan semangat kepada Bupati Tanjabbar, agar bisa bekerja seperti dulu lagi. Para kuli tinta menyalami Usman sembali meninggalkan ruang tamu rumah dinas jabatan itu. (Andri Damanik).

Tidak ada komentar: