.

.
.

Rabu, 17 September 2014

Penggunaan IT Bisa Tingkatkan Simpanan di Bank Sampai Rp 200 Triliun

Kantor OJK Pusat di Jakarta

JAKARTA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan untuk meningkatkan penggunaan teknologi informasi (IT) dalam setiap transaksinya, bukan lagi mengandalkan kantor cabang. Ini dilakukan untuk menyebarkan akses keuangan (financial inclusion) hingga ke pelosok wilayah di Indonesia. Pasalnya, selama ini akses sektor keuangan bagi masyarakat pelosok sulit dicapai. Akibatnya potensi pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) tidak optimal.

Kepala Departeman Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Gandjar Mustika menyebutkan, IT memungkinkan memobilisasi dana yang lebih besar. Dia mencontohkan, dalam lima tahun saja dengan perkiraan 100 juta orang menaruh uang sedikitnya Rp 2 juta bisa terkumpul dana hingga Rp 200 triliun.


“Saya optimistis Rp 200 triliun bisa terkumpulkan kalau 100 juta orang masing-masing menabung Rp 2 juta. Itu kan sebagai tabungan awal," kata Gandjar di acara IDC Financial Insights Financial Services Summit 2014, di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Selasa.


Selain mengoptimalkan potensi dana, lanjut Gandjar, penggunaan IT juga lebih efisen. Bank tidak perlu membuka banyak cabang, karena calon nasabah bisa terjaring dengan IT.

“Tentunya bank tanpa IT itu nothing ya. Dengan penggunaan IT ini dia akan bisa menekan biaya, kemudian keamanan juga akan makin ditingkatkan. Saya kira ini akan meningkatkan jasa atau produk yang bisa di-deliver oleh bank melalui ponsel atau internet," paparnya.

Namun, tambah Gandjar, bank juga harus mewaspadai risiko pemanfaatan IT. "Bad news-nya, mereka harus me-manage risiko. Bank Indonesia sudah mengeluarkan peraturan risk management mengenai IT dan itu harus dipatuhi oleh semua dan intinya bahwa mereka harus me-mitigate semua risiko yang muncul dengan penggunaan IT," katanya.


Lebih jauh Gandjar menjelaskan, pihaknya tengah merampungkan Rancangan Peraturan OJK untuk payung hukum layanan perbankan tanpa cabang (branchless banking). Aturan tersebut ditargetkan selesai akhir tahun ini.

“Saya juga sudah melakukan dengar pendapat minggu lalu dengan berbagai pihak. Kami mengundang ahli, asosiasi, akademisi, termasuk industri agar mereka memberikan masukan. Laku Pandai, Layanan Keuangan dalam Rangka Financial Inclusion," ungkapnya.


Menurut Gandjar, penerapan branchless banking akan membuat masyarakat semakin melek terhadap jasa keuangan. Dengan begitu, dana-dana masyarakat bisa lebih produktif.



“Kami ingin agar perbankan mendukung program ini dalam rangka pengurangan kemiskinan. Agar mereka yang uangnya tidak produktif menjadi lebih produktif. Mungkin karena baru, sebetulnya di negara lain ada sharing cost antara pelaku, misalnya bank, telko, dan provider lain yang terkait dengan internet. Jadi biaya yang dikenakan ke nasabah minim, bahkan nol," jelasnya.(dtk/lee)

Tidak ada komentar: