.

.
.

Minggu, 07 Oktober 2012

Injil Mencerahkan Masyarakat Simalungun

Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Saragih STh PHd. Foto-foto Dok Rosenman Manihuruk (Asenk Lee Saragih)

 (Suara Pembaruan.com  Sabtu, 8 September 2012).

Tanah Simalungun termasuk daerah yang paling sulit ditembus pekabaran injil (PI) di tanah Batak, Sumatera Utara. Hal tersebut ditandai dengan lambatnya PI masuk ke tanah Simalungun. PI baru dimulai di tanah Simalungun, 2 September 1903 oleh Misionaris asal Jerman, Pdt August Theis. 

Sedangkan di tanah Batak Toba (Tapanuli), PI yang dilakukan misionaris Jerman Pdt Ilnommensen sudah dimulai 7 Oktober 1861 yang ditandai dengan berdirinya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

PI di tanah Karo dimulai tahun 1890 oleh misionaris Jerman, Pdt Hguiellaume atau tertinggal sekitar 42 tahun dari PI di tanah Batak Toba dan 13 tahun dari PI di tanah Karo. Lambatnya PI di tanah Simalungun dipengaruhi tradisi masyarakat Simalungun yang masih banyak menganut animisme.

Kemudian masyarakat Simalungun juga memiliki sifat yang tertutup terhadap dunia luar. Selain itu daerah-daerah Simalungun tempo dulu rata-rata terisolasi dari dunia luar dan sebagian daerah Simalungun sudah dimasuki agama Islam.

Berhala menurut mantan Ephorus Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Pdt Jas Damanik STh dalam sebuah tulisan-nya berjudul “Pengaruh GKPS di Simalungun serta arah kebijaksanaan dan strategi pengem-bangannya”, sebelum injil ma-suk ke Tanah simalungun, masyarakat Simalungun sebagian besar menganut kepercayaan animisme (menyembah berha-la).

Mereka percaya adanya roh benda-benda seperti gunung, sungai kayu besar dan sebagai-nya. Mereka sangat taat kepada adat-istiadat, sehingga sulit menerima nilai-nilai maupun ajaran lain dari luar, termasuk injil.

Secara geografis, sebagian besar desa (nagori) di tanah Simalungun termasuk sangat sulit dijangkau. Kondisi demikian membuat masyarakat Simalungun sulit berhubungan dengan dunia luar. Desadesa terisolasi yang masing-masing memiliki partuanon (tuan-tuan kampung) di Simalungun kala itu juga sulit dimasuki orang lu-ar akibat seringnya terjadi perang (permusuhan) antarkampung.

Kalau pun ada daerah Simalungun yang mudah dijangkau dan aman dimasuki, seperti daerah Bandar , Tanah Jawa, Perdagangan yang dekat dengan tanah Melayu, masyarakat Simalungun di
daerah itu sudah dimasuki agama islam.

Di tengah ketertutupan Simalungun dari segi kepercayaan, sosial, budaya dan geografis tersebut, injil tetap berhasil menembus tanah Simalungun. Para misionaris Jerman menembus tembok-tembok ketertutupan tanah Simalungun melalui jalur pantai Danau Toba wilayah Simalungun.

Untuk membangun kantong-kantong PI di tanah Simalungun, para misionaris jerman yang bernaung di bawah payung persekutuan gereja HKBP masuk melalui Desa Tigaras dan Desa Haraanggaol. Kedua desa di tepian Danau Toba yang telah memiliki akses jalan bangunan Belanda ke pusat tanah Simalungun, Pematangraya, atau ibukota Kabupaten Simalungun saat ini.

Respons cepat menyadari ketertinggalan mereka saudara-saudaranya, masyarakat Batak Toba dan Karo dalam PI, pembangunan pendidikan dan kesehatan, masyarakat Simalungun yang dulunya anti perubahan pun sangat cepat merespon kehadiaran PI injil di daerah dan masyarakat mereka.

Setelah Pdt August Theis berkiprah menyebarkan injil di tanah Simalungun selama 18 tahun (1903 – 1921), masyarakat Simalungun pun banyak yang meninggalkan kepercayaan animisme dan masuk menjadi penganut Kristen.

Selain itu warga masyarakat Simalungun pun berlomba-lomba menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah penginjilan (Zending) dan sekolah-sekolah umum setelah mereka menerima PI.

Ketertarikan masyarakat Simalungun mengikuti ajaran Injil, kata Pdt Jas Damanik STh, karena PI di tanah Simalungun yang dilaku-kan Pdt August Theis berhasil membebaskan masyarakat Simalungun dari perbudakan pemerintah kolonial Belanda.

Pdt Augut Theis dan pemerintahan kolonial Belanda menyepakati pembebasan masyarakat Simalungun dari perbudakan tahun 1910. Daya pikat lain Injil bagi masyarakat Simalungun kala itu, yakni teratasinya masalah-masalah kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan keliling dan pendirian rumah sakit yang dilakukan Misionaris Jerman disertai pembangunan sekolah-sekolah umum.

Tingginya animo masyarakat Simalungun menyambut PI tersebut berpengaruh cepat terhadap berdirinya gereja Simalungun. Setelah PI di tanah Simalungun berjalan di bawah payung HKBP sekitar 60 tahun (1903 – 1963), Gereja Simalungun bernama Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) pun didirikan secara resmi, 1 September 1963.

Pendirian GKPS sebagai suatu gereja yang menggunakan bahasa Simalungun di tanah Simalungun sendiri, membuat PI di tanah Simalungun semakin menggeliat. GKPS pun dengan leluasa mendirikan sekolah-sekolah umum tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA), rumah sakit, lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian serta lembaga pelestarian senibudaya Simalungun.

Tingginya perhatian GKPS dalam pembangunan masyarakat dan daerah Simalungun tersebut membuat GKPS pun bisa menjadi “Tuan Rumah” di daerah sendiri dalam PI dan pembangunan masyara-kat. Sejak tahun 1963, ketika perhatian pemerintah masih rendah terhadap pembangunan daerah dan masyarakat Simalungun belum maksimal, GKPS sudah melakukan berbagai terobosan dalam pembangunan daerah dan masyarakat Simalungun.

Selain mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit (RS) Bethesda di Seribudolok, Kecamatan Silimakuta, GKPS juga membangun jalan ke desa-desa terisolir. GKPS juga membangun sarana air minum di desa-desa krisis air bersih, khusus-nya di daerah-daerah pegunungan.

Alhasil, saat ini, ketika injil genap 109 tahun ditaburkan di Tanah Simalungun, GKPS sudah mampu menjadi salah satu tulang panggung pembangunan daerah dan masyarakat Simalungun.

Hal itu bisa dilihat dari banyaknya sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan melalui badan-badan pendidikan GKPS. Daerah-daerah di Simalungun juga sudah tidak ada lagi yang masuk kategori terisolasi dengan masyarakat terbelakang.

Kehadiran GKPS telah mampu membuat hampir 100 % masyarakat Simalungun mengecap pendidikan dasar dan menengah serta menikmati pelayanan dasar kesehatan.

Terus Berjuang

Ephorus (pimpinan tertinggi) GKPS, Pdt Jaharianson Saragih STh PHd pada pemekaran GKPS Resort Jambi dengan GKPS Resort Muarabungo, Jambi baru-baru ini menjelaskan, pihaknya terus berjuang meningkatkan partisipasi dalam pembangunan masyarakat daerah dan masyarakat
Simalungun sebagai wujud nyata misi PI di tanah Simalungun, serta memajukan pembangunan bangsa Indonesia.

Komitmen GKPS terhadap pembangunan pendidikan tersebut, lanjut Jaharianson ditandai dengan semakin banyaknya jumlah lembaga pendidikan di Simalungun yang didirikan dan dikelola GKPS. Saat ini GKPS telah memiliki sekolah dasar (SD) sebanyak 21 unit, sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 8 unit, sekolah mene-ngah atas (SMA) 2 unit dan sekolah menengah kejuruan (SMK) 4 unit.

Selain itu, GKPS juga kini memiliki sekolah taman kanak-kanak sebanyak 2 unit. Sedangkan untuk pendidikan tinggi, GKPS bersama gereja-gereja di Sumatera utara sudah lama mendirikan Sekolah Tinggi Theologia di Medan, Sumatera Utara.
Kemudian GKPS juga menjadi salah satu pendukung utama pendirian perguruan tinggi (PT)  Universitas Simalungun di Kotamadya Pematangsiantar, Simalungun. Dikatakan, salah satu yang kini mendapat perhatian serius GKPS ialah pembangunan karakter masyarakat Simalungun.

Pembangunan karakter itu penting di tengah derasnya gempuran demoralisasi zaman sekarang ini. Untuk mencapai itu GKPS memiliki SDM yang cukup berkualitas dalam pelayanan kerohanian dan sosial.

“Saat ini GKPS kini memiliki sekitar 286 pendeta, 86 orang penginjil dan 14.000 diaken (pelayan). Mereka melayani sekitar 210.141 jiwa warga GKPS yang tersebar di 634 gereja di Simalungun dan berbagai daerah di Indonesia yang terbagi dalam VII Distrik Wilayah Pelayanan,” kata Pdt Jaharianson Saragih STh PHd. [sp/radesman saragih]. (Dikutip dari database SP.com). (Asenk Lee Saragih-HP 0812 7477587)

Ephorus GKPS bersama Inang saat melantunkan lagu "Monang Do Au" Cipt Pdt Dharma Sitopu STh di GKPS Sei Panas Batam Mei 2011.


Rekam Jejak Gereja-Gereja GKPS di Simalungun & Indonesia Oleh Sy Rosenman Manihuruk (Asenk Lee Saragih-HP 0812 7477587)

GKPS Bangun Jaya, Resort Panei Tongah

GKPS Batu Dua Puluh Resort Panei Tongah

GKPS Bulu Raya Pasar-Raya

GKPS Bangko Resort Muarabungo

GKPS Efrata Resort Siantar II

GKPS Efrata Resort Siantar II

GKPS Efrata Resort Siantar II

GKPS Embong Resort Panei Tongah


GKPS Hinalang-Resort Hinalang


GKPS Hutabayu Pane

GKPS Hutabayu Panei


GKPS Hutaimbaru-Resort Tongging

GKPS Hutaimbaru-Resort Tongging

GKPS Jalan Sudirman Siantar

GKPS Jalan Sudirman Siantar

GKPS Muarabungo-Resort Muarabungo

GKPS Muarabungo-Resort Muarabungo

GKPS Pekanbaru Induk Distrik VII. Dok Pesparawi Sei Bapa Se Distrik VII Tahun 2002

GKPS Purba Tongah

GKPS Sinasih

GKPS Sipoldas Resort Panei Tongah

GKPS Sipoldas Resort Panei Tongah

GKPS Sipoldas Resort Panei Tongah

GKPS Sirpang Sigodang

GKPS Sei Panas Batam-Resort Batam

GKPS Soping Resort Tongging

GKPS Sukamakmur Resort Muarabungo

GKPS Persiapan Tanah Kanaan Jambi-Resort Jambi

Lahan Kantor Bupati Simalungun Yang Baru





Lahan Kantor Bupati Simalungun Yang Baru

Tugu Adipura Kota Siantar

Tugu Perjuangan Tiga Ras. Foto-foto Asenk Lee Saragih.

Tidak ada komentar: