.

.
.

Monday, 22 September 2014

Rupiah Anjlok, Harga Tahu-Tempe Sampai Obat-obatan Akan Melambung



Jakarta -Rencana kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed yang akan menaikkan suku bunga memberikan sentimen negatif terhadap pasar keuangan Indonesia. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 12.000 per dolar AS.

Melemahnya rupiah akan langsung menyerang sektor rill. Khususnya sektor-sektor banyak membutuhkan bahan baku impor.

“Tahu-tempe, kan dari kedelai impor mayoritas dari AS. Harga kedelai naik, nanti harga tahu tempe juga akan naik," ujar Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas kepada detikFinance, Minggu (21/9).

Kemudian adalah obat-obatan. Lana menyebutkan 90% bahan baku obat berasal dari negara lain. Artinya, harga untuk obat-obatan kemungkinan akan naik.


“Obat flu, obat sakit kepala, pasti naik harganya," ujar Lana. Semen, lanjut Lana, juga merupakan produk yang terkena dampak pelemahan rupiah. "Semen itu sudah pasti harganya naik lagi nanti," tuturnya.

Secara umum, menurut Lana, kalangan pengusaha sudah memperhitungkan risiko dari gejolak nilai tukar sejak awal tahun. Apalagi dengan kondisi fluktuasi rupiah yang cukup cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

Caranya adalah dengan menetapkan posisi rupiah di level paling lemah. Rata-rata perusahaan mematok dolar setara Rp 13.000 sehingga harga barang dan jasa naik lebih dulu.

“Awal tahun itu sebenarnya harga barang sudah naik, karena dolarnya dipatok Rp 13.000. Biar tidak rugi," terang Lana.


Namun dengan pelemahan yang kembali terjadi, Lana menuturkan kalangan dunia usaha juga memanfaatkan momentum. “Sekarang akibat momentum harganya dinaikkan lagi. Padahal seharusnya tak perlu lagi,” tegasnya. (dtk/lee)

No comments: