.

.
.

Senin, 19 Januari 2015

Dimulai dari Kelenteng Tua Hok Tek


Kelenteng Hok Tek Jambi. Foto Asenk Lee Saragih

Hidayat Tokoh Etnis Tionghoa Doa Syukur di Kelenteng Siau San Teng di RT 10 Sungai Asam Kampung Manggis Kelurahan Cempaka Putih Kota Jambi
MENELUSURI JEJAK TIONGHOA DI JAMBI

Bangunan Kelenteng Hok Tek (Dewa Bumi) Jambi, yang terletak di pinggir Sungai Marem, RT 14/05, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Pasar, Kota  Jambi adalah saksi bisu sebagai jejak masuknya etnis Tionghoa di Jambi, khususnya aliran Khonghucu. Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Jambi. Konon usia kelenteng sudah memasuki tiga abad sejak dibangun tahun 1805 Masehi. Jelang Imlek tahun 2015 ini, Kelenteng di Jambi kini mulai dipadati umat untuk sembahyang.

R MANIHURUK, Jambi

Kelenteng Hok Tek Jambi kini sudah dijadikan sebagai Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu. Asal usul hadirnya warga Tionghoa aliran Khonghucu di Jambi, tidak terlepas dari sejarah berdirinya kelenteng (Tempat Beribadah Agama Khonghucu) di Kota Jambi ditandai dengan bangunan kelenteng Hok Tek.

Kini Kelenteng Hok Tek Jambi, yang terletak di pinggir Sungai Marem, RT 14/05, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Pasar, Kota  Jambi tampak kurang terawat. Kelenteng tampak sudah pudar dan tak mendapat perawatan rutin dari pihak terkait.

Menurut Prayoga alias Apong (54), Pengurus Kelenteng Siau San Teng yang terletak di RT 10 Sungai Asem, Kampung Manggis, Kelurahan Cempaka Putih, Kota Jambi, kepada Harian Jambi  mengatakan, asal muasal Tionghoa di Jambi seiring dengan berdirinya Kelenteng Hok Tek yang fungsinya sudah dipindah ke Kelenteng Siau San Teng.


Mengingat areal bangunan Kelenteng Hok Tek sempit, hanya diatas areal tanah 30 x 15 meter dan berada di pinggir kali, kemudian Kelenteng Hok Tek tidak difungsikan lagi. Bahkan Kelenteng Hok Tek sudah dijadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) oleh pemerintah sesuai Undang-Undang No 5 Tahun 1992.

Pengamatan Harian Jambi menunjukkan, kini Kelenteng Hok Tek yang dikelilingi pagar besi berkarat setinggi dua meter, tampak kurang terawat. Bahkan bangunannya tampak kusam dan areal kelenteng kurang terawat dengan baik. Di dalam areal kelenteng itu tampak dua papan merek BCG yang dipasang oleh Pemerintah Provinsi Jambi. Halamannya juga ditumbuhi rumput-rumput gulma.

Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi Darman Wijaya mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan kondisi Kelenteng Hok Tek Jambi yang tidak terurus.

Menurutnya, Kelenteng Hok Tek sudah menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB) oleh Pemerintah Sesuai Undang-Undang No 5 Tahun 1992. Pihak Matakin Jambi tidak berwenang untuk mengurus cagar budaya tersebut.

Disebutkan, tanggung jawab Kelenteng Hok Tek sudah di tangan pemerintah. Namun pihaknya tidak berpangku tangan jika pemerintah tidak memperhatikan kelengteng tertua di Jambi itu Hok Tek hancur. “Kita akan memperhatikan Kelenteng Hok Tek itu. Karena itu jejak sejarah masuknya agama Khonghucu di Jambi,” katanya.

Siau San Teng Terbesar di Jambi

Sementara Kelenteng Siau San Teng merupakan kelenteng terbesar dari 22 kelenteng yang ada di Jambi. Kelenteng ini sebagai alih fungsi Kelenteng Hok Tek. Bangunan Kelenteng Siau San Teng tampak kokoh di areal yang cukup luas. Tampak juga satu kelenteng kecil sebagai pendamping di belakang Kelenteng Siau San Teng.

Sebuah bangunan kapal layar kecil bertuliskan huruf Tionghoa berada di sebelah kanan depan Kelenteng Siu San Teng. Konon katanya, kapal itu merupakan sejarah masuknya warga Tionghoa ke Jambi tiga abad lalu.

Sementara itu, tampak juga dua bangunan Stupa di sebelah kanan kiri kelenteng tersebut. Menurut Apong, pemindahan fungsi Kelenteng Hok Tek ke Kelenteng Siau San Teng, diawali dengan ritual keagamaan. Di depan kelenteng ada kolam ikan bundar yang isinya ada ikan patin putih dari Thailand.

Pemindahan ditandai dengan dipindahkannya dua plakat yang terbuat dari kayu bertuliskan kalimat pantun bahasa Tionghoa. Masing-masing plakat itu berwarna merah dan keemasan. Ritual dilakukan dengan mendatangkan Saikong (setara Pendeta) dari Palembang. Sumatera Selatan tahun 1904 silam.
“Kelenteng Siau Sen Teng sudah direnovasi sesuai dengan perkembangan zaman. Bertambahnya Umat, membuat kelenteng terus direnovasi. Bahkan renovasi telah dilakukan pada tahun 1935, 1950 dan 1978. Kelenteng Siau Sen Teng merupakan kelenteng terbesar di Jambi,” ujar Apong.

Apong mengetahui sejarah kelenteng dari ayahnya, yang juga penjaga kelenteng itu sebelumnya. Ayahnya kini sudah meninggal dunia. Kelenteng Siau Sen Teng selalu menjadi pusat tahun baru China (Imlek) di Kota Jambi.

Menyambut Imlek 2565 31 Januari 2014, Kelenteng Siau Sen Teng juga bersolek dengan mengecat atap genteng dan dinding kelenteng. Kemudian juga mempersiapkan lilin-lilin besar, kertas persembahan hingga dupa penyembahan.

Intensitas Berdoa Jelang Imlek

Intensitas umat Konghucu berdoa di Kelenteng Siau San Teng yang terletak di RT 10 Sungai Asem, Kampung Manggis, Kelurahan Cempaka Putih, Kota Jambi semakin tinggi jelang perayaan Tahun Baru China, Gong Xi Fa Cai atau Imlek 2566/2015 yang jatuh pada 19 Februari  2015 mendatang.

Menurut Prayoga alias Apong, pengurus Kelenteng Siau San Teng, petugas kelenteng juga kini ditambah karena intensitas umat Khonghucu di Kota Jambi semakin rutin sembayang syukur.

Disebutkan, segala kebutuhan untuk sembayang di kelenteng terbesar di Kota Jambi itu sudah dipenuhi. Bahkan banyak etnis Tinghoa yang notabene bukan aliran Khonghucu juga ikut berdoa di kelenteng yang dibangun sejak 1935 dan direnovasi tahun 1950 dan 1978. Kelenteng Siau Sen Teng merupakan kelenteng terbesar dari 22 kelenteng yang terdapat di Jambi.

Hidayat, seorang tokoh etnis Tionghoa dan juga pengusaha kopi AAA di Jambi juga melakukan doa syukur di Kelenteng Siau San Teng, belum lama ini. Dia bersama istrinya melakukan ritual doa syukur di kelenteng tersebut.

Sembari melakukan ritual doa, Hidayat juga berderma dengan memberikan Angpaow (sumbangan) kepada para pegawai kelenteng tersebut. Sesekali dia juga menyapa Harian Jambi terkait dengan doa syukur yang dilakukannya bersama istrinya.

“Saya bersama ibu rutin setiap jelang Imlek melakukan doa syukur dan berbagi dengan pegawai kelenteng ini. Sebagai etnis Tionghoa saya bersama istri merupakan bagian dari berdirinya kelenteng tertua dan terbesar di Jambi ini. Ayo ikuti bapak melihat kolam kecil di depan kelenteng ini,” ujar Hidayat yang juga pendiri Komunitas Pecinta Candi Muarojambi ini.

Menurut Hidayat, sepuluh tahun lalu dirinya membawa empat ekor ikan patin putih dari Thailand dan ditaruh di kolam bulat di depan Kelenteng Siau San Teng. Kini empat ekor ikan patin putih itu sudah berukuran hingga 5 kg hingga 7 kg.

“Kalau di Thailand, patin putih itu dianggap keramat. Saya baya empat ekor dan kini sudah besar di kolam ini. Kolam ini ibaratkan empang, yang bagi etnis Tionghoa adalah sumber rezeki. Jadi empang harus dirawat dan bersih karena sebagai sumber rezeki,” ujar Hidayat sembari memberikan makan patin putih dengan roti tawar.

Hidayat dan istrinya sebenarnya menganut agama Buddha. Dirinya selalu ambil bagian jika ada perayaan hari raya dan kegiatan Buddha di Jambi. Namun dirinya rutin setiap hari Imlek tetap melakukan ritual doa syukur di Kelenteng Siau San Teng. (*/lee)

Tidak ada komentar: