Minggu, 18 Januari 2015

H Syamsu Rizal SAg, Berhati Mulia sebagai Orangtua Anak Yatim Piatu

Panti Asuhan Ibadurrahman Jambi yang beralamat di Jalan Kimaja, Arizona Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.

H Syamsu Rizal SAg
Orang yang mendustakan agama adalah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Dengan hal tersebut, maka celakalah bagi orang Muslim yang seperti itu, baik orang yang taat salat.Orang-orang yang lalai salat dan orang yang berbuat Riya’ serta orang yang enggan untuk saling menolong dengan barang yang berguna.

R MANIHURUK, Jambi

Ungkapan itulah yang menjadi dasar serta pengalaman hidup di waktu kecilnya, Syamsu Rizal berniat untuk mendirikan sebuah panti untuk membantu anak-anak yatim piatu dan akan-anak yang keluarganya tidak mampu. Nama panti itu adalah Panti Asuhan Ibadurrahman Jambi yang beralamat di Jalan Kimaja, Arizona Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebagai makhluk Tuhan tidak akan lepas dari kehidupan sosial. Kehidupan yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Salah satu sisi kehidupan sosial yang sangat kental dan begitu terasa pada masyarakat adalah budaya saling menolong.


Dalam kehidupan beragama, saling menolong dalam kebaikan memang dianjurkan. Artinya, sebagai umat beragama, manusia dituntut bisa membangun rasa saling menolong dengan peduli antar sesama, baik itu antar agama, antar suku, antar ras, maupun antar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dewasa ini, manusia mungkin sudah mulai gersang mendengar, bahkan menyaksikan kepedulian antar sesama dalam kehidupan keseharian. Di tengah masyarakat yang heterogenitasnya begitu luas ditambah dengan kesibukan sehari-hari, tidak jarang kepedulian antar sesama itu sudah mulai terkikis.

Bagi sebagian orang, mungkin menjadi pengurus ataupun sebagai kepala panti asuhan tiu bukanlah hal yang mudah. Namun berkat keyakinan dan juga kesabaran dari Syamsu Rizal, ternyata hal tersebut mampu dilewatinya. Di usianya yang saat ini sudah lewat setengah abad ini Syamsu masih menikmati waktu untuk mengurusi anak-anak yatim piatu dan anak yang tidak mampu.

Syamsu merupakan pria asli dari Sumatera Barat. Sejak kecil Syamsu tinggal bersama keluarganya di sana. Namun siapa sangka, ketika Syamsu masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas tiga, ternyata ayah Syamsu meninggal dunia.

“Dulu waktu ayah saya meninggal, saya berhenti sekolah, dan saya merasakan betul bagaimana rasanya putus sekolah, sedih sekali,” ungkap Syamsu.

Namun di balik kenyataan itu, ternyata rasa kepedulian dari orang lain masih bisa dirasakan oleh Syamsu. Masih ada tangan yang rela dan ikhlas untuk memberikan bantuan kepada Syamsu.
Hingga akhirnya, karena adanya belas kasihan dari orang, akhirnya Syamsu dibawa ke Jambi untuk bisa bersekolah di PGA Jambi tepatnya pada tahun 1972.

Berprofesi sebagai Tenaga Guru

Setelah selesai sekolah, Syamsu memutuskan untuk merantau ke Medan untuk berkerja di sana. Selain itu Syam juga pernah pergi ke Pematang Siantar. Di daerah orang, yang dilakukan Syamsu bermacam-macam. 

Mulai dari bekerja buruh, bahkan juga pernah menjadi penarik becak. Setelah itu Syamsu kembali lagi ke Jambi pada tahun 1980 untuk bekerja sebagai tenaga guru honor di salah satu Madrasah.

Berkat kegigihannya dalam bekerja, pada tahun 1983 Syamsu diangkat menjadi pegawai negeri. Setelah menjadi pegawai negeri, Syamsu ditugaskan untuk mengajar di Madrasah Muhammadiyah.

“Sewaktu saya menjadi tenaga pengajar, saya melanjutkan pendidikan kuliah di salah satu universitas yang ada di Jambi dengan jurusan pendidikan Agama Islam. Masa kuliah kurang lebih selama tujuh tahun yaitu mulai dari tahun 1983 sampai dengan 1990. Namanya juga mengajar sambil kuliah jadi proses kuliah saya cukup lama,” ujar Syamsu Rizal.

Berhati Mulia Mengasuh Anak Yatim Piatu

Setelah menjadi tenaga pengajar, ternyata di Madrasah Muhammadiyah itu ternyata membuka panti, tepatnya berlokasi di daerah Sungai Gelam. Kemudian Syamsu ikut menjadi pengurus anak-anak panti dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2005. 

Pada tahun 2005 tersebut Syamsu berhenti menjadi pengurus panti, karena Syamsu ditugaskan untuk bekerja di kantor Departemen Aagama Kota Jambi.

Karena pindah tugas, akhirnya Syamsu juga pindah lokasi rumah. pada waktu itu anak Syamsu sekolah di Jawa, kemudian ada yang sekolah di pondok pesantren bersama ibunya di daerah Sungai Gelam karena di daerah tersebut Syamsu dan istrinya mendirikan sebuah sekolah taman kanak-kanak yang sampai saat ini masih dipegang oleh sang istri.

“Akhirnya saya sendirian di rumah, karena tanggung jawab dari tugas. Kemudian saya mengajak tujuh anak dari panti asuhan yang dari Sungai Gelam untuk saya asuh sambil saya sekolahkan,” ujar Syamsu.

Kemudian pada bulan April tahun 2007, Syamsu dilantik menjadi Kepala Sekolah dari Madrasah Aliyah Mahdaliah. Ketika dilantik menjadi kepala Madrasah, ternyata kepercayaan dari masyarakat masih tertuju kepada Syam sebagai pengurus panti asuhan yang ada di Sungai Gelam.

Banyak tokoh masyarakat dan juga kepala desa yang mengantar anak kepada Syamsu Rizal. Kemudian Syamsu menyarankan kepada masyarakat tersebut agar mengantar anak ke panti asuhan yang di Sungai Gelam, tapi mereka menolak.

Karena kepercayaan dari masyarakat, akhirnya Syam pun menerima kedatangan anak tersebut. Yang mulanya Syam hanya bersama tujuh anak, kemudian menjadi 28 anak yang tinggal bersamanya.
“Setelah saya nerima anak itu, saya berpikir darimana uang makan anak ini karena jumlahnya banyak, sayakan bukan orang kaya,” ujar Syamsu sembari tersenyum.

Mendirikan Yayasan Panti Asuhan

Setelah banyaknya anak yang diasuh, Syamsu mendapatkan saran dari kawan-kawannya untuk mendirikan sebuah panti. Akhirnya Syamsu merundingkan saran tersebut bersama dengan keluarganya.

Sejak saat itulah, Syamsu mulai mendirikan panti asuhan untuk anak-anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak-anak yang keluarganya kurang mampu tepatnya pada tahun 2007. Panti asuhan tersebut diberi nama Panti Asuhan Ibadurrahman.

“Saya mendirikan panti ini terkandung niat bahwa yang paling utama adalah untuk ibadah dan yang kedua adalah saya mengingat bahwa sewaktu ayah saya meninggal dulu, hidup saya banyak dibantu orang makanya saya juga ingin membantu banyak orang, khususnya untuk anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah,” ujar Syamsu.

Oleh karena itu, jika ada ada anak yang ingin bersekolah atau putus sekolah karena masalah ekonomi keluarga, maka anak itulah yang ditampung. Dengan tujuan agar anak tersebut bisa untuk melanjutkan pendidikan sekolahnya. Dalam hal ini, visi yang terkandung pada panti asuhan ini adalah untuk memberikan pendidikan kepada anak minimal sampai dengan tamah SMA atau sederajat.

Gadaikan Tanah

Demi rasa kemanusiaan, Syamsu rela menggadaikan tanahnya hanya demi mempertahankan keberadaan Panti Asuhan tersebut. Setelah panti tersebut berdiri, banyak kendala yang dirasakan oleh Syamsu, terutama masalah dana. Ketika pada tahun pertama, dimana panti milik Syamsu belum terlalu dikenal banyak orang. 

Kemudian karena membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah anak-anak panti, akhirnya Syamsu meminjam dana kepada anggota Majelis Taklim.

Kemudian Syamsu diberikan dana. Syamsu berjanji untuk mengembalikan dana tersebut. Tapi di luar dugaan, lewat dari sebulan ternyata Syamsu belum bisa memenuhi janjinya untuk membayar uang yang telah dipinjam sesuai dengan batas yang sudah Syamsu tentukan.

“Karena belum mampu membayar, akhirnya saya temui salah satu pengurus Majelis Taklim dengan membawa sertifikat tanah saya. Tujuannya tidak lain adalah untuk menebus hutang yang telah saya pinjam sebelumnya,” papar Syamsu.

Setelah memberikan sertifikatnya, Syamsu berpikir dan juga berdoa. Apabila kerja sebagai pengurus panti memang betul tolong dibantu, namun jika sebaliknya maka beri tanda untuk dibubarkan saja.
Setelah itu, selang beberapa hari kemudian, ternyata datang keluarga besar dari Fakultas Hukum Universitas Batanghari (Unbari) datang ke panti untuk memberikan bantuan yang berupa sembako dan bantuan dana. Bantuan tersebut berjumlah kurang lebih sekitar Rp 10 juta. Kemudian Syamsu langsung menemui pengurus Majelis Taklim untuk membayar hutang.

“Baru saya duduk, ibunya langsung bilang kalau sertifikat tanah saya itu tidak ada yang berminat untuk membelinya. Lalu ibu tersebut mengatakan agar saya tidak usah karena sudah ada seorang hamba Allah yang membayar utang bapak tersebut. Saya pun merasa tertegun karena ternyata doa saya didengar oleh Allah,” ucap Syamsu.

Berkat kejadian-kejadian itulah, Syamsu merasa bahwa jika sesuatu yang dilakukan atas dasar keyakinan kepada Allah, maka Allah akan selalu membantu. Sejak saat itulah, Syamsu terus melanjutkan untuk mengurus panti asuhan.

Selalu Ada Rezeki buat Anak Panti Asuhan

Semakin berkembang, ternyata banyak sumbangan dari para dermawan. Mulai dari undangan untuk anak di berbagai acara. Kemudian juga ada hamba Allah yang meminta nomor rekening rumah, yaitu untuk membantu biaya pembayaran listrik dan air.

“Kalau menurut saya ada banyak hal cerita yang tak terduga, dan itu semua berkat bantuan dan juga keyakinan terhadap Allah SWT. Apabila terdesak, pasti ada jalan keluar yang terpenting niatnya baik,” ujar Syamsu.

Syamsu juga mempunyai keyakinan, bahwa dari setiap kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak-anak panti pasti ada rezekinya. Apalagi ketika panti asuhan ini direkomendasikan di salah satu televisi lokal Jambi. Setelah ditampilkan di televisi ternyata pengaruhnya sangat besar. Bahkan ada bantuan dari daerah lain, seperti dari Linggau dan juga Bayung Lincir langsung datang ke lokasi panti.

Dalam hal ini, Syamsu menerima anak bukan hanya anak dari kabupten yang ada di Jambi. Tetapi Syamsu juga menerima anak dari daerah lain seperti dari Sumatera Barat, Bengkulu dan dari Lampung. 

Hal ini disebabkan karena kriteria anak yang ditampung di panti ini bukan anak yatim, piatu dan yatim piatu. Tetapi lebih untuk anak yang tidak mampu, terancam putus sekolah atau bahkan putus sekolah hanya karena masalah ekonomi. Oleh karena itu, perbandingan antara anak yatim hanya 25 persen jika dibandingkan dengan anak yang dari keluarga tidak mampu.

Pola asuh yang diutamakan oleh Syamsu memang untuk anak-anak panti adalah untuk melanjutkan sekolah. Namun jika seusai sekolah, hal yang paling utama adalah memberikan pelajaran dan pendidikan tentang agama. 

Yaitu masalah salat dan mengaji. Oleh karena itu, jika ada anak panti yang melanggar peraturan, maka akan dihukum untuk menulis ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Tujuannya adalah agar anak tersebut bisa mengerti serta memahami bahkan menghafal dari yang sudah ditulis.

Kiat Syamsu Rizal Tabah Mengasuh Anak Panti

Saat ini, jumlah anak-anak yang berada di panti saat ini mencapai 155 orang. Ada 24 orang anak yang berada di luar panti. Maksud berada di luar panti itu adalah anak masih ikut dengan orangtuanya, tapi karena masalah ekonomi maka tiap bulan dibantu dalam bentuk sembako dan juga bantuan untuk pendidikan sekolah. Dengan banyaknya jumlah anak yang diasuh, Syamsu mempunyai cara tersendiri untuk menghadapinya.

“Bagi Syamsu, untuk orang yang optimis dan mempunyai keyakinan serta kreativitas yang kuat akan berani mencoba untuk membuat hal-hal yang positif. Jika sudah yakin maka akan merasa siap. Karena dibalik itu semua setiap ada kesusahan pasti ada jalan keluar selagi kita mau berusaha, dengan niat hanya untuk Allah, selain itu juga bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama,” ungkap Syamsu.

Harapan Syamsu ke depan adalah ingin membeli tanah untuk membuat gedung baru untuk anak-anak panti. Karena banyaknya jumlah anak yang masuk ada dalam panti asuhan saat ini sudah melebihi kapasitas. 

Di mana yang semula hanya dibatasi sekitar 40 orang, ternyata anak yang datang sekitar 120 orang. Oleh karena itu selain dari dua gedung panti yang ada, yaitu gedung cewek dengan cowok yang terpisah, akhirnya Syamsu juga menyewa ruko untuk ditempati anak-anak tersebut.

Anak Panti Berprestasi

Berkat keyakinan dan niat yang baik dari Syamsu, ternyata pendidikan yang diterapkan mempunyai hasil. Yaitu dari beberapa anak asuhnya bisa memberikan prestasi terbaik. Hal ini terlihat dari sederet piala yang ada. 

Tiga di antara anak yang lain yang mendapatkan prestasi adalah Aprilia mendapat juara menari, Musdalifah mendapat juara hafalan ayat-ayat pendek dan Mawarni mendapatkan juara lomba voli. Lomba tersebut masih dalam batas kota yaitu lomba antar panti asuhan yang ada di Jambi.

Mereka pun mengungkapkan tentang pengalaman berada dalam panti adalah bisa saling berbagi, bisa saling memahami antar anak yang satu dengan yang lain, banyak teman, kebersamaan yang kuat, yang tidak tau jadi tau dan juga bisa saling bersosialisasi dengan baik.

Mereka pun berharap, agar nantinya bisa selalu memberikan yang terbaik. Karena walaupun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, tapi keinginan mereka untuk selalu menjadi yang terbaik itu tampak terlihat. Oleh karena itu, keinginan mereka tersebut akan diupayakan dengan keseriusan dalam belajar, baik untuk pendidikan umum maupun dalam pendidikan keagamaan.(*/lee)


Tidak ada komentar: