.

.
.

Minggu, 25 Januari 2015

SAMBUT KEMENANGAN OCHA SAMOSIR, LUPAKAN SEJENAK KISRUH KPK VS POLRI

Mama Sapna br Sitopu dan Ocha br Samosir di GKPS Cengkareng
Oleh: Jannerson Girsang

Para penggemar OCHA Samosir pantas puas dan bangga karena "idolanya" menjadi juara I, adu bakat di Program Televisi Indosiar. Ocha menyingkirkan 37 peserta Mamamia Indosiar 2015.

Saya dan jutaan pendukungnya menikmati hasil kompetisi yang fair, dan melupakan berita-berita seputar kisruh oknum-oknum KPK dan Polri, yang berkompetisi dengan sangat tidak fair.

Setelah berbulan-bulan OCHA--Peserta program televisi Mama Mia asal Sumatera Utara itu berada di "kursi panas", sejak audisi September 2014, putri Sapna Sitopu itu berhasil menorehkan namanya di pentas kontes bakat bertaraf nasional itu.

Ocha melalui liku-liku menapaki tangga Juara. Dia sempat hampir tersisih dalam enam besar.

Pada penampilan 29 Nopember 2014 lalu, pasangan Ocha Samosir dan Sapna Sitopu nyaris terdepak dari kontes bakat itu. Saat itu dalam babak enam besar, masuk zona merah alias karena minim dukungan sms (pesan singkat).

Saat itu Sapna sempat pesimis. "Saya pesimis karena peserta yang lain jelas-jelas mendapat dukungan dari wali kota daerah mereka. Kalau saya sendiri, seberapalah kemampuan saya menggalang dukungan?" ujarnya kepada Tribunenews.

Ternyata, semangat membara mampu menembus semua hambatan. "If you want to do some thing you find a way. If you don't, you will find an excuse," demikian Jim Rohn.

Sapna dan Ocha menemukan jalannya. Saya dan jutaan pendukungnya turut salut dan bangga dengan kegigihannya!.

All out!. Itu yang saya saksikan. Beliau tidak henti-hentinya mengirim sms meminta dukungan. "Bantu sms boru kita ya boto," demikian Sapna terus meminta dukungan melalui sms ke hp saya dalam setiap penampilan OCHA di Mamamia..

Sapna adalah seorang seniman, dosen di Etnomisikologi USU, serta sering tampil dalam acara seni budaya Simalungun. Terakhir saya menyaksikan penampilannya di Balai Bolon GKPS Pematangsiantar dalam penutupan Pesparawi Bapa GKPS, Nopember 2014.

Dalam perjalanan kembali ke Medan dari Pematangsiantar saya dan rombongan Sapna sempat istrahat di sebuah kedai kopi di Perbaungan dan Sapna mengungkapkan kisah perjuangannya mendukung OCHA juara. "Saya meminta kalian mendukungnya yah," katanya waktu itu.

Tentu saja, walau hanya sekedar mengirim sms.

Tadi malam, Sapna menuai hasilnya. Bukan hanya berarti untuk dirinya, tetapi banyak orang.

Sapna turut membawa budaya sinden Batak yang tampil di ajang nasional. Sapna memiliki keahlian nyinden lagu-lagu tradisonal Batak Simalungun, Pakpak Dairi, Mandailing, Ankola dan Karo. Semuanya bisa disaksikan oleh jutaan pemirsa di Indonesia. 

Kemenangan Ocha setidaknya membuat saya sedikit terbebas dari pikiran tidak sehat menyaksikan persaingan yang sangat bertolak belakang, pertarungan Polri dan KPK yang sangat memuakkan. Pertarungan yang mengedepankan kepentingan kelompok, pribadi, menggunakan kekuasaan.

Kemenangan Ocha menjadi setitik air di gurun pasir menerangi pikiran yang sedikit galau menyaksikan pertarungan jatuh menjatuhkan yang terjadi di bumi tercinta ini.

Semoga teladan ini mengajarkan kita: hanya bersaing sehat, proses perjuangan panjang, bisa mendatangkan hasil yang membahagiakan semua orang.
Great Ocha, great Sapna!

Selamat untuk boto Sapna Sitopu, ibu Ocha yang memberi pelajaran bagi orang tua dalam mendukung anak-anaknya bersaing sehat. Terima kasih untuk suara Ocha yang memukau. Vina Panduwinata dan seluruh juri, seluruh penggemarmu terhibur dan tercerahkan!.

Tidak ada komentar: