.

.
.

Rabu, 28 Januari 2015

Cerita Akhir Evakuasi Korban AirAsia

Jenazah Korban Tragedi AirAsia
Tragedi AirAsia

Dari Rasa Pasrah, Hingga Apresiasi Keluarga Korban Kepada Tim SAR

Dansatgas SAR TNI Laksda Widodo menyampaikan permohonan maaf ke keluarga korban, karena seluruh kekuatan di Selat Karimata ditarik mundur dari proses evakuasi maupun korban dari badan pesawat. Keluarga korban berharap, agar pencarian dan evakuasi terus dilakukan.

TIM REDAKSI, Surabaya

“Dari keluarga mengucapkan terima kasih kepada pihak rescue. Tapi bagi kami ini, kita tetap menginginkan keluarga kita bisa ditemukan," ujar Dariyanto kepada wartawan di Crisis Center di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Selasa (27/1).

Keluarga dari penumpang AirAsia QZ8501 pasangan suami istri Indriyani Fandi Santoso yang tinggal di Surabaya ini menyadari kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Namun, keluarga korban berharap agar kerabatnya yang menjadi korban AirAsia QZ8501 dapat ditemukan meski dalam kondisi apapun.


“Memang kemungkinan nggak semua bisa ditemukan. Tapi keluarga tetap berharap jasadnya bisa ditemukan apapun bentuknya," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Imam Sampurno. Ia berharap pencarian jasad korban AirAsia terus dilakuka dan belum memikirkan soal kompensasi atau asuransi. “Kami sadar cuaca sulit diprediksi," tutur Imam.

Imam yang kehilangan anak, menantu dan cucunya, berharap proses pencarian terus dilakukan. "Kami berharap semuanya masih terus dilakukan. Dan sekarang masih terus dikomunikasikan dengan Basarnas," jelasnya.

Pangarmabar Minta Maaf

‎Di hari ke-29 proses evakuasi korban dan badan pesawat QZ8501, seluruh kekuatan di Selat Karimata ditarik mundur. Panglima Armada RI Kawasan Barat yang juga selaku Dansatgas SAR TNI Laksda Widodo menyampaikan permohonan maaf.

“Selaku Dansatgas SAR TNI, kami menyampaikan kepada keluarga korban, mohon maaf sedalam-dalamnya," ujar Widodo kepada wartawan di KRI Banda Aceh, Selasa (27/1).
Widodo mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin mengevakuasi jenazah dan badan pesawat. Hasil ini juga telah dilaporkannya kepada Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

“Memang hitung-hitungannya dari 162 baru ketemu 70 jenazah. Ini adalah upaya maksimal kami. Dua hari terakhir sudah menyelam sisi-sisi yang belum tercover, ternyata nihil," ulasnya. ‎

Widodo menjelaskan Panglima TNI Jenderal Moeldoko memerintahkannya untuk melakukan konsolidasi. “Panglima TNI perintahkan konsolidasi, kalau ada perintah ke sini lagi, kami siap,"‎ kata Widodo.
Seluruh KRI dan kapal ditarik mundur dari Selat Karimata. Selain KRI Banda Aceh, ada juga KRI ‎Yos Soedarso, KN Pacitan, dan Kapal Crest Onyx. KRI Banda Aceh akan bertolak menuju Jakarta sekitar pukul 14.00 WIB. Sedangkan kapal lain akan kembali ke pangkalan masing-masing.

Seluruh Armada Ditarik

Upaya penarikan main body QZ8501 hari ini kembali gagal. Beberapa hari terakhir adalah 'nafas terakhir'. Hari ini, seluruh armada ditarik dari Selat Karimata.

“Kemarin sudah kami kaitkan dengan tali tross‎, tapi tadi diselami berubah. Dan kita harus ikat lagi dari nol, namun tidak terkejar waktunya," ujar Panglima Armada RI kawasan Barat (Pangarmabar) Laksda TNI Widodo di KRI Banda Aceh, Selasa.

“Arus terus naik, pukul 10.30 WIB sudah di atas 1 knot, sudah tidak efektif dan efisien. Saya perintahkan untuk tarik," imbuhnya.

KRI Banda Aceh akan bertolak menuju Jakarta sekitar pukul 14.00 WIB. Butuh waktu 24-26 jam untuk perjalanan Selat Karimata-Jakarta. Tak hanya KRI Banda Aceh, namun juga KRI Yos Sudarso, KN Pacitan, ‎dan kapal Crest Onyx juga ditarik kembali ke pangkalan masing-masing.

‎Widodo menjelaskan Panglima TNI Jenderal Moeldoko memerintahkannya untuk melakukan konsolidasi. ‎"Panglima TNI perintahkan konsolidasi, kalau ada perintah ke sini lagi, kami siap,"‎ kata Widodo.

Pramugari Wanti

Kalimat tahlil dan surat Al-Fatihah terus diserukan mengiringi perjalanan Wanti Setiawati pramugari senior AirAsia yang menjadi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Kini, pramugari cantik itu sudah beristirahat tenang di peristirahatan terakhirnya di TPU Desa Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat.

Ratusan orang yang terdiri dari saudara, tetangga dan kerabat ikut menyaksikan prosesi pemakaman Wanti. Dinaungi tenda berwarna putih, perlahan-lahan petugas dari Lanud Hussein Sastranegara menurunkan peti jenazah dengan menggunakan tali tambang berwarna biru.

Keluarga maupun kerabat dari AirAsia tampak iklhas. Tidak ada tangis histeris yang melepas putri bungsu dari Aan Somah dan Manah tersebut. Namun tetesan air mata tak bersuara itu mengisyaratkan duka mendalam atas kepergian orang terkasihya itu.

Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, kabar mengenai jenazah Wanti yang sudah diidentifikasi cukup mendadak. Sekitar pukul 12.00 WIB siang tadi, perwakilan saudara Wanti yang berada di Surabaya mengabarkan bahwa jenazah wanti sudah teridentifikasi dan keluarga di Bandung diminta untuk mempersiapkan kedatangan jenazah.

“Ini memang mendadak, saat menerima kabar kami langsung menyiapkan pemakaman. Keluarga ikhlas karena ini musibah," ujar Aji Sutisna (43) salah seorang saudara Wanti.

Keluarga kini sudah tidak lagi harap-harap cemas menunggu kabar dari pramugari cantik tersebut. Wanti sudah beristirahat dengan tenang di samping makam neneknya. Have a safe 'flight' Wanti, 'terbanglah' dengan tenang.

Di Tanah Kelahirannya

Jenazah Wanti Setiawati (30), pramugari senior AirAsia yang menjadi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, tiba di rumah duka sekitar pukul 18.30 WIB. Jenazah akan dimakamkan malam ini Senin (26/1) di TPU Desa Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat.

Setelah 'pulang' ke rumah orang tuanya di Perumahan Sariwangi Asri Kampung Lembur Tengah RT 04 RW 05 Desa Sariwangi Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Wanti kemudian disolatkan di Masjid Jami Al-Hikmah yang lokasinya berada di depan pemakaman.

Kalimat tahlil tercurah dari saudara, tetangga, kerabat yang berduyun-duyun mengantar jenazah Wanti menuju masjid yang lokasinya sekitar 300 meter dari rumah duka.

Wanti meninggal dunia dalam tugasnya saat pesawat AirAsia QZ8501 terjatuh di Selat Karimata 28 Desember 2014 lalu. Di mata keluarganya Wanti dikenal sebagai sosok pekerja keras, ramah dan low profile.

“Kalau biasanya anak bungsu itu manja, adik saya itu mandiri dan dewasa. Dia juga pandai bergaul, smart, dermawan. Dia itu anak solehah. Makanya saya yakin dia akan ditemukan karena dia itu luar biasa," tutur Ana kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Kini keluarga tak lagi cemas menunggu kabar anak bungsu kesayangannya itu. Wanti sudah 'pulang' ke rumah meskipun sudah tak bernyawa. Doa yang tak henti dari orang tua, saudara dan kerabat terus mengalir mengantar Wanti ke peristirahatan terakhirnya.

Ahli Waris Keluarga

Pihak AirAsia menjanjikan akan melakukan pembayaran asuransi terhadap korban jatuhnya pesawat QZ8051. Namun Presiden Direktur AirAsia, Sunu Widyatmoko mengaku pihaknya terbentur permasalahan administrasi keluarga terkait ahli waris.

“Sejauh ini kita sudah meminta kepada keluarga korban pesawat QZ8051 seluruh dokumentasi yang diperlukan karena hal itu jadi salah satu kendala untuk pemenuhan asuransi. Sesuai amanat dalam peraturan Kemenhub tahun 2011 harus ada keterangan ahli waris,” ujar Sunu, usai konfrensi pers di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin (26/1).

Sunu mengatakan untuk WNI, ahli waris harus menyertai keterangan dari kecamatan. Sementara untuk WNA harus memiliki keterangan dari aktar notaris.

“Saat ini yang menjadi permasalahan banyak penumpang kami yang pergi dalam pesawat itu satu keluarga, sehingga ahli waris jatuh kepada orang tuanya. Akan tetapi jika orang tua sudah tidak ada maka akan jatuh kepada adik dan kakaknya, jika tidak ada semua maka permasalahan ini akan diselesaikan di meja hijau,” ujarnya.

Dia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang bergerak cepat dalam pencairan asuransi. Dia mengaku, Pemkot Surabaya pernah menawarkan ruang khusus untuk dapat dilakukan sidang.

“Kerja sama OJK dan Pemkot Surabaya akan mengakomodasi, menyediakan ruang khusus sehingga tidak terbagi sidang yang lain,” tutupnya.

Kemenhub Buat Aturan 

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengakui ada kekeliruan pada pihak AirAsia saat menyatakan pilot AirAsia positif narkoba beberapa waktu lalu. Untuk itu, Kemenhub menerbitkan peraturan yang akan mengatur kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi awak transportasi umum.

“Sehingga perlu diklarifikasi Kemenhub kepada AirAsia ada kekeliruan, sehingga hari ini kita melakukan klarifikasi kejadiannya seperti ini agar tidak terulang kembali," jelas Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub JA Barata. 

Hal itu disampaikan Barata dalam jumpa pers di Kantor BNN, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (26/1). Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi, pihaknya akan menerbitkan peraturan pemeriksaan kesehatan awak angkutan umum.

“Setelah kami analisa untuk efektifitasnya, kami akan menerbitkan peraturan Kemenhub tentang pemeriksaan kesehatan awak dari angkutan umum, termasuk pilot," imbuh Barata.

Barata mengatakan, selama ini, awak transportasi udara wajib diuji kadar alkohol sebelum bertugas. “Setidaknya ada ahli medis yang bisa memeriksa tekanan darah dan kadar akohol dalam hal ini di maskapai penerbangan," ujarnya.

Menurutnya program ini akan terus dikembangkan tidak hanya setiap tahun baru atau Lebaran. Peraturan Menhub yang dimaksud adalah PM 8 Tahun 2015 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil bagian 67 (CASR Part 67) tentang Standar Kesehatan dan Sertifikasi Personel Penerbangan yang disahkan 15 Januari 2015.

Balai Kesehatan Penerbangan Kemenhub bersama Inspektur Kelaikan Udara Ditjen Udara Kemenhub pada 1 Januari 2015 lalu melakukan pemeriksaan acak pada pilot di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Seorang pilot pesawat AirAsia rute Denpasar-Jakarta dengan inisial FI didapati positif mengkonsumsi morfin.

Satu hari kemudian BNN kembali melakukan pemeriksaan lanjutan dengan melakukan tes urine, darah dan rambut. 

“Berdasarkan hasil laboratorium yang bersangkutan tidak terbukti menggunakan morfin," kata penanggungjawab laboratorium tes BNN dokter Ririn kepada wartawan di kantornya, Senin (26/1).

Ternyata, kandungan morfin itu diketahui sang pilot sempat masuk rumah sakit karena menderita tipes. "Berdasarkan penjelaskan yang bersangkutan dirinya masuk Rumah Sakit tanggal 26 Desember Typhoid fever (penyakit tipes-red), saat itu Kapten FI juga melaporkan resep dokter," kata Dr Ririn.
Sedangkan Presdir Indonesia AirAsia, Sunu Widyatmoko di lokasi yang sama menjelaskan hasil final pemeriksaan FI adalah kabar gembira di tengah pemberitaan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Pihaknya mengaku lega kalau hasil assessment BNN menujukan negatif.

“Atas stetment yang terkait hasil final pemeriksaan Kapten FI, kami gembira. Sehingga dapat mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya.Hal ini melegakan kami, bahwa pilot kami dinyatakan secara final tidak menggunakan narkoba atau obat terlarang, sehingga dapat menutup berita negatif yang dimuat di media terkait AirAsia dan Kapten FI," ujarnya.(dtk/lee)

Tidak ada komentar: