.

.
.

Friday, 16 January 2015

Kisah Nyata Bripda Taufiq, Tinggal di Rumah Bekas Kandang Sapi




Jadi terkenal, Bripda Taufiq diminta tak seperti Norman Kamaru

Siapa menyangka pria lulusan Sekolah Polisi Negara (SPN) 2014 itu tinggal di bangunan bobrok berukuran 4 x 7 meter. Bripda Muhammad Taufiq Hidayat (kiri) bersama salah satu adiknya saat berada di kediaman di Yogyakarta, Rabu (14/1). Anggota dari Sabhara Polda DIY itu tinggal bersama ayah dan ketiga adiknya di sebuah bangunan bekas kandang sapi berukuran 4 x 7 meter.

Dua hari ini Bripda Taufiq buruan awak media baik lokal sampai nasional. Dalam waktu singkat sosoknya pun menjadi terkenal di penjuru Indonesia. Sampai-sampai Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama terkesan dan membelikan motor untuk Bripda Taufiq.

Menyadari dirinya menjadi sorotan publik, Bripda Taufiq tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya. Meski sudah menjadi terkenal, dia tetap berkomitmen menjadi seorang polisi.

“Insya Allah saya akan tetap jadi diri saya sendiri, Bripda Taufiq," katanya pada wartawan, Kamis (15/1). Sebelumnya fenomena polisi yang mendadak terkenal juga terjadi pada Briptu Norman Kamaru. Saat itu Norman banyak mendapatkan undangan dari berbagai media dan tayangan televisi. Sampai akhirnya dia memutuskan keluar dari Polisi dan menempuh karir sebagai artis.


Melihat fenomena tersebut, pimpinan dan teman-temannya berkali-kali menasihati Bripda Taufiq untuk tetap setia pada kepolisian. Sebagai pimpinan Bripda Taufiq, Wadir Sabhara Polda DIY, AKBP Pri Hartono menasihati Bripda Taufiq untuk tetap menjadi dirinya sekarang ini.

“Kamu jangan lupa daratan, jangan sampai kamu meninggalkan seragam mu. Ingat, karena seragam ini kamu bisa menjadi seperti sekarang ini, jangan jadi kacang lupa kulit," katanya pada Bripda Taufiq di depan wartawan.

Mendengar nasehat tersebut, Bripda Taufiq pun berjanji tidak akan berubah. "Siap ndan! Saya janji nggak akan begitu. Insyaallah ndan!" serunya.

Salah seorang seniornya, Bripda Pirsa pun turut menasihati Taufiq. "Saya cuma pesan, jangan sampai kamu berubah, jangan sampai kamu keluar, tetaplah jadi Bripda Taufiq," ujarnya.

“Iya mbak," jawab Bripda Taufiq singkat. Nama Bripda Taufiq mulai menghiasi berbagai media setelah institusinya Polda DIY mengetahui bahwa dia tinggal di kandang sapi. Dia tinggal di sana sudah dua tahun bersama dengan ayah dan tiga adiknya.

Fokus Kerja untuk Keluarga, Bripda Taufiq Pilih Menjomblo

Bagi kebanyakan anak muda seusia Bripda Taufiq, urusan asmara kerap sumber kegalauan. Namun tidak Bripda Taufiq, dia mengaku ingin tetap melajang sampai dia bisa membiayai adik-adiknya hingga selesai sekolah.

“Fokusnya membiayai adik-adik sekolah dulu, bisa punya rumah yang layak untuk tinggal, kasian kalau harus begini terus," katanya saat berbincang-bincang dengan wartawan, Kamis (15/1).

Bripda Taufiq sendiri mengaku semula memiliki pacar ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMK. Namun saat hendak mendaftar polisi, dia memutuskan hubungan dengan pacarnya tersebut demi berkonsentrasi pada tes masuk polisi.

“Sekarang nggak punya, dulu pernah punya tapi saya putusin," ujar polisi kelahiran tahun 1995 ini.
Untuk urusan gadis pujaan, dia pun tidak memiliki kriteria khusus. Dia hanya ingin kelak memiliki pasangan yang bisa mengerti dirinya. "Asal mau sama saya," guraunya.

Dia merasa lebih penting fokus pada keluarganya terlebih dahulu. Dia berencana dalam waktu dekat ini mencari kontrakan sederhana untuk ayah dan tiga adiknya.

“Kalau bulan depan sudah gajian kan gajinya di rapel, jadi kalau cukup saya mau cari kontrakan dulu, biar adik-adik bisa tidur enak, bisa belajar juga enak," tandasnya.

Bripda Taufiq sendiri sudah tinggal di kandang Sapi bersama dengan ayah dan tiga adiknya selama dua tahun. Karena rumahnya kecil, setiap hari ayahnya harus rela mengalah tidur di luar rumah. Sementara itu Taufik dan adik-adiknya tidur di dalam rumah.

Setelah Orangtuanya Cerai, Bripda Taufiq Setahun tak Bertemu Ibunya

Setelah dua tahun yang lalu ayah dan ibunya berpisah, Bripda Taufiq, ayahnya dan tiga adiknya tinggal di bekas kandang Sapi di Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman. Meski tinggal tengah-tengah kandang Sapi dia dan adik-adiknya tidak pernah mengeluh.

Setelah tinggal di kandang Sapi, ibunya yang kini tinggal di Bogor beberapa kali datang menjenguk mereka. Terakhir kali dia bertemu ibunya satu tahun yang lalu ketika ibunya datang menjenguk.
“Satu tahun lebih, ibu kan sekarang di Bogor jadi nggak ketemu," ujarnya. Meski demikian dia merasa tidak masalah. Selama ini dia juga berkomunikasi intens melalui pesan singkat dan telepon. "Kadang-kadang telepon atau SMS," pungkasnya.

Sementara itu, adik-adiknya yang masih kecil kerap menangis karena rindu dengan ibunya. Saat seperti itu, Bripda Taufiq hanya bisa menghibur adiknya. “Karena masih kecil, jadi masih kangen, untungnya dia orangnya aktif dan punya banyak teman jadi cepat lupa," tambahnya.

Terkadang Bripda Taufiq juga membeli sate, makanan favorit Agus, adiknya yang paling kecil ketika sedang rewel karena kangen ibunya. Seperti beberapa hari yang lalu, Bripda Taufiq pulang ke rumah membawa sate supaya adiknya tersebut menjadi senang.

“Kemarin ini ke sini, bawa sate untuk Agus, senengnya kan sate, jadi dibelikan sama Taufiq biar nggak rewel," ujar Partiyah, nenek Bripda Taufiq saat ditemui di rumah Bripda Taufiq, Kamis (15/1) siang.

Setelah orang tuanya bercerai, Bripda Taufiq memutuskan untuk tinggal bersama bapaknya. Dia pun melarang adik-adiknya untuk tinggal bersama ibunya. “Saya punya alasan pribadi, tidak perlu diceritakan. Yang jelas yang bertanggung jawab dengan keputusan saya, saya juga yang mengurus adik-adik," tandasnya.

Ahok telepon Bripda Taufiq karena terharu perjuangannya jadi polisi

Luar biasa perjuangan Bripda Taufiq, anggota Sabhara Polda Jateng. Hidup dalam keluarga yang sederhana tak membuatnya patah semangat menggapai cita-cita menjadi keluarga besar Korps Bhayangkara.

Kisah Bripda Taufiq rupanya menyentuh hati Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Melalui ajudannya, Ahok, sapaan Basuki, menelepon Taufiq. Pada wartawan, Ahok hanya ingin berbincang karena menaruh simpati pada perjuangannya.

“Saya cuma lihat berita itu, saya minta nomor teleponnya Bripda Taufiq. Kasihan. Saya telepon dia nggak angkat, mungkin nggak tahu nomor telepon saya. Saya suruh orang saya teleponin," kata Ahok, di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (15/1). Ahok mendapatkan nomor itu dari Wakapolda Jateng, Brigjen Imam Sugianto. "Saya sudah dapat nomornya," tambahnya.

Saat ditanya, apakah Ahok ada maksud lain sehingga butuh berkomunikasi dengan Bripda Taufiq, mantan bupati Belitung Timur menegaskan hanya ingin ngobrol.
“Nanya saja," pungkasnya.

Sebelumnya, saat sedang ditemui wartawan sekitar pukul 12.25 WIB, Taufiq menerima telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Saat diangkat ternyata yang menelepon dari Polda Metro Jaya.
“Ya siap ndan, maaf mohon diulangi," Taufiq berbicara dengan seseorang di telepon.

Setelah mendengar penjelasan dari penelepon, Taufiq mengatakan pada wartawan bahwa yang menghubunginya dari Polda Metro Jaya. Penelepon tersebut memberitahu jika Ahok akan menelepon dirinya. “Katanya pak Ahok mau telepon saya," ujarnya pada wartawan.

Nama Taufiq sendiri mulai dari perbincangan khalayak setelah pemberitaan tentang dirinya yang tinggal di kandang sapi. Dia tinggal di rumah berukuran 4x7 meter di kawasan Jongke Tengah, Sendangadi, Sleman. Rumah tersebut berdiri di atas tanah kas desa. Rumah tersebut dikelilingi kandang sapi.
“Dulunya itu kandang sapi, sudah dua tahun saya tinggal di situ dengan bapak dan adik-adik saya," pungkasnya.

Berawal dari mimpi, Bripda Taufiq bisa jadi anggota Shabara DIY

Nasib orang tidak ada yang tahu. Dari sebuah kandang Sapi yang dijadikan tempat tinggalnya bersama keluarga, Muhammad Taufiq Hidayat berhasil lolos menjadi anggota polisi. Dengan segala keterbatasan ekonomi, Taufiq tetap bersemangat untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang polisi. Keinginan menjadi polisi sudah muncul ketika dia masih duduk di bangku SMP.

Saat itu dia melihat sosok polisi adalah sosok yang gagah dan berwibawa. Terlebih lagi seragam coklat dan baret di kepala membuat Polisi menjadi terlihat keren.

“Jujur saja dulu melihat hanya dari kasat mata, polisi itu berwibawa, apalagi kalau pas lagi pakai seragam," kata Bripda Taufiq di Gedung Shabara Polda DIY, Rabu (14/1).

Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan sempat membuatnya berkecil hati untuk mendaftar sebagai polisi. Pasalnya, dia banyak mendengar cerita bahwa untuk lolos sebagai polisi harus menyediakan uang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta.

Namun berkat dorongan sahabatnya dan ayahnya, dia membulatkan tekad untuk menjadi polisi telah lulus SMA. "Ya diniati, pokoknya harus jadi polisi," ujarnya.

Saat menginjak kelas 3 SMA, dia pun giat melatih fisiknya. Dia pun bergabung dengan ekstrakurikuler Pramuka yang kemudian mengenalkannya pada Saka (Satuan Karya) Bhayangkara. Disana dia mendapatkan banyak pengalaman berharga yang digunakannya saat mendaftar polisi.
“Kalau akademik untuk Psikotest saya nggak pernah belajar, cuma latihan fisik saja persiapannya," tutur pria kelahiran 20 Maret 1995 tersebut.

Sebelum tes, dia mengaku melakukan puasa Senin-Kamis. Dia juga meminta restu dan support dari ayahnya saat hendak mendaftar. Bahkan dia meminta ayahnya untuk ikut berpuasa. "Ya saya minta bapak juga puasa, alhamdulillah bapak mau," tambahnya.

Usahanya pun tak sia-sia, saat pengumuman hasil test, dia begitu kaget ketika tahu dirinya diterima. Dia merasa seperti mimpi bisa menjadi seorang polisi. “Pas pengumuman sama bapak, saya minta bapak nampar saya, ternyata bukan mimpi. Bahkan waktu sampai SPN saya masih nggak percaya," ungkapnya.

Taufiq tinggal bersama tiga adiknya di sebuah rumah bekas kandang sapi berukuran 7x4 meter. Ayahnya hanya seorang buruh penambang pasir, sementara ibunya sudah lama berpisah dengan sang ayah.

Sudah dua tahun ini Taufiq tinggal di rumah itu bersama ayahnya dan tiga orang adiknya. Bau busuk kotoran sapi yang menyengat sudah tidak lagi terasa baginya. Rumah tersebut dibangun oleh ayahnya setelah berpisah dengan ibunya dua tahun lalu. Meski hanya bekas kandang sapi, mereka tetap harus membayar sewa tanahnya.

“Itu tanah khas desa jadi tetap harus bayar, dulu saya punya rumah di Jongke juga, tapi dijual setelah orang tua berpisah," ujarnya.

Saat malam tiba, Bripda Taufiq tidur bersama dengan tiga adiknya di dalam rumah. Sementara ayahnya tidur di bak mobil tua miliknya yang biasa dipakai untuk menambang pasir. "Nggak ada tempatnya, jadi bapak tidur di bak mobil," katanya singkat.

Saat masih sekolah, dia merasa tidak tega melihat ayahnya yang selalu tidur beratapkan langit. Setelah dia bekerja sebagai staf perpustakaan di SMK 1 Sayegan tempat dia dulu mengenyam pendidikan, dia memilih tidur sendirian di perpustakaan sekolah supaya ayahnya bisa tidur di dalam rumah.

Sudah mau dibelikan motor, Bripda Taufiq tak tau siapa itu Ahok

Meski sempat berkomunikasi dengan Ririn, staf Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa dengan panggilan Ahok, Bripda Taufiq mengaku bingung dengan sosok Ahok.
Beberapa saat setelah menerima telepon dari Ririn, Bripda Taufiq bertanya pada salah seorang seniornya yang kebetulan sedang duduk di dekatnya. “Siapa to Ahok?" tanya Bripda Taufiq.

“Kamu nggak tahu Ahok? Gubernur Jakarta," jawab Bripda Persi salah seorang seniornya.

Mendengar jawaban itu Bripda Taufiq terlihat seperti kaget. “Ya tahu Gubernur Jakarta, tapi mukanya yang gimana ya?" ujarnya.

Usut punya usut, rupanya selama ini Bripda Taufiq nyaris tidak pernah melihat muka mantan wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut. Bripda Taufiq mengaku selama ini dia tidak pernah menonton televisi sehingga tidak begitu paham raut muka Ahok.

“Ya kan nggak punya TV, ada TV tapi di handphone Cross bapak," terangnya. Melalui stafnya, Ahok menelepon Bripda Taufiq dan mengatakan akan membelikannya sebuah sepeda motor. Bripda Taufiq pun diminta untuk memilih sendiri jenis dan merek motor yang diinginkannya.

"Ini pak Ahok mau membelikan motor, nanti silakan pilih motor apa? mau belinya dimana? kita yang bayar," kata Ririn lewat telpon yang di loudspeaker oleh Bripda Taufiq.

Mendengar itu Bripda Taufiq malah bingung. Nggak pengen yang gimana-gimana yang penting bisa jalan buat kerja," katanya singkat. (Merdeka.com)

No comments: