.

.
.

Monday, 19 January 2015

Kejati Diminta Usut Proyek City Gas Kota Jambi Rp 50 Miliar yang Jadi Rongsokan



Jambi Akan Uji Coba “City Gas”

Janji Kepala Dinas Energi, Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jambi Gamal Husien Provinsi Jambi yang menyatakan instalasi City Gas di Kota Jambi bakal difungsikan pada Desember 2014 lalu, hanya wacana belaka. Faknya hingga pertengahan Januari 2015  ujicoba program "city gas" di 200 rumah warga di Kota Jambi belum juga diwujudkan. Padahal proyek City Gas yang bernilai Rp 50 miliar di Kota Jambi sudah dimulai tahun 2012 llau. Instalasi city gas ini kini jadi barang rongsokan. 

R MANIHURUK, Jambi

Proyek intlelasi pipa gas mengalirkan gas bahan bakar kebutuhan rumah tangga itu ke rumah-rumah warga telah berjalan sejak tahun 2012 lalu. Namun realisasi dari program tersebut hingga April 2014 belum dirasakan masyarakat Jambi manfaatnya.

Ketua DPD IPI Provinsi Jambi, Amrizal Ali Munir kepada Harian Jambi, Minggu (18/1) mengatakan, program “City Gas Kota Jambi" bekerjasama dengan Direktorat Minyak & Gas Bumi Kementrian ESDM Tahun 2012 lalu hingga kini masih terbengkalai.

Dia juga mempertanyakan kenapa hingga sekarang "GAS" nya tak pernah mengalir Sedangkan jaringan pipanisasinya sudah mulai 'berkarat' di dapur rumah warga Kota Jambi.


Sementara konvensi minyak tanah ke gas elpiji telah digagas pemerintah sejak lama. Namun kelangkaan gas elpiji kerap terjadi pada ukuran 12 kilogram. Kelangkaan terjadi di pasaran elpiji tiga kilogram, akibat kenaikan elpiji 12 kilogram ini. 

Kondisi ini cukup membingungkan masyarakat. Masyarakat juga bertanya, atas apa sebenarnya yang diinginkan pemerintah dengan mengkonvensi minyak tanah ke gas, yang kemudian menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram.
 “Sebenarnya heran juga. Dulu kita disuruh ganti ke gas. Tapi gas malah dinaikkan,” ujar Derlina, salah satu pengguna gas elpiji di Kebun Handil Kota Jambi. 

Ketika kelangkaan ini terjadi, masyarakat mulai teringat dengan proyek-proyek  penanaman pipa jaringan gas untuk kebutuhan rumah tangga di Kelurahan Handil Jaya dan Thehok Kota Jambi. Pipa jaringan gas itu merupakan pipa yang akan dialirkan gas bumi untuk ke rumah-rumah sebagai bahan bakar memasak. 

Pipa yang ditanam sejak tahun 2012 ini ternyata membawa sempat membawa dampak negatif terhadap masyarakat karena jalan-jalan berlobang akibat galian saluran gas tersebut.

Proyek ini bernama City Gas, yakni dengan membuat instalasi aliran gas ke rumah-rumah warga seperti instalasi air bersih milik PDAM. Sehingga, masyarakat tidak perlu lagi membeli gas elpiji kemasan tabung lagi. Ini merupakan proyek nasional yang digagas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dengan elpiji tabung.

Selain itu, ini merupakan wujud serius pemerintah dalam mewujudkan gagasan tentang konvensi minyak tanah ke gas elpiji. Proyek nasional ini melibatkan Provinsi Jambi. Yang dalam hal ini, Kota Jambi yang mendapatkan jatah proyek nasional sebagai percontohan.

Tidak semua warga mendapatkan sentuhan progam ini. Hanya mereka yang berada di dua kelurahan saja yang mendapatkan sentuhan proyek ini, yaitu Kelurahan Thehok dan Kelurahan Handil Jaya.

Tampak programnya maju, tapi hingga kini masih terkatung-katung. Seolah tidak ada tindak lanjut dari pemasangan pipa-pipa besar dan instalasi yang telah dilakukan di rumah-rumah. 

“Pemasangan intalasi pipa gas hingga meteran sudah terpasang sejak tahun 2012 lalu. Namun hingga kini belum juga terealisasi. Jangan-jangan material proyek ini jadi barang rongsokan sebelum dimanfaatkan,” ujar Dono, warga Perumnas jelutung Kota Jambi.

Proyek yang dimulai sejak tahun 2012 dan instalasi yang dilakukan ke rumah-rumah itu, ternyata belum juga dapat dinikmati warga. Pipa-pipa dan meteran itu pun belum berfungsi hingga kini. Gardu-gardu yang terpasang di titik-titik tertentu juga belum berfungsi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat, apakah program ini akan terus atau hanya sebatas pemasangan instalasi ini saja. Isu tentang proyek gagal, proyek main-main bahkan sampai isu kontraktor lari pun terdengar di masyarakat. 

“Belum lagi rumah kami yang dipasang instalasi ini sudah sedikit rusak, karena pipa besi yang di tanam di dalam tembok-tembok rumah. Yang sedikitnya telah merusak keindahan rumah sendiri,” ujar Edi Suyatmo, salah Handil Jaya yang rumahnya mendapat program City Gas ini.

Menurut Edi, dirinya telah mengisi formulir untuk pemasangan dan persetujuan itu sejak tahun 2012. Namun hingga saat ini, iapun belum merasakan wujud dari program tersebut.

“Kebetulan waktu itu kabarnya rumah kami kebagian jatah untuk program city gas. Namun belum juga dapat kami nikmati sampai 2014 ini,” ujarnya.

Menurutnya, instalasi yang dilakukan oleh pihak kontraktor tersebut sebenarnya telah selesai di akhir tahun 2012. Namun city gas belum juga terealisasi.

“Meterannya sudah dipasang sejak lama, tapi sampai sekarang belum juga ada realisasinya. Bahkan saya pernah uji coba untuk melihat kondisi pipa yang terpasang apakah bocor atau tidak. Tapi sampai sekarang belum ada pihak mereka datang lagi untuk ngecek ataupun untuk sosialisasi sebagainya,” ujarnya.

Gagal Diresmikan

Sementara Kepala Dinas Energi, Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jambi Gamal Husien baru-baru ini kepada wartawan mengatakan, Provinsi Jambi pada Desember 2014 akan melakukan ujicoba program "city gas" di 200 rumah warga di Kota Jambi.

Ujicoba pemakaian city gas ini sekaligus untuk mengetahui sejauh mana tingkat kelemahan jaringan gas untuk masyarakat tersebut. “Desember tahun ini baru akan ujicoba di 200 rumah, kita belum pasang semua, kita akan tes sejauh mana kelemahannya, jangan sampai terjadi yang tidak kita harapkan," katanya.

Terkait ujicoba ini, pihak Provinsi Jambi, kata Gamal akan mengadakan pertemuan dengan Pemkot Jambi, sebab Dinas ESDM Provinsi Jambi sudah menerima surat dari Kementrian ESDM, surat itu menegaskan agar proyek tersebut segera diselesaikan.

“Ini masih gambaran ya, masalah city gas ini kita juga akan diundang ke Jakarta untuk membahas lebih lanjut tentang perda gas dan city gas ini," kata Gamal yang baru dilantik beberapa hari lalu.

Kepastian membahas perda gas masih dalam wacana dan belum final, namun Menteri ESDM sudah meminta city gas untuk masyarakat Jambi jangan ditunda-tunda lagi.

Sebagai salah satu daerah percontohan program city gas, ada dua kecamatan di Kota Jambi yang menerima program ini, yakni Kecamatan Jambi Selatan yang lokasinya berada di Kelurahan Thehok serta Kecamatan Jelutung yang lokasinya berada di Kelurahan Handil Jaya.

Sekitar empat ribu warga Kota Jambi rencananya akan menerima pasokan gas langsung ke rumah layaknya layanan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Direncanakan program ini bisa dimulai Maret 2013 lalu, hanya saja sampai saat ini program tersebut belum bisa dinikmati warga.

Harga gas dalam program city gas tersebut sangat murah, yakni rata-rata hanya Rp 20 ribu/bulan, sehingga tentunya akan membantu warga kota Jambi dalam berhemat.

“Sempat direncanakan tentang launching city gas bulan Desember 2012 lalu. Namun karena ada beberapa kendala jadi belum bisa dilaksanakan. Kendala-kendala yang terjadi merupakan kendala teknis. Baik dari pihak pengelola gas, pemilik pipa primer dan tersier maupun dari masyarakat sendiri. Karena yang kita alirkan ini gas, maka kita harus benar-benar teliti dalam mengerjakan ini. Bisa-bisa bocor dan membahayakan masyarakat. Selain itu,  juga belum ada pembicaraan tentang siapa yang menjadi operator dan siapa yang bertanggung jawab tentang pipa primer dan tersier,” katanya.

Gamal memaparkan, program ini merupakan salah satu wujud serius dalam program konvensi minyak tanah ke gas elpiji. Selain itu, program ini untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap elpiji tabung. 

“Dengan program ini, dapat menghemat penggunaan gas elpiji. Karena penggunaannya dibatasi. Secara nominal, batasnya nanti sekitar Rp 48 ribu atau senilai tiga tabung gas elpiji tiga kilogram. Itu yang disubsidi pemerintah, lewat dari patokan itu maka akan ada penambahan biaya dan harga sudah tidak subsidi lagi. Makanya, gas ini dikatakan dapat menghemat kebutuhan gas nasional juga,” ujarnya.

Dikatakan, sangat beruntung warga yang mendapatkan program ini, karena hanya terbatas oleh dua kelurahan dengan 4000 unit pemasangan. 

“Sangat beruntung sebenarnya masyarakat yang terjamah program ini. Karena nilai instalasi sebenarnya adalah sekitar Rp 10 juta, untuk satu unit instalasinya,” sebutnya.

Soal keamanan, Gamal mengatakan gas ini sangat aman karena tekanannya sangat rendah. “Tekanannya sekitar  35 -50 milibar. Sehingga cepat menguap dari gas lainnya. Bahkan, tekanan gas pada korek api gas lebih tinggi dari pada gas pada proyek city gas ini. Jadi seperti air mengalir saja. Namun tetap harus diantisipasi keamanannya,” ujarnya. 

Terkait tentang kondisi pasokan gas elpiji tiga kilogram dan 12 kilogram, Gamal mengatakan tidak akan ada pengurangan pasokan gas elpiji.

“Kita tidak akan mengurangi pasokan dan kuota gas elpiji, tetap 86 ribu per bulannya untuk Kota Jambi. Hanya saja pergeseran pengguna terjadi. Dari yang awalnya menggunakan elpiji tiga kilogram sebanyak 4000 pengguna bergeser ke city gas dan 4000 unit ini dapat dialihkan kepada mereka yang belum menggunakan elpiji tiga kilogram,” jelasnya.

Namun, Gamal mengatakan untuk daerah-daerah yang tidak padat penduduk belum akan diterapkan program ini, mengingat biaya yang dikeluarkan sangatlah besar untuk ini. 

“Rp 50 miliar saja hanya dapat 4000 unit. Program ini butuh dana yang besar dan garapan yang sangat serius,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang biaya yang dikeluarkan untuk distribusi gas kerumah-rumah melalui city gas, perbandingan dengan menggunakan elpiji tabung sangatlah jauh. 

“Lebih kecil biaya distribusi dengan elpiji tabung. Kalau city gas dengan Rp 50 miliar, bisa menjangkau 4000 unit instalasi. Kalau elpiji paling kita butuh empat sampai Rp 5 miliar untuk unit yang sama dengan membangun kilang elpiji,” ujarnya.(*/lee)





No comments: