.

.
.

Friday, 23 January 2015

Dipertayakan Keseriusan Aparat Berantas PETI


SEMILOKA: Semiloka Kesiapan Daerah dalam Tata Kelola Program Penurunan Emisi yang berlangsung di Ruang Dara Jingga, Bappdea Provinsi Jambi, Kamis (22/1). Pemateri yakni Dr Abdul Wahib Situmorang (paling kanan), Panel Ahli Penyusunan Laporan Indeks Tata Kelola Hutan dari UNDP Indonesia Hendrayanto dari Transparansi Internasional dan Komda REDD+ Jambi Rudi Syaf (kedua dari kiri) yang juga menjabat Manejer KKI Warsi. ROSENMAN MANIHURUK/HARIAN JAMBI
JAMBI-“Negara kalah dari pelaku PETI”. Kalimat itu muncul dari seorang pejabat kepada bidang di Bappade Kabupaten Merangin bernama Nana Supratna. Kalimat pesimis itu mencuat saat pada acara Semiloka Kesiapan Daerah dalam Tata Kelola Program Penurunan Emisi yang berlangsung di Ruang Dara Jingga, Bappdea Provinsi Jambi, Kamis (22/1) yang dihadiri pemangku kepentingan dan aktifis bidang kehutanan dan lingkungan se Provinsi Jambi.

“Saya sangat miris melihat kerusahan hutan dan lingkungan di Kabupaten Merangin. Pelaku praktek pertambangan emas tanpa izin masih terus berlangsung. Sebenarnya masyarakat paling takut melihat aparat berseragam lengkap dengan senjata. Namun hal itu sudah menjadi pemandangan biasa di lingkungan PETI. Dalam hal ini Negara telah kalah oleh sindiket PETI,” ujar Nana Supratna saat sesi diskusi semiloka tersebut.


Dirinya juga mempertayakan keseriusan Polda Jambi untuk memberantas PETI di Provinsi Jambi, khususnya di Kabupaten Merangin. “Pernah saya tayakan kepada masyarakat yang menggeluti PETI, apakah mereka tak takut dirazia aparat? Justru mereka mengaku aman. Tentunya ini menjadi pertayaan kalau praktek PETI di Jambi dibekingi para oknum jenderal di Jakarta,” katanya.

Nana Supratna juga mengaku prihatin melihat praktek PETI di Merangin yang semakin membabi buta hingga merusak lingkungan dengan parah. Dirinya juga meminta keseriusan aparat Polisi dan TNI untuk bersatu padu dan sadar untuk memberantas PETI di Jambi.

Menanggapi hal itu, Komda REDD+ Jambi dan juga menjabat Manejer KKI Warsi, Rudi Syaf mengatakan, pihaknya mendukung penindakan hukum secara tegas kepada pelaku PETI di Jambi. 

“Saya sangat setuju kalau PETI diberantas habis. Kalau aparat tegas, tentunya masyarakat akan takut melakukan praktek PETI. Kemudian ijin pertambangan emas rakyat hingga kini juga masih sulit diperoleh. Ini menjadi perhatian penting bagi Pemerintah Provinsi Jambi dan jajarannya untuk serius dalam memberantas praktek PETI di Provinsi Jambi,” katanya. 

Sebelumnya Kapolda Jambi Brigjel Pol Bambang Sudarisman saat baru saja menjabat di Jambi berjanji akan memberantas tuntas PETI di Jambi. Namun hingga kini janji itu belum terwujud karena belum tegasnya penindakan hukum bagi pelaku peti di daerah.
9 Tewas
Sementara selama kurun waktu satu tahun terakhir (2014), Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di beberapa kabupaten di Provinsi Jambi sudah merenggut sembilan nyawa.

Kapolda Jambi, Brigjen Bambang Sudarisman, dalam jumpa pers akhir tahun 2014, di Polda Jambi, Selasa (30/12) lalu mengatakan, pihaknya mencatat ada 12 kasus PETI yang ditangani selama tahun 2014. Jumlah ini meningkat dari 10 kasus pada tahun 2013. Dari 12 kasus itu sembilan diantaranya sudah selesai ditangani.

Kapolda Jambi mengakui kelemahan dalam pemberantasan PETI di Jambi. Kasus ini kerap menimbulkan benturan antara pihak kepolisian dan warga. Jika polisi mengambil menindak tegas, mereka akan berhadapan dengan para ibu rumah tangga.

Kendati begitu, pihak kepolisian akan terus melakukan penggalangan, meminta masyarakat menghentikan aktifitas PETI. Tindakan yang dilakukan antara lain membentuk satgas dan memusnahkan alat PETI. (lee)

No comments: