TOKO PANCING DI JAMBI

TOKO PANCING DI JAMBI
TOKO BUANA FISHING & BUANA PANCING DI JAMBI. KLIK BENNER UNTUK INFO SELENGKAPNYA. KONTAK Yudi HP 085266609191

Wednesday, 13 January 2016

Damai Natal dari “Negeri Angso Duo” Jambi

Suasana damai ibadah malam Natal di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Kota Jambi, Kamis (24/12)
Suasana damai ibadah malam Natal di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Kota Jambi, Kamis (24/12) (Suara Pembaruan/Radesman Saragih)
Jambi-“Kita yang hadir di sini tentunya orang – orang baik, orang percaya kepada Yesus yang saling mengasihi. Jadi kita tidak perlu cemas menghadiri ibadah Natal ini. Mari kita salam warga jemaat di kiri kanan kita.”

Demikian cara Pendeta (Pdt) Kurnia Chintya Darmi Girsang STh mencairkan suasana agak tegang pada ibadah malam Natal di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jambi, Kamis (24/12) malam.

Sekitar 300 warga jemaat GKPS Jambi dan para tamu yang menghadiri ibadah malan Natal tersebut pon secara spontan menyambut serentak dengan ucapan, “Amin…!”

Suasana tegang memang sempat mewarnai ibadah perayaan malam Natal di GKPS Jambi dan berbagai gereja di Kota Jambi menyusul ketatnya pengamanan yang dilakukan aparat keamanan dalam perayaan Natal di berbagai gereja di kota itu.

Suasana tegang tersebut agak terasa ketika satuan penjinak bom, Gegana Brimob Polda Jambi menyisir sejumlah gereja beberapa saat menjelang berlangsungnya ibadah perayaan malam Natal.
Kemudian sesaat menjelang ibadah berlangsung pimpinan gereja – gereja juga mengingatkan segenap warga jemaat waspada dan harus mengenal orang-orang yang mengikuti ibadah Natal.

Namun berkat kata – kata peneguhan dari para rohaniawan, warga jemaat pun merayakan Natal di gereja masing-masing dengan tenang dan khidmat. Warga seolah tak terpengaruh ketatnya ketatnya pengamanan aparat kepolisian dalam perayaan Natal. Segenap warga jemaat tetap bersuka cita mengikuti seluruh rangkaian ibadah perayaan Natal.

Ruslan Purba (50), Wakil Ketua Majelis Jemaat GKPS Jambi mengatakan yakin perayaan Natal di Jambi aman. Kehadiran pihak keamanan juga membuat jemaat merasa aman melaksanakan ibadah perayaan Natal. Selain itu warga Kota Jambi juga selama ini cukup toleran dan menghargai perayaan Natal.

“Kita yakin sajalah Pak. Kami yakin bahwa perayaan Natal di Jambi tetap aman seperti tahun-tahun sebelumnya. Selama ini perayaan Natal di Kota Jambi tak ada gangguan atau insiden akibat aksi teror,”katanya.

Dukungan Pemerintah

Iklim sejuk dan damai perayaan Natal di Kota Jambi mulai malam Natal, Kamis (24/12) hingga perayaan Natal, Jumat (25/12) tercipta berkat adanya dukungan pemerintah setempat, aparat keamanan dan tokoh agama.

Pada malam Natal, Kamis malam misalnya, Wali Kota Jambi, Syarif Fasha dengan Kapolda Jambi Brigjen Pol Lutfi Lubihanto mengadakan patrol eke komplek-komplek gereja ketika ibadah perayaa Natal berlangsung. Wali Kota Jambi dan Kapolda Jambi juga menyempatkan diri menyapa warga jemaat.

“Bagaimana? Perayaan Natalnya aman kan….”, kata Kapolda Jambi ketika menyapa warga jemaat GKPS Jambi. “Aman Pak,”jawab John Moris, warga jemaat GKPS Jambi.

Sementara itu kehadiran Wakil Wali Kota Jambi, Abdullah Sani dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kota Jambi pada perayaan Natal di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kotabaru Jambi, Jumat (25/12) pagi juga memberikan suasana sejuk ibadah perayaan Natal di gereja tersebut.

Kehadiran Wakil Wali Kota Jambi mendapat sambutan hangat sekitar 3.000 orang warga jemaat HKBP Kotabaru Jambi. Mendapat kunjungan kehormatan dari pejabat pemerintah, jemaat HKBP Kotabaru Jambi pun memberikan kesempatan kepada Wakil Wali Kota Jambi menyampaikan kata-kata sambutan dan salam Natal.

Wakil Wali Kota Jambi, Abdullah Sani mengatakan, seluruh warga di Kota Jambi hendaknya bisa menciptakan kerukukanan antarumat beragama, baik itu Islam, Hindu, Budha dan Kriten. Karena itu warga Kota Jambi perlu tetap saling menghargai dan menghormati.

Sesama warga Kota Jambi juga perlu memberikan iklim yang kondusif bagi seluruh umat beragama merayakan hari – hari besar keagamaan mereka, termasuk perayaan Natal umat Kristen. Warga Kota Jambi harus senantiasa bisa mempertahankan kehidupan masyarakat yang toleran seperti sudah tercipta selama ini.

“Perayaan hari raya keagamaan seluruh umat beragama, termasuk Natal tentunya memiliki makna agar manusia bisa hidup rukun dan damai. Untuk itu kita harus saling menghargai dan menghormati,”katanya.

Mengapa Takut

Pendeta Gereja HKBP Kotabaru Jambi, Pdt Frizt Sihombing menilai bahwa perayaan Natal di Jambi cukup aman dan damai. Puluhan ribu umat Kristen di Kota Jambi bisa merayakan Natal dengan damai dan khidmat kendati pengamanan dilakukan ekstra ketat. Situasi kondusif tersebut membuat umat Kristen tetap memadati ibadah perayaan Natal di setiap gereja, termasuk di HKBP Kotabaru Jambi.

“Jumlah warga jemaat HKBP Kotabaru Jambi yang mengikuti ibadah malam Natal Kamis malam dan Natal Jumat siang meningkat. Ibadah perayaan Natal di gereja kami Jumat siang dihadiri sekitar 3.000 orang. Sedangkan ibadah Natal Jumat pagi dihadiri sekitar 2.000 warga jemaat,”katanya.

Menurut Pdt Frizt Sihombing, umat Kristen tidak perlu cemas atau takut merayakan Natal karena sebenarnya segenap warga negara Indonesia sudah memiliki jiwa saling menghargai dan menghormati sejak nenek moyang. Kemudian negara juga menjamin kebebasan beribadah bagi setiap warga negara.

“Orang Indonesia, termasuk umat Kristen tidak perlu hidup di Indonesia ini. Mereka harus merasa tenang, nyaman, karena negara ini melindungi umat beragama dalam kebebasan beribadah,” katanya.
Secara terpisah, Pendeta (Pdt) GKPS Resort Jambi, Pdt JP Tamsar STh pada khotbah Natal di GKPS Jambi, Jumat mengatakan, kelahiran Tuhan Yesus harus senantiasa disambut dengan suka cita karena kelahiran Tuhan Yesus Kristus membawa berkat.

Berkat yang dibawa Yesus Kristus ke dunia antara lain cinta kasih, kedamaian, kepedulian dan pengampunan. Karena itu melalui perayaan Natal umat Kristen harus mampu memancarkan damai dalam kehidupan ini.

“Melalui perayaan Natal ini juga, umat Kristen dituntut agar bisa meningkatkan kepedulian sosial, cinta kasih, damai dan pengampunan atau sikap memaafkan dalam kehidupan sehari-hari,”katanya.
Suara Pembaruan
Sumber: Radesman Saragih/FMB
Suara Pembaruan

No comments: