.

.
.

Selasa, 16 Desember 2014

BNPB: Longsor Banjarnegara 56 Tewas 52 Hilang

TERJUNKAN ANJING PELACAK: Petugas penyelamat, menggunakan anjing pelacak, untuk mencari jenazah korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jateng, Senin (15/12). Hingga hari ke tiga, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 50 jenazah korban, yang terdiri dari 34 pria dan 16 wanita ANTARAFOTO/Idhad Zakaria.

IDENTIFIKASI KORBAN LONGSOR: Sejumlah petugas membawa jenazah korban longsor yang telah diidentifikasi oleh pihak keluarga, di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jateng, Senin (15/12). Hingga hari ke tiga proses pencarian dan evakuasi, telah ditemukan 34 jenazah pria dan 16 wanita, dan 35 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Tiga Kecamatan Masih Berpotensi Longsor

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan data per Senin menyebutkan 56 orang tewas dan 52 lainnya masih dicari akibat bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Berdasarkan data terbaru Posko Tanggap Darurat Bencana Longsor di Banjarnegara dilaporkan bahwa hingga Senin pukul 18.30 WIB tercatat 56 orang tewas akibat longsor di Dusun Jemblong, Banjarnegara," kata Sutopo di Jakarta, Senin (15/12).

Dia mengatakan sebanyak 56 korban tewas terdiri dari enam orang belum teridentifikasi dan 46 korban lainnya sudah teridentifikasi kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan pada Senin.


Data per Senin menyebutkan tim gabungan berhasil menemukan 17 korban tewas dengan empat korban tewas adalah anak-anak, 12 orang dewasa dan satu orang belum dapat diidentifikasi.

Sementara itu, sebanyak 52 jiwa korban longsor belum ditemukan. “Cuaca hujan dan mendung gelap menyebabkan pencarian dihentikan pada pukul 15.30 WIB hari ini. Beberapa kendala pencarian korban adalah hujan yang dapat memicu longsor susulan, lumpur tebal, wilayah yang tertimbun longsor cukup luas, kondisi tanah masih labil dan posisi korban yang tersebar karena sebagian korban terseret material longsoran," kata dia.

Dia mengatakan Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat telah menerjunkan 12 alat berat untuk keperluan penanganan bencana longsor.

Alat berat difokuskan untuk pembersihan material longsor yang menutup jalan. "Pencarian korban akan dilanjutkan lagi besok pagi (Selasa, 16/12)," katanya.

Menurut dia, fokus pencarian dilakukan di dua titik yaitu di bagian atas tempat delapan rumah yang tertimbun longsor hingga jalan raya dan bagian bawah tempat 35 rumah tertimbun longsor.

“Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan. Puncak hujan diperkirakan akan meningkat hingga Januari mendatang," kata dia.

Pola kejadian longsor, kata Sutopo, umumnya berlangsung pada Januari hingga Februari setiap tahun seiring dengan meningkatnya curah hujan di banyak tempat di Indonesia. 

Korban 51 Hilang

“Sebanyak 57 orang masih dicari," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan ada 308 warga di Dusun Jemblung, 200 orang berhasil menyelamatkan diri sementara 108 diperkirakan tertimbun longsor. Dari 51 korban jiwa yang telah ditemukan, sebanyak 43 jenazah telah berhasil diidentifikasi dan dikembalikan kepada keluarga korban. Sementara itu, dua jenazah telah dimakamkan karena kondisi badannya sudah rusak.

“Ada delapan orang terluka berat dan dirawat di RSUD Banjarnegara dan 11 orang luka ringan dan dirawat di puskesmas," kata dia, menambahkan bahwa korban yang terluka adalah masyarakat di luar 108 korban yang tertimbun.

Sutopo mengatakan pihaknya belum dapat memperkirakan berapa jumlah kerugian dan kerusakan akibat longsor.

Dari data sementara, BNPB mencatat kerusakan akibat longsor yang berdampak pada 35 rumah rusak berat atau tertimbun, satu masjid, sungai tertutup longsoran sepanjang 1 km, sawah rusak seluas 8 hektare, kebun palawija seluas 5 hektare, lima ekor sapi, 30 ekor kambing, juga 500 ekor ayam dan itik.

“Kami masih menghitung kerugiannya," kata Sutopo. Dia menambahkan saat longsor terjadi ada juga pengendara mobil dan sepeda motor yang menjadi korban saat melintas di jalan yang tersapu longsor.
“Bupati Banjarnegara dan Dandim Banjarnegara sedang mengecek warga di luar Dusun Jemblung yang hilang," jelas dia.

Sutopo mengemukakan Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar adalah daerah yang berpotensi sedang-tinggi terjadi longsor. “Di Banjarnegara ada 20 kecamatan yang berpotensi sedang-tinggi longsor," ujar dia.

BNPB Ungkap Penyebab Longsor

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengungkapkan hasil analisis penyebab longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Dusun Jemblung memang termasuk daerah rawan longsor," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin.
Sutopo mengatakan hasil analisis penyebab longsor bersama ahli dari Universitas Gajah Mada menunjukkan bahwa material penyusun bukit Telagalele terdiri dari endapan vulkanik tua. Akibatnya, solum tanah tebal dan mengalami pelapukan.

“Selain itu, kemiringan lereng lebih dari 60 persen, sementara mahkota yang longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen," kata dia.

Hujan deras yang terjadi pada 10-11 Desember 2014 juga menyebabkan tanah jenuh dengan air. Selain itu, tanaman di atas bukit merupakan tanaman semusim dan tanaman tahunan yang tidak rapat.
“Budidaya pertanian tidak memikirkan konservasi tanah dan air, sehingga tidak ada terasering di lereng," lanjut dia.

Sutopo mengatakan pihaknya masih terus mencari 108 korban dari Dusun Jemblung yang tertimbun longsor. Hingga Senin pukul 13.00, BNPB telah menemukan 51 korban meninggal, sementara 57 sisanya masih dicari.

Ia menambahkan pencarian korban biasanya berlangsung selama tujuh hari sebelum diadakan evaluasi untuk memutuskan apakah pencarian akan dilanjutkan atau dihentikan.

“Setelah 14 hari kemungkinan korban selamat kecil, setelah itu evaluasi akan dibahas bersama warga setempat apakan akan dilanjutkan atau tidak," kata dia.

Dia mengatakan BNPB telah memberikan bantuan sebesar Rp300 juta untuk operasional penanganan darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara.

“Kementerian PU Pera memberikan 12 alat berat dan 7 dump truck untuk membersihkan jalan dan evakuasi, sedangkan Kementerian Sosial memberi santunan Rp5 juta per kepala keluarga kepada ahli waris korban," papar dia.

Meskipun demikian, peralatan berat belum bisa dibawa ke lokasi longsor karena kondisi yang belum memungkinkan.

“Material masih lumpur, takutnya terjerumus," kata dia. Oleh karena itu, dia menambahkan pencarian masih dilakukan secara manual yaitu dengan cangkul dan sekop. Para pengungsi, terutama 200 warga Dusun Jemblung, rencananya akan direlokasi ke tempat baru yang lebih aman. “Tetapi tetap di kecamatan Karangkobar," kata dia. Budi Suyanto.

Masih Berpotensi Longsor

Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada berdasarkan hasil penaksirannya menyimpulkan tiga kecamatan di Kabupaten Banjarnegara masih berpotensi terjadi longsor.
“Tiga Kecamatan itu yakni Wanayasa, Pagentan serta Karangkobar," kata Anggota Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik UGM, Dr Teuku Faisal Fathani kepada wartawan di Kampus UGM, Yogyakarta, Senin.

Sebelumnya, UGM telah menurunkan Tim Mitigasi Bencana Fakultas Teknik UGM di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Sabtu (13/12) untuk mengetahui penyebab longsor serta memastikan kebutuhan korban khususnya di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar.

Menurut dia, tiga kecamatan yang dikategorikan sebagai zona rawan longsor itu khususnya yang memiliki radius 7 hingga 10 kilometer dari Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar.

Pemetaan itu, menurut dia, berdasarkan identifikasi daerah yang rawan longsor dengan mengacu sumber peta, citra satelit, data cuaca, serta data lokasi permukiman yang terjadi gerakan tanah.

Pada tiga zona rawan itu, menurut dia, ditemukan simtom retakan. Zona itu memiliki lapisan tanah yang tebal yang dibentuk oleh proses alterasi atau pelapukan yang berasal dari dalam bumi. Selain itu zona tersebut berada di lereng yang curam sehingga memiliki potensi longsor lebih besar di banding zona lainnya.

Apalagi, kata dia, ketiga Kecamatan itu juga sebagian dilewati jalur patahan, di mana struktur batuan yang dilalui patahan itu cenderung rapuh.

“Tapi titik kerawanan yang terbesar memang masih ada di Kecamatan Karangkobar," kata dia.

Sementara itu, Anggota Tim Mitigasi Bencana UGM lainnya, Dr Wahyu Wilopo merekomendasikan agar pemerintah segera melakukan pemetaan lebih mendetail ke spot-spot yang dianggap rawan di tiga kecamatan itu.

“Kami harapkan pemerintah segera melakukan pemetaan ke spot-spot yang langsung menyasar ke permukiman masyarakat yang rawan," kata Wahyu.

Sementara itu, bagi masyarakat setempat, kata dia, perlu melakukan upaya evakuasi ketika lamanya hujan hampir mencapai 2 jam atau memiliki volume hujan 50 milimeter per jam.

“Sebab 95 persen bencana longsor di Indonesia selama ini memang dipicu oleh hujan," kata dia.(ant/lee)

Tidak ada komentar: