.

.
.

Thursday, 13 November 2014

Wabah DBD di Kota Jambi Mengganas (Seorang Perawat Meninggal), Dinkes Kota Jambi Justru "Duduk Manis"


Fogging: Syarif Fasya saat melakukan Fogging di Kecamatan Pasar Kota Jambi saat suksesi Walikota Jambi. Kini kegiatan serupa tak lagi dilakukan setelah Syarif Fasya menjabat Walikota Jambi.Foto IST/HARIAN JAMBI

Wabah penyakit debam berdarah dengue (DBD) di Kota Jambi semakin mengganas. Korban meninggal akibat serangan DBD di kota itu tidak hanya anak-anak dari keluarga awam. Penyakit DBD di Kota Jambi juga telah memakan korban jiwa dari kalangan paramedis. Seorang perawat rumah sakit swasta di Kota Jambi, Tri Handayani (22), meninggal akibat serangan DBD, Selasa (11/11). Nyawa korban tidak bisa diselamatkan karena terlambat dirawat di rumah sakit.

R MANIHURUK, Jambi

Saifullah (56), orangtua Tri Handayani kepada wartawan di Rumah Sakit (RS) Theresia Kota Jambi kepada wartawan, Rabu (12/11) menjelaskan, putrinya mulai dirawat sejak Sabtu (9/11) di  RS Theresia akibat penyakit DBD.

Putrinya dirawat di rumah sakit setelah empat hari mengalami demam di rumah. Kondisi kesehatan korban menurun terus sejak Senin (10/11) malam. Upaya pertolongan maksimal yang dilakukan dokter tidak mampu memulihkan kondisi korban, sehingga korban akhirnya meninggal Selasa (11/11) siang.

Pantauan Harian Jambi di RS Theresia dan RS dr Bratanata Unang (Rumah Sakit Tentara) Kota Jambi, Rabu (12/11), pasien yang terkena serangan DBD masih banyak dirawat di kedua rumah sakit tersebut. Sebagian besar pasien DBD di kedua rumah sakit itu anak – anak dan remaja. Proses penyembuhan para pasien penderita DBD di kedua rumah sakit itu juga tergolong lama.


Otniel Purba (15), warga Komplek Gereja Kotabaru, Kota Jambi yang dirawat di RS dr Bratanata Unang selama lima hari terakhir belum sembuh. Kemudian Irawaty (11), warga Talangbakung, Kota Jambi, pasien DBD  yang dirawat di RS dr Bratanata Unang sejak Minggu (9/11) juga belum mengalami kesembuhan. Kondisi tubuh kedua pasien DBD yang dirawat satu ruangan di rumah sakit tentara itu masih lemah hingga Rabu (12/11) sore.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Kaswendi mengimbau warga Kota Jambi dan kabupaten di daerah itu meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk menekan kasus DBD.

PSN tersebut perlu karena memasuki pertengahan November ini, curah hujan di Jambi meningkat. Meningkatnya curah hujan membuat genangan air banyak, sehingga sarang nyamuk aedes aegypti yang menjadi penyebab DBD juga meningkat.

Selain itu, lanjutnya, warga Jambi juga diharapkan segera membawa anggota keluarga berobat ke dokter dan rumah sakit jika mengalami gejala-gejala terkena serangan DBD. Gejala serangan DBD tersebut antara lain ditandai dengan terjadinya panas mendadak yang dialami seseorang. Kemudian panas tersebut tidak turun-turun kendati telah mengkonsumsi obat penurun panas.

“Bila seseorang anggota keluarga terkena gejala tersebut, pihak keluarga harus segerea membawanya berobat ke dokter atau ke rumah sakit,”katanya. 

Dijelaskan, kasus DBD di Kota Jambi cenderung meningkat kembali selama November ini. Penderita DBD di Kota Jambi sejak Januari-November 2014 mencapai 300 orang. Korban meninggal akibat DBD di Kota Jambi itu sudah ada empat orang.

Pasien DBD Meninggal Dunia

Sepanjang 2014, 462 orang warga Jambi diketahui terkena DBD dimana enam orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Kabid Pengendalian, Pencegahan Penyakit dan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Kaswendi mengatakan, data tersebut terhitung sejak Januari hingga Agustus 2014.
Rinciannya, di Kota Jambi tercatat 252 orang warga positif DBD, tiga diantaranya meninggal dunia. Kota Jambi menjadi daerah terbanyak penyumbang DBD. Kemudian Kabupaten Batanghari tercatat ada 70 kasus, satu orang meninggal, di Tanjabbar ada 54 kasus, satu meninggal dunia.

Selanjutnya Kabupaten Muarojambi ditemukan 28 kasus DBD, Bungo 22 kasus, Sarolangun 9 kasus, Merangin 3 kasus dan Kabupaten Tebo 3 kasus.

“Untuk Kabupaten Kerinci dan kota Sungaipenuh tidak ditemukan warga yang terkena DBD," kata Kaswendi.

Ia menyatakan, temuan kasus DBD ini hampir sama dibanding 2013 lalu. Dimana 2013 lalu warga penderita DBD tercatat 638 orang dan 18 orang meninggal dunia . "Jumlah kasusnya kemungkinan sama, ini kan baru tercatat hingga Agustus. Hanya saja jumlah penderita meninggal jauh berkurang," ujarnya.

Ia menambahkan, pada penanganan dilapangan, Kaswendi menyatakan para tenaga medis di tiap Puskesmas sudah banyak yang dilatih. Selain itu, warga diharapkan tahu gejala DBD seperti apa. "Demam DBD seperti flu biasa, jika hari ketiga atau ke empat batuk dan panas tidak turun dan tidak sadar, segeralah pasien dibawa ke Puskesmas untuk penanganan," jelasnya.

Tidak itu saja, tiap keluarga juga diharapkan rutin memantau jentik nyamuk, minimal tiga kali sepekan. Langkah lain yakni Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan pola Menguras Menutup dan Menguburkan (3M).

Dinkes Kota Jambi Didesak Lakukan Fogging

Seperti diberitakan Harian Jambi sebelumnya, kalangan DPRD Kota Jambi mendesak jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jambi segera melakukan fogging atau pengasapan di sekolah–sekolah dan permukiman penduduk untuk mengendalikan peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota itu. Selain itu pihak Dinkes Kota Jambi juga diminta segera membagikan bubuk abate kepada warga untuk membasmi jentik-jentik nyamuk di bak-bak air sekolah dan rumah warga.

Ketua Komisi IV (bidang kesejahteraan rakyat) DPRD Kota Jambi, Abdullah Thoyib kepada wartawan di Kota Jambi, mengatakan, kasus DBD di Kota Jambi beberapa pekan terakhir cenderung meningkat menyusul perubahan musim kemarau ke musim hujan. Peningkatan kasus DBD di kota itu juga dipengaruhi berkurangnya kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), baik itu melalui fogging maupun pemberian bubuk abate di bak-bak kamar mandi.

“Kami sudah mendapat laporan meningkatnya kasus DBD di Kota Jambi dua pekan ini. Kemudian warga juga mengeluh tentang kurangnya kegiatan PSN yang dilakukan Dinkes Kota Jambi melalui fogging dan pembagian bubuk abatie untuk mebunuh jentik – jentik nyamuk. Kami akan segera memanggil Kepala Dinkes Kota Jambi terkait peningkatan kasus DBD ini,”katanya.

Sementara itu pantauan Harian Jambi di Rumah Sakit Bratanata Unang (Rumah Sakit Tentara) Kota Jambi, Rabu (12/11), jumlah pasien yang menderita DBD mencapai belasan orang. Ruang perawatan anak di rumah sakit tersebut dipenuhi pasien DBD. Sebagian besar pasien DBD tersebut anak-anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Para penderita DBD tersebut diduga terkena gigitan nyamuk aedes aegypti atau nyamuk penyebab DBD di sekolah-sekolah.

“Anak saya mengaku terkena gigitan nyamuk penyebab DBD di sekolahnya, SMP Negeri 14 Kota Jambi. Nyamuk penyebab DBD tersebut banyak di sekolah karena bak kamar mandi atau toilet sekolah tidak pernah dikuras.  Di kamar mandi sekolah anak saya juga banyak nyamuk,”kata J Purba (55), orangtua seorang pasien DBD di RS Bratanata Unang Kota Jambi.

Menurut J Purba, anaknya diketahui terkena DBD sejak Jumat pekan lalu dan sempat dirawat di RS Siloam Jambi. Namun kini J Purba memindahkan anaknya dari RS Siloam Jambi ke di RS RS Bratanata Unang Kota Jambi karena pelayanan RS Siloam Jambi kurang memuaskan.(*/lee)


No comments: