.

.
.

Kamis, 03 September 2015

9 Pelaku Pembakar Hutan Ditangkap



TERBAKAR: Lahan yang terbakar di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kamis (3/9). Hingga kini lahan terbakar di wilayah itu semakin luas. Bahkan 9 pelaku pembakaran lahan berhasil diringkul Jajaran Polda Jambi, Senin (31/8) lalu. FOTO IST.
9 pelaku pembakaran lahan berhasil diringkul Jajaran Polda Jambi, Senin (31/8) lalu. FOTO IST HUMAS POLDA JAMBI


9 pelaku pembakaran lahan berhasil diringkul Jajaran Polda Jambi, Senin (31/8) lalu. FOTO IST.
Jambi, MR-Sembilan pelaku pelaku pembakaran lahan di hutan konservasi Betara, Kebupaten Tanjab Barat berhasil ditangkap jajaran Polda Jambi. Pelaku diamankan Senin (31/9) saat tertangkap tangan melakukan pembakaran lahan yang mau dibuka dengan sengaja. Kini pelaku ditahan di Mapolda Jambi.

Para tersangka itu yakni Ridwan alias Iwan (42), Rahmat alias Amat (42), Rahman alias Remang (36), Jamaludin alias Udin (35), dan Agus Supriadi alias agus (16). Kemudian Firmansyah alias Firman (33), Awal Harahap alias Bulek (30), Eka Riadi alias Bedul (20), dan Jumri alias Ijum (40).

Demikian penjelasan Kapolda Jambi, Brigjen Pol Lutfi Lubihanto kepada wartawan, Kamis (3/9).  “Pemeriksaan sementara, mereka ini membuka lahan dengan cara membakar," ujarnya.

Disebutkan, barang bukti yang diamankan 1 unit mobil Toyota Kijang LGK, 5 unit motor, 1 cainsaw, dan 1 jerigen minyak ukurang 35 liter. Kasus ini ditangani Penyidik Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi.

Bandara Lumpuh

Minimnya jarak pandang yang hanya mencapai 600 meter, membuat jalur penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi lumpuh total. Berdasarkan pantaun BMKG Kamis (3/9) pukul 13.00 Wib, jarak pandang hanya 600 meter. “Siang ini jarak pandang 600 m," tegas Dian Angraini, Prakirawan BMKG Jambi.

Pada Kamis jarak pandang pagi hari lebih tinggi yakni mencapai 700m dan semakin menurun hingga 500m dan saat ini mencapai 600m. Akibatnya, satu pun tidak ada pesawat yang mendarat di Bandara Jambi. Bahkan penumpang sudah merefund tiket mereka.

Sementara Walikota Jambi SY Fasha mengatakan, tidak adanya Instrumen Landing System (ILS) di Bandara STS Jambi sepertinya merugikan masyarakat Jambi yang hendak berangkat di tengah kondisi kabut seperti saat ini.

Padahal, Bandara Jambi sudah saatnya memasang ILS tersebut,  namun pengelola bandara masih beralasan bahwa bandara masih akan diperpanjang run waynya, padahal kondisi kabut asap seperti ini sangat merugikan penerbangan dan masyarakat Jambi.

“Kita akan tanyakan langsung masalah ILS ini. Bandara kita sudah saatnya memasang ILS, kalau kondisi seperti ini, masyarakat Jambi juga yang dirugikan,’’ ujar Fasha.

Menurut Fasha, jika  sekiranya pengelola berat memasang alat tersebut, Pemkot Jambi juga akan berkoordinasi dengan Pemprov untuk mengadakan sendiri alat tersebut. “Ini harus kita lakukan karena menyangkut kepentingan masyarakat secara lebih luas,” ujarnya.

ILS Penting

Guna menunjang operasional Bandara Jambi, perlunya sejumlah alat pendukung bandara seperti ILS atau fasilitas bantu pendaratan. ILS adalah salah satu prasarana penujang operasi bandara, dan dibagi  dua kelompok peralatan, yaitu Alat Bantu Pendaratan Instrumen/ILS (Instrument Landing System) dan Alat Bantu Pendaratan Visual/AFL (Airfield Lighting System).

Alat Bantu Pendaratan Instrument terdiri dari ILS adalah alat bantu pendaratan instrumen (non visual) yang digunakan untuk membantu penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bandara. 

Peralatan ILS terdiri atas 3(tiga) subsistem Localizer, yaitu pemancar yang memberikan sinyal pemandu azimuth, mengenai kelurusan pesawat terhadap garis tengah landasan pacu, beroperasi pada daerah frekuensi 108 MHz hingga 111,975 MHz.

Kemudian Glide Slope, yaitu pemancar yang memberikan sinyal pemandu sudut luncur pendaratan, bekerja pada frekuensi UHF antara 328,6 MHz hingga 335,4 MHz dan Marker Beacon, yaitu pemancar yang menginformasikan sisa jarak pesawat terhadap titik pendaratan. dioperasikan pada frekuensi 75 Hz. 

Marker Beacon terdiri dari 3 buah, yaitu Outer Marker (OM) terletak 3,5 - 6 nautical miles dari landasan pacu. Outer Marker dimodulasikan dengan sinyal 400 Hz. Kemudian Middle Marker (MM) terletak 1050 ± 150 meter dari landasan pacu dan dimodulasikan dengan frekuensi 1300 Hz dan Inner Marker (IM) terletak 75 – 450 meter dari landasan pacu dan dimodulasikan dengan sinyal 3000 Hz.

Airfield Lighting System (AFL) adalah alat bantu pendaratan visual yang berfungsi membantu dan melayani pesawat terbang selama tinggal landas, mendarat dan melakukan taxi agar dapat bergerak secara efisien dan aman.

AFL meliputi peralatan-peralatan sebagai berikut, Runway edge light, yaitu rambu penerangan landasan pacu, terdiri dari lampu-lampu yang dipasang pada jarak tertentu di tepi kiri dan kanan landasan pacu untuk memberi tuntunan kepada penerbang pada pendaratan dan tinggal landas pesawat terbang disiang hari pada cuaca buruk, atau pada malam hari.

Kemudian Threshold light, yaitu rambu penerangan yang berfungsi sebagai penunjuk ambang batas landasan, dipasang pada batas ambang landasan pacu dengan jarak tertentu memancarkan cahaya hijau jika dilihat oleh penerbang pada arah pendaratan.

Selanjutnya Runway end light, yaitu rambu penerangan sebagai alat bantu untuk menunjukan batas akhir/ujung landasan, dipasang pada batas ambang landasan pacu dengan memancarkan cahaya merah apabila dilihat oleh penerbang yang akan tinggal landas.

Taxiway light, yaitu rambu penerangan yang terdiri dari lampu-lampu memancarkan cahaya biru yang dipasang pada tepi kiri dan kanan taxiway pada jarak-jarak tertentu dan berfungsi memandu penerbang untuk mengemudikan pesawat terbangnya dari landasan pacu ke dan atau dari tempat parkir pesawat.

Flood light, yaitu rambu penerangan untuk menerangi tempat parkir pesawat terbang diwaktu siang hari pada cuaca buruk atau malam hari pada saat ada pesawat terbang yang menginap atau parkir.

Approach light, yaitu rambu penerangan untuk pendekatan yang dipasang pada perpanjangan landasan pacu berfungsi sebagai petunjuk kepada penerbang tentang posisi, arah pendaratan dan jarak terhadap ambang landasan pada saat pendaratan.

Kelengkapan Bandara Jambi masih banyak dibutuhkan guna mendukung Bandara Jambi sebagai Bandara Internasional seperti yang diidam-idamkan Pemerintah Provinsi Jambi. (Asenk Lee)

Tidak ada komentar: