.

.
.

Kamis, 06 November 2014

Agus Marto: Ekonomi Syariah Mampu Jaga Stabilitas Rupiah


Surabaya-Industri keuangan syariah terbukti mampu bertahan di tengah badai krisis keuangan. Saat krisis ekonomi global 2008-2009, industri keuangan syariah tetap terjaga.

Di dalam negeri, kuatnya lembaga keuangan syariah mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dalam acara Bincang Nasional Tentang Pesantren dengan Tema 'Pemberdayaan Lembaga Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi' di Kantor BI Surabaya, Jawa Timur, Rabu (5/11).

“Kita bisa mencapai stabilitas rupiah. Ini bisa dijaga kalau bisa menjaga stabilitas sistem keuangan, sistem keuangan itu bisa terwujud jika bisa dengan mengembangkan ekonomi konvensional dan syariah," paparnya.


Agus menjelaskan, ketahanan ekonomi syariah saat krisis menghantam bisa menjadi contoh jika industri keuangan syariah harus terus dikembangkan.

“Krisis 2008-2009 terbukti ekonomi syariah bisa menjaga, tetap terjaga kualitasnya. Ini karena prinsip-prinsip syariah mulai akidah, akhlak syariah," katanya.

Nasabah Bank Syariah Cuma 17 Juta

Perbankan syariah di Indonesia sudah mulai menunjukkan perkembangannya. Hingga saat ini, total aset perbankan syariah sudah mencapai Rp 240 triliun. Namun nasabah bank syariah di Indonesia masih sangat minim.

Agus Martowardojo mengungkapkan, dalam rentang waktu yang terbilang cukup singkat, aset perbankan syariah sudah mencapai angka yang cukup tinggi.

“Total aset perbankan syariah sudah mencapai Rp 240 triliun. Kita kagum karena dunia menyatakan bahwa Indonesia, institusi perbankan ritel syariah merupakan yang terbesar. Ini menunjukkan bahwa dalam waktu relatif singkat dari tahun 2008, kita tumbuh tinggi," papar Agus dalam acara Bincang Nasional Tentang Pesantren dengan tema 'Pemberdayaan Lembaga Pesantren dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Ekonomi' di Kantor BI Surabaya, Rabu (5/11).

Namun, menurut Agus, sebenarnya aset perbankan syariah masih bisa dikembangkan mengingat Indonesia merupakan negara mayoritas muslim. Hasil sensus penduduk 2010 menunjukkan, 87,18% warga negara Indonesia menganut agama Islam.

Agus menggarisbawahi bahwa nasabah bank syariah di Indonesia masih sangat sedikit. Jumlahnya hanya 17 juta orang, padahal mayoritas penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa beragama Islam.

“Nasabah syariah baru 17 juta, rakyat Indonesia jumlahnya 240 juta. Jadi kita ingin berupaya agar pondok pesantren yang selama ini sudah menjadi wadah menggembleng santri-santri yang kuat bisa mengembangkan lagi," terangnya.

Menurut Agus, Indonesia masih punya potensi tinggi untuk terus menggenjot pertumbuhan ekonomi syariah. Pesantren dinilai sebagai salah satu potensi yang cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Pertumbuhan yang ada masih belum cukup memadai karena potensi masih cukup besar. Jumlah pesantren sudah mencapai lebih dari 27.000," tuturnya.(dtk/lee)

Tidak ada komentar: