.

.
.

Wednesday, 3 December 2014

Khanza Mengiba Bantuan Pemerintah

Derita 4 Penyakit, Organ Gerak Khanza Lemah
Derita 4 Penyakit, Organ Gerak Khanza Lemah

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Khanza Adira Zahra, anak berusia 3,11 tahun ini mengidap empat penyakit yang melumpuhkan organ geraknya. Kini pihak keluarga “mengiba” bantuan Pemerintah Jambi untuk mengobati penyakit yang diderita Khanza.

Saat ini, dia hanya bisa berbaring di kasur dengan berat badan yang tidak mencapai 10 KG. Penyakit epilepsi, polio, infeksi saluran pernafasan serta polip pada saluran pernafasan menjadi keluhan yang mengidap di tubuhnya sejak berusia enam bulan. 


“Saat usia enam bulan, anak saya normal. Sampai akhirnya dia demam akibat imunisasi polio. Enam hari demamnya, langsung kejang. Sehabis itu semua tidak normal dari biasanya," terang Wati, ibu dari Khanza di kediamannya di RT 01 Kelurahan Buluran, kemarin.

Menurut keterangan dari tenaga kesehatan, kata Wati, imunisasi polio yang didapatkan oleh Khanza tidak berhasil atau tidak masuk ke dalam syarafnya. Bahkan saat dibawa ke RS raden Mattaher, lain lagi diagnosa yang didapat oleh mereka.

Hasil rontgen, didapatkan adanya cairan di dalam rongga paru. Dan hasil CT scan menemukan adanya kelainan pada beberapa syaraf pusat sehingga menyebabkan anak kedua dari Wati dan Ramli ini mengidap penyakit epilepsi. Bahkan tidak hanya dua penyakit itu saja, kesulitan bernafas yang dirasakan oleh Khanza dikarenakan adanya daging tumbuh di dalam hidung atau yang biasa disebut polip.

“Lemah pada organ gerak, yaitu kaki dan tangan dikarenakan penyakit polio yang mengendap dikarenakan kegagalan imunisasi. Jadi 4 penyakit yang diderita anak saya ini," keluh Wati sembari menundukkan wajahnya. 

Saat awal diperiksa, aku Wati, dengan bermodalkan kartu Jamkesmasda yang dimilikinya, mendapatkanlah obat syrup untuk pencegah epilepsi. Namun dikarenakan anaknya tetap kejang, maka Wati menghentikan pemberian obat tersebut. 

“Percuma saya rasa memberikan obat itu, karena Khanza masih kejang juga. Saat tidur seperti saat ini sering kejang, dan kalau duduk dia tidak kuat menopang tubuh. Kepala nya goyang-goyang," tambah Wati. 

Untuk makanan, jelasnya, Khanza tidak bisa mengkonsumsi makanan keras sehingga harus diharuskan dengan cara blender. Sayuran seperti kentang, wortel dan makanan lunak lainnya menjadi santapan keseharian Khanza. 

“Kalau sekarang kami sekeluarga sudah pasrah. Mau dibawa berobat sering-sering, maklumlah biaya kami tidak ada. Belum ada perhatian dari petugas kesehatan, pemerintah ataupun swasta. Ingin mengobati lebih baik, tapi apalah daya, kami cuma orang susah," aku Wati sembari menyeka air mata yang menetes di pipinya. 

Perempuan berusia 40 tahun ini, berkata optimis jika anaknya bisa disembuhkan. Asalkan ada uluran tangan dari pemerintah agar Khanza bisa dirawat lebih intensif. Dan dirinya serta keluarga berkata siap untuk membawa anaknya berobat kemanapun asalkan bisa menyembuhkan putri kesayangannya itu. (*/lee)


No comments: