TOKO PANCING DI JAMBI

TOKO PANCING DI JAMBI
TOKO BUANA FISHING & BUANA PANCING DI JAMBI. KLIK BENNER UNTUK INFO SELENGKAPNYA. KONTAK Yudi HP 085266609191

Wednesday, 11 November 2015

Perbedaan Sistem Kontraktor Dengan Sistem Swakelola Proyek

KONTRUKSI
Perbedaan sistem kontraktor dengan sistem swakelola proyek- Pada kesempatan ini saya akan berbagi informasi dan pengetahuan mengenai sistem manajemen dalam sebuah proyek yaitu perbedaan antara sistem kontraktor dengan sistem swakelola dalam melaksanakan proyek bangunan. Saya yakin anda sudah sering mendengar dan paham apa itu kontraktor. Namun saat ini ada sistem lain dalam mengelola proyek yaitu sistem swakelola. 
 
Swakelola adalah sekumpulan engineers yang menjalankan sistem pelaksanaan proyek tanpa membawa badan hukum sendiri karena menggunakan badan hukum pemilik bangunan. Ini artinya sama dengan tim swakelola adalah staf proyek dari owner bangunan. Tim swakelola berbeda dengan kontraktor yang membawa badan hukum sendiri atau perusahaan sendiri. 

Agar lebih jelas saya ilustrasikan apa itu tim swakelola. 

Sebagai contoh Tim swakelola sedang mengerjakan proyek hotel di daerah Solo. Pemilik hotel tersebut adalah PT. ABC. Maka bendera atau badan hukum tim swakelola adalah PT. ABC. Jika Tim swakelola sedang mengerjakan proyek rumah sakit dengan pemilik rumah sakit adalah PT. CDE maka tim swakelola berada di bawah naungan PT. CDE. Jadi intinya badan hukum dari tim swakelola adalah badan hukum dari pemilik bangunan (owner). Lalu secara hukum bagaimana ya? Secara hukum yang akan dilihat adalah PT. ABC mengerjakan proyek sendiri tanpa melalui kontraktor yang termasuk dalam KMS (Kegiatan Membangun Sendiri). 

Saat ini pelaksanaan proyek gedung banyak menggunakan sistem swakelola karena dari beberapa sudut pandang lebih banyak kelebihannya dibanding dengan sistem kontraktor. Sistem kontraktor adalah badan hukum yang ditunjuk untuk melaksanakan proyek sama halnya dengan sistem swakelola. Salah satu perbedaannya adakah sistem kontraktor membawa badan hukum sendiri sedangkan sistem swakelola tidak membawa badan hukum sendiri. Berikut kelebihan dan kekurangan sistem swakelola dan kontraktor.

Kelebihan Swakelola
  1. Sistem perpajakan yang digunakan adalah KMS atau kegiatan membangun sendiri sesuai dengan  pasal 16C UU PPN No.18 tahun 2000 sehingga pembayaran dan pelaporan dilakukan tiap sebulan sekali sebesar 10% x 40% x biaya yang sudah dikeluarkan. Itu artinya PPN yang dikenakan sebesar 4%. 
  2. RAB bangunan menjadi lebih efisien karena nilai PPN sebesar 4%. Berbeda dengan kontraktor sebesar 10%.
  3. Dari segi pelaksanaan proyek, sistem swakelola lebih banyak menguntungkan untuk owner karena pembelanjaan dan pembayaran untuk material semua dilakukan langsung oleh owner. Sehingga lebih transparan.
  4. Dari segi pelaksanaan proyek,  owner bisa mengontrol langsung progres dan pengeluaran langsung ke tim swakelola. 
  5. Ditinjau dari tim swakelola yang melaksanakan proyek, tidak perlu khawatir adanya kenaikan harga material atau pembengkakan biaya karena tim swakelola memperoleh keuntungan proyek bukan berdasarkan margin nilai kontrak melainkan dari fee persen kontrak biaya. Tim swakelola biasa mendapatkan fee sebesar 5-7% dari total nilai kontrak biaya.
  6. Hubungan antara tim swakelola dengan owner bisa lebih dekat karena tim swakelola dianggap sebagai staf owner langsung.
  7. RAB bangunan menjadi efisien karena tidak ada nilai tambahan margin (keuntungan kontraktor). 
  8. Ditinjau dari owner, owner akan mengetahui jumlah margin atau sisa biaya dari proses pelaksanaan yang dilaporkan tiap sebulan sekali. Apabila terdapat sisa biaya dari proses pelaksanaan akan dikembalikan kepada owner. 


Kekurangan Swakelola
  1. Owner harus mengenal sekali track record dari tim swakelola. Karena tim swakelola tersebut tidak mempunyai nama perusahaan sendiri. Biasanya owner tidak akan memberikan proyek sebesar itu kepada tim yang tidak dikenalnya. 
  2. Dari segi tim swakelola, keuntungan yang diperoleh dari tim swakelola tidak sebesar dengan kontraktor karena sistem pengupahan dengan sistem fee persen sebesar 5-7%. 
  3. Tim swakelola harus terdiri dari orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk multitasking karena staf-staf di proyek harus merangkap-rangkap jobdesknya. Sebagai contoh, seorang cost control harus merangkap menjadi logistik, admin teknik dan sebagainya. Sehingga hasil pekerjaan tidak akan semaksimal dengan kontraktor.
  4. Spesifikasi material interior dan arsitek biasanya akan berubah-ubah dan bahkan belum keluar desainnya padahal proses pelaksanaan sudah mulai sehingga proses pelaksanaan menjadi terbengkalai. Hal ini bisa menyebabkan progres lapangan menurun.
  5. Owner akan disibukkan dengan proses pelaksanaan proyek seperti pembayaran ke supplier atau vendor-vendor material. 
Itulah kelebihan dan kekurangan dengan sistem swakelola pada proyek gedung. Proyek dengan sistem swakelola ini biasa dilakukan pada proyek bernilai kurang dari 60 Milyar. Jika diatas itu, biasanya akan menggunakan sistem kontraktor yang ditenderkan. Kontraktor adalah penerima surat perintah kerja atau SPK untuk melaksanakan pembangunan proyek dengan menggunakan perusahaan kontruksi. Berikut kelebihdan dan kekurangan dari sistem kontraktor untuk pembanding sistem swakelola.

Kelebihan Kontraktor
  1. Terdapat ikatan kontrak yang jelas antara owner dengan perusahaan kontraktor sehingga owner tidak akan khawatir jika suatu saat terjadi hal yang diinginkan karena bisa diproses secara hukum.
  2. Dari segi kontraktor, kontraktor akan mendapatkan keuntungan yang besar karena didalam RAB pengajuan terdapat tambahan nilai margin sebesar 10%. Sehingga dapat dipastikan keuntungan kontraktor minimal mendapatkan 10% dari kontrak RAB. 
  3. Owner tidak akan sibuk untuk mengurus pembayaran lansung ke vendor atau supplier karena semua itu sudah menjadi tanggung jawab dari kontraktor.
  4. Sistem manajemen dalam pelaksanaan proyek lebih terorganisir karena staf-staf proyek hanya dibebani dengan 1 posisi jabatan saja, Jumlah staf proyek lebih banyak dibanding sistem swakelola. 
  5. Kontraktor lebih terpercaya untuk melaksanakan proyek karena perusahaan kontraktor tersebut memang bergerak dibidang kontruksi. 
  6. Dari segi kesejahteraan staf proyek, sistem kontraktor menawarkan beberapa fasilitas penunjang kesejahteraan seperti gaji pokok yang besar, uang lembur yang besar, mess, dan sebagainya. 

Kekurangan Kontraktor
  1. Biaya pengajuan RAB bangunan lebih tinggi dibanding dengan tim swakelola karena terdapat jasa pelaksanaan atau margin sebesar 10% dan nilai PPN sebesar 10%.
  2. Spesifikasi material arsitek maupun interior harus fix terlebih dahulu karena jika desain arsitek atau interior belum keluar pelaksanaan proyek tidak bisa dimulai. 
  3. Terdapat banyak tambahan pekerjaan (addendum) yang dicas karena tidak terdapat pada item pekerjaan di BOQ sehingga terjadi pembengkakan biaya diakhir proyek. 
  4. Owner tidak bisa mengontrol biaya secara langsung
  5. Owner harus melakukan pengawasan teknis dengan melibatkan konsultan pengawas. 
Itulah beberapa perbedaan antara sistem kontraktor dengan swakelola pada proyek. Akhir-akhir ini banyak sekali proyek gedung yang menggunakan sistem swakelola. Jika anda seorang civil engineer yang mempunyai kemampuan untuk membangun proyek, artikel ini bisa dijadikan pertimbangan untuk menggunakan sistem kontraktor atau sistem swakelola. Demikian artikel Perbedaan sistem kontraktor dengan sistem swakelola proyek. Semoga bermanfaat.


Struktur Organisasi Proyek Sistem Swakelola

Struktur organisasi proyek sistem swakelola- Pada kesempatan ini saya akan berbagi informasi dan pengetahuan tentang struktur organisasi dari proyek dengan sistem swakelola. Mungkin anda sudah sering mendengar apa itu swakelola. Pada artikel sebelumnya berjudul Perbedaan sistem kontraktor dan sistem swakelola sudah dijelaskan bahwa swakelola merupakan salah satu sistem manajemen pelaksanaan proyek tanpa membawa badan hukum atau nama perusahaan kontruksi. Sedangkan kontraktor adalah badan hukum atau perusahaan kontruksi yang ditunjuk berdasarkan kontrak kerja untuk membangun proyek. Pada artikel ini akan sedikit dibahas mengenai struktur organisasi dari proyek dengan sistem swakelola. Pada kenyataannya memang berbeda antara kontraktor dengan swakelola dari segi struktur organisasi. 


Struktur organisasi proyek sangat diperlukan untuk mengatur garis intruksi dan komando agar sistem manajemen dapat berjalan dengan baik. Perbedaan yang sangat mencolok antara kontraktor dengan swakelola adalah jumlah staf proyek. Staf proyek adalah tenaga kerja atau karyawan yang bekerja pada sebuah proyek yang mempunyai tugas berbeda-beda sesuai dengan posisi atau jabatannya. Pada artikel Struktur organisasi proyek sistem swakelola ini juga akan dibahas mengenai jobdesc masing-masing posisi, 

Jumlah staf proyek dari sistem swakelola biasanya lebih sedikit dibandingkan dengan kontraktor. Dari segi keuntungan proyek, sistem swakelola memang mendapatkan keuntungan proyek lebih sedikit dibanding dengan kontraktor. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan antara swakelola dengan kontraktor bisa baca artikel berikut ini. 


Sistem swakelola sangat cocok bagi anda yang baru saja lulus kuliah S1 teknik sipil karena di sini anda akan dilatih untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan proyek secara global. Walaupun posisi anda sebagai cost control, akan dapat belajar dan melihat ilmu-ilmu proyek secara utuh. Sehingga jika anda mendapatkan kesempatan untuk kerja di kontraktor yang lebih besar bisa menjadi bekal ilmu.Berikut adalah struktur organisasi proyek sistem swakelola. 

Struktur organisasi proyek swakelola
Berikut saya jelaskan satu per satu jobdesk dari struktur organisasi proyek di atas.

Project Manager
  1. Memimpin proyek secara keseluruhan
  2. Berkoordinasi dengan owner atau wakil owner mengenai masalah-masalah non teknis ataupun teknis.
  3. Project Manager tidak diwajibkan standby di proyek tiap saat.

Site Manager

  1. Harus standby di proyek tiap saat. 
  2. Bertanggung jawab terhadap seluruh permasalahan teknis di proyek
  3. Mengkoordinasi seluruh staf proyek di lapangan agar bekerja sesuai dengan jobdesknya
  4. Bertanggung jawab terhadap BMW (Biaya, Mutu dan Waktu)
  5. Membuat time schedule proyek yang dibantu oleh cost control proyek
  6. Mengatur dan membuat kebijakan metode pelaksanaan proyek.

Cost Control & Logistic

  1. Menghitung estimasi volume material struktur dan arsitektur secara keseluruhan.
  2. Mencari penawaran-penawaran harga terbaru dari supplier atau vendor
  3. Membuat RAP (rencana anggaran pelaksanaan)
  4. Membuat laporan mingguan berupa progress pekerjaan lapangan
  5. Membuat laporan bulanan berupa progress dan laporan keuangan.
  6. Mengadakan tender kepada supplier, subkon atau basborong.
  7. Bersama site manager melakukan negosiasi kepada supplier atau subkon
  8. Order material bahan ke supplier
  9. Menghitung Evaluasi Biaya pelaksanaan pekerjaan (EBPP).Dari EBPP dapat diketahui jumlah margin biaya yang sudah dikeluarkan. 
  10. Melakukan opname pekerjaan bassborong atau subkon

Pelaksana Struktur

  1. Mengarahkan dan mendampingi proses pelaksanaan pekerjaan struktur.
  2. Kontrol pekerjaan struktur baik bekisting, pembesian, dan pembetonan. 
  3. Menghitung progres lapangan untuk keperluan opname


Pelaksana Arsitek
  1. Mengarahkan dan mendampingi proses pelaksanaan pekerjaan finishing atau arsitektur.
  2. Kontrol pekerjaan arsitektur seperti dinding, openingan, keramik, dan sebagainya. 
  3. Menghitung progres lapangan untuk keperluan opname.

Pelaksana MEP
  1. Mengarahkan dan mendampingi proses pelaksanaan pekerjaan MEP.
  2. Kontrol pekerjaan mekanikal elektrikal dan plumbing. 
  3. Menghitung progres lapangan untuk keperluan opname.
  4. Order bahan material MEP
  5. Membuat bidding penawar-penawar material MEP
  6. Melakukan opname pekerjaan MEP

Surveyor
  1. Setting out bangunan 
  2. Marking level pinjaman
  3. Marking pekerjaan dinding
  4. Cek seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan level dan sipatan.
Drafter
  1. Super impose antara gambar arsitek dan struktur
  2. Membuat shopdrawing gambar arsitek, struktur, dan MEP sebelum dimulai pekerjaan
  3. Melakukan perubahan gambar perencana apabila diperlukan
  4. Membuat asbuilt drawing ketika bangunan sudah dikerjakan

Admin Keuangan
  1. Membuat laporan pajak tiap bulannya.
  2. Membuat laporan keuangan yang meliputi biaya pengeluaran dan pemasukan
  3. Menerima invoice atau tagihan dari supplier atau subkon
  4. Berhubungan dan berkoordinasi dengan akuntan dari owner dengan sepengetahuan cost conrol dan site manager.
Gudang
  1. Menerima dan seleksi bahan material yang datang ke proyek.
  2. Melakukan pembukuan tentang barang yang masuk dan barang yang keluar.
  3. Selalu berkoordinasi dan persetujuan dari cost control
Itulah Struktur organisasi proyek sistem swakelola beserta jobdesknya. Pada umumnya di proyek swakelola satu posisi bisa merangkap ke beberapa posisi karena mengejar efisiensi. Demikian artikel Struktur organisasi proyek sistem swakelola semoga bermanfaat. 

 (Sumber: http://www.jasasipil.com)

No comments: