.

.
.

Rabu, 11 Februari 2015

Banjir Jakarta Makin Parah

KONDISI BANJIR JAKARTA FEB 2015. FOTO-FOTO DETIK.COM








6 Penyebab Jakarta Terendam Banjir
Genangi Istana Negara

Sejumlah ruas jalan di wilayah Jakarta, termasuk jalan-jalan protokol, tergenang akibat curah hujan lebat sejak semalam. Pemandangan seperti ini sedikit banyak menyerupai banjir yang menggenangi Ibu Kota pada tahun 2013 lalu. Sementara Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menyatakan salah satu penyebab banjir di banyak titik di Jakarta karena volume hujan hari ini begitu besar. Setidaknya ada 6 penyebab Jakarta terendam banjir.

Kala itu, banjir merendam Bundaran HI, Istana Merdeka dan sekitarnya yang notabenenya masuk dalam kawasan Ring I. Hari ini, banjir dengan ketinggian variasi juga kembali 'mengepung' Ibu Kota.
“Yang ini lebih banyak curah hujan lokal sangat tinggi. Kapasitas drainasenya belum optimal memadai. Tiap tahun karakterikstik hujan berbeda," ujar Kepala bidang Informasi dan Pengendalian BPBD Bambang Surya Putra saat ditemui di ruangannya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (9/2).


Dia menjelaskan, masih banyaknya proyek sheet pile yang belum tertutup sempurna pada tanggul-tanggul, sehingga belum optimal dalam membendung debit air. Namun menurutnya, Pemprov DKI telah melakukan berbagai cara untuk meminimalisir munculnya genangan air yang selalu 'menghantui' Ibu Kota setiap kali memasuki musim penghujan.

"(Pemprov sudah lakukan) Pembelian pompa baru di daerah Ria Rio dipasang, Waduk Pluit juga. Buat waduk-waduk baru seperti di daerah Setu, Cilangkap. Terus juga normalisasi dalam artian perluasan waduk juga dilakukan untuk mengembalikan seperti awalnya, seperti di Pluit dan Ria Rio juga ada normalisasi," lanjutnya.

"Mungkin kita juga adakan evaluasi dengan membuat penyetaraan tahun ini di daerah tertentu yang bisa dibandingkan apple to apple dengan tahun lalu supaya objektif," sambung Ahok.

Meski secara signifikan belum terlihat jelas mengenai dampak banjir, namun dari segi mikro sudah mulai terlihat efektivitasnya. "Secara signifikan baru bisa lihat karena kebetulan proyeknya multi years. Untuk proyek besar kita akan lihat setelah proyek selesai supaya bisa lihat objektif. Pembersihan saluran-saluran mikro kelihatan sih," pungkasnya.

6 Penyebab

Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menyatakan salah satu penyebab banjir di banyak titik di Jakarta karena volume hujan hari ini begitu besar. Pemprov sendiri sudah memiliki peringatan dini banjir, namun hujan lebat ini di luar kendali Pemprov.

"Sudah ada early warning system. Kan kita nggak sangka hujannya begitu besar volumenya," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (9/2).
Terpisah, Kepala Dinas Tata Air Pemprov DKI Agus Priyono mengatakan banjir hari ini murni akibat hujan lokal.

"Ini (banjir) murni karena hujan lokal yang turun dari pukul 20.00 hari Minggu kemarin hingga Senin siang ini pukul 12.00. Hujan turun dengan deras sehingga air sungai meluap dan ditambah air laut pasang," kata Agus.

Selain curah hujan yang tinggi, genangan air juga disebabkan oleh adanya rob. Air laut pasang dan naik ke jalan hingga membuat banjir.

"Tapi intinya rob mesti diberesin sama di Utara ini mesti pasang pompa besar. Sekarang posisi kita kan di bawah muka laut, jadi nggak mungkin kalau hujan semua nggak bisa dipompa keluar terus airnya rob masuk ke tanggul belum siap karena pompa terus air laut kan mutar terus ini. Nah ini nggak bisa turun, itu yang terjadi," kata Gubernur Ahok.

Kawasan yang sering diterjang rob adalah Sunter, Gunung Sahari. Solusi dari pemprov adalah menungu rob surut.

"Banjir di kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara memang penanganannya belum tuntas. Penyebab banjir di sana karena rob, tanggul pantai serta pompa kanal yang belum maksimal. Sunter karena kita nggak punya pompa, nunggu robnya surut. Gunung Sahari juga sama tak ada pompa kita nunggu rob surut," jelas Kepala Dinas Tata Air Pemprov DKI Agus Priyono.

Pompa Air Macet

Pompa Air yang macet juga ikut menyumpang banjir di Ibu Kota hari ini. Gubernur Ahok mengakui ada sejumlah pompa yang rusak hingga tak bisa menyedot genangan yang muncul di Jakarta.
"Pompa kita nggak cukup, kapasitas nggak cukup. Bukan drainase (buruk), jadi pompanya nggak cukup termasuk kerendem tadi itu pompanya," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

"Pompa kapasitas nggak cukup, terus pompanya ngambek ibaratnya sudah mampet. Dia (pompa) terus dari jam 08.00 WIB malam terlalu panas dia nggak kuat lagi. Itu yang menyebabkan pompa kurang langsung kerendam protokol," lanjutnya.

Ahok meminta agar pompa-pompa bisa segera diperbaiki." Diservis," ucap Ahok.

Di kesempatan lain, Kepala Dinas Tata Air Pemprov DKI Agus Priyono mengatakan banjir di wilayah Gunung Sahari, Mangga Dua, Kali Sunter memang tak bisa dihindarkan. Menurutnya tidak ada pompa di sana dan air laut pasang membuat kawasan tersebut lumpuh.

“Kali Sunter juga meluap itu karena muara langsung ke laut, tak ada pompa di sana berdampak ke Cempaka Putih, makanya Jalan Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani tergenang," jelas Agus.

Sementara untuk kawasan sekitar Istana yang ikut terendam banjir karena pompa Pluit sempat mati dan tak bisa dioperasikan. Sehingga air di Kali Abdul Muis meninggi dan meluap ke jalan di kawasan Medan Merdeka.

"Pompa Pluit sebenarnya sehat semua, namun karena PLN mematikan aliran listrik karena banjir jadi sempat tak bisa beroperasi, tapi sekarang sudah dinyalakan lagi. Kami sempat pakai genset, jadinya tidak optimal, makanya Istana tadi sempat terendam," jelas Agus.

Sabotase

Hujan mengguyur sejak semalam menimbulkan genangan di sejumlah titik Ibu Kota. Bahkan, genangan air juga sempat terlihat di kawasan Balai Kota dan Istana Merdeka, Jakarta Pusat dini hari tadi. Ahok curiga ada sabotase.

Ahok berkata, dirinya heran kenapa wilayah Istana Merdeka sempat tergenang air. Apalagi menurutnya koneksi CCTV yang terpasang di pintu air Masjid Istiqlal terputus.
“Tadi saya kebangun jam 02.00 WIB karena hujan langsung cek CCTV, ternyata CCTV Istiqlal mati. Saya curiga kerendam nih pasti Istana kerendam," ujar Ahok.

"Saya nggak tahu sabotase atau sengaja, saya nggak berani menduga. Tapi saya suudzon. Kamu hitung saja logika sekarang Pluit semua sauran begitu baik, Manggarai begitu rendah kita buka terus, Istiqlal kita buka mana mungkin banjir. Makanya saya begitu lihat CCTV Istiqlal connection lost, saya sudah curiga. Ada apa tiba-tiba. Istiqlal itu harus selalu rendah posisinya, kalau dia mulai tinggi buangnya ke sini, ke Tangki, ke Gajah Mada-Hayam Wuruk. Gajah Mada-Hayam Wuruk begitu rendah airnya, pasar ikan begitu baik pompanya kenapa nggak mau ke situ," sambung Ahok.

Bagi Ahok, tidak ada alasan kawasan Monas, Istana Merdeka, Balai Kota, dan sekitarnya bisa terendam banjir. Menurutnya, kawasan Jakarta Pusat tidak mungkin digenangi air karena sudah dibenahi. Ahok pun tengah menunggu jawaban dari jajarannya soal permasalahan tersebut.

Tata Kota yang Buruk

Banjir di Jakarta terjadi akibat luapan air sungai dan buruknya drainase. Hal tersebut disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Banjir Jakarta bukan saja disebabkan oleh luapan sungai. Tapi buruknya drainase perkotaan dan tata ruang yang tak terkendali yang menyebabkan banjir makin sulit ditangani," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam pesan tertulis, Senin (9/2).

Dijelaskan Sutopo, titik genangan air di Jakarta timbul akibat drainase perkotaan yang kurang mampu mengalirkan air permukaan ke sungai. Banyak masalah terkait drainase seperti kecilnya kapasitas, sedimentasi, tertutup sampah dan lainnya. 

Sutopo mengimbau warga selalu siaga terhadap dampak hujan yang akan mengguyur Jakarta hingga sore nanti. Bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, yakni di Kampung Pulo, Gang Arus, dan Pengadegan harus waspada terhadap banjir.

Waduk Belum Selesai

Ahok mengatakan banjir Jakarta juga dipicu oleh luapan sungai karena sampah dan normalisasi waduk yang berlum selesai.

Wilayah Jakarta di jalur selatan masih terkendala banyaknya rumah-rumah kumuh di pinggiran sungai yang belum dibebaskan.

“Tapi yang selatan, karena volume sungainya semua nggak cukup, pasti meluap. Yang repot selatan sebetulnya, karena selatan sungainya rata-rata ditutupi rumah-rumah mewah sampai kumuh. Yang harusnya lebar sungai 20 meter, 12 meter, tinggal 3-4 meter ya masalah. Nah, itu kita akan terus usahakan bongkar. Tidak ada pilihan," jelas Ahok.

Sementara itu, 9 waduk baru yang direncanakan dibangun Pemprov DKI Jakarta juga belum selesai. Kata mantan Bupati Belitung Timur ini, kebanyakan masih terkendala dengan pembebasan lahan.
"Belum (berfungsi-red). Baru gali. Pembebasan lahan juga masalah, yang Marunda. Makanya saya bilang sama mereka, kerjakan aja yang udah ada. Yang kita mau kerjakan tahun ini pemasangan tanggul. Kita tidak ingin rob masuk," imbuh Ahok.

Pemadaman Listrik Makin Meluas

Banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta dan Tangerang, akibat hujan yang terus terjadi sehingga membuat PLN harus memadamkan listrik ke pelanggan. Hingga malam ini, wilayah yang mengalami mati lampu makin meluas, karena banyak gardu yang dimatikan.

Hingga pukul 19.30 WIB (9/2) sebanyak 469 gardu distribusi dipadamkan dari total 17.000 gardu distribusi di Jakarta dan Tangerang. Padahal pada sore tadi sekitar pukul 15.35 WIB, jumlah gardu distribusi yang dipadamkan hanya 428 gardu.

Sebaran wilayah yang terkena dampak pemadaman yaitu Area Marunda, Cikupa, Kebon Jeruk, Bandengan, Cengkareng, Teluk Naga, Tanjung Priok, Menteng, dan Cempaka Putih.

Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang Mambang Hertadi menegaskan, saat musibah banjir, banyak oknum mengatasnamakan petugas PLN dan melakukan tindakan penipuan. Modus yang sering digunakan yaitu menawarkan sewa genset untuk mengalirkan tenaga listrik. 

“Perlu diketahui bahwa PLN tidak menyewakan atau memperjualbelikan genset untuk keperluan apapun. Selain itu, modus lain yang digunakan yaitu penawaran jasa instalasi listrik pascabanjir," tegas Mambang dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/2/2015)

Berdasarkan batas kewenangan PLN, bahwa instalasi listrik di rumah pelanggan merupakan tanggung jawab pelanggan itu sendiri. untuk perbaikan instalasi, pelanggan bisa menghubungi instalatir listrik yang resmi dan terdaftar.

Pihak PLN menegaskan bahwa ada 4 alasan PLN memutus aliran listrik kepada pelanggan, yaitu: Gardu Distribusi tergenang air, Wilayah perumahan pelanggan tergenang air, Gardu dan perumahan pelanggan tergenang air, Gardu induk tergenang air.

"PLN akan menormalkan listrik kembali apabila instalasi di sisi PLN maupun pelanggan sudah benar-benar kering dan siap. Di sisi PLN, gardu akan dibersihkan dan dilakukan revisi terlebih dahulu," jelas Mambang.

Ia juga mengimbau kepada para pelanggan untuk memastikan semua peralatan elektronik maupun instalasi dalam keadaan kering, jangan sampai air masih menempel.

"Jadi setelah air surut tidak serta merta listrik akan menyala, perlu waktu untuk memastikan semua siap. Hal ini demi keamanan dan keselamatan pelanggan itu sendiri," pesan Mambang.

Mati Lampu

Sejumlah wilayah di Jakarta dan Tangerang, akibat hujan yang terus terjadi. Wilayah yang mengalami mati lampu alias listrik padam makin meluas.

Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Mambang Hertadi mengatakan, PLN melakukan pencegahan bahaya listrik saat banjir dengan memutuskan aliran listrik di sejumlah wilayah.

"Sore pukul 15.35 WIB, jumlah gardu distribusi yang dipadamkan meningkat menjadi 428 gardu, dari 339 gardu pukul 14.25 WIB tadi," ujar Mambang dalam keterangannya, Senin.

Wilayah yang terkena dampak pemutusan aliran listrik yaitu Area Marunda, Cikupa, Kebon Jeruk, Bandengan, Cengkareng, Teluk Naga, Tanjung Priok, Menteng, dan Cempaka Putih.

Kesiapan wilayah yang listriknya bisa dinormalkan yaitu, apabila seluruh wilayah yang dilayani dari gardu distribusi tersebut sudah dalam keadaan kering. 
Tidak itu saja, dari pihak PLN juga memerlukan waktu untuk melakukan pembersihan dan revisi gardu, memastikan gardu distribusi siap. 

"Pelanggan juga dimohon melakukan pengecekan dan memastikan instalasi maupun alat-alat elektronik dalam keadaan kering. Jadi, setelah banjir surut, butuh waktu dan proses untuk penormalan gardu distribusi. Apabila terjadi banjir susulan, tidak menutup kemungkinan gardu distribusi yang sudah normal akan kami padamkan kembali," tutur Mambang.

Mengantisipasi terjadinya bahaya akibat aliran listrik, Mambang mengatakan, langkah pertama bagi masyarakat yang rumahnya baru saja tergenang air akibat banjir yaitu menurunkan Mini Circuit Breaker(MCB). Selanjutnya cabutlah seluruh peralatan elektronik dan tusuk kontak yang masih menancap pada kotak kontak untuk menghindari bahaya yang disebabkan oleh listrik.(dtk/lee)

Tidak ada komentar: