.

.
.

Selasa, 18 Maret 2014

Jangan Memilih Berdasarkan Agama




Salah satu persoalan pelik bangsa kita saat ini adalah menguatnya sektarianisme dan fanatisme atas dasar agama. Politisasi agama dalam Pemilu pun sangat kental dengan nuansa tersebut. Kita tidak ingin Pemilu 2014 menjadi ajang untuk semakin melestarikan atau memperkuat sektarianisme dan fanatisme ini. 

ROSENMAN M, Jambi

Kini pemilih dan beragam kepentingan pada pemilu 9 April 2014 mendatang. Pemilih kini dihadapkan pada berbagai kepentingan secara bersamaan. Penyelenggara Pemilu, kelancaran pelaksanaan terhadap dan partisipasi yang meningkat. Misal, caleg meraih suara terbanyak, partai politik meraih kursi.

Sementara kepentingan pemilihan untuk memilih berdasarkan informasi memadai, akses terbuka terhadap track record calon/peserta pemilu, akses informasi kepemiluan, bebas dari intimidasi dan mobilisasi, tidak terkelola secara memadai, tidak intens dan tidak berkualitas.

Hasilya adalah deretan daftar apatisme masyarakat terhadap proses pemilu, seperti ditunjukkan berbagai survey. Suara pemilih dijadikan alat tukar dengan iming-iming materi tertentu (politik uang).

Hal itu dikemukakan Ketua Komisi Pemilihan Indonesia/Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonoi PGI Jakarta, Jeirry Sumampow  pada diskusi panel bersama para Pendeta, Penatua dari Gereja-gereja PGI, PGPI dan HKBP Regional I Provinsi Jambi dari Kota Jambi, Muarojambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur di salah satu restoran di Jambi, Senin (17/3/14).(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar: