.

.
.

Monday, 10 March 2014

Di Tangan Thoyib Mance, Sampah Menjadi Karya Berseni Tinggi




SOUVENIR: Souvenir olahan Mance’ berbentuk hewan dari kulit pinang.FOTO-FOTO: RIZCHO ASRIYADI/HARIAN JAMBI
 "Hasil karya daur ulang berbahan sampah oleh tangan saya ini, telah sampai ke negeri Turki”
 
MURABIL Fadil, Jambi 

Bernilai seni tinggi, kreatif, serta ramah lingkungan. Hasil karya tangan Thoyib yang akrab disapa Mance’, Seniman Kreatif ini telah mampu melaju hingga negeri Turki. Tidak hanya itu, kretifitasnya tersebut pun digemari dan laris terjual di Negara Singapore dan Mesir.

“Karya saya dibeli oleh mereka yang menganggap bahwa daur ulang yang saya bikin cukup bernilai dari sisi seni, hingga ramah lingkungan,” ujar Mance’.

Proses daur ulang limbah atau sampah ini dilakukan, dengan mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang dibuang. Contohnya sejenis sampah seperti botol bekas , plastik, kaleng, kulit pinang, koran, kertas, karton dan sampah yang bisa dihancurkan. Kemudian diolah dan menjadi alat produksi yang bermanfaat. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah) atau dari sampah yang sudah tercampur.

Sampah atau barang bekas bisaanya dianggap sebagai barang yang sudah tidak  berguna lagi, atau barang sisa yang sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa. Dan bisaanya, seseorang akan langsung membuangnya ke tempat sampah, bahkan membuangnya secara sembarangan. Namun di tangang Mance’, sampah tak berguna ini mampu menghasilkan karya yang luar bisaa.

“Pokoknya semua jenis sampah yang bisa didaur ulang. Proses kerjanya juga sederhana, yakni  sampah itu dihancurkan seperti debu. Kemudian dikeringkan dan tinggal dioalah pembuatannya. Tergantung kita, diolah mau jadi barang apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Aktivitas daur ulang ini sudah lama Mance’. Dia adalah seorang pengrajin daur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat dan berguna. Banyak sampah-sampah yang sengaja dibuang itu diolahnya kembali sehingga menjadi suatu barang yang berbentuk nilai seni tinggi. Apapun jenis sampahnya, jika sudah sampai ketangannya seolah disulap menjadi barang yang bermanfaat.

Padahal menurutnya, hal itu bisa dipelajari oleh semua orang. Tak sulit bagi yang betul-betul ingin belajar seni mengolah sampah, untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sehingga tahu bagaimana mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat dan didayagunakan.

Menyimpan Rupiah


DAUR ULANG: Mance’ memperlihatkan hasil olahannya dari Koran bekas yang berbentuk nampan.FOTO-FOTO: RIZCHO ASRIYADI/HARIAN JAMBI

Alat yang digunakan bermacam-macam jenisnya, bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk pajangan dinding, kamar ruang tamu,  yang hasil buatannya tampak bernilai seni tinggi. Hanya saja menurut Mance’, kebanyakan masyarakat Jambi tidak  cukup mengerti dengan hal tersebut. Padahal dengan kreatifitas tersebut, bisa mengahasilkan uang dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat Jambi kurang respon soal hasil karya seni, padahal jika kita membicarakan terkait dengan pekerjaan daur ulang sampah ini, bisa menghasilkan. Kemudian juga, sampah yang selama ini dibuang begitu saja, mungkin belum banyak yang tahu akan guna dan manfaat jika diolah menjadi barang yang bernilai uang,” ujarnya.  

Mance’ sudah cukup lama menekuni  pembuatan daur ulang berbahan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tahun 1992 ia sudah memulai membuka tempatnya berkreatifitas itu dengan nama Dayang Gallery, yang berlokasi di kawasan Nusa Indah Kota Jambi. 

Tahun-ketahun hingga saat ini sudah banyak barang-barang seni hasil dari olah tangannya itu. Tak terkecuali alat-alat yang bisa dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Tak tanggung-tanggung pendatang (pelancong) dari Negara lain, seperti Singapore, Mesir, Turki pernah membeli hasil karyanya tersebut.

Mance’ bukan hanya terpaku kepada penjualannya saja, ia menyempatkan diri mengajarkan ilmu seni itu kepada yang lain seperti pada masyarakat sekitar, hingga tingkat pelajar maupun mahasiswa. Tak sampai di situ, ia juga seringkali diundang dalam kegiatan resmi pemerintah daerah yang dilaksankan oleh dinas maupun Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), untuk menjadi pemateri.

Ragam Hasil dan Proses

Soal ilmu mendaur ulang berbahan sampah itu sudah jadi keseharian Mance’. Ia piawai dalam mengolah sampah mulai dari pembuatan souvenir, lampu hias, patung, lukisan kaligrafi dan lain sebagainya. Apapun sampah yang bisa dihancurkan, akan ia olah menjadi hal yang berguna dan menarik.

Di galerinya tersebut, terlihat beragam hasil karya buatannnya. Seperti lukisan kaligrafi, patung, hiasan dinding, souvenir, ruang karaoke dan peredam suara.

Menurutnya, pembuatan itu tak sesulit yang dibayangkan. Soal peralatannya juga cukup sederhana, seperti lem kayu, gunting, kawat kecil, tang, benang jahit dan bahan daur yang sudah dimatangkan dan siap diproses menjadi barang yang berguna.

Kemudian setelah semua alat tersedia, bahan hasil daur ulang berbahan sampah itu musti dikeringkan dulu. Kemudian dihancurkan menjadi seperti debu, barulah dibentuk sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

Misalnya seperti melukis,  artinya banyak menggunakan tinta dan cara tangan kita mengolahnya. Tinggal jauh dari perkotaan juga tak menjadi halangan untuk seorang berkreasi mengolah hasil limbah sampah. Dikatakan juga oleh Mance’, bahwa ia pernah menggunakan bahan alami seperti lem dari tepung kanji atau lem dari getah-getahan. Kemudian untuk mendapatkan bahan pewarna juga bisa didapat dari bahan alami seperti daun sirih, buah manggis dan sayur-sayuran yang berwarna.

“Terpenting bagaiamana olah tangan kita, bahan pembuatannya tak susah ditemukan. Dari bahan alami juga bisa dilakukan pembuatananya. Pada intinya semua seni sama. Yang membedakan ialah bahan daur yang digunakan tersebut,” ujarnya.(*/poy)

***
Daur Ulang, Kulit Pinang dan Koran


Daur Ulang Potensi Karya Seni Barang Bekas

Baru baru ini, Mance’ kembali menciptakan hasil olah buatan tangannya. Ia  membuat berbagai bentuk hiasan souvenir hingga hiasan dinding. Kemudian patung dan gambar lainnya yang terbuat dari bahan sampah kulit pinang. Siapa sangka jika sampah kulit pinang ini bisa menghasilkan olahan bernilai seni tinggi.

Kulit pinang yang dibuang begitu saja oleh seseorang, diambil dan diolah oleh Mance’. Dengan segala kepiawaiannya, ia bisa menjadikan kulit pinang itu menjadi bentuk suatu rupa yang tampak elok bak perhiasan berwarna memancar. Seperti hiasan dinding lukisan, patung kecil, souvenir cantik dan lukisan-lukisan yang sungguh bernilai tinggi. Dan itu bisa menjadikan suatu kehobian yang menghasilkan pundi-pundi uang. 

Selanjutnya, kertas koran yang tak terpakai ia olah menjadi barang yang berguna. Bahanini bisa diolah menjadi nampan air minum, souvenir dan alat alat yang bisa dipakai untuk kebutuhan dapur rumah tangga.

Kualitas

Saat ditanya soal ketahanan suatu hasil karyanya itu, ia mengatakaan bahwa hasil karya buatannya itu tahan dan kuat secara fisik. Sebab, bahan daurnya sudah dioalah terlebih dahulu dengan proses yang sudah dipelajari dengan baik. Kemudian untuk perawatannya, tergantung bagaimana orang yang merawatinya. 

“Soal ketahanan ya tergantung yang merawatnya juga dan pastinya yang saya buat itu sudah dengan proses yang terukur, tahan dan ramah lingkungan. Tak lupa pula memberikan pewarna, kemudian pengeringannya juga dengan diangin-anginkan atau dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari,” ujarnya.

Untuk penjualannya dari sisi materi bervariatif. Hanya saja ia sampai hari ini ia masih memikirkan bagaimana semua itu bisa mendapatkan tempat yang bukan hanya sekedar jualan saja, tetapi bisa memproduksi secara banyak. 

“Harapannya dengan tempat tersebut bisa dijadikan tempat berbagi ilmu keterampilan dalam mendaur ulang berbahan sampah tersebut. Artinya ada semacam partisipasi dari pemerintah terhadapa apa yang saya lakukan selama ini,” ujarnya.

Potensi Aset


SOUVENIR: Souvenir olahan Mance’ berbentuk hewan dari kulit pinang.

Ia katakana juga bahwa sejujurnya ia dan pemerintah sebelumnya sudah banyak berinteraksi dan saling mengerti soal seni dan produksi yang ia lakukan selama ini. Padahal jika dikelola dengan baik dan support penuh dari pemerintah daerah, maka bukan tak mungkin bisa menjadi aset usaha yang bagus pula. Dan terpenting, menciptakan regenarasi dari kreatifitas tersebut. Ia juga tak sungkan memberikan pelajaran dan pelatihan kepada semuanya yang ingin belajar. Kendalanya hanya satu, yakni tempat dan bahan produksi yang kurang diperhatikan oleh partisipan lainnya. 

Wajar saja ia Mance’’ berkeluh kesah dalam hal itu, karena memang Mance’’ sudah lama tahu bagaiamana di lingkungan pemerintah. Dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksnanakan oleh pihak pemerintah daerah, lingkungan dinas kesenian maupun buadaya di kota, PKK kota maupun tingkat Provinsi Jambi, ia pernah ditugaskan sebagai pengisi materi pembelajaran dalam ilmu keterampilan dan seni. 

“Ya saya berharap ada perhatian lebih, sebelumnya saya pernah mengajar kepada  mahasiswa, masyarakat, penduduk.Persoalan saya ialah tempat untuk memproduksi dan ruang untuk latihan bagi yang lain. Saya siap kalau soal mengajarkan kepada sesama, apalagi saya pernah mengisi kegiatan kegiatan di PKK maupun tempat lainnya,” ungkapnya.(fdi/poy)
**
Otodidak, Berawal dari Hobi

Sebagai Seniman yang kreatif, Thoyib atau yang bisaa disapa Mance’ ini merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Ia adalah laki-laki yang terlahir di Kota Palembang. 

Ia mendapatkan ilmu keterampilan daur ulang barang bekas dan sampah tersebut hanya secara otodidak. Mengawali dari kehobian, ia memulai sesuatu itu dan sehingga mendapatkan ilmu keterampilan tersebut dari sudut pandang ATM (Amati Tiru dan Modifikasi), dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Dengan begitu, ia tak perlu lagi mengeluarkan modal untuk mendapatkan bahan baku tersebut. 

“Kita bisa menggunakan bahan bahan yang ada di lingkungan tempat tinggal sekitar rumah kita. Dan semua itu tanpa dengan belajar di luar, maksudnya belajar secara akademis,” ujarnya.

ia juga seorang seniman yang pandai bergaul dan memperhatikan lingkungan. Termasuk kepeduliannya terhadap sesama. Seperti membeli bahan baku, ia bekerjasama dengan masyarakat, sehingga masyarakat pun ikut mencarikan bahan yang dibutuhkan. Setelah itu ia kan memberinya upah. 

Kemudian, ia juga tak sungkan memberikan ilmu kepada warga. Jika turun ke daerah, ia sempatkan memberikan materi dengan suasana informal yang bisaa dilakukan di tengah masyarakat.

Butuhkan Wadah

Hingga saat ini, ia berharap memiliki tempat wadah tempat pelatihan. Hanya saja menurutnya hal itu terbentur soal dana. Ia berharap nantinya bisa didengar dan dipenuhi oleh pemerintah terkait dengan keinginannya, yang ingin memiliki tempat memproduksi hasil karya seninya tersebut.

 Dalam memproduksi ia ingin melibatkan teman-teman dari jalanan, yang belum punya pekerjaan dan memiliki kemauan untuk bekerja dan belajar. Ia juga berharap, agar nanti bisa mensosialisasikannya ke tempat lain, seperti mengisi dan berbagi pengetahuan kepada penghuni panti sosial.

Di samping itu juga ia juga mengatakan bahwa butuh peralatan yang memadai, hal terpenting ialah butuh tempat yang bisa memproduksi dan melatih teman-teman lainnya. 

“Sendainya sudah ada tempat khusus saat ini dalam memproduksi mungkin orang datang. Bukan hanya kebetulan, tapi benar-benar dengan kesengajaan dan dalam membeli,” ujarnya.

Dikatakan sejujurnya oleh Mance’’  bahwa dengan membuka gallery sendiri, harus memiliki modal yang cukup. Modal awal inilah yang dirasa cukup besar untuk ukuran seorang Mance’.

Hingga kini,  seniman satu ini berharap Jambi lebih peduli terhadap seni yang mana memang prospeknya bagus dan sungguh bermanfaat. Dan berharap dalam seni tersebut, tak lagi dipandang sebelah mata. 

Kemudian soal daur kulit pinang tersebut, jika dipikirkan kembali untuk menjadikannya sebagai usaha, sekaligus memberdayakan pembuatan daur ulang yang cukup menjanjikan. Dan bisa menjadi olahan khas Jambi nantinya. “Asalkan disupport oleh pemerintah,” tutupnya.(fdi/poy)(HARIAN JAMBI EDISI CETAK PAGI SABTU 8 MARET 2014)


1 comment:

Rama Aidina Nurfitriana said...

Mohon maaf pak ..
Saya mau tanya pak dayang galeri, itu posisi nya dimna ya pak, d nusa indah ,jl apa lorong apa
Twrmakasih pak