.

.
.

Thursday, 27 August 2015

Asap Lumpuhkan Pelayaran dan Penerbangan di Jambi

http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/141440469934.jpg
Asap tebal menyelimuti sebagian besar wilayah kota Jambi, 25 Agustus 2015. Asap yang diduga bersumber dari kebakaran hutan dan lahan di Jambi tidak hanya menyebabkan tingginya kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan terganggunya penerbangan di Kota Jambi akan tetapi juga menyebabkan transportasi air di Kota Jambi nyaris lumpuh. Asap tebal yang membatasi jarak pandang sekitar 500 meter di Sungai Batanghari, Kota Jambi juga membuat kapal - kapal motor di Sungai Batanghari berhenti berlayar. (Suara Pembaruan/Radesman Saragih)
Jambi - Asap kebakaran hutan dan lahan yang semakin tebal di Provinsi Jambi melumpuhkan pelayaran dan penerbangan. Kapal-kapal nelayan di perairan pantai timur Jambi dan di Sungai Batanghari tidak berani berlayar, akibat asap tebal membatasi jarak pandang hingga hanya ratusan meter (m) saja. 

Selain itu, penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi juga nyaris lumpuh akibat asap tebal. Pesawat tidak bisa mendarat di Bandara STS Kota Jambi, Kamis (27/8) pagi, akibat jarak pandang di bawah satu kilometer (km).

Kepala Dinas Perhubungan dan Informatika Kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim), Hadi Firdaus di Jambi, menjelaskan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh nelayan dan kapal motor untuk menghentikan pelayaran, terkait semakin tebalnya kabut asap yang menyelimuti wilayah Tanjabtim.

“Kami meminta para nelayan berhenti melaut, mengindari kecelakaan di laut akibat tebalnya asap. Sedangkan kapal-kapal motor pengangkut penumpang, kami imbau berhenti berlayar, khususnya pagi dan malam hari, karena asap tebal pagi dan malam hari bisa menimbulkan kecelakaan di laut. Kapal diizinkan berlayar bila jarak pandang di atas 500 m,” katanya, Jambi, Kamis (27/8).

Sementara itu, Kepala Operasional Bandara STS Kota Jambi, Parolan Simanjuntak mengatakan, walaupun pesawat tidak bisa mendarat di bandara pagi ini, namun pesawat yang berangkat dari Bandara STS Jambi tetap sesuai jadwal, karena jarak pandang sekitar 700-900 m masih layak untuk take off.

Gangguan asap terhadap penerbangan di bandara kota itu sudah terjadi beberapa pekan terakhir, khususnya di pagi dan sore hari. Jumlah pesawat yang gagal dan tertunda mendaratdi bandara kota itu mencapai 25 kali.

“Pesawat baru bisa mendarat di Bandara STS Jambi siang hari, ketika asap berangsur tipis dan jarak pandang mencapai dua km. Kalau pagi hari, asap tebal dan jarak pandang hanya di bawah satu km, pesawat tidak kami izinkan mendarat,” katanya.

Semakin tebalnya asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah Kota Jambi membuat warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. 

Secara terpisah, Koordinator Pokso Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Donny mengatakan, kebakaran hutan dan lahan di Jambi masih terus terjadi.

Berdasarkan pantauan satelit National Ocenaic Atmospehric Administration (NOAA), jumlah hot spots (titik api) di Provinsi Jambi pagi ini mencapai 100 titik. Titik api tersebar di Kabupaten Muarojambi, Tanjungjabung Timur dan Sarolangun. (Sumber: Beritasatu.com/Radesman Saragih/FAB/Suara Pembaruan)

No comments: