.

.
.

Thursday, 5 June 2014

Pemprov Jambi Harus Serius Atasi Gizi Buruk




 
Anak-anak dari SAD Rentan Terhadap Gizi Buruk karena supan gizi yang minim. Foto SAD saat untuk rasa di kantor Gubernur Jambi. Foto Rosenman Manihuruk (Asenk Lee Saragih).
Pemerintah kabupaten/kota se Pemerintah Provinsi Jambi harus serius memberantas pengidab gizi buruk di Provinsi Jambi. Pengentasan gizi buruk bagi masyarakat pedalaman di Provinsi Jambi harus dilakukan, bahkan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) sangat rentan terhadap gizi buruk. Kini persoalan gizi masih menjadi kendala yang harus dihadapi Pemprov Jambi kedepan. Ironisnya, sedikitnya terdapat 100 orang penderita gizi buruk di Provinsi Jambi.

R MANIHURUK, Jambi

Masih banyaknya penderita gizi buruk di Provisi Jambi perlu menjadi perhatian Pemprov Jambi secara serius. Persoalan gizi buruk ini menjadi momok menakutkan bagi setiap orang.

Gizi buruk bisa saja menerpa siapa saj saja, terutama pada anak belita. Gizi buruk biasanya terjadi karena kelalaian orang tua yang kurang peduli dengan asupan gizi anak. Ditambah dengan kurangya pengetahuan orang tua tentang ilmu kesehatan.

Apalagi gizi buruk yang paling dominan terjadi di daerah pedesaan namun tidak menutup kemunkinan masyarakat yang berdomisil di kota juga dapat mengidap gizi buruk.         

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Andi Pada, melalui Kepala Seksi Kesehatan Gizi Provinsi Jambi, Helfiyan mengatakan, banyaknya korban gizi buruk di Provinsi Jambi saat ini mencapai 100  orang berdasarkan data yang kita miliki saat ini.

Hal ini terjadi karena masih banyaknya orang tua anak yang kurang peduli dengan asupan makanan yang mengandung nilai gizi yang diberikan kepada anak. Hal ini terjadi pada daerah perkotaan dan juga diberbagai pelosok desa.

“Tak hanya itu, gizi buruk terjadi karena malasnya orang tua membawa anaknya kepelayanan kesehatan. Mereka lalai karena kesibukan kerja. Selain itu juga faktor yang menyebabkan gizi buruk karena susahnya mendeteksi anak yang menjadi korban,” katanya.

Karena orang tuanya tidak maunya melaporkan kepada pihak dinas kesehatan  baik ke posyandu, puskesmas atau kerumah sakit terdekat. Sehingga penanganan anak yang kena korban terlambat ditangani oleh pihak kesehatan.

“Meskipun tenaga dari pihak pelayanan kesehatan telah terjun lansung mensurvei penyakit gizi buruk  di perkotaan maupun di pedesaan, namun gizi buruk sulit ditemukan. Hal ini juga yang menyebabkan kesulitan kami. Sehingga gizi buruk terus saja ada dan bertambah setiap tahunnya,” ujarnya.

Gizi Buruk Mencapai 100 Anak


Kepala Seksi Kesehatan Gizi Provinsi Jambi Helfiyan
Berdasarkan data tahun 2013
di Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan, tingkat gizi buruk di Jambi cukup signifikan. Secara keseluruhan menyebar keseluruh kabupaten. Saat ini terdapat pengidap gizi buruk mencapai 100 orang.

“Pengidap gizi buruk paling banyak di Kabupaten Merangin 30 orang, Kota Jambi 18 orang, Muarojambi 11 orang, Tebo 8 orang, Kerinci 7 orang, Kota Sungai Penuh 6 orang, Tanjung Jabung Barat 6 orang, Batanghari 4 orang, Tanjung Jabung Timur 4 orang, Sarolangun 3 orang dan Kabupaten Bungo  3 orang,” ujarnya.

Sementara korban penderita gizi buruk yang meningga dunia 1 orang terdapat di Tebo dan 1 orang lagi terdapat di Kabupaten Tanjab Barat. Total yang meninggal dunia dari penderita gizi buruk yang terjadi pada tahun 2013 2 orang anak.

Disebutkan, jika kembali pada data tahun 2012, kasus gizi buruk di Provinsi Jambi mencapai 142 orang. Jumlah yang meninggal sebanyak 5 orang. Hal ini menunjukkan ada penurunan jumlah pengidap gizi buruk dari tahun 2012  sebanyak 142 menurun menjadi 100 orang pada tahun 2013.

Melihat fakta masih banyaknya terjadi dampak gizi buruk  yang masih terjadi perlu penangan serius  dari pemirintah. Namun katanya, pihak kesehatan gizi mengatakan sudah melakukan pengentasan dan penaggulangan gizi buruk  dengan baik.

Hasil penangan saat ini sudah mencapi 80 persen ungkapnya. Kedepan dinas kesehatan akan bekerja keras dan berupaya untuk mengatasi gizi buruk sampai tuntas. Disamping itu upaya untuk menuntaskan gizi buruk.

Saat ini langkah yang ditempuh salah satu contoh memberikan bantuan. Membagikan gizi formula kepada masyarakat yang mempunyai anak yang masih balita. Sebagimana diketahui gizi formula ini mengandung segala unsur yang lengkap untuk asupan gizi mulai dari kandungan vitamin sampai protein yang utuh secara legkap.(*/lee)

***
Genjot Program Sadar Gizi

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi kini mengupayakan sosialisasi program sadar gizi kepada masyarakat. Program ini guna mengentaskan gizi buruk yang masih terdapat di Provinsi Jambi.

Menurut Andi Pada, upaya perbaikan gizi masyarakat sebagai mana disebutkan dalam undang-undang kesehatan No 36 tahun 2009 bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.

Antara lain melalui perbaikan pada konsumsi makanan. Perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu teknologi.

Selain itu, rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) 2010-2014 telah menetapkan 4 sasaran pembangunan kesehatan yaitu pertama meningkatkan umur harapan hidup.

Kedua menurunkan angka kematian bayi, ketiga menurunkan angka kematian ibu dan menurunkan prevalansi gizi kurang. Menurunkan prevalensi kurang dari 30 persen pada tahun 1990 menjadi 15 persen pada tahun 2015.

Guna mencapai target  tersebut  telah ditetapkan indikator kinerja. Kegiatan program gizi yaitu presentase balita yang ditimbang (d/s). D/S merupakan persentase balita yang ditimbang di posyandu dibanding seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu.
 Adapun cakupan d/s pada tahun 2013 sebesar 67 persen. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Provinsi Jambi melalui dinas kesehatan bersama-sama dengan pemerintah kabupaten kota untuk mencapai target indikator tersebut.

Diantaranya peningkatan kapasitas petugas yakni pemantauan pertumbuhan anak balita, penaganan gizi buruk di rumah sakit dan puskesmas, konseling menyusui, konseling makanan pendamping air susu ibu.

Kemudian intervensi pemberian makanan formula untuk kasus anak gizi buruk sebanyak 30 bagi sebelas kabupaten kota Rp 1.350.000 per- anak, penyediaan bufferstok makanan pendamping air susu ibu dan bufferstok obat program gizi (vitamin A, tablet tambah darah, taburia).

Ke-empat pembinaan kepada petugas gizi puskesmas dan kabupaten kota secara terpadu dengan program kesehatan ibu dan anak. Penyuluhan gizi melalui media massa televisi, radio dan koran.

Hasil capaian indikator  cakupan penimbangan  (d/s) pada tahun 2012  sebesar 71,08 persen (target 66 persen ). Capaian tahun 2013 sebesar 71,08 persen (target 67 pesen ) ini berdasarkan laporan sampai bulan November tahun 2013.

Diketahui, kasus gizi buruk di Provinsi Jambi juga disebabkan oleh berbagai penyakit seperti TBC paru, talasemia, jantung ISPA, kecacingan, BBLR dan kekurangan asupan. Kedepan perlunya penangana gizi buruk dilakukan dengan cara serius dengan dengan menempuh berbagai cara termasuk  gerakan nasional sadar gizi dengan melibatkan semua sektor terkait dalam hal ini pertanian, peternakan, ketahanan pangan, BPOM, BKKBN dan lainnya. (lee)


No comments: