Kamis, 05 Juni 2014

Pak Tomo Mampu Hidupi Keluarga dari Buah Karya Lukisan



Toni Sutomo


Orang seni tak selamanya kere atau dengan tujuan hidup tak menentu. Profesi juga tak selamanya jadi karyawan swasta, pegawai negeri atau usaha lainnya. Seniman juga bisa hidup dengan buah karya tangan sendiri. Seniman merupakan orang-orang yang memiliki sebuah kreatifitas ataupun keterampilan dalam bidang seni, baik seni rupa, seni lukis, musik dan sebagainya.

R MANIHURUK, Jambi

Toni Heri Susilan atau Toni Sutomo dan panggilan akrabnya Pak Tomo, adalah salah satu seniman Jambi yang memiliki sebuah keterampilan di bidang seni lukis. Lukisan yang dibuatnya cukup dikenal di kalangan seniman Jambi dan banyak lukisan beliau yang ditampilkan di pameran-pameran lukisan.

Baik di dalam Kota Jambi maupun di luar Kota Jambi, seperti Bali, Padang dan Jakarta. Hal ini disampaikan Pak Tomo yang mengatakan banyak lukisannya ditampilkan di berbagai pameran baik dalam Kota Jambi maupun di luar daerah seperti Bali, Padang dan Jakarta.

Dengan perkembangan hasil karya seni yang ada di Jambi, tidak memberikan sebuah dampak yang positif bagi Toni Sutomo yang dari segi perekonomian keluarganya hanya bergantung kepada hasil lukisannya.

Aktivitas Pak Tomo pada saat ini hanya seorang pelukis jalanan yang hanya mendapat penghasilan melukisnya apa bila diminta untuk melukis oleh orang lain. Hal ini disampaikan oleh salah satu keluarganya yang juga seorang pelukis muda Jambi yaitu Habibi.

Ia mengatakan, perekonomian paman hanya bergantung kepada lukisan yang diminta oleh orang lain, seperti apa bila ada orang yang ingin dilukis maka di situlah paman bisa mendapatkan hasilnya untuk makan sehari-hari.

Toni Sutomo juga mengatakan bahwa aktivitasnya saat ini adalah seorang biro jasa, yang hanya mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluargnya dari jasanya sebagai pelukis. Melukis, sesuai dengan permintaan orang-orang yang ingin dilukis.


Maka jasa beliau akan dipergunakan saat ini aktivitas saya seperti biro jasa, melukis sesuai dengan permintaan orang lain. Kata Tomo, setiap lukisan yang dibuatnya hanya berkisar satu lukisan Rp 200 ribu sampai dengan Rp 300 ribu.

Tergantung sesuai dengan permintaan si pemesan dan pekerjaan ini tidak dilakukan setiap hari, karena juga tergantung dari pemesanan. “Lukisan saya bisa saya jual dari harga Rp 200 ribu sampai dengan Rp 300 ribu, sesuai dengan permintaan, dan ada juga sampai dengan Rp 1 jutaan lebih. Tapi hal yang seperti ini tergantung harinyalah lagi-lagi sesuai dengan ukuran lukisan yang dipesan,” ujar Tomo  sambil tertawa.

Pekerjaan Tetap

Penghasilan dalam sehari–hari Pak Tomo adalah melukis. Namun jika tidak mendapatkan orderan, maka Pak Tomo harus mencari sampingan kerja. Biasanya ikut kerja bersama salah satu sahabtnya, yang bentuk pekerjaanya, Pak Tomo malu untuk mengatakannya, penghasilan itu pun hanya bisa mendapatkan  Rp 50 ribu sampai dengan Rp 100 ribu, pekerjaan ini pun tidak selalu ada.

“Pekerjaanya saya malu untuk memberitahukan, yang jelas halal dan hasilnya pun tidak seberapa lah Dek, antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu,” ujar Tomo sambil tersenyum.

Toni Heri Susilan atau yang disebut dengan Toni Sutomo merupakan putra dari salah satu pejuang 45 Jambi yaitu Sudioto Sutomo. Lukisan yang pertama kali yang diikutsertakan dalam kegiatan pameran yang dilaksanakan di daerah Rawasari Jambi pada tahun 80-an adalah lukisan pejuang 45.

Hal ini disampaikan oleh Toni, lukisan yang pertama kali dia buat adalah lukisan pejuang 45 dan lukisan itu langsung dia ikut sertakan di pameran pada saat tahun 80-an.

Bertalenta Alami

Kemampuannya dalam melukis baginya adalah sebuah talenta yang diberikan oleh Maha Pencipta. Pada awalnya ia tidak memiliki bakat apa-apa tentang sebuah seni lukis, ia pun mengaku bahwa ia hanya melihat ayahnya melukis.

“Pada awalnya saya tidak bisa melukis dan saya hanya melihat ayah saya. Karena ayah saya bukan saja seorang tentara tapi juga ia memiliki bakat melukis dan dengan sendirinya saya bisa melukis hingga saat ini,” ujar Pak Tomo.

Cita-cita merupakan sebuah tujuan hidup untuk meraih sebuah kesuksesan, dengan keinginan yang kuat dan usaha yang telah dilakukan, bukanlah sebuah jaminan bisa meraih cita-cita yang diiginkan.

Hal ini lah yang dialami oleh Toni Sutomo yang mempunyai keinginan menjadi seorang pelukis yang terkenal. Namun dengan keterbatasan bahan dan biaya, sehingga cita-citanya pun tidak mampu ia raih.

“Siapa yang tidak ingin menjadi pelukis terkenal, tapi apa daya, saya tidak punya biaya, bahan saya melukis pun seadanya,” ujar Pak Tomo.

Lahirkan Pelukis Muda

Toni Sutomo lahir pada tanggal 5  Oktober 1952 yang beralamat di kawasan Kecamatan Jambi Selatan ini, tidak henti-hentinya melukis dan ia pun selalu memberikan ilmunya di kalangan para remaja.

“Siapapun yang ingin belajar melukis, ia saya selalu terbuka. Saya sering mengajarkan anak-anak muda di lingkungan saya untuk melukis dan saya orangnya lebih terbuka. Pergaulan semua kalangan masuk, baik muda maupun yang tua,” ujar Toni Sutomo.

Toni Sutomo salah satu seniman yang cukup humoris, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainya dan hal yang terpenting bisa saling membagi ilmu kepada yang muda. Hal ini disampaikan Habibi.

“Paman walaupun tua, dia masih berjiwa muda, orangnya humoris dan ingin membagi ilmu kepada yang muda,” kata Habibi.

Zaman yang lalu, setiap pameran lukisan karya Toni Sutomo selalu ikut serta dipamerkan, namun pada saat sekarang ini, banyak para seniman muda tidak mengetahui keberadaan beliau.

Sehingga ia pun tidak pernah lagi ikut serta dalam setiap kegiatan pameran lukisan yang dilaksanakan. “Kegiatan pameran lukisan sering terdengar, akan tetapi saya tidak ikut serta karena tidak dikonfirmasikan,” ujar Tomo.

Oleh karena itu Toni pun mengharapkan agar ke depannya pemerintah dalam hal ini instansi terkait dapat bekerjasama dan berkoordinasi kepada para seniman-seniman Jambi. Agar sosilisasi kegiatan seniman dapat terealisasi dengan baik, sehingga informasi kegiatan juga dapat kami ketahui. (*/lee)

***

Dunia Seniman Jambi di Mata Pak Tomo

Toni Sutomo, seorang seniman gaek atau senior di Jambi cetus, kalau kesenian Jambi belum berkembang. Seniman tua kerap dilupakan oleh seniman muda yang hanya populer secara instan. Buah karya seniman senior kerap tidak dilibatkan sehingga tak punya kesempatan menampilkan karya-karya mereka.

Namun menurut Toni Sutomo, perkembangan Kesenian Jambi untuk saat ini tidak berkembang, dalam hal ini seni lukis di Jambi, pernyataan Toni mempunyai alasan tersendiri, kenapa seni lukis tidak berkembang di Jambi?

“Karena salah satunya hanya diselenggarakan untuk kalangan tertentu saja dan lebih mirisnya lagi, kegiatan itu hanyalah bentuk formalitas saja untuk bisa mendapatkan sebuah keuntungan dengan kata lain adalah untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

Seorang seniman merupakan makhluk yang pintar, tidak semua orang bisa menjadi seorang seniman dan sampai kapanpun keidealisan seorang seniman tidak bisa diragukan.

“Seniman itu adalah mahluk yang pintar, tidak semua orang mempunyai keahlian seni, begitu juga melukis, tidak semua orang bisa melukis. Dengan demikian perlu ditekankan bahwa seorang seniman mempunyai  komitmen yang kuat dan keidealisan yang dimilikinya tidak dapat diragukan lagi,” ujar Tomo.

Toni Sutomo mempunyai anggota keluarga berjumlah delapan orang dan mempunyai tujuh orang anak. Empat diantaranya telah berkeluarga sedangkan tiga orang yang lain, masih tinggal bersamanya.

Demi Keluarga

“Saya mempunyai tujuh orang anak, empat  diantaranya telah menikah sedangkan yang tiga masih tinggal dengan saya dan juga masih bersekolah,” ujar Tomo.

Dengan pendapatan yang tak seberapa, ia masih bisa menafkahi dan membesarkan anak-anaknya, tiga orang anaknya menikah dengan perwira polisi dan satu orang anaknya lagi menikah dengan seorang pengusaha dan hal ini Pak Tomo sangat bersyukur.

“Walapun keadaanya bisa dikatakan berada di kalangan menengah ke bawah, tapi Alhamdulillah anak-anaknya bisa hidup yang serba berkecukupan dan ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Anak saya empat orang telah menikah dan Alhamdulillah kehidupan mereka tidak seperti saya, akan tetapi selagi saya masih kuat, saya tidak ingin merepotkan anak-anak saya,” ujar Tomo.

Semangat juang Pak Tomo dalam menghadapi hidup merupakan sebuah cerminan bagi kalangan muda, untuk tidak henti-hentinya untuk melakukan hal-hal yang positif demi tercapainya sebuah cita-cita yang diinginkan.

Dengan ini Pak Tomo berpesan kepada para kawula muda untuk tidak gampang putus asa, terus berjuang, berusaha dan belajar agar apa yang dicita-citakan bisa terwujud.

“Butuh perjuangan, usaha dan belajar agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, para kawula muda jangan gampang berputus asa, apapun ilmu kalian selagi itu masih hal yang baik, Insya Allah ilmu yang kalian miliki bisa bermamfaat bagi orang banyak, dan sampai kapan pun hal itu akan selalu teringat,” pesan  Tomo.

Selain itu, Toni Sutomo atau yang dikenal dengan Pak Tomo mempunyai harapan dalam perkembangan seni lukis Jambi. Dalam proses perkembanganya dibutuhkan sebuah dukungan, saling membahu dan para seniman dapat bekerja sama dalam mengembangan kesenian di Jambi.

“Dalam proses perkembangan kesenian Jambi, dibutuhkan sebuah kerjasama antar seniman dan pemerintah untuk bisa mengembangkan kesenian di Jambi, keterlibatan para seniman juga harus terakomodir dengan baik,” kata Pak Tomo.

Dengan informasi dari mulut ke mulut, informasi tentang keberadaan Pak Tomo terdengar oleh pihak Taman Budaya Jambi (TBJ) . Maka dari itu salah satu pihak TBJ yaitu Jefri Adp, menemui Pak Tomo setelah berkomunikasi dan dengan bukti-bukti sejarah yang dimiliki oleh Pak Tomo, maka TBJ segera mungkin akan merangkul Pak Tomo untuk bisa mengembangkan ilmunya di TBJ.

“Keberadaan Pak Tomo, saya dapatkan dari mulut ke mulut, sehigga punya sebuah ide untuk menemui Pak Tomo dan kami pihak TBJ juga berharap agar Pak Tomo bisa memberikan ilmunya di kalangan pemuda melalui TBJ yang akan memfasilitasi,” ungkap Jefri.

Disebutkan, 2014 ini, TBJ telah memprogramkan untuk pengembangan kesenian Jambi, dengan melibatkan seluruh para seniman. TBJ mempunyai langkah-langkah untuk bisa merealisasikan program TBJ, diantaranya adalah TBJ akan selalu melakukan sebuah pendataan terhadap para seniman yang masih tersembuyi keberadaannya.

Selanjutnya menyebarkan informasi secara merata, selain itu melakukan sebuah pendekatan kepada masyarakat dan yang terakhir adalah survei secara pribadi maupun kelembagaan.

“TBJ telah membuat program dalam pengembangan kesenian Jambi yaitu melakukan pendataan, menyebarkan informasi dan meciptakan sebuah komunikasi dengan baik kepada masyarakat,” kata Jefri Adp.

Dalam pengembangan kesenian Jambi, TBJ selalu siap untuk memfasilitasi dalam melaksanakan sebuah pembinaan dan akan mengakomodir semua seniman baik dalam kota maupun di kabupaten kota se-Provinsi Jambi.

“TBJ adalah sebuah kelembagaan yang selalu siap dalam memberikan fasilitas dan pembinaan terhadap para generasi muda, yang meliputi tentang pengembangan kesenian Jambi,” ungkap Jefri.

Jefri menyampaikan bahwa dalam pengembangan kesenian Jambi. “Memang perlu adanya sebuah kerjasama dan saling mendukung demi terciptanya pengembangan kesenian Jambi agar maju dan pada bulan April TBJ akan menggelar sebuah pameran lukisan se-Provinsi Jambi dan Sumatera,” ujar Jefri. (lee)
Buah Karya Pak Tomo

Buah Karya Pak Tomo



Buah Karya Pak Tomo

Jefri Adp
 

Tidak ada komentar: