Kamis, 29 Mei 2014

Potensi Pinang dan Kopi Excelsa di Tanjung Jabung Barat




Kepala BI Perwakilan Jambi (tengah) dan Rektor Unja Aulis Tasman (kanan) saat meninjau Pameran Produk UKM di Jambi Syariah Expo Belum Lama Ini
Pengembangan UMKM

Usianya tak lagi muda, tapi semangatnya masih tetap muda. Begitulah sosok Supadi (61) seorang petani yang terus mendorong kemajuan usaha pinang dan kopi masyarakat di wilayah Desa Mekar Jaya Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Supadi dengan tekun menghubungi dan mengumpulkan satu demi satu petani di kampungnya untuk hadir di dalam kegiatan pertemuan yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jambi beberapa waktu lalu.

R MANIHURUK, Jambi

Pertemuan tersebut adalah awal dari inisiatif Bank Indonesia untuk mengembangkan usaha produksi komoditas pinang dan kopi di Desa Mekar Jaya Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Hal-hal yang mendorong kepedulian Bank Indonesia melakukan pengembangan produksi pinang adalah, pertama, pinang merupakan salah satu komoditas yang diperdagangkan secara internasional.

Kedua, Negara pengimpor pinang terbesar di dunia adalah India, lalu diikuti oleh Pakistan dan Nepal yang selama ini mendapatkan pasokan pinang dari Indonesia khususnya dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Ketiga, Pinang dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat dikatakan memiliki kualitas terbaik dibandingkan daerah produsen Pinang lainnya di Indonesia bahkan di dunia. Keempat, Pinang diproduksi oleh petani-petani lokal yang terhubung dengan eksportir melalui pengumpul kecil dan menengah di wilayah mereka.

Kelima, saat ini secara lokal, pengembangan komoditas Pinang sebagai sumber pendapatan masyarakat mendapat perhatian penuh dari pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Keenam, Bank Indonesia secara khusus memiliki peran untuk menjaga laju inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi, dimana aktifitas ekonomi produktif masyarakat merupakan salah satu bagian yang mendapat perhatian Bank Indonesia.


Banyak permasalahan yang mendasari belum maksimalnya pendapatan petani pinang. Dua permasalahan utama antara lain belum maksimalnya jumlah produksi atau panen per-pohon dan rendahnya kualitas biji pinang kering yang dijual kepada pengumpul.

Hal ini disebabkan proses pengeringan pinang masih menggunakan pola tradisional, yaitu dengan dijemur begitu saja di tepi jalan sehingga berisiko terkena air, kotoran, dan hujan. Alhasil, biji pinang hasil pengeringan berada dalam kondisi tingkat kekeringan masih rendah dan berjamur dengan warna yang agak gelap. Kedua kondisi tersebut menjadi alasan harga yang ditawarkan oleh pengumpul besar tidak maksimal.

Tataniaga Pinang

Supadi sang pelopor tangguh
Jalur tataniaga penjualan biji pinang kering di sekitar wilayah Kecamatan Betara dan Tungkal
 terbilang cukup pendek. Dari produsen atau petani, biji pinang kering dibeli oleh pengumpul di desa mereka masing-masing. Harga pada tingkat petani berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 7.000 /kg tergantung pada kualitas. Umumnya kualitas biji pinang hanya didasarkan pada kadar air dan warna.

Warna yang kurang cerah dan berjamur akan menurunkan harga beli. Selisihnya dapat mencapai Rp 1.000 /kg antara pinang dengan kategori baik dan yang kurang sesuai pada kondisi kadar airnya, warna, atau kebersihan dari berjamur.

Biji pinang dari pengumpul desa selanjutnya akan ditampung oleh pembeli besar yang juga bertindak sebagai eksportir ke Negara-negara tujuan. Kadar air biji pinang dari petani umumnya berkisar antara 20 hingga 25 persen.

Selanjutnya pinang yang terkumpul di pengumpul desa akan dikeringkaan menggunakan rumah pengering kapasitas 10 hingga 20 ton hingga kadar air turun mencapai 10 persen. Perusahaan eksportir yang bertindak sebagai pengumpul besar dengan kemampuan modal dan fasilitas lainnya akan kembali mengeringkan biji-biji pinang yang dikirim ke mereka hingga kadar airnya mencapai standar untuk diekspor yakni 5 persen.

Pengiriman ke negara pengimpor (India, Pakistan, dan Nepal) melalui perwakilan mereka di Negara Singapura. Di Singapura tidak dilakukan bongkar muat namun hanya proses administrasi.
Lalu seperti apa langkah yang dilakukan Bank Indonesia untuk memperbaiki kualitas produksi pinang dan meningkatkan pendapatan kelompok tani di Tanjung Jabung Barat?

Dukungan BI

Kantor Perwakilan Bank Indonesia dalam program bantuannya, menargetkan peningkatan produksi, peningkatan mutu dan peningkatan harga, yang diharapkan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan petani. Program bantuan yang diberikan tersebut antara lain, pelatihan dan perbaikan teknologi pengering biji pinang dan kopi excels, yang dimulai sejak Mei 2013 lalu.

Sebagai daerah percontohan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat. Menetapkan 60 orang petani dari tiga kelompok tani Pinang dan kopi di Kampung Parit Tomo Kelurahan Mekar Jaya di Kecamatan Betara, untuk menjadi kelompok binaan.

Kelompok petani tersebut, memiliki beberapa keinginan. Diantaranya yang pertama, meningkatkan jumlah produksi buah pinang. Kedua, meningkatkan mutu biji pinang kering dengan menerapkan teknologi tepat guna dan biaya yang tidak mahal.

Ketiga, menurunkan kadar air dengan menggunakan teknologi tepat guna sehingga dapat memperbaiki harga jual. Keempat, melakukan pengelolaan keuangan yang memungkinkan terwujudnya kemandirian keuangan. Kelima, memiliki jalur atau strategi pemasaran yang dapat memberikan hasil maksimal dan keenam, memiliki kelembagaan yang dapat meningkatkan nilai tawar petani.

Keinginan para petani tersebut kemudian direspon Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, melalui tiga kegiatan. Pertama, berbagai pelatihan yang membahas teknologi budidaya, dengan fokus pada pemupukan berimbang untuk mendorong peningkatan produksi buah.

Kedua, pemberian teknologi sederhana pengering biji pinang. Dan yang ketiga, pembentukan lembaga keuangan mikro yang mampu memandirikan keuangan petani dan mendorong penguatan nilai tawar mereka terhadap pasar.
Bentuk pengering biji pinang yang menyerupai rumah kaca, merupakan rancangan para petani secara bersama-sama. Rangka dan lantai terbuat dari bahan kayu (kaso dan papan), dengan dinding dan atap menggunakan bahan plastik. Sehingga, dapat memaksimalkan proses pengeringan.

Rumah pengering yang dirancang, dapat menampung sebanyak 200 kilogram biji pinang sekali jemur. Dan hanya membutuhkan waktu 1,5 – 2 hari dalam kondisi hari cerah. Dalam kondisi yang paling ekstrim yakni hujan, bahan dapat kering dalam waktu 4 – 5 hari.

Rumah pengering mampu mengeringkan lebih cepat dibandingkan metode sebelumnya, yang membutuhkan waktu 2 – 3 hari dalam kondisi cerah dan 7 – 10 hari dalam kondisi hujan dan berawan.

Biji pinang yang dijemur menggunakan rumah pengering, juga terbukti bebas dari jamur yang biasanya terbentuk, akibat kelembaban pada metode penjemuran lama. Selain itu, penggunaan rumah pengering juga jauh lebih praktis. Karena petani tidak perlu memindahkan jemuran pinang ke dalam rumah, ketika malam atau hujan tiba.

Dengan demikian, value added yang diberikan, tidak hanya berasal dari peningkatan mutu dan harga. Namun juga berasal dari waktu prosesnya. Manfaat rumah pengering tersebut telah dirasakan oleh para petani kelompok Sri Utomo 1, 2, dan 3.

Jika sebelumnya mereka hanya bisa menghasilkan biji pinang kering sebanyak 500 kilogram per bulan, dengan harga Rp 4 ribu per kilogram, maka dengan rumah pengering ini, mereka bisa memproduksi hingga 900 kilogram per bulan, dengan harga Rp 5 ribu per kilogram.

Prosesi penyerahan bantuan dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2013 lalu, yang dilaksanakan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jambi. Prosesi penyerahan tersebut, dihadiri oleh semua petani penerima bantuan. Hadir mewakili pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kepala Dinas Perkebunan dan Kepala Bagian Administrasi Ekonomi Pemerintah Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Kalangan perbankan juga ikut hadir. Diantaranya adalah, Pimpinan BRI Cabang Kuala Tungkal, Pimpinan BNI Cabang Kuala Tungkal, Pimpinan Bank Syariah Mandiri Cabang Kuala Tungkal, Bank Danamon Cabang Kuala Tungkal dan BPD Jambi Cabang Kuala Tungkal.

Perhatian pada upaya perbaikan mutu ditekankan oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jambi saat menyampaikan sambutannya. Mutu produk dapat mendorong penciptaan harga, yang secara langsung dapat berkontribusi pada pendapatan dan kesejahteraan petani itu sendiri.

Pemerintah menilai tepat, bahwa program bantuan tersebut diberikan kepada produsen tingkat pertama yakni petani. Setelah perbaikan proses produksi pinang, berhasil meningkatkan pendapatan petani. Bank Indonesia juga mendorong pengelolaan keuangan kelompok tani di Tanjung Jabung Barat. (*/lee)


1 komentar:

Unknown mengatakan...

saya sedang mencari kopi excelsa ELB screen 18 untuk export ke oman,
Tolong info supplier yg bisa menyediakan kopi dengan spesifikasi tsb.
dibutuhkan kira2 15 ton

salam
ida
0817822410