.

.
.

Senin, 10 November 2014

Butet Manurung Buat Petisi Kabut Asap

Butet Manurung Saat Guru Sokola Rima di Jambi
Selama 17 Kabut Asap Selalu Terjadi

Jambi-Seorang aktivis lingkungan Saur Marlina atau Butet Manurung merasakan kesulitan masyarakat, khususnya Jambi, Risu dan Sumatera Selatan akibat dampak kabut asap kebakaran lahan dan hutan. Melihat pemberitaan dari media cetak televisi dan media online, Butet manurung tergerak untuk membuat petisi untuk menggugah Presiden Joko Widodo dan Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Butet Manurung dalam isi petisi yang diterima Harian Jambi, Jumat (7/11) menyebutkan, lihat koran atau TV akhir-akhir ini? Asap menutupi Sumatera, akibat kebakaran hutan dan gambut!

Potret besarnya ngeri! Tiap tahun 3,8 juta hektar hutan hilang. Tahun ini, negara rugi Rp 80 triliun, 10 kali lipat anggaran Provinsi Riau, Rp 8,84 triliun (BNPB, 2014). Warga Riau sudah 17 tahun hidup dengan polusi dan penyakit akibat asap. 


Tapi saya tak menyerah. Saya baru saja melahirkan anak pertama. Kelak, semoga ia belajar bersama anak-anak rimba seperti juga saya belajar dan tinggal lama di pedalaman hutan “Sokola Rimba”.
Sebelum hutan dan rawa gambut ‘berasap’ lagi, sebelum para pelaku lari dari hukum, kita suarakan agar Jokowi #BlusukanAsap ke Riau. 

Saya tak rela hidup “Orang Rimba” dan masyarakat pedalaman Indonesia yang hidupnya bergantung pada hutan tergusur dari tanah leluhur. Saya tidak rela, masyarakat Sumatera hidup dengan asap. Kamu juga kan? 

Seorang warga asli Riau, pak Abdul Manan, membuat petisi agar Presiden Jokowi segera #BlusukanAsap! Yuk mulai bersuara untuk lingkunganmu. Tandatangani petisi Abdul Manan di bawah ini!

Demikian ajakan Butet Manurung untuk mengajukan petisi kepada Presiden Jokowi dalam menanggulangi kabut asap berkepanjangan di Sumatera. 

Berikut petikan petisi yang dirilis Butet Manurung. Saya sering mendengar keluhan orang kota mengenai asap yang dimana-mana, mulai dari asap rokok hingga mobil. Tapi di kampung saya di Riau, hingga desa-desa terkecil, kita betul-betul hidup dengan kabut asap!

Tahun ini belum berakhir saja, kami sudah mengalami hampir 6 bulan asap tebal di sekitar kita; Januari - Maret, Juni - Agustus. Perusahaan-perusahaan sawit itu bisa (dan memang) evakuasi. Kami, masyarakat lokal, mau evakuasi kemana? Ini rumah kami.

Di luar Riau, mudah untuk melihat hal ini sebagai bencana. Tapi untuk masyarakat lokal, bencana ini sudah dianggap wajar. Bagaimana tidak, kebakaran hutan gambut terus terjadi selama 17 tahun berturut-turut! Tepat sejak izin-izin perkebunan sawit dan HTI diterbitkan secara masif.

Pak Jokowi, pernah melihat hutan gambut terbakar dan asap di mana-mana? Menurut BNPB, dari Februari Maret kemarin, 24.000 hektar terbakar dan 58.000 jiwa menderita pneumonia, asma kronis, iritasi mata dan kulit.

Belum lagi dampaknya terhadap anak-anak. Janin dalam kandungan ibu terancam tumbuh tak optimal. Kegiatan sekolah bisa terhenti berminggu-minggu. Tingkat intelegensi (IQ) anak-anak kita bisa menurun drastis!

17 tahun itu, 1 generasi. Revolusi Mental kita, Pak Jokowi, terancam jadi cacat mental. Saya lihat di TV, ribuan orang turun ke jalan merayakan terpilihnya Pak Jokowi sebagai presiden. Jutaan warga mulai berani berharap. Saya, satu dari jutaan itu yang berharap banyak kepada Bapak.

“Orang suka bercerita, Pak Jokowi dekat dengan rakyat, dan betul-betul mendengar. Suka “blusukan”. Masalah asap Riau memang rumit Pak, tapi permintaan saya sederhana. Mau tidak Pak Jokowi blusukan ke tempat kami ? Langsung melihat hutan gambut, kebakaran, dan asapnya? Hanya dengan begitu Pak Jokowi bisa mengerti kehidupan kami sehari-hari dengan asap. Paru-paru kami mungkin mengecil, tapi harapan kami membesar. Salam dari Riau,” demikian petisi yang ditulis Abdul Manan yang diteruskan Butet Manurung.(lee)

Tidak ada komentar: