.

.
.

Tuesday, 13 May 2014

Taktik Anti Kejut Rupiah




Rupiah membuatpergerakanspektakuler di medioFebruari.NilaitukarmatauangMerahPutih yang sejakjelangpenutupan 2013 bertengger di kisaran Rp12 ribudolar per AS, kini mulai menjauh dari level psikologis tersebut.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, per 17 Februari 2013, posisi rupiah pada kurs tengah Bank Indonesia (BI ) ada di 11.716 per dolar AS. Sementara di pasar spot antarbank, rupiah ditransaksikan pada 11.684 per dolar AS. 

Penguatan tersebut terbilang signifikan lantaran pada akhir Januari, kurs rupiah terhadap greenback masih fluktuatif di kisaran 12 ribu. Bahkan,
sempat mencapai Rp12.300 per dolar AS pada 28 Januari silam.

Disebutkan, apresiasi rupiah merupakan satu pertanda positif setelah sepanjang tahun lalu terdepresiasi dari level 9.300-an ke 12.000-an per dolar AS. Menteri Keuangan Chatib Basri pun ikut berkomentar, menyebut sudah saatnya nilai tukar rupiah beranjak menguat. 

Sejak pertengahan 2013, tekanan atas rupiah memang terasa intens. Itu dipicu antara lain oleh santernya kabar pengurangan bertahap stimulus moneter (tapering off) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Isu itu mendorong arus modal keluar dari negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Investor khawatir tapering off akan membuat likuiditas mengetat.

Faktor tekanan instabilitas lain adalah defisit transaksi berjalan yang sempat mencapai 4,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB ) di kuartal II 2013. Kondisi yang kala itu sempat meluruhkan kepercayaan investor pasar finansial danmemasukkan Indonesia bersama beberapanegara lain ke dalam keranjang berlabel ‘TheFragile Five’.

Menurut Perry Warjiyo, tekanan terus berlangsung cukup kuat hinggakuartal III 2013. Trenmelemahnyarupiah beranjak mereda pada kuartal akhirtahun lalu. Itu lantaran ditopang responsBI bersama dengan pemerintah dalammengendalikan defisit transaksi berjalan daninflasi.

Perry Warjiyo di Jakarta belum lama ini mengatakan, prioritas utama adalah memang untukmenjaga stabilitas dalam jangka pendekketimbang sekadar memburu angka tinggipertumbuhan ekonomi. 

“Mengapa untukmenjaga momentum pertumbuhan, kita jaga stabilitas terlebih dahulu jangka pendeknya?Agar dalam jangka menengah panjang,pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.

“Berbeda dengan kebanyakan negara emergingmarket lain, otoritas moneter Indonesiamengutamakan bauran kebijakan moneterdengan kebijakan makroprudensial. Responsterhadap tekanan instabilitas tidak sematamatamelalui kebijakan suku bunga.

Maka, di 2013, BI tidak sekadar mengereknaik suku bunga 175 basis poin, tapijuga memberi ruang bagi rupiahuntuk terdepresiasi dengan harapanmemacu ekspor dan menekan impor.

Dengan begitu, defisit transaksiberjalan mengempis lebih cepat.“Kalau kita lihat dari neraca,penurunan impor, terutamanonmigas, dipengaruhi beberapafaktor. Yang utama, depresiasinilai tukar. Barang impor jadi lebihmahal. Faktor-faktor berikutnya,perlambatan pertumbuhan ekonomidan hasil mengendalikan kredit,”urai Perry.

Pengendalian kredit merujuk kepadakeberhasilan BI mengatrol lajukredit sektor otomotif dan sektorproperti. Di sektor properti, umpama,BI memperketat loan to value ratioyang mencerminkan seberapabesar porsi pembiayaan yang bolehdikucurkan bank dari nilai aset objekpembiayaan. 

Pertumbuhan kreditproperti yang melambat berdampaktidak langsung terhadap imporbarang-barang terkait.“KetentuanLTV adalah salah satu contoh kebijakan makroprudensial BI. Ketentuan itu bukan hanya untuk mengerem laju pertumbuhan di sektor properti, tapi juga membantu mengurangi tekanan defisit transaksi berjalan. Inilah upaya nyata BI menjaga stabilitas makro,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Juda Agung. 

Disebutkan, strategi otoritas moneter terbukti moncer. Inflasi 2013 yang sempat diestimasi 9%-9,8% dapat ditahan di 8,35%. Sementara, stabilitas eksternal yang diukur dari defisit neraca transaksi berjalan turun tajam ke bawah 2% di kuartal IV 2013. 

Jauh lebih baik ketimbang prediksi awal 2,8%. Perbaikan-perbaikan yang lebih cepat itu menghasilkan pertumbuhan ekonomi 5,78%. Memberi keyakinan kepada BI bahwa bauran kebijakan berefektivitas besar dan tidak berdampak buruk kepada pertumbuhan ekonomi. 

Tekanan Berlanjut 

Kendati kurs rupiah mulai merekah di awal tahun kuda kayu ini, kewaspadaan BI tidak boleh luntur. Masih ada kekhawatiran kalau penguatan kurs tidak lebih efuoria sesaat terhadap positifnya perkembangan perekonomian Tanah Air. 

Wajar jika Menteri Keuangan pun sempat meminta BI terus menjaga agar pergerakan kurs rupiah tidak terlampau cepat. “Sekarang euphoric. Dalam dua hari dia (rupiah) 12.200, siang ini jadi 11.600. Ini BI perlu jaga supaya volatilitasnya jangan terlalu drastis,” kata Chatib.

Menurutnya, pasar keuangan tengah merespons apa yang terjadi di Indonesia dengan yang disebutnya animal spirit. Ketika data perekonomian yang ada bagus, semua memuji Indonesia. “Kalau senang, semua senang banget. Kalau pesimistis, pesimistis banget.”

Maka itu, Perry mengatakan tahun ini tantangan bank sentral tidak jadi lebih ringan. Dari sisi global, faktor tapering off The Fed masih membayangi. “Tahun ini tantangannya lebih kepada reaksi pasar atas kelanjutan tapering. Kita masih akan menghadapi risk on and risk off. Kadang sentimen positif, kadang negatif. Kadang inflownya besar, lalu keluar. Tantangan kita adalah melakukan stabilisasi ekonomi dipengaruhi dari sisi apa yang terjadi di global.”

Dari sisi domestik, pengendalian inflasi dan konsistensi upaya penurunan defisit transaksi berjalan jadi keniscayaan. Mengapa? Keduanya indikator bagi investor global. Adapun pergerakan nilai tukar memang sangat dipengaruhi factor pergerakan ekonomi fundamental, dan faktor teknikal berupa kondisi global serta persepsi investor. 

Dari perhitungan sisi fundamental, inflasi dan defisit transaksi berjalan yang menurun akan membawa kurs rupiah kian stabil dan amat mungkin menguat. Di lain hal, sisi teknikal disebut Perry agak sulit diprediksi, termasuk karena adanya perilaku risk on dan risk off global.

Patut pula diingat, tahun ini punada penyelenggaraan pemilihanumum (Pemilu) di dalam negeri.Meski tidak ada catatan buruk daripenyelenggaraan ‘pesta rakyat’, sesuai hasil survei konsumen terbaru BI, sebagian masyarakat tetap khawatir pada stabilitas sosial politik, khususnya pascapemilu presiden putaran pertama. 

Instabilitas dapat menyulut inflasi yang bisa menyulut sentimen negatif pasar. “Yang perlu kita lakukan adalah memastikan ekonomi fundamental mengarah seperti yang ditargetkan supaya tidak menimbulkan persepsi buruk terhadap Tanah Air. Itu kita kelola ke depan,” tegasnya.

Tiga Diemban

Terkait pengelolaan persepsi tersebut, paling tidak ada tiga strategi besar yang diemban BI . Antara lain, melanjutkan pendalaman pasar keuangan. Tahun lalu, BI sudah merilis instrumen maupun fasilitas baru seperti term deposit valas, lelang swap valas, sertifikat deposito Bank Indonesia, maupun Mini Master Repurchase Agreement (Mini MRA).

Alasannya jelas. Pendalaman pasar keuangan dapat mendukung masuknya investasi. Investasi kerap berhadapan dengan risiko nilai tukar. Pengayaan instrumen keuangan, khususnya instrumen valas, akan memudahkan investor dalam mengelola risiko.

Strategi lain adalah penguatan peran kantor-kantor perwakilan BI di dalam negeri (KPw DN). Dipayungi Departemen Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM (DPAU), kantor-kantor perwakilan tersebut telah melakukan kajian dan pengembangan ekonomi unggulan di setiap daerah. Perwujudannya adalah program cluster yang fokus di sektor pertanian dan pengembangan UMKM.

Kendati bukan skala masif, tapi hasil program cluster tersebut dapat menstimulasi pihak swasta dan lainnya untuk turut melakukan pengembangan perekonomian setempat. Contohnya, program cluster peternakan sapi di Salatiga, wilayah KPw BI Semarang yang setelah berkembang kini diperebutkan pembiayaannya oleh perbankan.

Geliat perekonomian lokal juga disupport lewat keterlibatan KPw DN dalam tim pengendalian inflasi yang juga mencakup elemen pemerintah, serta assesment perekonomian daerah secara berkala. Yang tentu juga amat penting adalah optimalisasi bauran kebijakan. 

Direktur Eksekutif Departemen Strategis dan Tata Kelola Dody Budi Waluyo mengatakan secara prinsip, BI akan terus memperkuat bauran kebijakannya dalam merespons pelbagai tantangan perekonomian nasional di 2014, termasuk risiko tekanan atas nilai tukar. “Itu ditempuh antara lain melalui kebijakan suku bunga dan nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya.

Dalam hal ini, nilai tukar diharapkan dapat berperan menjadi shock absorber perekonomian, bukan sebaliknya, sebagai shock amplifier,” ujar Dody yang sebelumnya menjabat Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter. 

Ia menambahkan, “Upaya internal yang ditempuh BI dewasa ini pada dasarnya ditujukan untuk terus memperkuat tugas BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar yang mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi.”

Pengamat ekonomi Fauzi Ichsan menaksir rupiah berada dalam tren positif tahun ini, khususnya di semester akhir. “Semester kedua, berakhirnya pemilu dan quantitative easing AS akan menandakan kepastian terhadap rupiah. Juga, mulai menciutnya defisit neraca transaksi berjalan, serta adanya pemerintahan baru diperkirakan rupiah akan terus menguat,” katanya.

Ia pun mengestimasi BI rate masih akan dinaikkan untuk menjaga pasar Indonesia tetap atraktif, khususnya jika suku bunga The Fed beranjak dari level 0%. “Kalau kemarin BI rate tidak naik 175 bps, mungkin rupiah sudah tembus 15 ribu per dolar. Semua negara dengan defisit neraca transaksi berjalan besar, pasti harus menaikkan suku bunga agar modal asing masuk,” katanya. (hji/lee)
***

Bauran Kebijakan Bank Indonesia

-Suku bunga: BI Rate, suku bunga deposit facility, dan suku bunga lending facility.
-Nilai tukar: mengawal stabilitas nilai tukar melalui intervensi dan term deposit valas (TDV).
-Penguatan likuiditas: memanfaatkan instrumen Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), FX Swap, Underlying ULN, dan Bilateral Swap Arrangement (BSA).
-Makroprudensial atau Stabilitas Sistem Keuangan: kebijakan loan to value ratio (LTV) supervisory action terhadap perbankan dengan penyaluran kredit tinggi dan potensial memengaruhi stabilitas perekonomian, pendalaman pasar keuangan, kebijakan giro wajib minimum (GWM) LDR dan GWM sekunder.
-Koordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait, baik di dalam maupun luar negeri. (hji/lee)

******** 

Rupiah Harus Stabil

Keajekan nilai tukar merupakan suatu hal krusial dalam aktivitas usaha. Tanpanya, pelaku bisnis akan kesulitan menakar peluang dan tantangan yang mereka hadapi. Setelah mengalami depresiasi lebih dari 20% di 2013, otoritas moneter dan fiskal menyebut rupiah kini dalam keseimbangan baru.

Apakah keseimbangan itu akan dapat bertahan di 2014? Ini merupakan salah satu concern dalam menjalankan bisnis di 2014. Berikut petikan perbincangan  Bank Indonesia dengan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Publik, Hariyadi Sukamdani.

Bagaimana pengusaha melihat kondisi rupiah saat ini?

Bagi pengusaha, yang terpenting adalah stabilitas. Kalau stabil di 12 ribu per dolar AS misalnya, memang otomatis akan ada penyesuaian harga baru. Namanya juga ada titik keseimbangan baru, tapi itu tidak begitu menjadi masalah. Yang kacau itu kalau rupiah naik turun tidak karuan. Kalau kita bicara pergerakan kurs, ada kemungkinan akan menguat. Jadi, BI harus terus kontrol.

Pengaruh ke aktivitas sektor riil?

Dengan keseimbangan baru, di sisi impor akan berat, karena harga barangnya menjadi mahal. Tapi, lihat juga dari sisi ekspor, kita jadi punya daya saing, Jadi, sebetulnya kalau volatilitas rupiah tidak tajam, it’s okay.

Kisaran rupiah yang ideal bagi pengusaha?

Harusnya di 11.000, itu masih okay untuk pengusaha. Tapi, level 12.000-an ini masih bisa diterima, karena kami yakin rupiah akan kembali menguat. Karena ekspor kita juga terus mengalami kenaikan. Impor trennya mulai menurun. Seharusnya, bisa lebih positif lagi nilai tukar rupiah ini.

Ekspektasi pengusaha untuk pengamanan kurs?

Dari kami simpel saja. Cadangan devisa harus diperbesar, ekspor diperbesar, impor ditekan. Kalau dilihat, impor kita itu masih dalam batas wajar. Yang bikin kacau itu impor BBM. Makanya Kadin dulu mendukung penghapusan subsidi BBM.
Kalau subsidi ini tidak dihentikan, tentu akan menggerus pertumbuhan ekonomi kita, karena ini akan terus meningkat. Apalagi jumlah kendaraan pribadi di Indonesia bertambah setiap saat.
Pertanyaannya, apa mereka yang naik kendaraan pribadi itu layak diberi subsidi? Memang BI punya keterbatasan untuk mengatasi permasalahan ini, ya seharusnya pemerintah yang urus.(hji/lee)
  ********


Tantangan Perubahan Lanskap

Tahun 2014 menandai akhir dari pemerintahan dua periode Presiden Susilo BambangYudhoyono. Untuk itu, pemilihan umum (Pemilu) pun akan diselenggarakan. PemiluLegislatif pada 9 April, sementara Pemilu Presiden dan wakil pada 9 Juli. Sebagian kalangan khawatir pergantian era kepemimpinan nasional bakal mengusik stabilitas perekonomian dan sistem keuangan. 

Sebagian lagi,optimistis proses Pemilu tidak akan berdampakmemantik dampak negatif.Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI ) Perry Warjiyotermasuk yang optimistis Pemilu 2014 tidak akanmenimbulkan risiko atau tambahan instabilitas yangdapat menekan nilai tukar. 

“Demokrasi makin membaik,masyarakat pun sudah terbiasa dengan Pemilu.Investor di luar negeri dilihatnya juga tidak gamang soalPemilu. Terbukti, hingga kini para pemilik modal masih antusias berinvestasi di pasar obligasi pemerintah maupun pasar modal Tanah Air,” katanya.

Yang sebaiknya dicermati dari Pemilu justru implikasinya dalam jangka menengah panjang. Siapa pun pemenang Pemilu, akselerasi dan implementasi agenda perbaikan ekonomi nasional jadi keharusan, terutama yang menopang momentum pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Pasalnya, lanskap ekonomi yang akan dihadapi pemimpin baru Indonesia kelak tidak lagi serupa seperti beberapa tahun terakhir. Perekonomian negara-negara maju yang sempat tumbuh negatif lantaran krisis finansial lalu, kini mulai pulih.

Sebaliknya, pertumbuhan negara-negara berkembang lokomotif perekonomian global, akan melambat. Harga komoditas yang kerap jadi andalan ekspor negara berkembang tak lagi setinggi dulu.

Dan, pengurangan bertahap stimulus moneter Bank Sentral AS serta kenaikan suku bunga acuannya akan menandai tamatnya era easymoney yang marak di 2009-2012. “Tahun-tahun ke depan, akan lebih sulit mendapatkan arus modal asing masuk guna mendukung ekonomi kita,” komentar Perry. 

Perubahan lanskap itu mau tidak mau mengharuskan Indonesia berubah. Itu jika ingin perekonomian terus tumbuh sembari menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan. “Itu keniscayaan. 

Siapa pun pemerintahan yang terpilih akan dihadapkan pada tantangan perubahan lanskap,” imbuhnya. Mengembalikan laju perekonomian ke level di atas 6% tidak dapat mengandalkan sisi permintaan semata. Itu hanya akan mengulang problem lama. Instabilitas berupa defisit neraca transaksi berjalan, inflasi yang melambung, dan tekanan pada kurs.

Maka, kebijakan reformasi struktural jadi kunci menjaga momentum pertumbuhan. Kebijakan reformasi struktural apa? Pertama, kebijakan memperbaiki iklim investasi dan usaha. Sebab, ekspansi kapasitas dalam negeri pasti butuh investasi tidak sedikit.

Salah satu strategi memacu kapasitas produksi adalah dengan juga memperbanyak perusahaan atau industri antara. “Dulu ada konsep anak-bapak angkat. Misalnya di otomotif, perusahaan raksasa punya anak angkat perusahaan yang produksi velg, sekrup, dan suku cadang lain. Kita sekarang kekurangan perusahaan menengah ini.”

Kemudian, kebijakan terkait perdagangan nasional. Populasi yang masif dan geliat kelas menengah membuat tingkat konsumsi di Indonesia tumbuh signifikan. Di krisis finansial 2007-2008, tingginya konsumsi membentengi perekonomian Indonesia dari dampak melemahnya perdagangan global. Belakangan, itu jadi bumerang ketika sebagian kebutuhan konsumsi dipenuhi via impor.

Kebijakan untuk mengembangkan pertanian dan UMKM juga penting. Apalagi, permintaan masyarakat kelas menengah terhadap produk pertanian berkualitas kian menguat. “Dulu kita hanya minta beras. Sekarang hasil pertanian makin variasi. Bahan pokok pun belum bisa penuhi. Bawang merah impor, bawang putih impor,” ujar Perry.

Reformasi struktural mendesak yang lain adalah pengadaan infrastruktur. Karena keterbatasan budget pemerintah, peran swasta dalam pengadaan infrastruktur amat krusial. Jika kebijakan struktural diwujudkan, pertumbuhan ekonomi mestinya bisa melaju tanpa menekan neraca transaksi berjalan maupun inflasi yang dapat berimplikasi pemburukan nilai tukar.

Direktur Eksekutif Departemen Strategis dan Tata Kelola Dody Budi Waluyo mengestimasi kalau pun ada dampak Pemilu pada kurs, sifatnya temporer sejalan dengan sikap waitandsee para investor.
Pengalaman di masa lalu justru memperlihatkan rupiah cenderung menguat pascapemilu sejalan dengan keyakinan investor yang kembali membaik. “Dampak peningkatan uang selama Pemilu terhadap rupiah kami perkirakan tetap terkendali, sejalan dengan konsistensi BI mengelola likuiditas perekonomian sesuai dengan kebutuhan ekonomi,” katanya.

Senada dengan Dody, Wakil Ketua Umum Kadin HariyadiSukamdani melihat Pemilu akan berimpak positif ke nilai tukar. “Justru dengan Pemilu, banyak dolar ditukarkan ke rupiah. Kan tidak mungkin belanja kebutuhan Pemilu seperti baju, brosur, spanduk, pakai dolar,” kata dia.(hji/lee) (Harian Jambi Edisi Cetak Pagi Senin 12 Mei 2014)

No comments: