.

.
.

Selasa, 13 Mei 2014

Mengabadikan Teluk Belango dan Tengkuluk



Leni Pelestari Baju Adat Jambi


Pakaian tradisional merupakan simbol budayasebagai perkembangan akulturasi dan kekhasan budaya tertentu. Pakaian dapat pula menjadi menjadi pengenal bagi pemikiran masyarakat, termasuk pakaian tradisional Melayu Jambi. Mengabadikan pakain tradisional Teluk Belango dan Tengkuluk sebagai kekayaan budaya Jambi haruslah terus digebyarkan sebagai aset daerah.

ROSENMAN M, Jambi

Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang melayu yang menempati daerah sepanjang Sungai Batanghari di Provinsi Jambi. Dalam berbusanawanita sehari-hari, pada awalnya hanya dikenal dengan kain dan baju tanpa lengan. Sedangkan kaum prianya, mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam. Sehingga lebih leluasa geraknya, dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala. Pada perkembangan berikutnya, dikenal adanya pakaian adat. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya.

Pakaian adat merupakan pakaian yang telah dibakukan oleh masyarakat adat sesuai dengan wilayah masing-masing. Salah satunya adalah pakaian adat Melayu Jambi, yang menjadi salah satu kekayaan lokal yang wajib dilestarikan.

Di Provinsi Jambi, sudah ada beragam
jenis pakaian adat untuk acara tertentu. Salah satunya yang kurang diperhatikan adalah pakaian adat Teluk Belango dan baju kurung yang dilengkapi dengan penutup kepala.

Ini disebut Tengkuluk atau Kuluk yaitu untuk wanita. Dalam hal ini, baju Teluk Belango dan baju kurung Tengkuluk merupakan ciptaan dari interaksi dan kreatif masyarakat Jambi yang kental dengan budaya berlandaskan agama Islam. Oleh karena itu pengaruh Islam memang cukup kuat dalam pakaian adat ini.

Biasanya, pemakaian baju adat Teluk Belango lebih pada kelompok penabuh rebana atau kompangan atau pengiring adat sebagai pelaku serah antar atau serah terima bagi para mempelai laki-laki dan perempuan.

Junaidi T Noor selaku Pemerhati Budaya Jambi mengungkapkan, pakaian adat yang selalu digunakan dalam suatu acara, telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Hal ini menjadi ciri khas dan keunikan dari masyarakat.

“Dari busana yang dipakai, maka akan dapat dipelajari mengenai tradisi dari masyarakat yang bersangkutan,” ujar Junaidi.

Ragam Pakaian Adat
Pakaian adat Jambi tersebut di antaranya adalah Teluk Belango. Ini merupakan pakaian adat bagi pria, berupa setelan atasan baju koko Melayu, senada dengan celana panjang dan sarung melingkari pinggang hingga sebatas lutut.

Sedangkan untuk wanita adalah baju kurung, dengan setelan kain yang dilengkapi dengan penutup kepala yang disebut sebagai Tengkuluk.Berdasarkan sejarah, Junaidi mengatakan, bahwa nama Tengkuluk diambil dari patung perempuan, yang mengenakan pentutup kepala di Lahat Sumatera Selatan sebelum Masehi, tepatnya pada zaman Melayu Tua.

“Sebenarnya, dalam perjalanan pakaian khas Melayu Jambi pemakain baju adat berbentuk Teluk Belango dan baju Tengkuluk. Bukan saja di saat perhelatan atau acara tertentu, tetapi juga merupakan pakaian busana harian dari pria dan wanita Melayu,” ujarnya.

Hal ini terlihat dari dokumen-dokumen yang dimiliki oleh  Junaidi. Banyak foto klasik dari abad 19 dan awal abad 20. Di zaman tersebut, terlihat para pria dan wanita yang memakai Teluk Belango dan Tengkuluk untuk bekerja.

Sejak saat itulah, pada perkembangan berikutnya Teluk Belango dan Tengkuluk dikenal sebagai pakaian adat Jambi. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari, yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya.

Fungsi Teluk Belango dan Tengkuluk

Pakaian adat Melayu Jambi ini bisa menjadi salah satu simbol dan sebagai penanda status seseorang. Karena dalam pakaian adat tersebut terdapat nilai-nilai yang terkandung. Selain itu pakaian adat tersebut bisa menjadi media untuk menyatukan masyarakat.

Nilai-nilai sosial itu akan muncul karena dalam pakaian adat tersebut tersimpan makna-makna dan niai tertentu yang dapat ditafsirkan oleh masing-masing masyarakat.

Menurut Junaidi T Noor, jika dilihat secara detai fungsi dari pakaian adat ini yang paling utama adalah untuk menutup aurat. Apalagi penutupan aurat ini juga erat kaitannya dengan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Jadi jika kita taat untuk memakai baju adat, maka secara tidak langsung berarti kita juga taat untuk menutup aurat berdasarkan perintah dari agama.(*/lee)
========
Makna Teluk Belango dan Tengkuluk

Teluk Belango dan Tengkuluk, memiliki berbagai bentuk potongan dan cara jahitan yang berbeda dengan pakaian lainnya. Itu sudah menunjukkan bahwa, pakaian adat Jambi banyak mengandung nilai falsafah yang bermanfaat.

Jika diartikan secara harfiah, antara kata teluk dan belango tidak mempunyai korelasi. Namun dari kedua kata tersebut, mempunyai arti bahwa baju adat Teluk Belango merupakan busana dengan baju potongan, yang tidak terbuka dan tidak berleher. Kerahnya membulat seperti belango.

Selain itu, pengertian kurung baik untuk baju pria maupun wanita bermakna ‘terkurung’ atau ‘dikurung’. Artinya bahwa, para pria dan wanita itu ada dalam aturan yang layak dan patut untuk dipatuhi, sebagaimana tatanan adat istiadat Jambi.

Adat istiadat tersebut dimaksudkan bahwa, aturan itu diterapkan mulai dari level atas sampai ke masyarakat rendah yang dapat diwujudkan dalam pikiran dan tingkah laku seseorang. Kemudian pakaian adat ini merupakan pakaian yang lapang (tidak ketat) yang menyimbolkan kelapangan hati. Yaitu lapang dalam perkembangan kearifan dan juga lapang untuk cara berpikir.

“Dalam hal ini, pakaian adat teluk belango untuk pria berupa baju potongan Melayu yang erat kaitannya dengan syarat dan falsafah serta aturan adat. Kemudian, dilengkapi dengan peci. Sedangkan pakaian adat untuk wanita, berupa sarung dengan baju kebaya atau baju kurung dilengkapi kain penutup kepala,” kata Azra’i Al-Basyari, Ketua Lembaga Adat Kota Jambi.

Tengkuluk

Untuk Tengkuluk atau kuluk secara harfiah artinya adalah kain kepala, kerudung dan penutup kepala atau cadar dengan lipatan yang membentuk konfigurasi beragam, sesuai dengan keinginan masing-masing.

Salah satu seragam wanita Tengkuluk merupakan tutup kepala khas Melayu Jambi yang akhir-akhir ini sudah mulai dimasyarakatkan PNS di Provinsi Jambi.

“Tengkuluk itu berarti penutup kepala dan sering disebut takuluk atau kuluk. Selain berfungsi sebagai salah satu pelengkap busana tradisional, Tengkuluk juga bisa digunakan dalam acara formal. Tengkuluk adalah kain yang dililitkan di kepala perempuan. Kalau dulu dalam budaya Jambi, Tengkuluk itu kerap dipakai perempuan untuk melindungi kepala dari terik matahari di sawah, juga dipakai pula saat pengajian dan kondangan,” Junaidi T Noor.

Pemakaian

Dalam hal ini, pemakaian baju adat memiliki arti tersendiri. Dari setiap lipatan selalu mengandung arti. Kemudian juga ada aturan dalam memakai baju adatnya. Misal dalam memasang Tengkuluk, apabila kain menjuntai ke arah kanan menandakan bahwa wanita itu telah bersuami dan apabila kain menjuntai ke arah kiri berarti ia adalah seorang gadis.

Pemakaian Tengkuluk pun bervariasi. Mulai dari pemakaian yang simpel hingga membutuhkan keterampilan khusus.Di Jambi sendiri, ada Tengkuluk yang memiliki 86 jenis lipatan. Tapi yang sudah dibukukan baru 42 jenis.

Beberapa jenis Tengkuluk diantaranya Bunga Rampai, Daun Jeruk, Daun Sirih Terurai, Pulau Rengas,Tekuluk Pinang, Tekuluk Pedado dan Tekuluk Cempako. Banyaknya lipatan pada Tengkuluk menunjukkan perbedaan masing-masing wilayah di Provinsi Jambi. Tengkuluk untuk Kabupaten Merangin memiliki 40 lipatan.

Kemudian, dalam setiap bentuk dari baju ini ternyata juga mempunyai arti. Diantaranya belah buluh pada leher itu mempunyai panjang 22 sentimeter, yang melambangkan bahwa setiap manusia itu berpasangan, sesuai dengan firman Allah SWT. Kemudian adanya lima kancing baju artinya bahwa itu merupakan salah satu gambaran rukun Islam.

Cara pemakaian Teluk Belango disimpul dengan ikatan kain panjang ke bawah. Aturannya bagi pria yang sudah menikah maka panjang kebawah 3 jari dari lutut atau diikat menyamping pinggang. Sedangakan untuk yang masih bujangan, maka pemakaiannya adalah di atas lutut.

Untuk cara pelipatannya pun juga memiliki beberapa arti. Pelipatan kainnya sebanyak tiga lipatan. Yang artinya, memberikan kelonggaran ketika melangkah atau melakukan sesuatu dan juga untuk melindungi keluarganya.

Sedangkan untuk wanita itu hanya mendapatkan dua lipatan, artinya bahwa gerak dari wanita yang sudah menikah itu memang sudah dibatasi. Namun juga sekaligus menggambarkan keanggunan dari seorang wanita.

Untuk pemakaian penutup kepala atau Tengkuluk juga berbeda. Kepala dari kain sarung untuk pria berada di belakang. Sedangkan untuk wanita, kepala kainnya berada di depan. Yang artinya bahwa, hal tersebut bertujuan sebagai salah satu penutup aurat secara Islam.

Pemakaian kuluk yang ujung selendangnya melimbai ke kiri, menunjukkan bahwa yang memakai tersebut orangnya masih gadis. Sedangkan untuk ujung selendang yang melambai ke kanan artinya bahwa perempuan tersebut sudah ada yang memiliki atau sudah menikah (berkeluarga).

Posisi dari ujung selendang inilah yang membuktikan bahwa harus ada sikap perilaku dan tatanan sopan bagi pihak lain.Sedangkan untuk setiap bajunya, baik untuk pria maupun wanita. Seperti baju kurung wanita yang jahitannya terputus di bawah ketiak sampai ke pinggang, itu artinya bahwa setiap pengeluaran dalam keluarga itu adalah istri yang mengatur.

Kemudian adanya belahan di kerah. Artinya, bahwa setiap wanita Jambi itu mempunyai sifat keterbukaan dalam setiap menerima tamu. Untuk bagian kain di bawah itu hanya tendapat dua lipatan dan melangkah sesuai dengan batas kaki.

Yang artinya bahwa, semua rahasia keluarga itu ada dalam ucapan wanita dan kehidupan wanita yang sudah menikah itu sangat terbatas.“Jadi pemakaian baju adat itu tidak sembarangan memakai, tapi harus mengikuti aturan yang sudah ada sejak lama. Oleh karena itu, pemakaian baju adat itu menjadi hal yang penting karena jika kita memakainya maka kita akan bisa mengajarkan penjelasan setiap arti dari pakaian adat ini,” ujar Leni, pelestari pakaian adat Jambi.(*/lee)
***

Perkembangan Baju Adat di Jambi

Jambi memiliki beragam pakaian adat, dengan cara pemakaiann, yang juga tidak sepraktis pakaian biasa pada umumnya. Karena dari setiap aturan pemakaian baju tersebut ada aturannya. Tapi meskipun baju adat ini pemakaiannya tidak instan, berdasarkan pengetahuan dari Azra’i Al-Basyari menyatakan bahwa perkembangan dan juga peminat dari pakaian ada saat ini sangat luar biasa.

“Saya katakan luar bisa karena upaya dari pemerintah itu sangat kuat untuk melestariakan adat budaya Jambi yang berupa pakaian adat Jambi, di mana setiap tahun itu ada anggaran dan penyuluhan baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah,” ungkap Ketua Lembaga Adat Kota Jambi Azra’i Al-Basyari.

Sosialisasi tersebut memang tidak mudah, namun masyarakat yang beradab dan hebat itu adalah masyarakat yang kuat akal dan budaya. Apalagi jika kita mampu untuk melestarikan serta mengembangkannya. Karena kalau masyarakat tersebut tidak kuat akal dan budayanya maka dapat dipastikan bahwa masyarakat tersebut mungkin tidak beradab. Namun jika masyarakatnya kuat akan budaya, maka reformasinya pun berbeda dengan masyarakat yang lemah budaya.

“Oleh karena itu untuk mengembangkan dan menjaga pakaian adat itu tidak hanya menjadi tugas dari masyarakat dan pemerintah, tetapi peran pers untuk memberitakan itu juga menjadi salah satu fungsi dalam memperkenalkan serta melestarikan baju adat Jambi,” ujarnya.

Busana dan pakaian khas Jambi ini, memberikan wahana bagi pengembangan kreativitas atas jenis dan ragam seni budaya Jambi, yang bernilai tinggi untuk dikembangkan. Ini juga sebagai identitas dan jati diri dari masyarakat melayu Jambi.

Salah satu upaya dari pemerintah dalam pelestarian dan pengembangan budaya dan kekhasan pakaian adat, pemerintah Provinsi Jambi telah menetapkan bahwa, di samping pakaian batik, pakaian adat Teluk Belango dan baju kurung tengkuluk menjadi salah satu pakaian dinas untuk semua pegawai dan karyawati di lingkungan kerja.

“Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk saling menjaga. Karena dengan adanya kesadaran dari masyarakat, untuk selalu memakai pakaian adat. Hal ini dapat membuktikan, bahwa masyarakat Jambi telah melestarikan seni dan budaya. Dengan pelestarian dari pakaian ini, maka akan memberikan dari bagi pengembangan dan juga meningkatkan mutu kualitas dari pakaian adat itu sendiri,” ujar Leni, pelestari pakaian adat Jambi.

Faktor yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peranan budaya lokal sebagai identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain.

Dimasa sekarang ini, banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit demi sedikit. Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewariskan budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya.

Namun, meski saat ini sudah banyak baju yang lebih modern Leni mengungkapkan bahwa perkembangan baju adat di Jambi masih banyak diminati. Karena apabila baju adat Jambi ini bisa dimodifikasi serta pemakaian Tengkuluknya bisa divariasi maka akan terlihat lebih elegan dibandingkan dengan pakaian lain pada umumnya.(*/lee)

***

Perkenalkan Pakaian Tradisional Sejak Dini

Di Indonesia, budaya berkain dan berpakaian adat kini hampir terlupakan. Pakaian adat sebatas dikenakan pada momen pesta atau upacara adat. Berbeda dengan pakaian Sari di India misalnya, masih lazim dipakai saat kerja kantoran ataupun kerja kasar di pasar. Karena itu, berpakaian adat ke kantor pada hari tertentu diperlukan, untuk membangun lagi kesadaran dan kebanggaan terhadap aset budaya.

“Jika dilihat dari aspek psikologi mode, berpakaian adat ikut mempengaruhi tingkah laku seseorang. Pakaian yang dikenakan dengan penghormatan terhadap nilai budaya, secara sadar atau tidak akan membuahkan perilaku lebih berbudaya,” ujar Leni.

Menurutnya, memperkenalkan baju adat Jambi di lingkungan anak-anak sekolah sejak dini, adalah salah satu alternatif, agar anak-anak tersebut bisa memahami pakaian adat sejak awal. Jika mereka sudah paham sejak awal maka secara tidak langsung nantinya mereka juga akan menjaga serta melestariakan baju adat tersebut.

“Karena mudahnya budaya lain yang lebih instan dan praktis masuk, maka hal tersebut secara tidak langsung akan mengikis pakaian adat. Dan bahkan nantinya mungkin pakaian adat hanya akan digunakan pada acara-acara tertentu saja.

Oleh karena itu, peran masyarakat dan pemerintah itu sangat diperlukan. Yaitu dengan cara selalu memakainya bukan karena acara tertentu tapi karena bangga mempunyai pakaian adat sendiri.

Karena pakaian adat seperti Teluk Belango dan baju kurung Tengkuluk itu berfungsi sebagai penutup aurat dan juga sebagai penanda kemelayuan yang taat dengan kearifan dari ajaran adat Jambi.(*/lee)

HM Azra'i Al-Basyari Ketua Lembaga Adat Kota Jambi.

Junaidi T Noor Pemerhati Budaya Jambi


Salah Satu Contoh Pakai Adat Melayu Pakaian Kurung dan Tengkuluk untuk Wanita Jambi


Salah Satu Contoh Pakai Adat Melayu Pakaian Kurung dan Tengkuluk untuk Wanita Jambi ketika pergi ke Sawah

Salah Satu Contoh Pakai Adat Melayu Teluk Belango

1 komentar:

trisna monalia mengatakan...

Izin share y.. (y)