.

.
.

Rabu, 28 Agustus 2013

Orang Dalam Diduga Terlibat Dalam Kematian Singa dan Harimau di Taman Rimbo Jambi



Jambi , Bute Ekspres

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi menduga kuat ada keterlibatan oknum pegawai Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi terkait kematian dua ekor singa dan seekor harimau di Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi tersebut.

Seperti diketahui, sepasang singa Afrika (Panthera Leo) bernama Gebo dan Sonia ditemukan mati di Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi. Gebo mati pada 17 Agustus 2013 pukul 03.00 dan Sonia mati tanggal 19 Agustus 2013 pukul 02.30 WIB. Kemudian satu ekor Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatra) bernama Piter berusia 9 tahun juga mati pada tanggal 17 Agustus 2013 pukul 19.30 WIB.

Sepasang singa Afrika itu merupakan penghuni baru di Taman Rimbo Jambi sejak 24 Juli 2013 yang didatangkan dari Taman Safari Indonesia II Cisarua Bogor. Status konservasi menurut IUCN Red List adalah Vulnerable dengan kecenderungan populasi menurun, namun bukan merupakan spesies satwa liar Endemi di Indonesia.

Pelaksana Harian Kepala BKSDA Provinsi Jambi Nur Azman didampingi Koordinator Polhut BKSDA Provinsi Jambi, Krismanko Padang kepada wartawan, Senin (26/8/13) mengatakan, diduga kuat ada keterlibatan oknum pegawai Taman Rimbo Jambi terkait dengan matinya tiga satwa tersebut.

Disebutkan, PPNS BKSDA Provinsi Jambi telah memanggil 4 orang saksi untuk dimintai keterangannya. Empat orang tersebut masing-masing seorang perawat harimau dan singa (keeper), penjaga malam dan juga suplier yang memasok makanan kepada satwa tersebut.

“Kini masih dalam tahap penyidikan, PPNS sudah periksa saksi dari kebun binatang dan juga pemasok daging.  Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan belum mengerucut siapa pelakunya, namun yang pasti menurutnya tewasnya singa dan harimau di bunbin tersebut memang sengaja diracun.  Penyidik masih mencari pelaku dan motif yang melatarbelakanginya. Di dalam tubuh satwa tersebut menurut hasil uji laboratorium balai veteriner Di Bukit Tinggi dan Bogor ditemukan kandungan striknin. Racun itu biasanya  digunakan untuk membunuh anjing liar dan rabies,”ujar Nur Azman.

Menurut  Nur Azman, matinya 2 ekor singa dan seekor harimau di Kebun Binatang Taman Rimba Jambi dikarenakan sengaja diracun menggunakan racun jenis striknin.

Menurutnya racun tersebut sengaja diberikan melalui makanan yang diberikan kepada satwa tersebut. Hal itu berdasarkan hasil uji tim dokter hewan dan BKSDA Jambi setelah mengambil sample organ tubuh seperti hati, jantung, paru, ginjal, usus dan sisa makanan dalam lambung untuk diperiksa di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BBPV) Regional II Bukit Tinggi Sumatera Barat.

“Hasil uji laboratorium itu menyebutkan memang ditemukan racun striknin di dalam tubuh satwa. Racun striknin merupakan racun yang kerap digunakan untuk meracuni anjing liar, siapa pelaku dan kenapa bisa sampai meracuni satwa kebun binatang dan motif yang melatarinya penyidik masih melakukan penyidikan,”katanya.

Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi Sepdinal  terkesan menutupi kasus matinya tiga ekor satwa tersebut. Bahkan wartawan hanya disuruh untuk mendapatkan penjelasan dari BKSDA Jambi.

Pantauan Bute Ekspres, Senin (26/8/13), suasana Taman Rimbo nyaris sepi hanya terlihat hitungan jari pengunjung yang dating. Menurut pengunjung, Taman Rimbo Jambi sepi sejak tanggal 20 Agustus lalu, sejurus matinya singa dan harimau tersebut.

Kepala UPTD Taman Rimbo Adrianis belum berhasil dikonfirmasi. Sebenarnya kematian dua ekor Singa dan seekor Harimau itu sudah terendus beberapa waktu lalu. Namum  informasi tersebut masih simpang siur. Ada yang mengatakan, singa itu dikembalikan ke Taman Safari Bogor, untuk pengobatan.

Sebelumnya kehadiran sepasang singa sempat mendongkrak pendapatan Taman Rimbo dari penjualan karcis masuk. Data yang dihimpun, pemasukan harian tertinggi dari penjualan karcis terpecahkan pada Hari Raya Idul Fitri lalu.

Pada Lebaran kedua terkumpul hasil penjualan karcis sekitar Rp 92 juta. Ini adalah rekor yang sangat fantastis, mengingat hasil penjualan karcis harian belum pernah mencapai jumlah itu.

Kini pengunjung tidak bisa lagi menyaksikan Singa Afrika itu tepatnya sejak Minggu 18 Agustus lalu. Kandang Singa tidak berpenghuni alias kosong melompong. Tidak sedikit pengunjung yang hendak melihat Singa, dibuat kecewa. Bahkan ada yang datang dari luar kota, sekadar ingin melihat Singa justru mendapatkan kandangnya kosong. srg

Tidak ada komentar: