.

.
.

Wednesday, 28 August 2013

Gajah Sumatera di Jambi Diprediksi Punah 5 Tahun Mendatang



Jambi , Bute Ekspres

Populasi gajah sumatera yang terdapat di Provinsi Jambi diprediksi bakal punah lima tahun mendatang menyusul maraknya aksi pembalakan habitat gajah akibat pembukaan lahan perkebunan dan pertambangan. Kini populasi gajah di Provinsi Jambi tinggal 97 ekor dengan keberadaan dua lokasi yakni di Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat.

Baru-baru ini seekor gajah ditemukan membusuk di Kecamatan Tujuh Koto, Kabupaten Tebo, dengan lokasi sekitar 250 meter dari pondok milik warga. Diduga gajah tersebut mati akibat termakan racun oleh warga sekitar. Saat ditemukan hanya berupa tulang rusuk saja.

Sementara kepala, dan bagian kulit serta sebagian besar tulang rusuk gajah tersebut tidak diketahui keberadaannya. Kini Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi memeriksa satu orang saksi warga setempat yang melihat ada orang yang membawa kepala gajah tersebut.

Hal itu dikatakan Koordinator Polhut BKSDA Provinsi Jambi, Krismanko Padang kepada Bute Ekspres saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (26/8/13). Menurutnya, populasi gajah di Jambi semakin sedikit menyusul maraknya perburuan liar serta masih terjadinya perdagangan illegal bagian satwa liar gajah tersebut.

“Saya sudah 15 tahun mengurusi dan mengkampanyekan keberadaan gajah di Provinsi Jambi. Namun tak ada respon dari pemerintah. Sementara penyerobotan habitat gajah semakin ganas akibat maraknya pertambangan dan pembukaan lahan perkebunan oleh warga serta perusahaan,”katanya.

“Sekitar 70 hingga 100 persen hutan habitat gajah di beberapa lokasi telah berubah menjadi perkebunan. Gajah kini bernaung di hutan-hutan sempit penuh semak belukar. Gajah akhirnya merusak tanaman perkebunan seperti sawit, karet, dan akasia karena sumber makanan di hutan telah habis ” ujar Alber beberapa waktu lalu.

Menurut Krismanko, tahun lalu, pemasangan GPS Collar dilakukan pada lima ekor gajah mewakili empat kelompok yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Gajah-gajah  tersebut terdiri dari empat ekor gajah betina dewasa yang diberi nama Anna, Bella, Cinta, Elena, dan seekor gajah jantan dewasa Dadang.

Semua gajah yang dipasangi GPS collar hidup di luar kawasan taman nasional. Anna dan Dadang berada di area perkebunan karet yang dikelola masyarakat HTR SP2 dan PT Lestari Asri Jaya (LAJ) di Kecamatan Serai Serumpun. Bella berada di kawasan perkebunan akasia konsesi PT Tebo Multi Agro (TMA). Sedangkan Cinta dan Elena berada di kawasan hutan produksi eks HPH Dalek Hutani Esa.

Disebutkan, habitat gajah yang masih cukup terjaga ada di kelompok gajah  Cinta dan Elena yang berada di eks HPH Dalek. Hutan sekunder ini dalam kondisi 80 persen tertutup dan diperkirakan ada 30 ekor gajah berada di kawasan tersebut. Namun, lahan tersebut rentan terkonversi karena statusnya sebagai hutan produksi.

Menurut Krismanko Padang, peneliti Gajah Sumatra, Alexander Mobbrucker, pernah mengatakan, Gajah Sumatra menjadi satu-satunya subspesies gajah di dunia yang masuk dalam kategori paling kritis (critically endangered) dalam status konservasi. Ini disebabkan karena sebagian besar Gajah Sumatra berada di areal lahan yang tidak dilindungi.

“Untuk menekan tingkat ancaman kepunahan gajah, pemerintah semestinya tidak lagi mengeluarkan izin pembukaan hutan yang menjadi habitat Gajah Sumatra. Di setiap lahan perkebunan harus juga disisakan area yang cukup untuk habitat gajah sesuai dengan pemetaan tata ruang,”katanya.

Kata Padang, harus ada area konservasi khusus gajah yang menjadi tujuan arah kegiatan pengusiran gajah. Saat ini pengusiran gajah tidak jelas mau diarahkan kemana karena tidak ada area khusus gajah.

“TNBT hanya memungkinkan di pinggiran kawasannya saja karena topografi di bagian dalam kawasan terlalu curam untuk dilalui gajah. Bila habitat gajah terus berkurang maka potensi konflik dengan manusia dipastikan meningkat. Gajah akan mencari makan di kebun masyarakat atau perusahaan karena tidak ada lagi sumber makanan dalam hutan. Korban jiwa akan timbul pada kedua belah pihak dan pada akhirnya Gajah Sumatra akan punah,”katanya.

Populasi Gajah Sumatra yang hidup liar di Jambi diperkirakan tinggal tersisa 97 ekor dan berada dalam tiga pecahan kelompok sudah masuk ke wilayah Riau. Sedangkan di Sumatera perkiraan populasi total Gajah Sumatra kurang dari 2000 ekor. srg

No comments: