Dua Puluh Tahun dalam Penyertaan Tuhan, Tetap Setia, Tetap Bersyukur, Dan Tetap Berpengharapan Hingga Sayur Matua

 

Kota Jambi, Senin 24 Agustus 2026.

JAMBI-Tidak terasa, dua puluh tahun sudah perjalanan rumah tangga kami, Rosenman Manihuruk dan Lisbet Br Sinaga. Pada Kamis, 24 Agustus 2006, kami mengucapkan janji pernikahan dan menerima pemberkatan di GKPS Hutaimbaru. Hari ini, Senin, 24 Agustus 2026, kami menoleh ke belakang dan menyadari bahwa perjalanan dua dekade itu bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada sukacita, ada air mata, ada hari-hari penuh kecukupan, tetapi ada pula masa-masa ketika kami harus belajar bertahan dalam keterbatasan.

Namun satu hal yang tidak pernah berubah, penyertaan Tuhan Yesus Kristus. Dua puluh tahun bukan sekadar angka. Dua puluh tahun adalah kumpulan cerita tentang bagaimana dua insan belajar memahami, mengampuni, menguatkan, dan berjalan bersama dalam keadaan apa pun. 

Rumah tangga bukan hanya tentang bagaimana menikmati keberhasilan, tetapi juga tentang bagaimana tetap menggenggam tangan pasangan ketika keadaan belum sesuai dengan yang diharapkan.

Kami bersyukur, karena di tengah perjalanan tersebut Tuhan mempercayakan kepada kami tiga orang anak laki-laki yang menjadi sumber sukacita sekaligus tanggung jawab besar bagi kami sebagai orang tua, Moses Juneri Manihuruk, yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Jambi, Ezer Twopama Manihuruk, siswa kelas XI SMKN 2 Kota Jambi dan Trionel Aguero Manihuruk, siswa kelas VII SMPN 14 Kota Jambi.

Ketiga anak ini adalah anugerah yang tidak ternilai. Mereka bukan sekadar pelengkap kebahagiaan rumah tangga, tetapi menjadi alasan bagi kami untuk terus berjuang, bekerja, berdoa, dan berharap.

Rumah Tangga Tidak Selalu Tentang Kecukupan

Kami tidak menutup mata terhadap kenyataan hidup. Sampai hari ini, kami masih tinggal di rumah kontrakan sederhana. Persoalan ekonomi masih menjadi bagian dari pergumulan keluarga kami. Ada kebutuhan yang harus dipikirkan, ada keinginan yang harus ditunda, dan ada masa ketika kami harus belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada.

Tetapi dari situlah kami belajar satu hal penting, kebahagiaan keluarga tidak selalu ditentukan oleh luasnya rumah, banyaknya harta, atau besarnya penghasilan.

Kebahagiaan justru sering kali ditemukan dalam hal-hal sederhana, makan bersama, berbicara dari hati ke hati, melihat anak-anak bertumbuh sehat, mendengar tawa mereka, saling menguatkan ketika salah satu sedang lemah, serta berlutut bersama dalam doa.

Kami belajar bahwa memiliki rumah sendiri memang menjadi harapan, tetapi memiliki keluarga yang tetap saling mengasihi adalah kekayaan yang jauh lebih besar. Karena itu, kami memilih untuk tidak malu dengan keterbatasan.

Kami memilih bersyukur. Bukan berarti kami berhenti berusaha. Justru karena percaya kepada Tuhan, kami terus berusaha. Kami percaya bahwa hidup harus dijalani dengan kerja keras, doa, kesabaran, dan pengharapan. 

Kekurangan bukan alasan untuk menyerah. Kesulitan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kami. Sebaliknya, setiap pergumulan mengajarkan kami untuk semakin bergantung kepada-Nya. 

Mengajarkan Anak Hidup dalam Firman Tuhan

Sebagai orang tua, kami menyadari bahwa tidak ada warisan yang lebih penting daripada mengajarkan anak-anak untuk mengenal Tuhan dan hidup dalam firman-Nya.

Kami mungkin tidak mampu memberikan segala sesuatu yang mereka inginkan. Tetapi kami ingin memberikan dasar kehidupan yang akan mereka bawa sampai dewasa, Iman, Kejujuran, Kerja Keras, Kerendahan Hati, Rasa Syukur, Kasih Kepada Sesama, dan Takut Akan Tuhan.

Ketiga anak kami memiliki talenta dan jalan hidup masing-masing. Kami hanya dapat mendampingi, mendoakan, mengarahkan, dan memberikan teladan.

Kiranya Tuhan menolong mereka menggunakan talenta Musik yang telah diberikan untuk menjadi berkat. Bukan hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga untuk membahagiakan orang lain dan memuliakan nama Tuhan.

Kami percaya, keberhasilan seorang anak bukan semata-mata ketika ia memiliki pekerjaan besar, jabatan tinggi, atau kehidupan yang mapan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika ia tetap memiliki hati yang baik, menghormati orang tua, mengasihi sesama, bertanggung jawab, dan tidak melupakan Tuhan ketika kehidupannya kelak menjadi lebih baik.

24 Agustus: Dua Perayaan dalam Satu Tanggal

Ada alasan lain mengapa 24 Agustus menjadi tanggal yang sangat istimewa bagi kami. Pada tanggal yang sama dengan ulang tahun pernikahan kami, Tuhan juga menganugerahkan seorang anak yang menjadi buah hati kami, Trionel Aguero Manihuruk, atau yang kami panggil Onel.

Ia lahir di Kota Jambi pada Minggu, 24 Agustus 2014. Hari ini, 24 Agustus 2026, Onel genap berusia 12 tahun. Betapa indahnya cara Tuhan menuliskan cerita keluarga kami. Pada tanggal yang sama, kami merayakan dua berkat sekaligus, 20 tahun perjalanan pernikahan dan 12 tahun kehidupan anak bungsu kami.

Bagi kami, ini bukan sekadar kebetulan tanggal. Ini menjadi pengingat bahwa Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk menghadirkan sukacita di tengah perjalanan kehidupan keluarga kami.

Selamat ulang tahun ke-12, Onel. Kiranya Tuhan Yesus terus menjaga langkahmu, memberikan kesehatan, hikmat, semangat belajar, karakter yang baik, serta kemampuan untuk mengembangkan setiap talenta yang Tuhan titipkan kepadamu.

Jadilah anak yang takut akan Tuhan, hormat kepada orang tua, sayang kepada saudara, dan berguna bagi banyak orang. 

Tetap Bersama Ketika Keadaan Tidak Mudah

Dua puluh tahun pernikahan juga mengajarkan bahwa mempertahankan rumah tangga membutuhkan lebih dari sekadar cinta. Dibutuhkan kesetiaan. Dibutuhkan kesabaran. Dibutuhkan pengampunan. Dibutuhkan kemauan untuk saling memahami. Dan yang paling penting, dibutuhkan Tuhan sebagai dasar kehidupan keluarga.

Dalam rumah tangga, suami dan istri tidak akan selalu memiliki pandangan yang sama. Ada perbedaan karakter, pemikiran, keinginan, dan cara menghadapi persoalan. Tetapi perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berpisah.

Justru dalam perbedaan itulah pasangan belajar saling melengkapi. Ketika ekonomi sulit, jangan saling menyalahkan. Ketika masalah datang, jangan saling meninggalkan.

Ketika pasangan sedang lemah, jangan mempermalukannya. Ketika terjadi kesalahan, belajarlah mengampuni. Dan ketika tidak tahu harus berbuat apa, berdoalah bersama.

Sebab sering kali yang membuat sebuah rumah tangga bertahan bukan karena tidak pernah mengalami masalah, melainkan karena ketika masalah datang, keduanya memilih untuk tetap tinggal, tetap berbicara, tetap berdoa, dan tetap berjuang bersama.

Jangan Ukur Berkat Tuhan Hanya dari Materi

Perjalanan dua puluh tahun ini juga membuat kami semakin memahami bahwa berkat Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk uang dan harta benda.

Berkat itu juga berupa kesehatan. Berkat itu berupa anak-anak yang sehat. Berkat itu berupa kesempatan untuk bangun setiap pagi. Berkat itu berupa pasangan yang masih mau berjalan bersama. Berkat itu berupa keluarga yang masih saling memperhatikan.

Berkat itu berupa saudara, keluarga, jemaat, dan sahabat yang hadir ketika kita membutuhkan pertolongan. Bahkan ketika kami masih tinggal di rumah kontrakan dan belum memiliki kecukupan ekonomi seperti yang mungkin kami harapkan, kami tetap dapat berkata: “Tuhan, Terima Kasih. Kami Masih Memiliki Banyak Alasan untuk Bersyukur.”

Kami percaya bahwa rezeki setiap keluarga sudah Tuhan atur. Bagian kami adalah berusaha sebaik mungkin, menjalani kehidupan dengan jujur, tidak kehilangan semangat, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Kepada Setiap Keluarga yang Sedang Berjuang

Pengalaman dua puluh tahun ini bukan kami ceritakan untuk mengatakan bahwa rumah tangga kami sempurna. Tidak. Kami juga memiliki kekurangan.

Kami pernah menghadapi kesulitan. Kami pernah merasa lelah. Kami pernah berada dalam keadaan yang membuat hati bertanya, “Sampai kapan?”

Tetapi justru dari situlah kami ingin menyampaikan sebuah pesan kepada pasangan suami istri yang mungkin sedang mengalami pergumulan yang sama, jangan cepat menyerah.

Jika hari ini ekonomi keluarga sedang sulit, tetaplah berusaha. Jika rumah tangga sedang menghadapi masalah, tetaplah berbicara. Jika hati sedang kecewa, belajarlah mengampuni.

Jika masa depan terasa gelap, tetaplah berdoa. Jika belum mendapatkan apa yang diharapkan, jangan menganggap Tuhan tidak bekerja. Sebab terkadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan, tetapi Tuhan terlebih dahulu mengubah hati kita agar menjadi kuat menghadapi keadaan.

Dan ketika kita melihat kembali perjalanan hidup beberapa tahun kemudian, kita mungkin akan berkata, “Ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kami.”



Menuju Sayur Matua

Bagi kami, dua puluh tahun ini bukan garis akhir. Ini baru sebuah tonggak perjalanan. Masih ada tahun-tahun yang ingin kami jalani bersama. Masih ada anak-anak yang harus kami dampingi sampai dewasa. Masih ada doa-doa yang belum terjawab. Masih ada cita-cita keluarga yang ingin kami perjuangkan.

Dan ada satu kerinduan besar dalam perjalanan rumah tangga ini, kiranya kami dapat tetap bersama, saling mengasihi, saling menjaga, dan setia sampai Tuhan memperkenankan kami mencapai Sayur Matua.

Sayur Matua bukan sekadar sebuah istilah dalam perjalanan adat Batak Simalungun. Bagi kami, ia menjadi simbol sebuah kerinduan, melihat anak-anak bertumbuh, memiliki kehidupan mereka sendiri, berkeluarga, dan suatu hari nanti kami dapat menyaksikan generasi berikutnya hadir dalam keluarga.

Namun semua itu kami serahkan kepada Tuhan. Kami tidak tahu berapa panjang perjalanan yang masih diberikan kepada kami. Kami tidak tahu bagaimana keadaan ekonomi kami beberapa tahun ke depan. Kami tidak tahu tantangan apa yang akan kami hadapi.

Tetapi kami tahu kepada siapa kami menggantungkan pengharapan. Tuhan Yesus Kristus. Kiranya tangan Tuhan terus memimpin rumah tangga kami. Memberikan kesehatan, kekuatan, hikmat, kesabaran, rezeki yang cukup, dan hati yang selalu bersyukur. Terima Kasih untuk Semua yang Mengasihi Kami

Pada momentum 20 tahun pernikahan dan ulang tahun ke-12 Onel ini, kami juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ompung, Orang Tua, Abang, Kakak, Adik, Saudara, Famili, Jemaat, dan Sahabat yang selama ini memberikan perhatian kepada keluarga kami. Tidak semua kebaikan dapat kami balas. Tidak semua bantuan dapat kami lupakan.

Ada tangan-tangan yang Tuhan kirimkan melalui keluarga dan sahabat ketika kami berada dalam keterbatasan. Ada doa-doa yang mungkin tidak pernah kami dengar, tetapi kami percaya turut menguatkan perjalanan keluarga kami.

Kiranya setiap kebaikan dibalas Tuhan dengan berkat yang berlimpah. Tuhan memberkati kita semua. Terima Kasih Tuhan. Dua puluh tahun telah berlalu. Dari Hutaimbaru, 24 Agustus 2006, hingga Jambi, 24 Agustus 2026.

Dari dua insan yang mengucapkan janji pernikahan, Tuhan kemudian mempercayakan tiga orang anak kepada kami. Kami telah melewati suka dan duka, manis dan pahit, kecukupan dan keterbatasan.

Dan hari ini kami berdiri bukan karena kekuatan kami sendiri. Kami berdiri karena kasih karunia Tuhan. Untuk itu, dari lubuk hati yang paling dalam, kami berkata, Terima Kasih Tuhan Yesus.

Terima kasih untuk 20 tahun pernikahan kami. Terima kasih untuk tiga anak yang Engkau titipkan. Terima kasih untuk kesehatan. Terima kasih untuk kekuatan. Terima kasih untuk hikmat dan kesabaran.

Terima kasih untuk setiap rezeki, bahkan untuk rezeki yang datang melalui tangan orang-orang yang Engkau gerakkan. Terima kasih untuk setiap air mata yang mengajarkan kami bertahan.

Terima kasih untuk setiap kesulitan yang mengajarkan kami berserah. Dan terima kasih untuk setiap sukacita yang mengingatkan kami bahwa hidup ini adalah anugerah.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus tetap menjadi pusat rumah tangga kami. Kami ingin terus berjalan bersama. Bukan karena kami tahu masa depan, tetapi karena kami percaya kepada Dia yang memegang masa depan.

Tetap setia. Tetap bersyukur. Tetap berjuang. Tetap berdoa. Jangan kehilangan pengharapan. Kiranya suatu hari nanti, ketika Tuhan memperkenankan kami mencapai Sayur Matua, kami dapat kembali menoleh ke belakang dan berkata dengan penuh sukacita, “Sungguh, Tuhan telah melakukan perkara besar dalam kehidupan kami.”

Selamat Ulang Tahun Pernikahan ke-20, Rosenman Manihuruk – Lisbet Br Sinaga. Selamat Ulang Tahun ke-12, Trionel Aguero Manihuruk (Onel). 24 Agustus 2006 – 24 Agustus 2026. Soli Deo Gloria. (Kota Jambi, Senin 24 Agustus 2026-AsenkLeeSaragih)

Galeri Foto Keluarga.

 

Orang Tua Kami St Berlin Manihuruk (+)/ Anta Br Damanik. 

 

 






 


Masa Pemuda GKPS Jambi 2002.
 

Masa Pemuda GKPS Jambi 2005.



Tak terasa kami Rosenman Manihuruk dengan Lisbet Br Sinaga sudah menjalani usia rumah tangga 20 tahun sejak diberkati di GKPS Hutaimbaru, Kamis 24 Agustus 2006. Puji Tuhan, berkat yang tak terhingga diberikan tuhan dengan mengaruniakan tiga anak laki-laki, Moses Juneri Manihuruk (Kuliah-Unja), Ezer Twopama Manihuruk (Kelas XI SMKN 2 Kota Jambi), Trionel Aguero Manihuruk (Kelas VII- SMPN 14 Kota Jambi).

Suka-duka, manis, asam, pahit, kehidupan kami jalani dengan penyertaan Tuhan Yesus Kristus. Meskai kati dalam keterbatasan ekonomi, dan hingga saat ini masih tinggal di bedeng kontrakan, kami tetap bersyukur, karena diberikan kesehatan dan dikarunia tiga anak yang luar biasa. 

Ketiga jagoan kami diberikan talenta oleh Tuhan, untuk membahagikan masa anak, remaja mereka hingga dewsa kelak. Kami orang tua mengajarkan anak kami Hidup Dalam Firman Tuhan, yang selalu bersyukur atas berkat yang sudah diterima dariNya. 

Persoalan kecukupan ekonomi, meski jadi tantangan, namun tak membuat kami Orang Tuanya patah semangat. kami orang tua mereka tetap berpengharapan, bahwa Tuhan Yesus Kristus memberikan rezeki yang cukup.

Momen 24 Agustus, merupakan momen yang sangat berharga bagi Saya dan Istri Tercinta Lisbet Br Sinaga. Karena pada tanggal dan bulan yang sama, Anak Bungsu kami Trionel Aguero Manihuruk, lahir tepat Minggu 24 Agustus 2014 lalu. Hari ini, Senin 24 Agustus 2026, siBungsu kami tepat berusia 12 Tahun. 

Kami Bersyukur atas Perlindungan dan Berkat Tuhan yang memberikan usia pernikahan kami hingga menginjak 20 tahun. Dan juga sangat bersyukur siBungsu kami Onel genap berusia 12 tahun. Ini adalah berkat Tuhan Yang Luarbiasa. Kami diberikan kesehatan, diberikan kekuatan, diberikan hikmat, diberikan kesabaran, diberikan Berkat dalam menjalani kehidupan Rumah Tangga. 

Terimakasih Tuhan Atas Perlindungan dan KebaikanMu. Juga terimakasih kepada Orang Tua, Abang, Kakak, Adik, Saudara, Famili, Jemaat dan Sahabat yang kerap memberikan Perhatian kepada Kami, khususnya soal kebutuhan ekonomi. Tuhan Memberkati Kita Semuanya. (AsenkLeeSaragih)  





BERITA LAINNYA

Posting Komentar

0 Komentar