.

.
.

Friday, 9 January 2015

Tragedi AirAsia, Sosok Saiful Teknisi AirAsia dan Status BBM-nya yang Menyentuh

Tragedi AirAsia QZ8501 banyak menuliskan kisah. Mulai dari cerita evakuasi hingga sosok mereka yang terlibat sebagai teknisi AirAsia. Salah satunya Saiful Rachmat, teknisi AirAsia menjadi salah satu korban kecelakaan QZ8501. Ayah tiga orang anak ini ikut terbang pagi itu menggantikan rekannya. Tak disangka, penerbangan itu menjadi tugas terakhirnya.

Jenazah Saiful belum ditemukan. Harap dan doa dipanjatkan keluarga. Saiful yang dikenal pria yang rajin ibadah ini dikenal ayah yang baik dan penyayang. Teman-temannya pun memuji dia. Status BBM-nya yang dipasang menjadi pengingat. Selama ini dia memang kerap memasang status BBM terkait keagamaan. Tetapi yang terakhir ini menjadi penanda. Statusnya sangat menyentuh.


“Wahai anak Adam, bertobatlah sebelum terlambat.kerjakan amal dg ikhlas dan sesuai dg sunnah'. "Statusnya memang sering menasihati kayak gitu. Jadi bagi kami sudah biasa. Karena adik saya ini rajin ikut dalam pengajian kelompok Salafi," kata kakak Saiful, Nunung, Kamis (8/1).

Saiful dikenal pribadi yang supel. Dia bergaul dengan teman-temannya. Dalam foto yang diberikan Nunung terlihat, berbagai momen Saiful, dan salah satunya saat difoto tengah mencoba mobil F1.

Kini Saiful sudah pergi. Anak dan istrinya masih shock, tak menyangka Saiful (38) pergi cepat. Sang kakak, Nunung kini yang mewakili keluarga.
Cerita Dramatis Penyelam

Rencana boleh saja bagus, tapi kondisi lapangan kadang tak sesuai harapan. Seperti itulah yang dialami penyelam TNI AL saat mengangkat ekor AirAsia di Laut Jawa. Bagaimana kisah mereka?

5 Penyelam menghadap Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan Panglima Komando RI Armada Wilayah Barat (Pengarmabar) Laksda Widodo di KRI Banda Aceh di Laut Jawa, Kamis (8/1). Mereka memaparkan kondisi perairan. Usaha mereka gagal.

Mewakili teman-temannya, Letnan Dua Edy Abdillah mengatakan, tim penyelam turun ke perairan dengan mengikuti tali yang sudah diikatkan ke ekor kapal dan balon berwarna oranye di permukaan. Saat masuk ke bawah laut, ternyata arus airnya deras.

“Kecepatan arus di titik 5 meter (di bawah permukaan laut), bodi penyelam sudah kayak bendera," kata Edy.

Meski demikian, tim penyelam tetap berusaha masuk ke dalam. 7-8 Meter di bawah permukaan laut, arus kian kencang. Akhirnya, penyelam pertama memutuskan untuk naik ke permukaan.
“Setelah 7-8 menit akhirnya tidak bisa ditembus. Berikutnya pasangan kedua juga seperti itu," tegasnya.

Moeldoko hanya bisa mengatakan, "Saya minta digladikan lagi, jadi bisa efisien, kita dibatasi waktu."

Ekor AirAsia QZ 8501 berada di kedalaman 35 meter. Berdasarkan pengamatan visual, bagian belakang pesawat nahas itu dalam posisi miring. Benda itu sudah diikat dengan tali dan ditandai dengan bola apung. Basarnas memastikan posisi ekor tidak bergeser.
Ekor AirAsia Gagal Diangkat

Proses evakuasi ekor pesawat AirAsia QZ8501 dari kedalaman 35 meter perairan laut Jawa tidak bisa diselesaikan hari ini. Kondisi arus bawah laut tidak bersahabat.

Di hadapan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dan Panglima Komando RI Armada Wilayah Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) Widodo, lima penyelam dari tim gabungan TNI memaparkan evaluasi hasil penyelaman di KRI Banda Aceh di perairan Laut Jawa, Kamis (8/1).

Penyelam Letnan Dua Edy Abdillah mengatakan penyelaman dilakukan pukul 12.30. Para penyelam turun mengikuti tali yang sudah diikatkan ke ekor kapal dan balon berwarna oranye yang ada di permukaan. Tapi penyelam tak sampai ke dasar laut.

“Arus bawah laut kencang. Lokasi (ekor) tidak bisa ditembus," kata Edy memberikan laporan kepada Moeldoko dan petinggi TNI.

Rencananya, pengangkatan ekor AirAsia QZ8501 akan dilanjutkan besok karena perkiraan cuaca mendukung pada pukul 06.00-11.30. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pemasangan floating bag hingga pengangkatan sekitar 4 jam.

“Jika cuaca normal, kemampuan dengan kedalaman 34 meter bisa 30 menit," jelas Edy.

Di sisi lain, para penyelam yang ada di kapal MGS GeoSurvey akan ditempatkan di KRI Banda Aceh karena GeoSurvey ada misi lain. Saat ini, para penyelam sudah berada di KRI Banda Aceh.
“Saya minta digladikan lagi, jadi bisa efisien, kita dibatasi waktu," tegas Moeldoko kepada tim penyelam.

Atas Nama Djoko Suseno

Jumlah jenazah korban pesawat AirAsia QZ8501 yang diterima di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur sampai hari ini sebanyak 39 jenazah. Dari jumlah tersebut yang sudah teridentifikasi 24 dan masih tersisa 15 jenazah. Dari 15 jenazah tersebut yang teridentifikasi 1 jenazah.

“Hari ini yang dapat teridentifikasi 1 jenazah lagi," kata Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol Budiyono saat jumpa pers di Crisis Center di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Kamis (8/1).
Jenazah yang teridentifikasi yakni berlabel B025 identik dengan Djoko Suseno (43) laki-laki warga Sidoarjo.

Metode identifikasi menggunakan cara 1 primer yakni melalui sidik jari, serta data sekunder melalui pemeriksaan antropologi ditemukan kesamaan jenis kelamin dan usia jenazah.

“Atas kerja keras tim Inafis dan analisa mendalam, akhirnya dapat dicocokkan antara data post mortem dengan antem mortem berdasarkan sidik jari," tuturnya.

Ia menerangkan, tim disaster victim identification (DVI) terus bekerja keras mulai semalam dan dilanjutkan sampai pagi tadi. Pihaknya terus bekerja keras mendalami data informasi tambahan dan rapat rekonsiliasi baik minor maupun mayor.

“Identifikasi korban tergantung dengan informasi antem motem dan temuan di post mortem. Temuan antem mortem dan post mortem ini ibarat cermin. Jadi kita cocokkan apakah ada kesamaan," terangnya.

“Berdasarkan perintah Bapak kapolri, identifikasi jenazah dilakukan semuanya. Bukan persoalan target waktu penyelesaian, tapi keakuratannya," tandasnya.(dtk/lee)

No comments: