.

.
.

Friday, 17 October 2014

Semangat Juang Putra Sibolga di Kota Tanah Pilih

PERJUANGAN: Perjuangan K Hutauruk dengan profesi sederhana namun mampu menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi patut dihargai. Pemilik usaha jual beli ban motor bekas di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan , Paal V Kotabaru Jambi tampak saat merapikan ban bekas, Kamis (16/10). Foto ROSENMAN M/HARIAN JAMBI.
Hutauruk Mampu Sekolahkan Empat Anak dari Usaha Jual Ban Bekas

Seorang perantau sejati harus mampu bertahan hidup dan mampu memperjuangkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih baik. Setelah gagal merantau dari Kota Jakarta, tak membuat bapak satu ini patah arang. Semangat bekerja keras mampu ditorehnya walau dengan usaha yang tergolong sederhana. Merantau untuk bertahan hidup adalah motto bagi ayah dari lima anak ini.

Rosenman MANIHURUK, Jambi

Pagi itu sinar matahari belum begitu terang akibat kabut asap. Namun seorang bapak tengah sibuk mengeluarkan dan menyusun ban motor bekas dari sebuah gubuk yang kurang terawat. Tepatnya di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan , Paal V Kotabaru Jambi, atau tepatnya 20 meter sebelum lampu merah Kantor Camat Kotabaru Jambi.

Sekilas, gubuk sekaligus tempat tambal ban itu, memang kumuh. Namun semangat dan keseriusan bapak itu terpencar dari wajahnya pagi itu. Hampir ratusan ban motor bekas disusun berlapis dengan empat sejajaran di sebelah trotoar jalan. Sesekali bapak ini mengelap ban bekas agar tampak hitam berkilat.

Demikianlah suasana pagi yang digeluti K Hutauruk, pemilik usaha jual beli ban motor bekas di di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan, Paal V Kotabaru Jambi. Adalah K Hutauruk, seorang tukang jual roda motor bekas di di Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan, Paal V Kotabaru Jambi.


Dengan ramah K Hutauruk menyambut Harian Jambi yang ingin mengetahui usahanya itu. Usaha yang digeluti K Hutauruk bersama istrinya br Hutagalung mampu menyekolahkan empat anaknya hingga perguruan tinggi. 

Kini anaknya Eduward Hutauruk tengah menyusun skripsi di Universitas Jambi (Unja), Elizar Hutauruk lulus D3 Perpajakan Unja dan kini melanjutkan kuliah S1 di Unja sembari bekerja sebagai Akunting di Group Abadi Jambi, Edi Gunardi Hutauruk kini kuliah di Unja Semester III dan paling bungsu Eka Puspitasari br Hutauruk duduk di bangku Kelas II SMP 18 Kota Jambi.

Istilah Kota Jakarta memang kejam, lebih kejam dari ibu tiri sempat menghantui pikiran K Hutauruk setelah gagal mengadu nasib di Jakarta. Begitulah K Hutauruk menggambarkan Kota Jakarta sebagai kota perantauannya sebelum menginjakkan kaki di Tanah Pilih Pusako Betuah (Kota Jambi). Kandas mengadu nasib di Jakarta, dirinya memilih merantau ke Jambi.

Hidup memang penuh perjuangan dan ketekunan. Mencari rejeki di tanah rantau tak semudah angan-angan. Butuh kegigihan hingga mengasah kemampuan diri dalam bidang profesi yang ditekuni. Mencari kehidupan di tanah rantau adalah perjuangan yang harus ditorehkan kepada garis keturunan.

Ungkapan di atas menggambarkan perjuangan hidup K Hutauruk, pria kelahiran Sibolga Sumatera Utara tahun 1961, yang berprofesi sebagai tukang tambal dan jual beli ban motor bekas di Jalan Paal V Kotabaru Jambi selama puluhan tahun. 

Tidak mudah bagi Hutauruk memulai usahanya di bidang tambal ban. Saat berbincang-bincang dengan Harian Jambi, K Hutauruk menceritakan  pengalaman hingga dirinya bisa merantau ke Jambi. 

Usai menamatkan sekolah dari kampung halaman tahun 1984, dirinya mencoba merantau ke Lampung tempat kakaknya. Tinggal setahun di Lampung, dirinya memberanikan diri cari pekerjaan di Jakarta. 

Dirinya juga mencoba melayangkan lamaran keberbagai perusahaan di Jakarta. Akhirnya, tahun 1985 Hutauruk pun diterima bekerja di di PT Bangun Cipta (Kontraktor Jasa Marga).

Dirinya pun dikirim ke Palembang untuk membuka lahan transmigrasi. “Saya saat itu bawa alat berat Buldozer. Saya bekerja di sana hingga akhir 1986. Terakhir saya kerja ikut menimbun jalan jembatan Bayuasin Sumatera Selatan. Karena ingin di kirim ke Kalimantan, namun gaji tidak sesuai, akhirnya saya beranikan diri ke Kota Jambi," ujarnya.

Di Jambi, awalnya membuka bengkel motor dengan kemampuan minim. Bengkel itu merangkap jual rokok, minyak solar, oli dengan modal Rp 1,5 juta. “Saya saat itu punya anak buah tiga, sembari bos juga merangkap belajar bengkel. Awalnya usaha saya maju,” katanya. 


Kemudian satu persatu anak buah saya pecat karena bersekongkol menipu saya. “Namun,
saya mendapat musibah perampokan hingga aset bengkel saya ludes digarong orang," tuturnya.

Tapi, Hutauruk tak menyerah disitu saja. Walaupun berulangkali mendapat cobaan hingga nyawanya terancam, Hutauruk tetap berjuang untuk mempertahankan usaha bengkelnya.


“Saat itu saya memakai ilmu pelaris yang saya dapatkan dari orang Sunda. Tapi akhirnya
ilmu itu saya buang dan saya membuka tambal ban motor. Sejak saya buang ilmu itu, hidup saya terasa damai. Usaha saya ini lancar dan anak saya empat dapat sekolah. Bahkan anak sulung saya sudah tamat STM,” katanya.


Ayah dari empat orang anak ini menuturkan, perjuangan hidup dirantau sudah ditorehkannya. Bahkan berkat usaha tambal ban dan jual beli ban motor bekas, dirinya dibantu istrinya tercinta Boru Hutagaol buka koperasi simpan pinjam, mereka mampu bangun rumah hingga memiliki tanah untuk anaknya kelak.

“Saya tetap bersyukur apa yang saya terima rezeki hari ini. Saya juga menanamkan apa arti hidup bagi anak saya. Saya tetap berusaha ke gereja, walaupun hari Minggu itu usaha saya saya buka sore harinya. Setiap harinya saya bisa mendapat rezeki Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Rezeki harus disyukuri dan harus tetap berdoa," ucapnya.

Hidup dirantau harus penuh perjuangan dengan kejujuran. Menjalani hidup dari dunia kegelapan, bagi K Hutauruk sudah cerita lama. “Saya bersyukur bisa hidup damai dengan profesi tukang tambal ban motor. Saya tanamkan kepada anak saya agar mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan dalam hidup,” katanya.
Ayah dari Eduward, Elizar, Edi, Gunardi dan Eka Puspitasari ini menuturkan, dirinya tanamkan kepada anaknya agar mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan dalam hidup, sekecil apapun itu.
Peluang Usaha
Memulai usaha tak mesti bermodal besar. Memajukan usaha, tak juga mesti memiliki lokasi dan tempat yang strategis dan berkelas. Memulai usaha, sekecil apapun itu, harus dengan komitmen dan keseriusan menggelutinya. Begitu juga dengan usaha jual beli ban motor bekas laik pakai. Siapa yang mengira ban motor bekas itu sampah dan berujung di tempat pembuangan. Namun, lain halnya bagi seorang bapak ini, yang menjadikan ban motor bekas sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

“Saya memulai usaha ini sejak tahun 1986 silam. Dulu untungnya lumayan, karena ban motor bekas banyak didapat dari bengkel-bengkel motor tanpa dibeli, alias gratis. Kemudian ban motor bekas itu disortir dan kemudian dibatik,” ujar K Hutauruk.

Seiring berkembangnya usaha jual beli ban motor bekas, kini K Hutauruk harus membeli ban motor bekas itu dari bengkel motor dengan Rp 5000 per buah. Kemudian dibatik dan disemir agar tampak bagus.

“Sesudah disortir, dibatik dan kemudian disemir. Satu ban bekas berbagai jenis motor dijual dengan harga Rp 27.000 per buah. Kalau ada konsumen yang mengambil banyak, saya berikan harga Rp 15 ribu per buah. Omset satu hari tak menentu, kadang banyak, kadang juga minim,” ujarnya.

Pembeli Luar Daerah

Menurut K Hutauruk, pembeli ban motor bekas miliknya datang dari berbagai daerah di Provinsi Jambi. Mulai dari Sarolangun, Bangko, Bungo, Tebo, Batanghari dan Muarojambi. Bahkan ada juga datang dari Langkat Sumatera Utara.

“Stok ban motor bekas datang dari berbagai bengkel-bengkel motor yang ada di Kota Jambi. Kalau dulu kita tinggal ambil ban bekas dari bengkel itu, namun sekarang saya harus beli Rp 5000 per buah. Tapi kualitasnya masih laik pakei,” kata Hutauruk.

Disebutkan, para pengusaha bengkel-bengkel kecil atau tukang tambal ban motor di Kota Jambi, mengambil ban motor bekas laik pakai darinya. 

“Bengkel kecil atau tukang tambal ban motor, kerap membeli ban motor bekas dari saya. Saya kasih harga murah, namun kualitas ban motor bekas itu masih bagus. Banyak juga yang menanyakan resep membuah ban bekas itu hitam mengkilap dan bunganya bannya masih jelas, namun saya jawab itu rahasia perusahaan,” ucap K Hutauruk sembari senyum.

Tahan Empat Bulan 

Menurut K Hutauruk, ban motor bekas miliknya tahan dipakai hingga empat bulan lamanya. “Ban motor bekas ini tahan dipakai hingga empat bulan. Pembeli kita banyak tukang ojek. Kalau ban baru bermerak harganya dikisaran Rp 150 ribu per buah. Jadi banyak tukang ojek beli ban bekas ke sini, karena ingin irit pengeluaran,” katanya.

Disebutkan, tidak hanya tukang ojek yang belanja padanya, namun banyak juga pemilik motor kawula muda. “Banyak juga anak muda yang membeli ban motor bekas ke sini. Mungkin agar mengirit, sehingga ada biaya jajan di sekolah,” ucap Hutauruk.

Disebutkan, kualitas ban motor bekas itu bisa hingga empat bulan. Itulah sebabnya banyak pengguna motor menggantikan bannya dengan ban motor bekas. “Dalam sehari bisa dapat pelanggan hingga 10 orang. Kalau beli borongan bisa hingga ratusan ban yang sudah dibatik dan disemir,” ujarnya.

Ban Bekas Afkir

Ternyata ban motor bekas yang tidak laik lagi digunakan untuk kenderaan, bagi K Hutauruk memiliki peluang baru. Kini ban bekas afkir miliknya dijual kepada pemilik kebun Buah Naga di Jambi.

“Kalau dulu ban motor bekas yang afkir dibakar di tempat sampah, kini saya ambil dan bisa dijadikan uang. Kini ada langganan saya pemilik Kebun Buah Naga yang mengambilnya hingga ratusan buah. Harga satu ban bekas afkir saya jual Rp 1000 per buah. Kalau ban motor bekas afkir itu saya pungut dari tong sampah dan dari bengkel-bengkel motor di Jambi,” katanya.

Ban motor bekas afkir itu digunakan untuk media tanaman Buah Naga yang diletakkan pada media batang penahan pohon Buah Naga. “Sejak adanya perkebunan Buah Naga di Jambi, harga ban motor bekas afkir laku dijual. Lumayanlah untuk nambah rezeki,” katanya.

Pinjaman Modal dari PTPN VI 

Awal menggeluti usahanya, K Hutauruk meminjam modal ke PT Pos Indonesia. Pinjaman mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 50 juta dengan agunan sertifikat rumah dan keterangan usahanya.

“Saya sudah lima kami meminjam modal ke PT Pos Indonesia dengan bunga 0,6 persen pertahun. Namun pinjaman saya terakhir ini, ditolak dengan arogansi pihak PT Pos Indonesia Jambi. Belakangan ini saya meminjam modal ke PTPN VI Jambi sebasar Rp 20 juta dengan bunga 0,6 persen pertahun,” katanya.

Guna membantu usahanya itu, istrinya Boru Hutagaol buka koperasi simpan pinjam dan kreditkan barang kebutuhan rumah tangga. Mereka mampu bangun rumah hingga memiliki tanah untuk anaknya kelak. (*/lee)



No comments: