.

.
.

Tuesday, 14 October 2014

Lokalisasi Pucuk Ditutup, Puluhan Anak Didik Putus Sekolah


ANAK DIDIK: Seorang ibu warga di Lokalisasi Payo Sigadung (Pucuk), Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi tampak menuntun anaknya saat penutupan Pucuk, Senin (13/10). Puluhan anak didik PSK Payosigadung terancam putus sekolah akibat penutupan Pucuk. EDWIN EKA PUTRA/HARIAN JAMBI.


JAMBI-Setelah penetapan penutupan lokalisasi di Payo Sigadung (Pucuk-red) di Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi, banyak pekerja seks komersial (PSK) yang meninggalkan tempat lokasi. Mereka meninggalkan tempat tersebut pada malam hari sebelum penutupan. Anak didik PSK tersebut terpaksa putus sekolah karena ikut pindah bersama orangtua mereka.

Namun yang bertahan di lokasi tersebut adalah orang-orang penduduk asli setempat. Sementara untuk pekerja seks yang berasal dari luar provinsi berangsur-angsur meninggalkan lokasi. 

Jika kita lihat dari segi pendidikan, banyak anak-anak yang pekerjaan orang tuanya nota bene adalah PSK terpaksa meninggalkan sekolah dan ikut ibunya.

Bujang (nama disamarkan) saat ditemui Harian Jambi, Senin (13/10) mengatakan, sehari sebelum penutupan pucuk sudah banyak pekerja seks yang meninggalkan lokasi. Menurutnya dari satu hari sebelum penutupan banyak mobil yang membawa barang para pekerja PSK untuk pindah.


“Dari kemarin sudah banyak yang pindah, dak tau kemana pindahnya, mungkin juga mereka menyewa kos untuk sementara," katanya.

Dikatakan, tidak sedikit jumlah anak-anak yang ibunya berprofesi sebagai PSK yang sekolah di lingkungan Pucuk. Bahkan ada yang sekolah hingga ke pesantren Al Hidayah. Namun kebanyakan anak-anak dari PSK tersebut sekolah di SDN 93 Kota Jambi.

“Sekolah anak-anak dari Pucuk ini beda-beda. Ada yang sekolah di luar Kota Jambi, ada yang SMA, SMP namun yang paling banyak sekolah di SD 93 Kota Jambi. Kalau jumlah pastinya saya tidak tau tapi kalau puluhan ada,” ujarnya.

Ditambahkan, dari segi pendidikan anak-anak yang dari pemilik cafe ada yang sudah sukses menjadi bidan, menjadi polisi, bahkan ada yang menjadi seorang pramugari. Karena orang tua mereka tidak ingin anaknya seperti mereka.

“Anak-anak dari pemilik usaha cari duit ini sudah ada yang sukses. Dan anak-anak dari PSK yang ada di sini terkesan sopan. Jika dilihat dari pakaiannya, anak-anak disini lebih sopan pakainya daripada anak-anak yang diluar sana. Karena kami selalu menegur mereka agar selalu berpakaian yang rapi dan menutup aurat,” ujarnya.

Sementara Yus, salah satu ibu yang rumahnya di sekitar lokasi Pucuk mengatakan, anak-anak yang ada di sana kebanyakan sekolah di SD N 93 karena lokasi sekolahnya dekat dengan Pucuk.

“Sudah banyak anak-anak sini yang berhenti sekolah karena ikut orang tuanya. Ngak tahu nasip mereka apakah masih bisa melanjutkan sekolah atau tidak. Karena orang tua mereka sudah tidak punya pekerjaan lagi,” kata Yus saat di tanya Harian Jambi di depan rumahnya.

Sementara Walikota Jambi Syarif Fasya mengatakan, anak-anak dari PSK yang ada di Pucuk akan diberikan pembinaan. Pihaknya juga akan memberikan biaya pembinaan untuk anak-anak sekolah yang tinggal di sana.

“Kita akan memberikan biaya pembinaan kepada anak-anak yang orang tuanya tidak punya penghasilan lagi dampak dari penutupan Pucuk. Sehingga harus diberikan bantuan biaya sekolah untuk anak-anaknya," katanya.

Dikatakan, bagi anak-anak yang ikut orang tuanya pindah akan dipermudah surat pindahnya. Hal itu agar mereka bisa tetap melanjutkan pendidikannya di tepat asalnya.


“Bagi anak-anak PSK yang mau ikut orang tuanya pidah akan dipermudah proses pindahnya. Dan uang pembinaannya akan dicairkan di daerah asal PSK itu,” katanya.(khr/lee)

No comments: