.

.
.

Selasa, 21 Oktober 2014

Bencana Kabut Asap Melanda Jambi, Akibat Borok Ekspansi Sawit yang Tak Terobati

KABUT ASAP: Kabut asat akibat kebakaran lahan dan hutan masih menyelimuti udara Kota Jambi, Senin (20/10). Hujan yang mengguyur Kota Jambi dan sejumlah daerah lainnya belum mampu meredakan kabut asap di Jambi. FAJAR YOGI ARINSANDI/HARIAN JAMBI
“Ssttt…sstttt…diam, Nak,…diam Nak,…!!!”. Kata – kata tersebut berulang – ulang diucapkan Dona (35) untuk menghentikan tangis bayi perempuannya yang masih berusia dua bulan. Bayinya menangis terus karena terkena flu dan gejala infeksi saluran pernafasan (ISPA).

“Anak saya nangis terus Bang. Susah mendiamkannya. Mungkin karena dia flu dan batuk. Hidungnya tersumbat, susah bernafas. Ini akibat asap mungkin. Sudah berobat, tetapi belum sembuh,”keluh Dona dengan nada resah kepada Harian Jambi di rumahnya, Jalan Pangeran Hidayat, Paal V, Kotabaru, Kota Jambi, Senin (20/10).

Dona mengeluh karena sejak anaknya lahir, pertengahan Agustus lalu hingga pertengahan Oktober ini, asap tebal terus – menerus menyelimuti Kota Jambi. Asap yang menyebabkan kualitas udara memburuk membuat bayinya sudah beberapa kali terkena flu dan batuk.

Keluhan Dona terkait dampak asap terhadap kesehatan anak-anak tersebut juga dirasakan ribuan keluarga di Kota Jambi. Keluhan tersebut muncul karena selama bencana asap melanda Kota Jambi hampir tiga bulan terakhir, warga masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi korban ISPA sangat banyak.


Kepala Bidang (Kabid) Bina Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Kaswendi menjelaskan, jumlah penderita ISPA di Provinsi Jambi hingga Oktober ini mencapai 205.643 kasus. Kasus ISPA tersebut paling banyak di Kota Jambi, yakni sekitar 80.976 kasus.

Kemudian kasus ISPA di Muarojambi sekitar 23.151 kasus, Tanjungjabung Barat (18.158 kasus), Merangin (15.105 kasus), Bungo (13.461 kasus), Sarolangun (13.084 kasus), Tanjungjabung Timur (9.416 kasus), Batanghari (8.770 kasus), Tebo (8.273 kasus), Kerinci (5.518 kasus) dan Kota Sungaipenuh (9.911 kasus).

Tingginya kasus ISPA tersebut, lanjut Kaswendi disebabkan memburuknya kualitas udara, terutama akibat asap kebakaran lahan dan hutan serta debu kemarau. Bencana asap yang melanda Jambi akibat kebakaran lahan dan hutan tahun ini terjadi dua kali, yakni Maret – April 2014 dan Agustus – Oktober 2014.
Disesalkan

Kalangan aktivias lingkungan hidup di Jambi sangat menyesalkan lambannya penanganan bencana asap serta kebakaran lahan dan hutan di Jambi. Kelambanan tersebut nampak dari masih terjadinya bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Jambi hingga pertengahan Oktober ini.


Padahal September – Oktober sudah memasuki penghujan. Kendati bencana asap Jambi telah menelan banyak korban penyakit ISPA, melumpuhkan transportasi udara dan air berbulan-bulan, namun penanganan bencana asap serta kebakaran lahan dan hutan tak maksimal. 

Kelambanan penanganan bencana asap serta kebakaran lahan dan hutan tersebut membuat para aktivis lingkungan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Konservasi Informasi (Warsi) Jambi dan Wahana Lingkungan Hidup Provinsi Jambi, baru-baru ini mengadakan aksi unjuk rasa. Mereka menyesalkan sikap pemerintah yang kurang tanggap terhadap dampak bencana asap bagi warga masyarakat.


Kemudian para aktivis lingkungan hidup tersebut juga menyesalkan kelambanan jajaran aparat keamanan dalam mencegah dan menangkap para pelaku pembakaran lahan dan hutan. 

Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi) Jambi, Rudy Syaf mengatakan, bencana asap yang melanda Jambi dan beberapa provinsi di Sumatera disebabkan kelalaian pemerintah dan perusahaan perkebunan swasta dalam mencegah kebakaran lahan dan hutan. Kelalaian itu terbukti dari terjadinya kebakaran lahan dan hutan di Jambi, Sumaterea Selatan dan Riau setiap musim kemarau, termasuk musim kemarau tahun ini.


Menurut Rudy, bencana asap di Jambi, Sumatera Selatan dan Riau saat itu bukanlah bencana mendadak. Sejak awal musim kemarau, Juni lalu sudah banyak terjadi kebakaran lahan dan hutan di Jambi, Sumatera Selatan dan Riau. Di Jambi sendiri sudah terjadi kebakaran lahan dan hutan sejak Januari.

“Jumlah hotspot atau lokasi kebakaran lahan dan hutan di Jambi sejak Januari – Oktober ini mencapai 1.274 titik. Hal ini terjadi karena pemerintah dan pengusaha perkebunan lalai mencegah dan menanggulangi kebakaran lahan dan hutan,” katanya.

Dikatakan, pihak KKI Warsi Jambi pada April – Mei lalu, pihaknya sudah mengingatkan pemerintah daerah setempat, pengusaha dan petani di Jambi mengenai terjadinya El Nino atau kemarau panjang di Jambi tahun ini.

Peringatan itu dilakukan mengenai media massa. Terkait dengan El Nino tersebut, pemerintah dan instansi terkait di Jambi, para pengusaha perkebunan serta para petani diingatkan agar secara dini mencegah kebakaran lahan dan hutan, khususnya kebakaran di kawasan gambut. Peringatan itu disampaikan karena berdasarkan pengalaman tahun – tahun sebelumnya, kebakaran kawasan gambut di Jambi selalu sulit dipadamkan dan tetap menimbulkan bencana asap.

“Tetapi peringatan tersebut kurang mendapatkan respon seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), khususnya di perkebunan dan kehutanan. Pengawasan terhadap pembakaran lahan dan hutan pun selama tiga bulan kemarau melanda Jambi kurang dilakukan secara serius. Akibatnya kebakaran lahan dan hutan gambut tak terhindari lagi, bencana asap pun melanda daerah ini,” katanya.

Sementara itu, Kapolda Jambi, Brigjen Pol Bambang Sudarisman Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jambi, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Almansyah, pihaknya sudah cukup bertindak tegas terhadap para pelaku pembakaran lahan dan hutan di daerah itu. Tindakan tegas itu dibuktikan dengan penangkapan belasan pelaku pembakaran lahan dan hutan di Jambi sejak September – Oktober ini.


Dikatakan, kasus pembakaran lahan dan hutan yang ditangani Polda Jambi saat ini sebanyak 13 kasus dengan 13 tersangka. Kasus pembakaran lahan dan hutan itu terjadi di Kabupaten Sarolangun, Batanghari, Tebo, Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur. Kasus pembakaran lahan dan hutan di Batanghari dengan tiga orang tersangka dan di Tanjungjabung Barat dengan delapan orang tersangka sudah dilimpahkan kepada pihak kejaksaan.(*/lee)

Tidak ada komentar: