.

.
.

Jumat, 15 Agustus 2014

70 Persen Sekolah di Kota Jambi Tak Miliki Guru Sejarah

Sejarah: Sekelompok murid SD saat mengunjungi Museum Perjuangan Jambi. Kini pendidikan sejarah sudah mulai dimaksimalkan menyusul penerapan Kurikulum 2013. Foto KAHARUDDIN/ HARIAN JAMBI

Tak Sejalan dengan Penerapan Kurikulum 2013

JAMBI-Angka 70 persen merupakan angka yang lumayan besar. Betapa tidak, selama ini Dinas Pendidikan Kota Jambi bicara soal pelajaran Muatan Lokal (Mulok), namun tenaga pengajar Mulok itu justru tidak dipikirkan. Bahkan untuk penerapan Kurikulum 2013 yang banyak mengajarkan tematik Mulok bakal sulit diterapkan.

Pasca diadakannya rapat pemetaan guru yang melibatkan semua kepala sekolah SMA/SMK negeri se-Kota Jambi dua hari lalu, dalam pertemuan tersebut terdapat beberapa sekolah yang kekurangan guru, khususnya guru sejarah.

Kabid Dikmen Dinas Pendidikan Kota Jambi Mulyadi Kamis (14/8) mengatakan, dalam rapat pemetaan guru yang dilaksanakan Rabu lalu dapat dipetakan secara umum sekolah menengah atas ada yang lebih dan ada yang kurang guru.


Dari hasil rapat pemetaan guru tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir 70 persen sekolah SMA dan SMK negeri yang kekurangan guru bidang studi sejarah.

“Kekurangan itu karena sekarang ada sejarah Indonesia dan ada sejarah dunia. Jadi terjadi penambahan sehingga sekolah kekurangan guru bidang studi sejarah. Saat ini hampir 70 persen sekolah di Kota Jambi tidak ada guru sejarahnya," katanya.

“Sekolah-sekolah yang kelebihan guru pada umumnya guru Bahasa Indonesia, Guru Biologi, dan Guru Ekonomi. Tiga bidang studi itulah yang banyak belum ada di beberapa sekolah," katanya.

Disebutkan, sementara itu selain ada sekolah yang kelebihan guru, adanya beberapa sekolah yang kekurang guru bidang studi. “Selain ada sekolah yang kelebihan guru ada juga sekolah-sekolah yang kekurangan guru bidang studi seperti guru matematika, guru Penjas, guru sejarah, dan guru bidang studi prakarya, itu posisi yang kurang untuk sementara ini," katanya.

Kata Mulyadi, untuk guru bidang studi prakarya saat ini hanya mengandalkan guru-guru yang telah mengikuti platihan prakarya. Hal tersebut dikarenakan adanya Kurikulum 2013 yang memasukkan mata pelajaran prakarya ke dalam mata pelajaran.


“Ada beberapa sekolah yang sudah memiliki guru prakarya yaitu guru ekonomi yang diikutkan platihan prakarya. Guru itulah yang mengajar mata pelajaran prakarya," katanya.

Terpisah, Kepala Museum Perjuangan Jambi Badmiril Amri berpendapat, seharusnya seluruh sekolah mulai tingkat SD, SMP, SMA memiliki guru sejarah. Hal itu sejalan dengan pelajaran mulok yang diterapkan dalam bidang studi.

Menurutnya, sejarah merupakan pelajaran yang penting bagi anak didik. Selama ini pengenalan sejarah pada anak didik masih sebatas mengunjungi museum. Sementara pendidikan khusus sejarah sudah minim. (KAHARUDDIN/lee)



Tidak ada komentar: