.

.
.

Selasa, 13 Mei 2014

Sekolah Autis Harapan Mulia, Tak Perlu Malu Punya Anak Autis





Sekolah Autis Harapan Mulia

Semua anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Oleh karena itu tidak boleh ada perbedaan dalam pendidikan. Di usia sekolah semua anak-anak diwajibkan mengenyam pendidikan. Bermacam-macam jenjang pendidikan telah didirikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekolah yang didirikan bukan saja sekolah untuk anak-anak yang normal saja, bagai mana dengan anak-anak yang mempunyai kendala dalam hidupnya seperti autis dan kesulitan belajar.

Di Kota Jambi telah hadir sekolah yang sengaja didirikan untuk membantu pemerintah dalam pemerataan pendidikan bagi  anak-anak autis dan anak yang kesulitan dalam belajar. Sekolah itu bernama Sekolah Autis Harapan Mulia. Sekolah ini hadir untuk memberi pengetahuan kepada anak autis dan anak yang kesulitan dalam belajar.

Selaku Kepala Sekolah Autis Harapan Mulia, Yuli Maryatimengatakan,
tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) begitu penting, mengingat mereka juga pengetahuan untuk hidup mandiri dan mereka ada di sekitar kita.

Jika  tidak ada yang memperhatikan nasib mereka lalu bagaimana nasib masa depan mereka. Sampai kapan orang tua akan selalu mengurung mereka dalam terali besi yeng dikelilingi dengan tembok yang tebal demi menghindari cacian orang sekitar.

Semakin lama penderita autis ini tiap tahun semakin menambah sehingga muncul ide untuk mendirikan Sekolah Autis Harapan Mulia. “Kami selaku orang tua prihatin dengan masa depan ABK jika tidak dibekali dengan ilmu dan keahlian," katanya.

Dikatakan, para (ABK) butuh uluran kepedulian. Mereka butuh kasih sayang, pendidikan yang layak seperti halnya anak-anak normal lainnya. Autis bukan bahan ejekan anak-anak, karena anak-anak tersebut begitu unik dan sulit diduga.

Terkadang hal itu membuat pengajar dan orang tua frustasi. Namun pendidikan harus diberikan kepada seluruh anak-anak Indonesia termasuk anak autis. “Itulah yang membuat saya tertarik untuk mendidirikan sekolah autis ini,” katanya.

Ditambahkan, Lembaga Pendidikan Sekolah Autis Harapan Mulia didirikan pada awal  tahun 2012 tepatnya. Pada tanggal 2 Januari dan bertempat di Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi.

Sekolah Autis Harapan Mulia ini mempunyai konsep sebagai wadah pendidikan khusus yang memberikan layanan terapi untuk anak-anak autis. Sekolah Autis Harapan Mulia ini menerima anak dengan kebutuhan khusus (autisme add, speech delay dan kesulitan belajar).
Kemudian menyediakan guru pendamping khusus (GPK) untuk program inklusif jenjang SD SMP SMA dan SMK. “Selain autis kita juga menerima anak yang kesulitan dalam belajar,” katanya.

Dia menjelaskan, autis adalah sebuah kondisi yang dialami seseorang yang mana bisa memperngaruhi dalam berhubungan dan bekomunikasi dengan orang lain. Individual dengan autisme memiliki kelemahan dalam berkomunikasi, berintraksi sosial, berimajinasi serta berprilaku.

“Autis lebih sering dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan. Namun terkadang anak-anak autis ini memiliki bakat tertentu,” kata Yuli.

Tidak ada individual dengan autisme yang sama persis fisiknya. Namun mereka pada umumnya memiliki ciri-ciri yang sama. Autis juga disebiut Autistic spertum disorder (ASD) untuk mewakili banyaknya ciri khas khusus yang dimiliki oleh individual dengan autisme.

“Bagai manapun perlu dicermati bahwa autis bukanlah penyakit mental,” katanya. Adapun visi dari Sekolah Harapan Mulia adalah menjadikan sekolah khusus yang mampu memberikan pelayanan pendidikan terpadu unuk anak autis pada khususnya.

Kemudian pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus pada umumnya agar dapat megembangkan potensi dan kemampuan diri menuju kemandirian dan masa depan yang lebih baik.

Adapun misinya adalah, mengutamakan mutu dan kualitas pendidikan  menciptakan lingkungan belajar yang menekankan pada praktek kehidupan sosial sehari-hari. Menggali mengarahkan dan membangkitkan minat serta bakat yang dimiliki anak untuk bekal mereka dimasyarakat.

Mampu memberikan pendidikan yang berkesinambungan terhadap anak. “Begitulah visi misi kita untuk memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anak-anak autis dan anak yang kesulitan dalam belajar,” katanya.

Sekolah Autis Harapan Mulia menerapkan tiga tingkatan/ tahapan kelas dengan tetap mengutamakan metoda ABA (Applied Behavioral Analisis) kelas A merupakan kelas awal.

Dimana anak berkebutuhan didatangi secara one on one dalam satu kelas. Seterusnya kelas B merupakan merupakan kelas awal dimana anak berkebutuhan khusus sudah memasuki materi akademik. “Jadi ada tiga tahap dalam Sekolah Autis Harapn Mulia ini yaitu tahap awal menengah dan tahap lanjutan,” ujarnya.

Jadwal belajar di Sekolah Autis Harapan Mulia adalah hari Senin sampai Jum'at dengan dua sesi yaitu sesi pertam masuk jam 07.30 Wib pulang jam 10.30 Wib. Kemudian sesi kedua masuk jam 11.00 Wib sampai Jam 14.00 Wib seterusnya dari jam 15.00 les bagi siswa kesulitan belajar hingga selesai.

Sementara pada hari Sabtu  session 1 dari jam 07.30 sampai dengan jam 10.00 Wib untuk session 2 dari jam 08.30 sampai dengan jam 11.30. “Itulah jadwal belajar kita dan session-sessionnya,” ujarnya.

Yuli berharap dengan hadirnya Sekolah Autis Harapan Mulia dapat membantu perintah dalam mendidik anak-anak yang mempunyai kekurangan dan membantu orang tua dalam memberikan layanan atau pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai kekurangan untuk menjadi anak yang mempunyai talenta.

“Banyak orang tuang menganggap anak autis itu adalah mahluk yang tidak berdaya tidak tau apa-apa. Saya ingin membuktikan kepada masyakat khusnya orang tua yang dititipkan anak yang mempunyai keterbelakangan. Saya berupaya bagaimana bisa membuat anak-anak mereka menjadi anak yang berpotensi dan mempunyai skil. Karena Allah menciptakan mahluknya dengan kelebihan dan kekurangan dan dibalik kekurangan tesimpan potensi,” katanya.(*/lee)
***

Anak Autis Bisa Sekolah di Sekolah Normal

Anak autis yang sekolah di Sekolah Autis Harapan Mulia, juga bisa direkomendasikan anak didiknya ke sekolah normal. Hal itu tindak lanjut dari program ingkuis yang mana anak-anak autis yang sudah berhadil dididik dimasukka kesekolah normal dan bisa belajar seperti taman-teman normal lainya.

Kepala Sekolah Autis Harapan Mulia, Yuli Maryati mengatakan, mereka mempunyai guru yang khusus yaitu guru pendamping dan dalam beberapa tahun ini ternyata kemampuan akedemik bisa diatas rata-rata.

Anak yang seperti itulah yang direkomendasikan untuk mengikuti belajar di sekolah reguler. “Puncak akhir dari anak yang mempunyai kebutuhan khusus adalah skil dan kita tidak berharap anak punya ijazah yang penting mereka. Bagaimana memberikan bekal berupa skil untuk bekal hidup,” katanya.

Prestasi yang telah diperoleh oleh Sekolah Autis Harapan Muliatelah mendapatkan prestasi pada tahun 2012 pihaknya mendapat kepercayaan mewakili Provinsi Jambi untuk O2SN di Bali di jenjang SMP dan mengikuti 2 lomba autis membuat blog dan satunya lagi dibidang kewirausahaan.

Dan ditahun yang sama salah satu guru dari Sekolah Autis Harapan Mulia yang mewakili Kota Jambi dalam bidang pemuda pelopor di bidang pendidikan.  Dan tahun 2014 pihaknya berhasil mengirim 2 anak dari Sekolah Autis Harapan Muliapada jenjang SD mewakili Provinsi Jambi dalam even LS2N tingkat nasional dalam kategori menyanyi lagu Solo.

Satunya lagi di Lombok untuk mengikuti lomba dalam kategori IPA. “Meski anak-anaknya berkebutuhan khusus ternyata mereka punya kelebihan dan mereka bisa mewakili Provinsi Jambi,"katanya. 

Sementara itu menurut salah satu guru Sekolah Autis Harapan Mulia, Neni mengatakan, sistem belajar yang ada dalam Sekolah Autis Harapan Muliaadalah menggunakan sistem satu guru satu anak.

Karena anak-anak yang ada tidak semuanya autis dalam pelaksanaan pembelajaran dibutuhkan metode khusus untuk mengajar karena anak yang diajar bukanlah anak-anak yang normal. “Butuh keahlian khusus dalam mengajar autis,” ujarnya.

Dilanjutkan, sistem pembelajaran utuk anak autis  disesuaikan dengan kebutuhan anak. Oleh karena itu setiap satu anak butuh satu orang guru. Dalam belajarnya juga membutuhkan tempat khusus yang mana yang ada dalam ruangan hanya guru dan siswa.

Tempat belajarnya didesain sesuai dengan ketentuan. Ada tiga tingkatan dalam tahap mengajar yaitu tahap awal, tahap menengah dan lanjut. “Tahap pertama untuk pengenalan menyesuaikan diri, dan tahap kedua pengenalan angka, huruf, dan warna, sudah mulai belajar menghitung dan membaca,” katanya.

Disebutkan, pendidikan harus dienyam oleh setiap warganegara tampa pandang bulu baik anak itu normal atau tidak normal. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan memang seharusnya menjadi kewajiban bagi orang tua meski anaknya mempunya kekurangan.

“Pendidikan itu wajib setiap anak tampa melihat kondisi anak, kerena didalam kekurangan pasti ada kelebihan,” katanya.

Ditambahkan, anak autis hakikat adalah ciptaan Tuhan yang memiliki fitrah dan potensi untuk berkembang sejajar dengan anak normal. Karena itu merupakan kewajiban bersama antara pemerintah.

Orangtua dan masyarakat untuk menyediakan fasilitas bagi mereka untuk berkembang. Cara pandang mayoritas masyarakat  yang cenderung menyembunyikan dan menganggap aib bagi kehadiran anak autis sudah saatnya dirubah.

Kearah pemikiran untuk secara kontinyu membina mereka. “Orangtua, pemerintah, dan masyarakat berkewajiban untuk menyediakan sarana pendidikan untuk anak-anak autis, dan orang tua tidak perlu malu punya anak autis," katanya.

Dilanjutkan, pemerintah dalam kaitan ini selayaknya menyediakan fasilitas dan akses yang seluas-luasnya kapada anak autis untuk mengenyam pendidikan sesuai degan kapasitas mereka.

Sedangkan masyarakat dan orang perlu memberikan dukungn moril dan materil baik degan menitipkan anak mereka maupun dengan ikut membangun sentra-sentra pendidikan khusus bagi anak-anak autis. “Seharusnya pemerintah meberikan pasilitas khusus bagi pendidikan autis untuk pemerataan pendidikan," katanya.(khr/lee)
Dr Jamaluddin MPd Pengamat Pendidikan

Kepala Sekolah  Sekolah Autis Harapan Mulia Yuli Maryati






Sekolah Autis Harapan Mulia

Tidak ada komentar: