Selasa, 17 Oktober 2017

Pesparawi Wanita GKPS dalam Catatan Iman




Peserta Kontingen Pesparawi Wanita GKPS Resort Siantar I (Sudirman) Medali Emas (Juara II) Pada Pesparawi Wanita GKPS Se Indonesia Tahun 2017, Minggu (8/10/2017). Photo: Asenk Lee Saragih.
Oleh: Pdt  Defri Judika Purba STh

BeritaSimalungun-Pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Wanita Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) telah usai. Banyak hal yang bisa diceritakan melalui peristiwa itu. Dari sisi peserta, pelatih, team pendukung, panitia, juri dan lain-lain.
Cerita akan semakin bertambah lagi kalau ditarik mulai dari program ini direncanakan, disosialisasikan, dan dikerjakan di lapangan. Cerita akan semakin bertambah lagi, kalau semua team menceritakan bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti Pesparawi ini. 

Begitu banyak cerita yang mau disampaikan. Dan ijinkanlah Saya menceritakan sebagian dari cerita itu. Walau nanti ada cerita yang tercecer, biarlah itu nanti menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama kita untuk saling melengkapi agar ide besar pelaksanaan Pesparawi ini menjadi lengkap melalui kepingan “puzzle” yang kita susun bersama. 

Pertama. Hal pertama yang kita mau gumuli bersama adalah: mengapa program Pesparawi ini dilaksanakan? Apakah program ini mendukung perkembangan iman jemaat? Apakah gereja–baca: GKPS- mengandalkan program ini sebagai program utamanya? Apakah gereja tidak bisa lepas dari kegiatan yang bersifat sayembara atau pertandingan? 

Apakah kegiatan yang menelan biaya sangat besar ini berkorelasi dengan panggilan gereja? Apakah pantas menggelar kegiatan pesparawi sementara banyak unit pelayanan di GKPS ini yang hampir mati suri atau bahkan sudah kolaps? 

Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan. Dan semua pertanyaan di atas adalah fakta dalam pikiran kita masing-masing. Begitu banyak orang yang sinis, pesimis, bahkan terkesan mencela pelaksanaan pesparawi ini. Kalau sudah sampai pada tahap mencela bahkan “nyinyir”, itu menandakan kita telah kehilangan ide besar dalam cerita Pesparawi ini. Kita kehilangan roh yang menjiwai Pesparawi ini. Berdebat mengenai BUNGKUS bukan ISI. 

Dua. Hendaklah kita ketahui bersama, paduan suara dalam sejarahnya tidak bisa lepas dari perkembangan iman jemaat. Dimana ada paduan suara disitu ada pertumbuhan orang yang percaya. Ini sudah dimulai sewaktu penyembahan di Bait Allah pada jaman kerajaan israel kuno, di sinagoge dan berlanjut terus dalam pertumbuhan gereja di abad pertama. 

Dalam tradisi gereja abad pertama, paduan suara semakin dimaksimalkan peranannya dalam ibadah jemaat. Tradisi bernyanyi secara monofon dan polifon adalah tradisi yang sampai hari ini masih dipegang erat oleh gereja Katolik. 

Kalau kita melompat pada perkembangan gereja di abad modern ini, begitu banyak penginjil dalam penginjilannya “sukses” besar dengan kehadiran paduan suara yang telah dipersiapkan. 

Billy Graham, dan Sthepen Tong adalah contoh nyata penginjil yang “sukses” menginjili yang ditopang dengan kehadiran paduan suara.
Sejarah singkat ini perlu Saya sampaikan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang seolah-olah menganggap paduan suara gereja atau bahkan Pesparawi dianggap tidak penting. Terkesan glamour. Biaya yang dikeluarkan tidak berdampak nyata dalam kehidupan iman, dll. 

Pendapat seperti itulah yang saya anggap berdebat mengenai BUNGKUS bukan ISI. Menganggap paduan suara atau Pesparawi tidak penting sama saja menyatakan: aku bisa menjadi orang Kristen walau tidak ke gereja. Ada kebingungan dan kekurang mengertian dalam kalimat tersebut. 

Paduan suara itu adalah bagian yang sangat integral dalam ibadah dan pertumbuhan gereja. Menganggap paduan suara atau Pesparawi itu tidak penting, saja sama mencabut jiwa gereja itu sendiri. Paduan suara itu akarnya adalah dari gereja. 

Kalau ada suatu event Pesparawi, secara ISI sebenarnya kita diingatkan akan salah satu akar atau ciri gereja itu sendiri. Kita sangat bersyukur tradisi paduan suara ini dalam perkembangannya diadopsi oleh dunia yang sekuler. 

Saat ini , pemerintah sudah membuat Pesparawi tingkat Nasional dalam program pengembangan iman jemaat, secara khusus Kristen. Kalau lembaga sekuler saja menghargai tradisi paduan suara ini, masa gereja tidak? 

Saya setuju apa yang disampaikan oleh Roynaldo Hamonangan Saragih(Tim Juri Pesparawi Wanita GKPS 2017), ketika paduan suara yang dia bina– Inggou Victory – memenangi perlombaan pada acara BICF dua tahun yang lalu. 

Tidak tanggung-tanggung kemenangannya saat itu. Meraih grand fix champion. Artinya, menjadi pemenang dari pemenang. Saat itu paduan suara yang bertanding banyak yang tidak mengatasnamakan lembaga gereja. 

Mereka berasal dari instansi pemerintah, sekolah-sekolah, dan paduan suara profesional. Ketika meraih posisi kemenangan itu, beliau berkata: “Paduan suara yang terbaik itu, telah kembali kepada akarnya, yaitu gereja”. Paduan suara akarnya adalah gereja, dan kita harus pertahankan itu.

Tiga. Hal yang perlu menurut Saya program Pesparawi ini hendaknya dikelola dengan terstruktur dan sistematis. Jangan ada program yang tumpang tindih, atau program sesuai selera pengurus. Sebagai usul, di gereja kita GKPS, sudah ada satu unit pelayanan yaitu PPLMG (Pusat Pengembangan Liturgi dan Musik Gereja). 

Unit ini ada di bawah naungan departemen persekutuan. Sampai saat ini, secara pribadi Saya belum melihat unit ini bekerja secara maksimal sesuai dengan namanya, yaitu sebagai Pusat Pengembangan Musik Gereja. 

Pesparawi pada prakteknya adalah domain dari PPLMG ini. Setiap event yang berbau dengan musik gereja (pembinaan, menyediakan juri atau menyelenggarakan event Pesparawi) hendaknya PPLMG mengambil peranan, bukan sebagai pribadi tapi sebagai satu unit lembaga di GKPS. 

PPLMG ini harus kita perkuat sebagai satu unit. Tak usahlah setiap kepengurusan membuat program Pesparawi menurut waktu dan selera masing-masing. Sudah ada unit yang mengatur itu secara bagus dan benar. Itu adalah pendapat Saya. 


Ke Empat. UNTUK SEMUA PESERTA KOOR. Menjadi satu bagian dalam kelompok paduan suara adalah suatu anugrah atau karunia. Begitu banyak mutiara yang bisa kita peroleh dalam proses kebersamaan itu. Secara pribadi, bertahun-tahun Saya menjadi bagian suatu komunitas paduan suara. 

Lebih lima tahun menjadi anggota paduan suara di Kampus STT Abdi Sabda –Paduan suara Revelatio - dan dua tahun di Paduan Suara Consolatio USU. Dari proses kebersamaan ini, begitu banyak mutiara yang saya peroleh. Beberapa diantaranya adalah: disiplin, mampu mendengar dan menghargai orang lain, memiliki target pekerjaan, belajar secara totalitas dan rasa percaya diri yang bertambah. 

Mutiara itulah yang mewarnai perjalanan hidup dan pelayanan saya sampai hari ini. Dan Saya percaya mutiara yang sama telah kita terima selama proses persiapan kita mengikuti pesparawi ini. Sering Saya menekankan, bahwa yang utama dalam perjalanan Pesparawi ini adalah PROSESNYA bukan HASILNYA.

Hasil yang terbaik adalah BONUS dari proses yang baik. Kepada semua peserta Pesparawi, marilah kita ambil mutiara yang tersembunyi selama kita mengikuti proses Pesparawi ini. Mutiara itu sangat dekat dalam hati kita.  

Hanya membutuhkan sedikit kerendahan hati untuk mengamati, merenung dan memberikan tanggapan. Sia-sia rasanya, mutiara yang sangat berharga itu tidak kita temukan karena ditutupi dengan rasa angkuh, sombong, dan tinggi hati. 
 
Dewan Juri Pesparawi Wanita GKPS Se Indonesia Tahun 2017, Saat Pengumuman Hasil Sayembara Koor, Balai Bolon Pematangsiantar, Minggu (8/10/2017). Photo : Asenk Lee Saragih.
Lima. UNTUK JURI. Berat rasanya ketika kita diminta menjadi juri dalam satu pertandingan. Apalagi pertandingan dengan sebuah prestise yang tinggi. Selalu muncul di dalam hati pergumulan, apakah saya bisa memberikan yang terbaik dengan ilmu yang saya miliki. Pergumulan ini semakin bertambah, ketika orang yang bertanding itu adalah orang yang kita kenal. 

Penilaian subjektiv bisa muncul. Semakin bertambah lagi, kalau juri itu adalah seorang pelayan– pendeta misalnya-yang dipanggil menjadi juri di jemaat yang dia layani. Lebih parah lagi, ketika hasil pengumuman telah diumumkan, begitu banyak cercaan yang bisa diterima seorang juri. 

Yang memihaklah, tidak profesionallah, tidak adil dan lain-lain. Karena begitu beratnya beban menjadi seorang juri, hendaklah setiap orang mawas diri tentang kemampuan dirinya sendiri, imannya untuk menilai dan sisi profesionalitasnya memberikan penilaian. 

Khusus untuk Pesparawi Wanita GKPS 2017 ini, dari lima juri yang dipanggil, tiga diantaranya saya kenal baik sebagai seorang yang berkompoten untuk menilai paduan suara. Roynaldo Saragih, Pdt Krismas Barus, dan Tommi Kandisaputra adalah nama juri yang saya kenal baik. 

Pengalaman mereka tentang paduan suara tidak diragukan lagi. Dan di tangan mereka, Saya percaya proses penilaian berjalan dengan wajar, transparan, tidak memihak dan jujur apa adanya. Teori konspirasi yang mencoba menghubungkan juri bisa dikondisikan, saya haqul yakin tidak berlaku untuk mereka bertiga yang saya kenal. 

Saya percaya mereka memiliki integritas dan sisi profesionalitas yang dijaga dengan hati-hati. Kalau masih ada yang meragukan hasil penilaian juri, tentu juri sudah membuka ruang untuk itu. Dan inilah yang kita syukuri dari perjalanan proses pesparawi ini. Sudah ada satu sistem yang mengarah kepada sisi penilaian yang lebih standar untuk menilai paduan suara. tidak ada yang ditutup-tutupi, semua orang bisa tahu kekurangan dan kelebihannya.

Enam. UNTUK PELATIH. Menjadi seorang pelatih adalah tugas yang sangat berat. Butuh usaha yang keras untuk mentransfer apa yang kita ketahui kepada peserta koor. Ini Saya alami sendiri. Saya kadang sampai stress karena di antara peserta koor ada yang lambat menangkap, susah meniru, dan gampang sakit hati. 

Tingkat stress ini semakin bertambah dengan waktu bertanding yang semakin mepet. Hal ini semakin diperparah lagi, karena yang kita hadapi bukanlah orang yang benar-benar bisa bernyanyi. Membuat pernafasan pun susah apalagi mengolah vokal. 

Prestise menjadi seorang pelatih memang tinggi. Orang akan selalu bertanya, siapa yang melatih satu team yang kebetulan menjadi juara. Untuk konteks Pesparawi Wanita GKPS ini, sebagai seorang pelatih saya tidak terlalu memacu mereka dengan target yang tinggi. 

Di awal latihan, memang saya mencoba menanamkan mental juara kepada mereka. Apa daya, dalam prosesnya, kami masih membutuhkan waktu dari mental kurang PD menjadi mental juara. Untuk menghibur diri saya mencoba mencari mutiara dari posisi saya sebagai seorang pelatih. 

Setelah lama mencari dan mencari, akhirnya mutiara itu saya temukan banyak bertaburan di antara wanita (inang) yang saya latih. Satu mutiara saya temukan dari seorang inang, dimana untuk mengikuti latihan sekali seminggu, beliau harus rela berjalan kaki melintasi jurang dan jalan yang licin. 

Mutiara yang lain,lebih mengharukan lagi. Ada seorang inang harus rela mendisiplinkan dirinya menuruti apa yang saya sampaikan, sementara gejolak hatinya sedang bergemuruh karena diselingkuhi suami. 

Mutiara yang lain, datang dari seorang inang yang harus menyisihkan sedikit uang belanja yang dia terima dari hasil marombou demi membeli baju seragam. Lebih mengharukan lagi, mutiara yang datang dari seorang inang yang sangat disiplin untuk hadir. Tidak pernah absen. Selalu tekun mendengar pelatih. 

Apa daya. Inang itu sudah lansia. Umurnya sudah di atas enam puluh lima. Gigi depannya sudah banyak yang copot. Susah rasanya mengajar vokal dan pernafasan untuk beliau. Disuruh tidak usah ikut, supaya bisa juara, saya tidak tega. 

Akh..masih banyak lagi mutiara yang saya temukan dalam diri inang GKPS yang saya asuh dan latih. Egois rasanya memaksakan supaya mereka seperti yang ada dalam pikiran kita, sementara mereka bukan dari kalangan profesional. 

Datang dan memberi diri saja untuk latihan sudah bersyukur. Ini adalah pesparawi wanita GKPS. Identitas mereka sebagai wanita GKPS inilah yang utama kita lihat. Wanita yang kesehariannya berjuang hebat untuk memikirkan anak dan suaminya. 

Wanita GKPS yang gigih untuk memperjuangkan ekonomi keluarganya. Wanita GKPS yang rela dimarahi suami karena banyak waktunya ke gereja. Wanita GKPS yang mau memberi dirinya untuk membuat GKPS ini semakin berwarna-warni, sukacita dan meriah. Akh...wanita GKPS, sungguh saya bangga melihat kesaksian dan kiprah kalian.

Tujuh.UNTUK PANITIA. Menjadi panitia untuk sebuah event besar bukanlah pekerjaan yang gampang. Selain harus mempersiapkan yang terbaik sebaik-baiknya, di akhir proses perjalanan, panitia sering tidak mendapat panggung untuk diakui, dipuji dan dibuat bangga. 

Panitia yang bekerja di balik layar kadang hanya mendapat ungut-ungut bahkan celaan disana-sini. Keberhasilan sebuah event kadang tertutupi dengan komentar sinis yang tidak bertanggung jawab. Apalagi komentar sinis itu diumbar di media sosial. 

Secara pribadi sebagai orang yang telah sering mengikuti perhelatan paduan suara, persiapan panitia Pesparawi Wanita GKPS Tahun 2017 ini sudah sangat baik. Ini dapat kita bandingkan dengan perhelatan Pesparawi yang sama yang dilaksanakan oleh kategorial yang berbeda beberapa tahun yang lalu. 

Para peserta sudah dikondisikan secara mental untuk siap bernyanyi dengan kehadiran pos siaga 3, siaga 2 dan siaga 1. Kehadiran panitia melalui pandu dengan HT di tangan memperlihatkan pelaksanaan paduan suara ini sudah terkoordinasi dengan baik. 

Semarak Pesparawi ini bertambah lagi dengan dekorasi tirai dan balon yang berwarna-warni. Masih banyak lagi hal-hal tekhnis yang saya perhatikan yang menunjukkan panitia sudah mempersiapkan diri dengan baik. 

Yang Saya sampaikan masih masalah tekhnis, belum lagi masalah dana yang harus diusahakan oleh panitia. dana untuk juri, peralatan, hadiah, konsumsi, dekorasi, tata ibadah dan lain-lain. tapi itu sepertinya tertutupi semua berkat usaha keras panitia. 

Yang saya dengar panitia malah masih surplus. Tapi di atas semua itu, hal yang perlu saya sampaikan adalah: bersyukurlah panitia pesparawi wanita GKPS yang telah terpilih untuk menyukseskan pekerjaan yang besar ini. Masih diberikan kepada kita kesempatan untuk melayani-Nya sesuai dengan talenta dan karunia kita. itu yang paling penting. 

Kalau sudah sampai pada tahap itu, maka kita tidak memerlukan lagi pujian dari manusia, Juru Selamat kita telah memuji kita dengan Pujian-Nya: “Upahmu besar di Sorga”.

Delapan. UNTUK PENCIPTA LAGU. Apresiasi yang tinggi secara pribadi kepada semua pencipta lagu koor dan vokal group (Pdt RJ Saragih dan St Fbria Saragih dan lainnya) untuk Pesparawi Wanita GKPS Tahun 2017 ini. 

Saya percaya proses menuangkan suatu karya seni dalam bentuk lagu adalah proses yang membutuhkan perjuangan dan pergumulan yang berat. Karya seni yang tidak bisa selesai dalam waktu satu malam. Di dalam karya seni itu, tertuang ide dengan cita rasa pengalaman dan penghayatan kepada Tuhan kita.

Kebanggaan pencipta lagu adalah disitu: ketika hasil karyanya dihargai dan diyanyikan orang dan bukan hanya saat ini saja, tapi juga untuk saat yang akan datang. Karena itu, teruslah berkarya. Kembangkan karunia dan talenta yang telah diberikan Tuhan kepadamu. 

Mari besarkan GKPS kita ini dengan ide seni yang tidak akan lekang dimakan waktu. semoga warisan iman melalui sebuah karya seni dalam bentuk lagu, memberi buah yang manis di tengah-tengah persekutuan kita. 

Akhirnya, seperti salah satu lagu pujian yang dikumandangkan: “Sai Saud Ma Harosuh MU” menjadi jiwa dan doa kita bersama. Hendaklah kehendak Raja gereja terjadi kepada gereja GKPS yang kita cintai ini. Hanya kehendak-Nya semata-mata, bukan kehendak manusia. 

Dan biarlah kegiatan pesparawi ini menjadi ingatan bersama yang akan indah untuk diingat dan diceritakan kepada generasi yang akan datang. Mari kita besarkan GKPS yang kita cintai ini dengan segala apa yang bisa kita berikan. Mari kita rayakan dan gelorakan terus komitmen kita: “Mangidangi Ham, In Ma Sibahenonku Nuan, Humbai Bulus Ni Uhur Hu-BAMU”. Solideo Gloria. Bahapal Raya, 11 Oktober 2017. Salam Pesparawi: Pdt  Defri Judika Purba STh.(*)


Tidak ada komentar: