TOKO PANCING DI JAMBI

TOKO PANCING DI JAMBI
TOKO BUANA FISHING & BUANA PANCING DI JAMBI. KLIK BENNER UNTUK INFO SELENGKAPNYA. KONTAK Yudi HP 085266609191

Saturday, 24 October 2015

Petugas Kewalahan Padamkan Kebakaran Hutan di Jambi


Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Tanjungjabung Timur dan Muarojambi, Jambi.
Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Tanjungjabung Timur dan Muarojambi, Jambi. (Suara Pembaruan/Radesman Saragih) 

Jambi - Ribuan personel pasukan pemadam kebakaran hutan dan lahan dari unsur TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni dan jajaran pemerintah daerah yang dikerahkan memadamkan kebakaran hutan di Provinsi Jambi masih kewalahan menghadapi kebakaran hutan dan lahan di daerah itu.

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui darat dan udara yang dilakukan satuan gabungan pemadam kebakaran hutan belum mampu
menjinakkan api yang melalap hutan dan lahan di Jambi akibat medan yang sulit dan minimnya sumber air. Bupati Merangin, Al Haris di Merangin, Jambi, Jumat (23/10) mengakui, satuan gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kewalahan. 

“Setiap hari ada kebakaran hutan dan lahan di wilayah Merangin sejak Agustus hingga pekan keempat Oktober ini. Kami sudah mengerahkan prajurit TNI, Polri, BPBD dan Pemkab Merangin melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Namun upaya tersebut tidak berhasil maksimal. Masalahnya loksai kebakaran sulit dijangkau, sumber air sulit akibat kemarau, armada pemadam kebakaran minim,”katanya.

Hal senada juga diakui Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari, Afrizal. Ia mengungkap pihaknya tidak mampu memadamkan kebaran hutan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), Senami, Batanghari disebabkan lokasi kebakaran yang jauh di dalam hutan, peralatan yang minim dan sumber air yang sulit.

“Kebakaran hutan di Tahura Senami sudah terjadi sejak Agustus dan hingga saat ini belum bisa dipadamkan. Pemadaman kebakaran hutan di tahura tersebut hanya bisa dilakukan melalui hujan buatan dan pengeboman air melalui udara,”ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Penerangan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Asap, Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Jambi, Mayor Infanteri, Imam Syafei mengatakan, pengerahan prajurit TNI telah memadamkan ratusan hektare kebakaran hutan dan lahan di Jambi sejak September lalu.

Namun demikian kebakaran hutan di Jambi masih tetap terjadi akibat luasnya areal hutan dan lahan yang tebakar. Sebaran kebakaran hutan dan lahan juga cukup banyak di beberapa kabupaten. Pemadaman kebakaran hutan dan lahan tersebut tetap dilakukan melalui darat dan pembuatan kanal di areal kebakaran hutan dan lahan.

“Salah satu lokasi kebakaran yang menimbulkan asap terdapat di kawasan perkebunan sawit PT BSS, Desa Tanjungkatung, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi. Areal perkebunan sawit tersebut yang terbakar mencapai 100 hektare. Sebagian areal perkebunan yang terbakar sudah berhasil dipadamkan,”katanya.

Menurut Imam, kebakaran hutan dan lahan di Jambi beberapa hari terakhir cenderung meningkat. Hal tersebut Nampak dari meningkatnya hot spot (titik api) di Jambi. Jumlah hot spot di Jambi Kamis (22/10) terpantau sebanyak 51 titik atau meningkat disbanding jumlah hot spot di daerah itu Rabu (21/10) sebanyak 47 titik. Hot spot tersebut tersebar di Kabupaten Muarojambi, Batanghari, Tanjungjabung Timur dan Merangin.

“Untuk melokalisir kebakaran dan hutan, pasukan pemadam kebakaran dan hutan di Jambi tetap melanjutkan pembuatan kanal di lokasi – lokasi kebakaran hutan dan lahan. Mudah–mudahan lah hujan turun segera agar kebakaran hutan dan lahan padam total,” katanya.

Pantauan di Kota Jambi, Jumat (23/10), asap yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan masih cukup tebal. Asap membatasi jarak pandang hanya sekitar 500– 800 meter. Asap yang bercampur debu kebakaran hutan membuat kualitas udara di kota itu tetap dalam kondisi berbahaya. Tebalnya asap juga membuat bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi tetap lumpuh.
Suara Pembaruan
Radesman Saragih/MUT
Suara Pembaruan

No comments: