.

.
.

Minggu, 11 Januari 2015

Lembaga Adat Lempur Tutup Sementara Danau Kaco


JAMBI-Komunitas Pencinta Alam (KPA) Pencagura selaku pengelola objek wisata Danau Kaco Kabupaten Kerinci mengungkapkan saat ini objek wisata tersebut telah ditutup sementara bagi wisatawan.

“Berdasarkan rapat Lembaga Adat Lempur Lekuk 50 Tumbi Desember 2014, saat ini objek wisata Danau Kaco yang berada di tengah hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ditutup sementara bagi kunjungan wisatawan,'' kata Ketua KPA Pencagura, M Zaid Zaki di Jambi,  Jumat (9/1).

Dia menjelaskan, penutupan sementara itu menyusul terjadinya insiden hilangnya dua orang pengunjung sebulan lalu, dan baru ditemukan dalam kondisi lemas di suatu lembah di tengah hutan pada 29 Desember 2014 lalu setelah melalui proses pencarian oleh tim SAR yang cukup memakan waktu lama hingga hampir tiga minggu.


“Sebelumnya memang sempat terjadi kasus pengunjung hilang, kedua orang itu wisatawan lokal yang datang dan menerobos masuk tanpa melalui jalur yang ditetapkan menuju danau di tengah hutan tersebut," katanya.

Belakangan diketahui kedatangan kedua pengunjung tersebut ternyata bukan semata untuk berwisata melainkan mencuri batu alam guna diproduksi jadi batu cincin akik yang menurut keduanya berada di tempat itu.

Karena tidak berkoordinasi dan tidak menggunakan jasa pemandu yang telah disiapkan warga setempat untuk setiap pengunjung maka keduanya menyasar ke arah lain dan akhirnya mereka sampai tersesat hingga hampir tiga minggu di tengah hutan dan terpaksa bertahan hidup dengan hanya memakan dedaunan dan lumut.

Saat ini, imbuh Zaid, Danau Kaco melalui keputusan rapat lembaga adat  ditutup sementara waktu sampai 31 Januari, dan praktis dengan adanya instruksi itu pada momentum pergantian tahun baru sama sekali tidak ada aktivitas di objek wisata itu seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

“Saat ini objek wisata Danau Kaco berupa telaga yang luasnya sedikit lebih luas dari kolam renang yang disebut sebagai aquarium alam dengan airnya yang jernih berwarna biru seperti laut itu sehingga terlihat sangat kontras dengan kelebatan rimba TNKS yang hijau ranau, memang tengah menjadi pembicaraan hangat kalangan penghobi wisata, tidak saja lokal Kerinci-Jambi tapi juga dari mancanegara, dimana saat ini sudah begitu banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung,'' ungkap Zaid.

Sebagai objek wisata yang berada di zona inti TNKS maka pengelolaan danau tersebut harus dilakukan ekstra ketat dan hati-hati, dikarenakan zona inti adalah zona terlarang didatangi atau dikunjungi oleh warga apalagi wisatawan.

Karena itu, pemanfaatan objek wisata baru tersebut pengelolaannya dibuat menjadi objek ekslusif yang tidak bisa dikunjungi sembarang orang apalagi dalam jumlah massal melainkan objek yang hanya dikunjungi oleh orang tertentu yang benar-benar memiliki komitmen menjaga kelestarian alam.
“Pasalnya, menyusul semakin tereksposnya danau kecil yang amat aneh dan unik itu telah pula menimbulkan berbagai asumsi dan persepsi di tengah masyarakat bahkan selanjutnya muncul rumor kalau air danau tersebut memiliki kekuatan magis untuk pengobatan berbagai jenis penyakit," katanya.

Bahkan ada yang menyebut danau itu menyimpan harta karun berupa intan yang terpendam di dasar danau sedalam tujuh meter tersebut, dan adanya sejenis batu mulia bernilai tinggi, semua rumor  tersebut selanjutnya justeru berkembang jadi ancaman bagi kelestarian alam lingkungan danau,'' ujar Zaid.

Oleh karena itu, guna kepentingan penyelamatan dan kelestarian, pihaknya yang selama ini mengelola pemanfaatan objek tersebut sebagai objek wisata, sangat mendukung tindakan dan kebijakan protektif yang dikeluarkan, baik oleh pemda setempat, Balai Besar TNKS ataupun Lembaga Adat Lempur Lekuk 50 Tumbi seperti yang baru diterbitkan beberap waktu lalu tentang penutupan objek tersebut dari kunjungan wisatawan.

“Dengan kebijakan ini kita berharap bisa memunculkan kesadaran bersama akan arti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang memang sangat mewah tersebut, kami juga sangat mendukung agar keberadaan danau ini tidak diekspos sebagai objek wisata massal seperti halnya objek wisata lainnya di Kerinci, tapi jadikan ini objek ekslusif dengan paket harga yang tinggi bagi wisatawan khusus,'' tegas Zaid.(ant/lee)

Tidak ada komentar: