.

.
.

Minggu, 16 November 2014

Kota Jambi Produksi Sampah 300 Ton Perhari

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kota Jambi.Foto Harian Jambi

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kota Jambi.

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kota Jambi.Fajar Yogi Arisandi Harian Jambi
Sungai di Jambi Penuh dengan Sampah

Produksi sampah masyarakat Kota Jambi setiap harinya mencapai 300 ton. Angka yang cukup fantastis bagi level kota sedang sedang. Jumlah 300 ton tersebut baru yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo, Kota Jambi. Sementara sampah lainnya dibuang ke “tong sampah raksasa” yakni Sungai Batanghari.

R MANIHURUK, Jambi

Pemerintah Kota Jambi boleh berbangga hati telah meraih Piala Adipura untuk kebersihan sebagai Kota Sedang di Indonesia. Seluruh warga Kota Jambi telah bisa mempersembahkan Adipura. Mudah-mudahan tahun depan penghargaan kebersihan tersebut bisa dipertahankan lagi.

Produksi sampah di Kota Jambi berasal dari berbagi sumber mencapai 200 sampai 300 ton perhari. Saat ini TPA Talang Gulo tak lagi mampu menampung sampah kiriman dari berbagai Kota Jambi ini. Pemerintah Kota Jambi diminta agar menambah TPA yang baru.

Banyaknya jenis macam sampah di Kota Jambi yang berasal dari  bedengan, pabrik, industri dan juga sampah dari pedagang perumahan, warga masyarakat. Jumlahnya yang tidak sedikit membutuhkan tempat penampungan yang memadai.

Lebih parahya lagi ada sebagian masyarakat yang membuang sampah  dengan seenaknya saja. Tanpa disadari itu akan menyebabkan masalah dan mendatangkan berbagi macam penyakit serta mencemari lingkungan.


Pengamatan Harian Jambi, melihat orang tua yang dibantu anaknya membuang sampah di pinggir sungai Batanghari. Ironisnya ia tidak merasa bersalah sedikitpun tentang apa yang ia lakukan.
Namun Piala Adipura tersebut tak berbanding lurus dengan keberadaan tumpukan sampah-sampah di sungai-sungai yang ada di Kota Jambi.

Kondisi sungai penuh sampah ini, terjadi pada sembilan sungai yang mengalir di kota ini. Kondisi terparah terjadi di Sungai Maram, anak Sungai Batanghari yang mengalir ke pusat kota. Pendangkalan karena sampah di sungai itu paling parah karena berada dekat Pasar Tradisional Angso Duo Kota Jambi dan membelah pusat perdagangan kota.

Akibatnya, sungai tak berfungsi. Setiap hujan, wilayah pusat pasar dan pertokoan kota ini pun diterjang banjir. Selain itu, sungai tersebut juga tidak mampu lagi mengalirkan luberan air sungai-sungai kecil di Kota Jambi, khususnya luberan air dari got di pusat kota.


Kepala Dinas Kebersihan dan Pemakaman Kota Jambi  Mukhlis baru-baru ini mengatakan, banyaknya sampah-sampah yang di buang setiap hari dari perumahan warga masyarakat  Kota Jambi dan juga industri, perhotelan pedagang dan lainya mencapai 200-300 ton perhari yang dibawa ke TPA Talang Gulo.

“Sampah-sampah ini yang kita ambil dari penampungan sampah sementara di TPS pinggir jalan yang disediakan. Kemudian juga  diambil dari lokasi sampah yang biasa menumpuk di berbagai titik. Seperti penurunan Silincah, Kebun Sayur, Pematang Sulur dan ditempat  lain yang tidak terduga,” katanya.

Sampah–sampah tersebut, berasal dari perumahan warga masyarakat yang yang menumpuk. Kemudian dibawa petugas kebersihan ke TPA Talang Gulo yang merupakan satu-satunya tempat penampungan sampah di Kota Jambi.

“Sampah yang sudah ada TPA dihamparkan disana agar kering. Kemudian ditimbun dengan tanah diberi kesempatan kepada pemulung untuk menyortir agar mereka dapat memampaatkan untuk dijual. Namun saat ini sampah sudah terlalu banyak di TPA Talang Gulo yang mulai melimpah. Tentunya kita butuh TPA baru,” katanya.

Disebutkan, faktor-faktor yang membuat sampah menumpuk di Kota Jambi terkadang terkesan tidak enak dipandang mata. Sampah juga terdapat di semak-semak pingir jalan dan juga di hulu anak sungai. Itu karena ulah dari sebagian masyarakat yang seenaknya saja buang sampah tanpa rasa tanggung jawab.

Tambah TPS

“Tak hanya itu, lebih parahnya lagi kadang masyarakat sudah tau tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang dibuat di jalan umum atau titik tertentu warga itu masih tetap  juga buang sampah di sembarangan tempat,” ujarnya.

Menurutnya, strategi untuk mengamankan sampah di Kota Jambi sebanyak 200-300 ton perhari tetap akan menambah TPS di pinggiran jalan agar warga mudah membuang sampah dengan efektif.

“Kami terus berupaya mendorong masyarakat  untuk dapat  tertib dalam pembuangan sampah pada tempatnya. Masyarakat didorong untuk memamfaatkan sampah yang masih baik yang  masih bisa dimamfaatkan untuk dijadikan karya seni dan kompos. Dengan demikian sampah pun akan berkurang,” ujarnya.

Disebutkan, Dinas Kebersihan Kota Jambi kita sediakan gerobak sampah. Selain itu pihaknya juga mendorong agar masyarakat dapat menyadari  perlunya tertib dalam pembuangan sampah.

Supaya nantinya terhindar dari berbagai macam penyakit pihaknya juga mengajak masyarakat untuk ikut serta melestarikan  kebersihan Kota Jambi baik sekarang maupun pada  yang akan datang. 

Tingginya penumpukan sampah membuat sebagian besar warga membuang sampah ke sungai dan got. Kondisi demikian membuat sebagian besar wilayah pusat Kota Jambi sering dilanda banjir. Untuk mengatasi kekurangan armada pengangkutan sampah, pihaknya menambah belasan gerobak motor, yang sering dioperasikan hingga larut malam. Gerobak ini untuk mengatasi penumpukan sampah di permukiman warga yang hanya bisa dilalui kendaraan kecil.

Walikota Jambi Syarif Fasya mengatakan, kini pengelolaan kebersihan kota yang langsung ditangani pemkot tiga tahun terakhir mampu menghemat anggaran 40 persen. Pengelolaan secara swadaya tersebut juga mampu mengurangi penumpukan sampah sekitar 10 persen, termasuk penumpukan sampah di Pasar Tradisional Angso Duo.

Program lain yang dilaksanakan mengatasi masalah sampah di kota itu, menghidupkan kembali Jumat bersih yang selama ini dihapuskan. Fokus Jumat bersih, membersihkan saluran air di jalan-jala protokol dan pusat kota.

Untuk menyelamatkan sembilan sungai di kota itu, pemkot melakukan revitalisasi sungai. “Kita berusaha bekerja sama merevitalisasi sungai di kota ini dengan pemerintah pusat dan provinsi. Masing-masing bertanggung jawab mendanai revitalisasi tiga sungai," kata Fasya.

Anggota DPRD Kota Jambi Hisar Sagala (PDIP) mengatakan, penanganan masalah sampah di Kota Jambi diharapkan tidak panas-panas tahi ayam. Gerakan kebersihan jangan dilakukan secara insidental dan hanya melalui Jumat bersih. Penanganan masalah sampah di Kota Jambi harus dilakukan secara berkesinambungan dengan peningkatan kinerja Dinas Kebersihan Kota Jambi dan dana yang memadai.

Guna menjaga kebersihan Kota Jambi benar-benar bersih, kini pihak Dinas Kebersihan Kota Jambi telah memiliki karyawan pekerja harian lepas sebanyak 700 orang mulai dari tukang sapu sampai ke karyawan pengangkut sampah ketempat pembuangan terakhir di TPA Talang Gulo.
Kemudian jumlah kendaraan mobil pengankut  sampah di Kota Jambi untuk saat ini yang kita sediakan sebanyak 37 buah unit. “Inilah andalan kita untuk mengankut sampah yang ratusan ton   setiap harinya,” kata  Mukhlis.

Piala Adipura 

Mukhlis menambahkan, berkat kerja keras dari Dinas Kebersihan Kota Jambi, telah membuahkan hasil. Ini dibuktikan dengan penghargaan yang diperoleh dari pemerintah pada tahun 2012 yakni mendapatkan sertifikat tentang kebersihan kota.

Tidak hanya itu pada tahun 2013 dan tahun 2014 mendapatkan piala Adipura atas prestasi kebersihan dari menteri lingkungan hidup dari pusat yang diberikan pada masa Walikota Jambi Bambang Prianto dan Syarif Fasya.

Disebutkan, tahun 2014, Dinas Kebersihan Kota Jambi akan meningkatkan kebersihan dan penghijauan Kota Jambi. Hal itu agar kedepan Kota Jambi bisa menjadi kota bersih aman dan bisa menjadi kota teladan. (*/lee)

Tidak ada komentar: