.

.
.

Friday, 17 October 2014

Mandiri: Ketidakpastian Ekonomi Global Makin Besar

The Fed Bakal Naik, Apa Imbasnya ke Sektor Keuangan RI?

 Banyak pihak mengkhawatirkan rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan membuat aliran uang investor asing di Indonesia kabur ke luar negeri. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Sementara perkembangan ekonomi dunia saat ini makin tidak pasti. Sejumlah lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 3,3% menjadi 3,4%.
               
RISTA RAMA DHANY, Jakarta

“Orang banyak khawatir termasuk pemerintah sampai menyiapkan langkah antisipasi jika The Fed naikkan suku bunga, pasar saham Indonesia akan anjlok karena uangnya lari ke Amerika," ujar Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri di acara Publikasi Riset & Diskusi "Ekspektasi Pebisnis Terhadap Pemerintahan Baru", di Gedung WTC Sudirman, Rabu (15/10).

Faisal mengatakan, hal tersebut tidak benar, dan tidak perlu dikhawatirkan berlebihan, karena walaupun The Fed menaikkan suku bunganya, investor akan pikir dua kali membawa balik uangnya ke Amerika.


“Uang itu kan tidak bodoh, return saham di Amerika Serikat itu hanya 2,5%, bandingkan di Indonesia return sahamnya mencapai 23% jauh lebih untung mereka di Indonesia. Memang ada masanya ketika DPR kita ribut IHSG anjlok, tapi dua-tiga hari kemudian balik lagi, itu sebagai sinyal DPR jangan ngaco," tegasnya.

Faisal menegaskan, patut menjadi catatan, bahwa ekonomi Indonesia tahun lalu sudah mengalahkan Inggris, dan tahun ini sudah mengalahkan Prancis.

“Ekonomi Indonesia punya prospek bagus, sudah mengalahkan Inggris dan Prancis, apalagi market cap Indonesia baru 45% masih sangat luas, naik 6% saja itu uang segar yang bisa digunakan pengusaha untuk mendorong usaha dan investasinya sangat banyak sekali," tutupnya.

Sementara perkembangan ekonomi dunia saat ini makin tidak pasti. Sejumlah lembaga seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 3,3% menjadi 3,4%.

“Akibat ketidakpastian ekonomi global yang makin besar, IMF dan Bank Dunia kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya 3,4% menjadi 3,3% tahun ini. Ini revisi keempat kali yang dilakukan kedua lembaga tersebut, yang artinya ketidakpastian makin besar," papar Destry Damayanti, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), di acara Indonesian Economic Outlook, di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Destry mengungkapkan, ada beberapa hal yang membuat ketidakpastian ekonomi global makin membesar. Misalnya kawasan Eropa yang sepertinya belum pulih benar dari krisis yang melanda sejak 2010.


“Empat dari 10 negara di Eropa masih mengalami krisis ekonomi yang serius. Sementara Jerman yang diharapkan karena ekonominya paling kuat di Eropa justru komitmennya untuk membantu negara lain terlihat tidak serius," paparnya.

Faktor lainnya, lanjut Destry, adalah harga komoditas yang belum pulih. "Tentu ini menjadi hambatam bagi negara seperti Indonesia, India, Brasil, dan Venezuela karena masih mengandalkan ekspor bahan mentah," katanya.

Kemudian, tambah Destry, perekonomian Tiongkok juga masih melambat. Jika perlambatan ekonomi Tiongkok memburuk, dampaknya akan sangat signifikan karena Tiongkok adalah salah satu pusat perdagangan dunia.


“Ekonomi Tiongkok belum mengalami hard landing, masih soft landing makanya masih tumbuh 6%. Banyak negara jaga-jaga jangan sampai ekonomi Tiongkok mengalami hard landing," tuturnya.(dtk/lee)

No comments: