.

.
.

Kamis, 14 Agustus 2014

Peran Media Massa Dibutuhkan Guna Menjaga Inflasi

PASAR MURAH: Seorang tukang parkir tampak membeli sembako murah di Pasar Murah Perbangkan di Kantor BI Jambi, Juli lalu dalam mengantisipasi kenaikan harga sembako. FOTO ROSENMAN MANIHURUK/HARIAN JAMBI

Inflasi Kota Jambi Masih Terkendali

JAMBI-Peran media massa sangat dibutuhkan guna menjaga inflasi di Kota Jambi. Kerjasama dengan media massa juga perlu ditingkatkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait kegiatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Jambi.

R MANIHURUK, Jambi

Secara umum semua pihak melihat penanganan inflasi di bulan Juli 2014 sudah baik. Seperti pelaksanaan Operasi Pasar di bulan Ramadan agar masyarakat dapat membeli barang dengan harga terjangkau.

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Vielloeshant Carlusa melalui Kepala Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kantor Perwakilan BI Provinsi Jambi Ihsan W Prabawa, kepada wartawan di sela-sela pertemuan Tim Teknis TPID Kota Jambi di ruang Kajang Lako, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jambi, Rabu (13/8).

Pertemuan itu dihadiri perwakilan Bank Indonesia, Bappeda Kota Jambi, BPS Kota Jambi, Perum Bulog, PT Pertamina, BMKG, perwakilan SKPD terkait dan media massa di Kota Jambi.

Agenda pertemuan inflasi kali ini yakni membahas Review Inflasi Juli 2014, Stabilisasi Harga Pasca Lebaran, Strategi Menghadapi Potensi Tekanan Inflasi akibat Pembatasan Penjualan BBM Bersubsidi.


Pertemuan TPID ini mengundang Misbah Bukhori dari PT Pertamina sebagai narasumber untuk membahas dampak kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi dan rencana kenaikan harga LPG tabung 3 kilogram.

Menurut Ihsan W Prabawa, BI Jambi melihat Inflasi bulan Juli 2014 cenderung dipengaruhi inflasi administered prices. Sedangkan inflasi inti dan volatile foods relatif stabil. BI memproyeksikan inflasi bulanan di Jambi bulan Agustus pada kisaran 0,15% sampai dengan 0,65%.

BI juga melihat faktor risiko inflasi pangan akibat anomali cuaca, kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL), kenaikan harga LPG dan pembatasan kuota penjualan BBM bersubsidi sebagai faktor yang dapat meningkatkan inflasi. Namun, kecukupan pasokan bahan makanan dan ekspektasi masyarakat bahwa inflasi mulai menurun menjadi faktor yang dapat mendorong kestabilan harga.

Sementara Bappeda Kota Jambi melihat tidak terjadi gejolak harga yang berarti setelah inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Talang Banjar dan Pasar Angsoduo sebelum bulan puasa dan operasi pasar yang dilakukan di kedua pasar tersebut selama bulan puasa.

Sementara BPS Kota Jambi menilai inflasi Kota Jambi masih terkendali karena kecukupan stok. BPS juga mengusulkan kepada TPID untuk mewaspadai potensi inflasi yang disebabkan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL), harga LPG, dan peningkatan konsumsi menjelang dimulainya tahun ajaran baru.

Terkait dengan potensi tekanan inflasi akibat pembatasan penjualan BBM bersubsidi, pihak PT Pertamina memberikan overview mengenai jumlah SPBU, Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) dan SPBN di Provinsi Jambi.

Misbah Bukhori menjelaskan, terkait Surat Edaran BPH Migas yang menginstruksikan pembatasan waktu pelayanan dan penjualan BBM bersubsidi, di Provinsi Jambi, terdapat 2 SPBU di Kota Jambi yang terkena kebijakan pembatasan waktu operasional penjualan BBM bersubsidi.

Namun, kedua SPBU tersebut tidak berada di jalur logistik. Hingga kini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas perekonomian. Terkait rencana kenaikan LPG, sampai saat ini belum ada keputusan tanggal dan waktu kenaikan harga LPG tabung 12 kg.

Pertamina juga memastikan bahwa kenaikan hanya akan terjadi pada LPG tabung 12 kg dan pada LPG tabung 3 kg tidak akan naik. Untuk mengantisipasi hal tersebut Pertamina mempersiapkan alternatif produk BBM non subsidi di SPBU (pertaminaDex) untuk memenuhi permintaan.

Menurut Misbah Bukhori, pertamina juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Tanjung Jabung Barat dalam menjaga pasokan solar kepada nelayan dengan mengutamakan distribusi solar ke kapal-kapal nelayan di bawah 30 CT.

Sementara Disperindag Kota Jambi hingga kini tetap melakukan pengawasan barang-barang terutama sembako. Disperindag juga berharap  program pasar murah ditingkatkan pelaksanaannya dan dapat dilakukan kerjasama dengan dinas terkait untuk menambah produk yang dijual di pasar murah.

Disperindag Kota Jambi juga merencanakan pembuatan neraca perdagangan Kota Jambi dalam rangka mendukung pembuatan peta surplus/defisit.

Kemudian BMKG memprediksikan bahwa potensi El Nino belum terlalu berpengaruh. Musim kemarau juga diprediksi di bulan November.

Sedangkan Perum BULOG Jambi memaparkan mengenai stok beras Bulog Jambi per 13 Agustus 2014 sebesar 5.580 ton dan ada rencana beras yang akan masuk ke Jambi sebanyak 2.000 ton.

Bulog memprediksi angka tersebut cukup untuk stok 4 bulan ke depan. Bulog juga mewaspadai isu El Nino yang dapat mengganggu produksi beras di Palembang, Lampung dan Jawa.

El Nino juga dapat mengganggu produksi komoditi lain seperti cabai dan bawang. Untuk mengantisipasi hal tersebut BULOG telah mengimpor 500.000 ton beras dari Vietnam dan Thailand yang saat ini sudah mulai masuk ke Indonesia.

Dinas Peternakan Kota Jambi memaparkan progress sosialisasi daging beku di kecamatan-kecamatan di Kota Jambi. Dinas Peternakan juga telah melakukan operasi pasar pada H-3 s.d H-1 menjelang lebaran sebanyak 1,2 ton daging beku.(*/lee)Berita Ini Juga Naik di http://harianjambi.com


Tidak ada komentar: