.

.
.

Kamis, 20 Februari 2014

Tidak Hanya Modal, Pelaku UMKM Butuh Penyuluhan


Pusat Oleh-oleh Jambi di Temphoyac jambi di Jl.Jendral Sudirman No.18- Thehok, Telpon. 0741-26400.iST


Meminjam uang di sebuah bank bukanlah perkara mudah bagi seorang pemula Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Karenanya, dalam memulai usaha tidak selamanya kita harus meminjam modal dari bank. Modal merupakan salah satu hal yang sangat vital dalam menjalankan sebuah usaha. 

HESTI OKTAVIANI PUTRI, Jambi

Baik itu usaha kecil, menengah, maupun bisnis skala besar, hampir seluruhnya membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Bahkan, tak sedikit pelaku usaha yang akhirnya nekat meminjam modal usaha ke bank hanya untuk membesarkan perusahaannya.

Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, meminjam uang di sebuah bank bukanlah perkara mudah bagi seorang pemula. Lembaga keuangan seperti bank pastinya tidak akan memberikan pinjaman kepada pemula yang belum memenuhi persyaratan pengajuan pinjaman.

Karakter bisnis yang dijalankan, besarnya modal yang dipinjam, jaminan yang diajukan, serta kapasitas dan kondisi usaha yang sedang dijalankan, menjadi salah satu aspek penting yang menjadi bahan pertimbangan bagi pihak bank.

Analisis Mikro Bank Syariah Mandiri (BSM) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Sipin Telanaipura Kota Jambi, Muhammad Rahman mengatakan, setiap usaha bukan hanya di modal, setiap pelaku usaha harus berawal dari dasar.

“Seseorang yang akan melakukan atau membuka usaha mereka harus mengerti terlebih dahulu resiko usaha yang mereka jalankan ke depannya seperti apa,” ujarnya.

Karena, di sini para pemula perlu memahami bahwa dalam memulai usaha tidak selamanya kita harus meminjam modal dari bank. Yang terpenting kita mengetahui tips dan trik untuk mengelola modal usaha dengan bijak, dan mencari solusi untuk mengatasi keterbatasan modal yang ada.

“Untuk para pengusaha tetap, tidak bisa hanya dengan modal uang dalam menjalankan bisnisnya. Mereka harus mempunyai keahlian dan pengetahuan,” ujar M Rahman. 

Riko Mappedeceng yang membuka outlet Temphoyac, yakni outlet khusus oleh-oleh khas Jambi juga mengaku bahwa awalnya ia membuka usaha, modal yang ia dapatkan berasal dari meminjam uang orang tuanya.

Dia menyadari bahwa bank tidak akan serta merta memberi pinjaman terlebih kepada mereka yang baru akan memulai usahanya. Kini setelah usahanya berjalan cukup lama, beberapa bank pun melirik dan menawarkan kerjasama. Bank Mandiri merupakan salah satu mitra bagi UMKM yang juga turut membantu Riko dalam memperlancar usahanya.

Sektor Bisnis Kecil Berkembang

Produk UKM binaat Bank Mandiri Jambi.ft ist
Kepala Pimpinan/Cluster Manager Bank Mandiri Jambi, Ahmad Nazori menuturkan, UMKM adalah pemberian kredit baru. “Diberikan jika usaha mikro tersebut memiliki minimal omset adalah Rp 100juta/tahun, usaha kecil omsetnya Rp 10 miliar, dan untuk usaha menengah diatas Rp 10 miliar,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa  di Jambi hampir semua sektor mengajukan kredit, sektor mikro berkembang. Sektor bisnis kecil juga berkembang.  Tujuan utama pemberian kredit ini adalah untuk bersama-sama dengan pemerintah membangun negeri dan memberdayakan pengusaha serta memberikan kemudahan. 

Bank Mandiri juga selalu memantau nasabah yang mengajukan kredit setiap harinya. “Sangat penting untuk selalu mengingatkan nasabah agar tidak terlambat membayar cicilan kredit setiap bulannya. Hal itu agar tidak terjadi kredit macet dan agar nasabah tidak terbebani,” katanya.

Menurut Ahmad Nazori, apabila terlambat satu bulan saja, maka otomatis bulan berikutnya nasabah harus membayar untuk bulan lalu dan bulan berjalan, dan itu tentu akan memberatkan nasabah.

Modal Awal Pribadi

Melulai usaha UMKM modal awal adalah modal pribadi. Seperti yang dikatakan Patria Putra Prima Owner dari Jambi Ethnic. Saat dia memulai usaha tanpa bantuan dari perbankan. “Modal awal berasal dari uang pribadi dan juga tidak banyak. Untuk memulai usaha yang penting kemauannya yang harus dibanyakin, bukan hanya modal,” kata Patria.

Patria mengaku tidak mau ribet dengan berbagai urusan perbankan. Ia juga menyadari bahwa percuma modal banyak tapi tidak dilakoni dengan serius. “Ia percaya bahwa meskipun modal awalnya hanya sedikit, tapi pasti akan selalu ada jalan dalam mengembangkan usaha itu,” katanya.

Namun dengan syarat kita benar-benar dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan usaha. Hingga saat ini outlet Jambi Ethnic terus berkembang. Bahkan produknya yang mengutamakan Batik Jambi saat ini telah dipasarkan ke penjuru Indonesia hingga ke luar negeri.

Koperasi Bantu UMKM

Tidak hanya pihak perbankan, tetapi Dinas Koperasi juga turut membantu para pelaku UMKM.
Dikatakan bahwa saat ini telah banyak produk yang dihasilkan oleh para pelaku UKM, koperasi hanya memfasilitasi dan mempermudah mereka.

UKM yang dibina dan yang aktif pun telah banyak sehingga tidak semua dapat terpantau. Berdasarkan data terakhir ada sekitar 71 ribu usaha kecil dan menengah yang telah difasilitasi dan didukung oleh koperasi, sampai sekarang yang aktif boleh dikatakan adalah yang layak jual.
Syaiful AR dari Dinas Koperasi Provinsi Jambi menjelaskan, dengan adanya koperasi ini diharapkan bagaimana agar usaha kecil menengah ini dapat hidup dan terus berkembang. Sebab, UKM ini lah yang menopang perekonomian di Jambi. “Potensi perekonomian terbesar berasal dari usaha kecil menengah,” ujarnya. (*/lee)
=========

Kredit Kecil Pangsa Terbesar

Humas Bank Indonesia (BI) Jambi, Ihsan Wahyu Prabawa mengatakan, saat ini berdasarkan distribusinya, kredit kecil memiliki pangsa terbesar yaitu 36,82%. Lalu diikuti kredit menengah sebesar 33,49%, serta kredit mikro sebesar 29,70% dari total kredit UMKM.

Jadi, sebetulnya keinginan dan kemauan keras untuk segera menjadi seorang wirausaha itu adalah modal awal usaha. Modal yang akan membantu kita untuk segera bisa melangkah. Ingatlah tiada keberhasilan tanpa langkah nyata,” katanya.

Modal berikutnya adalah belajar untuk mendapatkan keahlian dan keterampilan berbisnis. Masih ingatkah waktu kecil, bahwa jika ingin bisa naik sepeda kita harus belajar dahulu bagaimana cara dan menguasai jalannya sepeda.

Jatuh bangun dan luka adalah hal yang harus kita alami agar mampu menguasai sepeda dengan baik. Untuk berbisnis juga demikian, kita harus belajar dahulu, cobalah dengan banyak membaca tentang bagaimana berbisnis, ikut kursus kewiraswataan atau mendengarkan kaset-kaset tentang penjualan dan pemasaran,” katanya.

Pembelajaran ini akan membuat kita tahu banyak mana proses yang harus dikerjakan. “Mana yang harus direncanakan dahulu dan mana suatu proses yang harus dihindari. Sehingga kita bisa mulai lebih fokus untuk terjun andil di dunia usaha. Jadi modal usaha yang utama adalah proses dan pengetahuan, bukan uang semata,” kata Ihsan Wahyu Prabawa.(hop/lee)(HARIAN JAMBI EDISI CETAK PAGI KAMIS 20 FEB 2014)


Tidak ada komentar: