Di sudut kota Jambi yang riuh dan panas,
langkah renta itu tetap tegas.
Punggungnya membungkuk,
namun tekadnya tak pernah runtuh.
Di balik karung lusuh yang digendongnya,
tersimpan cinta yang tak banyak bicara.
Setiap botol plastik yang ia pungut,
adalah doa yang dipungut dari debu jalanan.
Tangannya kasar oleh waktu,
kulitnya legam oleh matahari,
namun hatinya seterang pagi
karena ia tahu untuk siapa ia bertahan hari ini.
Ia mungkin tak dikenal dunia,
namanya tak tertulis di papan kehormatan,
namun di mata anak dan istrinya,
ia adalah pahlawan tanpa sorotan.
Saat kota terlelap dalam nyaman,
ia tetap berjalan menyusuri harapan.
Menukar lelah dengan beras,
menukar keringat dengan senyum di rumah.
Wahai pria tua pemulung,
engkau bukan sekadar bayang di trotoar,
engkau adalah simbol perjuangan,
bahwa cinta sejati
tak selalu bersuara,
tapi selalu bekerja.
Dan senja yang menyentuh wajahmu itu,
bukan tanda akhir,
melainkan saksi
betapa kuatnya seorang ayah
menafkahi dengan harga diri dan doa.
Pria Tua Pemulung di Kota Jambi-Foto Asenk Lee Saragih.
Jambi, Rabu 4 Maret 2026.





0 Komentar