Kamis, 15 Januari 2015

Perjuangan Pemulung Mencari Nafkah

Kakek Tukang Gerobak tertidur lelah di Pasar Angso Duo Kota Jambi.

Kisah Kakek Pendorong Gerobak Pasar

Hidup ini memang penuh perjuangan. Untuk mencari sesuap nasi harus bermandikan keringat bagi seseorang yang berprofesi kurang beruntung. Namun perjuangan mereka patut dihargai dalam menggapai nafkah dalam menghidupi keluarga. Begitu juga dengan seseorang yang berprofesi sebagai pemulung. Mereka juga turut andil dalam pemanfaatan sampah sebagai barang laku jual.

R MANIHURUK, Jambi

Seringkali kita memandang pekerja seorang pemulung pengumpul barang bekas dengan sebelah mata. Namun dibalik pekerjaannya tersimpan usaha yang mulia. Pekerjaan yang mereka geluti demi menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anaknya.

Saat terik sinar matahari menaburkan panasnya, seseorang lelaki tampak sedang berjalan sambil mengumpulkan barang bekas di daerah Telanaipura Kota Jambi tepatnya dekat SMAN 5 Kota Jambi Sabtu pekan lalu.


Saat itu jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Harian Jambi menyambangi dan berlahan mendekati bapak tersebut. Kedatangan Harian Jambi disambut baik olehnya dengan ekpresi wajah sedikit tersenyum.

Ada motivasi dibalik wajah yang lusuh berkeringat itu. Apa yang ada dibalik pekerjaan yang digelutinya tersebut. Hombing (41) begitu ia memperkenalkan diri. Pekerjaan menjadi pengumpul barang bekas sudah menjadi sebagian takdir bagi Hombing.

Karena sulitnya mencari pekerjaan saat ini, membuat  tiada pilihan selain berusaha sendiri menciptakan pekerjaan yakni sebagai pemulung agar bisa menyekolahkan anak. Walaupun terkadang dipandang rendah bagi sebagian orang, namun ini merupakan  profesinya halal.

“Pekerjaan saat ini sangat sulit bang. Mungkin karena pendidikan kami yang rendah atau pemerintah yang tidak menyediakan lapangan pekerjaan,” ujar Hombing mengadu dengan wajah peluh keringat.
Hombing mengais barang bekas yang ia kumpulkan setiap harinya. Kemudian hasilnya diperuntukkan untuk anak dan istrinya. “Hasil kerja keras dari mengumpulkan barang bekas saya gunakan untuk biaya kehidupan  keluarga,” ujarnya.

Kemudian Hombing melanjutkan pembicaraannya. Semangat yang menggebu setiap hari saat pagi mulai datang kita sudah turun bekerja sampai sore waktu azan telah berbunyi. Motivasi kerja itu juga didorong karena ada kewajiban yang mulia yaitu menyekolahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah SD di Kota Jambi.

Hasil pengumpulan barang yang ia jual terkadang hanya bisa mendapat Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per hari. Ini yang ia tabungi untuk kebutuhan keluarga dan kebutuhan anak sekolah.

“Bagi saya tiada masalah menjadi pekerjaan pemulung yang terpenting halal dari pada menjadi perampok, mencuri barang milik orang lain,” katanya.

Tanpa diketahui banyak orang bahwa sebenarnya profesi menjadi pemulung bukan saja karena membiayai hidupnya sendiri, akan tetapi lebih dari itu yakni tidak terlepas membiayai kehidupan istri kemudian anak tercintanya. Ini terjadi pada banyak pemulung.

Si-kakek Pendorong Gerobak

Selain Hombing, kisah kakek bernama Yahjun ini juga berbagi cerita kisah. Kini rambutnya yang telah memutih, umurnya sudah mencapai 72 tahun sedang mendorong gerobak sampah di daerah Pasar Jambi. Kulitnya  yang keriput seakan tak terawat, tubuhnya yang tampak membungkuk rukuh seakan-akan kita tidak percaya dengan aktivitasnya itu.

Kakek ini masih mampu mendorong gerobak kayu bermuatan sampah barang bekas. Saat didekati, si kakek ini pun menuturkan sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan ini mencari mengumpulkan barang bekas setiap hari.

Itu dia lakukan guna membiayai hidup sendiri bekerja siang dan malam. Kuat atau tidak kuasa terus dipaksakan agar bisa bertahan hidup.

Hampir tak kuasa mendengar ucapan kakek ini air mata pun terasa jatuh ke dalam hati. Dari potongannya saja sudah miris kita melihat keadaan nasibnya apalagi setelah ia menuturkan dengan kata-kata yang dapat mengusik qolbu.

Siapa yang tidak prihatin melihat sosok orang tua  berbeda dengan orang lain seakan-akan hidup terbuang dalam negeri. Berbeda jauh dengan orang tua lainnya yang bisa menghabiskan sisa umurnya dengan banyak istirahat di rumah, saling berbagi dengan keluarga besar.

Namun nasib berkata lain, kakek ini harus beradu dengan alam dengan terik matahari, dinginnya malam hanya untuk bertahan hidup di masa tuanya. Dirinya masih harus bertarung tenaga untuk memungut sampah yang bisa bernilai rupiah.

Uluran tangan pemerintah pun diharapkan. Pemerintah yang berkewajiban untuk mensejahterakan masyarakatnya. Suara pemerintah selami ini yang mengatakan berhasil mengentaskan kemiskinan di Kota Jambi, itu hanya pemanis semata.

Tetapi sentuhan itu tidak pada setiap orang kurang mampu. Faktanya para pemulung masih banyak berkeliaran di Kota Jambi mulai dari tingkatan umur yang masih relatif muda umur 14 tahun hingga 72 tahunan.

Menyedihkan memang. Hal ini menjadi tantangan dan pekerjaan rumah pemerintah ke depan untuk mensejahterakan rakyat selayaknya terlepas dari belenggu kemiskinan. 

“Kami berharap Pemerintah Kota Jambi memeperhatikan nasib kami yang mencari nafkah di jalananan. Kami memperjuangkan kehidupan keluarga kami agar anak dapat lancar sekolah menjadi orang sukses,” ucap Hombing dengan penuh harapan. (*/lee)

Tidak ada komentar: